Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Sadar


"Owen...."


Sean tersentak saat mendengar gumaman dari bibir Gloria, tampaknya wanita itu telah sadar dari efek bius yang sempat ia berikan.


"Kau sudah sadar?" Sean melihat pada Gloria yang mulai bangkit dari posisinya yang berbaring. Gloria tampak memegang dahinya sendiri kemudian menatap Sean dengan kernyitan dalam.


"Kenapa--" Gloria tak melanjutkan kalimat, mungkin ia mulai menyadari satu kejanggalan dengan situasinya saat ini. "Mana suamiku?" tanyanya kemudian.


Sean mengendikkan bahu, kemudian menuangkan segelas air putih kedalam gelas. Pria itu menyerahkan minuman itu pada Gloria.


"Minumlah dulu, mungkin sekarang kepalamu terasa sedikit pusing."


Gloria mengabaikan itu, dia menuntut jawaban Sean mengenai keberadaan suaminya. "Mana Owen? Mana Jeff?"


"Gloria, aku tidak tahu dimana Owen dan Jeff.... yang jelas mereka berada didalam kekuasaan Ayahku," jawab Sean akhirnya.


Gloria membekap wajah dengan telapak tangannya. Ternyata yang terjadi bukan mimpi melainkan kenyataan. Ia sempat mengira semua ini adalah mimpi buruk.


"Lalu, sekarang ini.... kita dimana?" Gloria mengedarkan pandangan ke seluruh bagian tempat yang kini ia dan Sean naungi.


"Ini tempatku dan hanya aku yang tahu ini dimana."


"Apa?" pekik Gloria kaget. "Jadi maksudmu, kau benar-benar membawaku bersamamu? Bagaimana dengan Oxela, Jade dan Jared?" tanyanya.


"Tenanglah, Glo! Aku melindungimu. Tidak usah berteriak, disini masih banyak binatang buas! Tapi, jika kau mau menjadi santapan binatang itu, berteriak lah sepuasmu! Soal Oxela, Jade dan Jared .... aku meyakinkan mereka agar kau ikut bersamaku. Mereka juga sudah menyelamatkan diri." Sean berdiri dari duduknya, kemudian berderap menuju pintu keluar kamar yang sejak tadi Gloria tempati.


Mendengar itu, Gloria bungkam seketika. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengeluarkan protes.


"Biar saja aku mati menjadi mangsa binatang buas! Daripada aku harus ikut bersamamu!" tandasnya.


Sean menghentikan langkah. Ia cukup terperanjat dengan jawaban Gloria yang terkesan blak-blakan. Ia menoleh sekilas, melirik Gloria dari sudut matanya.


"Setidaknya, hargai aku yang sudah susah payah membawamu sampai ketempat ini demi menyelamatkanmu! Jika kau tidak tertarik dengan niat baikku, kau boleh pergi untuk menjadi mangsa binatang buas diluaran sana, ataupun pergilah menyerahkan diri pada orang-orang ayahku."


"Semua ini karenamu, Sean! Kau dengar itu? Semua ini karenamu, breng sek!" Umpatan Gloria masih terdengar ditelinga Sean saat pria itu berlalu.


_____


"Bangun kau!" Markus menendang kaki Owen yang tergeletak diatas matras tipis dan seadanya. Bekas tikaman yang diberikan Markus diperutnya sudah ditangani oleh salah seorang dokter dan menyebabkan kondisi pria itu sangat lemah dan tidak berdaya sebab tusukan itu juga mengenai organ dalam bagian lambung milik Owen.


Namun, bukan Markus namanya jika terlalu berbelas kasih. Ia hanya mengizinkan Owen diobati sesekali dan dirawat dengan kondisi seadanya pula. Jika Owen tetap hidup dalam kondisi ini, maka dia akan melanjutkan misi selanjutnya. Namun, jika Owen mati, dia akan masa bodoh dengan hal itu.


Owen mengerjapkan matanya sekilas. Sakit dibagian perutnya terasa sangat ngilu dan membuatnya meringis panjang.


"Kau tahu, aku memberimu kesempatan untuk hidup. Kita lihat seberapa lama tubuh lemahmu ini bertahan dengan keterbatasan yang ku berikan."


"K-kau ib--lis!" kata Owen sambil menahan rasa sakitnya yang seakan tak tertahankan.


Markus terkekeh. Tak lama, ruangan tempat Owen disekap dimasuki oleh seorang lagi yang tak lain adalah Richard.


"Kau ingin bicara padanya, nak?" tanya Markus pada Richard. Richard mengangguki pertanyaan dari Markus itu.


Owen tak menyangka Markus bisa bicara dengan nada seperti itu pada Richard. Ada apa sebenarnya?


"Baiklah, aku akan meninggalkanmu berdua dengannya disini."


Sesaat setelah mengatakan itu, Markus dan beberapa orang yang mengikutinya ke ruangan penyekapan pun, keluar. Dia meninggalkan Owen dan Richard berdua dalam ruangan gelap nan pengap itu.


"Kau pasti tidak pernah menyangka jika akan terkurung dalam ruangan ini, bukan?" cibir Richard menatap Owen dengan senyum smirk khasnya. "Ruangan penyiksaan yang biasa digunakan untuk menyiksa musuhmu atau musuh Ayahmu," lanjutnya.


"Aku juga tidak menyangka, ternyata aku bisa mewarisi tahta kerajaan gelap milik Ayah kandungku."


Ucapan Richard membuat Owen terbelalak kaget.


"A-yah kan-kandung--mu?" tanyanya terbata.


Richard mengangguk dengan senyuman miring. "Ayahku Roman, bukanlah Ayah kandungku. Orang yang kau kenali sebagai Paman... dialah yang ayah kandungku. Dunia begitu sempit, Owen.... ternyata kita bersaudara akibat hubungan gelap antara Pamanmu dengan Ibuku," terang Richard.


"Sialan," batin Owen menggeram.


"Dan kau tahu, kenyataan ini membuatku ingin menyadarkanmu satu hal... bahwa, karma untukmu akan segera berlaku!" tekan Richard ditelinga Owen.


Richard menghela nafas panjang. Sebelum akhirnya dia kembali bicara.


"Awalnya aku marah, bagaimana bisa Ibuku menghianati ayahku dan berhubungan dengan Paman Markus yang notabene nya adalah atasan ayahku. Tapi sekarang aku bahagia, karena silsilah ini membuatku mewarisi tahtanya."


".... aku juga berterima kasih pada kakakku, Sean. Dia tidak mau mewarisi tahta Ayah kandungku... Hahaha, dia tidak tahu aku adalah adiknya. Dia mengira Paman Markus hanya memberikan kekuasaan padaku karena mengira aku adalah anak dari tangan kanan ayahnya. Nyatanya, aku adalah adiknya sendiri."


"Untuk apa kau menjelaskannya padaku?" tanya Owen dengan susah payah.


"Agar kau tahu kita bersaudara dan agar kau tahu kini posisimu adalah dibawahku!"


Owen mengepalkan tangannya geram.


"Satu lagi, agar kau ingat bahwa kau pernah merebut Gloria dariku!"


"Bukankah kau sudah melupakannya dan menikah dengan wanita lain?"


"Ya, tapi aku masih memiliki dendam padamu. Aku menikahi Gaby hanya untuk metode penyembuhanku dari penyakit menyimpang. Sesungguhnya aku menyesal telah melewatkan Gloria, wanita pertama yang ku cintai."


Pernyataan Richard membuat Owen mengingat pada wanita yang sama. Bagaimana nasib istrinya sekarang?


"Gloria...." lirih Owen.


Richard terkekeh, merasa diatas awan dan tentunya diatas posisi Owen yang lemah saat ini.


"Kita sama-sama pernah memiliki Gloria. Aku sudah memberimu kesempatan untuk bersamanya. Dan ku rasa, kesempatan yang ku berikan untukmu sudah cukup, Owen! Kebahagiaan kalian hanya semu dan sementara! Kau tahu kenapa? Karena seperti itu jugalah yang ku rasakan saat bersama Gloria, aku hanya sementara memilikinya. Karena kau merebutnya dariku!"


"Lalu, apa maumu sekarang, hah?" tanya Owen memaksakan dengan sisa tenaganya.


"Bukankah kita sudah sama-sama pernah memilikinya? Kini saatnya kita sama-sama kehilangannya!"


"Breng sek! Jangan sentuh istriku!" kata Owen.


"Kau mengancam ku? Memangnya apa yang bisa kau lakukan sekarang? Bahkan melindungi dirimu sendiri saja kau tidak bisa!" Richard tertawa.


Disaat itulah Owen menyadari jika Richard memang masih sama gilanya seperti dulu. Richard tidak pernah berubah bahkan semakin parah apalagi setelah mendapat kekuasaan.


"Orang-orangku akan segera menghabisi Gloria. Aku ingin melihat kehancuranmu, Owen!"


******