Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Terlalu naif


"Gloria, maafkan aku, sesungguhnya aku menyesal sempat menyakitimu. Dan juga... dan juga.... sebenarnya aku masih mencintaimu."


Sungguh jelas Gloria mendengar pernyataan Richard dari posisinya. Ia tersedu. Bukan karena masih memiliki perasaan pada pria itu, melainkan ia ingin menyampaikan bahwa ia sudah memaafkan Richard. Tanpa berpikir panjang, Gloria memutuskan langsung bergerak untuk menerobos pintu yang masih dijaga dua orang Bodyguard.


"Hey... Nyonya!" pekik kedua bodyguard itu lantang. Merasa keheranan sekaligus takut sebab melihat seorang Gloria ada disini disaat yang tidak tepat.


Bersamaan dengan dicegatnya langkah Gloria oleh kedua penjaga, disaat itu pula langkah Gloria terhenti, bukan karena ia dilarang masuk, melainkan suara tembakan pistol terdengar menggelegar.


Dor!


"Apa yang kau lakukan?!" pekik Gloria histeris. Ia meronta dalam cekalan kedua penjaga, namun semua mata dalam ruang eksekusi Richard jadi menatap kepadanya.


Owen terbelalak melihat kehadiran istrinya, sementara Sean menatap Gloria dengan tatapan sendu. Penuh kerinduan, mungkin?


"Gloria! Apa yang kau lakukan disini?" Pertanyaan Owen tidak digubris oleh Gloria sama sekali. Wajah wanita itu memerah, ia menatap nyalang pada Sean.


"Kenapa kau membunuhnya?" pekik Gloria meminta jawaban yang pantas dari mulut Sean. Matanya melirik dengan ujung mata, mencuri pandang pada tubuh Richard yang sudah tergeletak tak bernyawa disudut sana. Tentunya dengan simbah darah--yang membuat Gloria tak berani menatap secara terang-terangan--tapi tubuhnya bergetar hebat saat ini.


"Lepaskan dia! Kalian menyakitinya!" Sean justru berseru tajam pada dua orang penjaga yang mencekal kedua lengan Gloria didepan pintu, ia tidak menjawab pertanyaan Gloria.


Owen mengernyit menatap Sean. Kenapa sikap Sean begini terhadap istrinya?


Sebelumnya, Sean amat terkejut mengetahui jika Richard memiliki rasa cinta pada Gloria. Pikirannya langsung kalut, dan gelap mata. Setan mengge rayangi hatinya. Cemburu buta. Dirampasnya pistol yang sudah Owen todongkan ke arah Richard dan Sean lah yang melesatkan peluru ke kepala pria itu tanpa berpikir jernih.


"Sean, kenapa kau membunuhnya? Dia adikmu! Bagaimanapun juga dia tetap adikmu, Sean!" Kini Gloria berjalan maju, ia mendekat setelah cekalan ditangannya dilepas kedua orang bodyguard sesuai permintaan Sean.


"Gloria, jangan membelanya! Dia bukan adikku! Tidak, maksudku .... dia begitu kejam, dia layak mati ditanganku!"


"Gloria..." Owen menyentuh pundak Gloria yang berguncang. Entah kenapa Gloria seemosional ini. Tapi, Gloria justru tetap tak mengindahkan ucapan Owen yang seakan ingin meredam sikapnya.


"Bagaimanapun dia adikmu! Aku tidak pernah membayangkan untuk menghabisi nyawa adikku sendiri!" tukas Gloria tajam.


"Cepat atau lambat dia tetap akan mati. Tidak ditanganku mungkin ditangan suamimu!" ujar Sean menunjuk Owen dengan dagunya.


"Gloria, seharusnya kau tak disini!" celetukan Jade terdengar diantara perdebatan Gloria dengan Sean. Entah sejak kapan Jade dan Jared juga sudah bergabung disana. Sesaat setelah menyaksikan kejadian penembakan itu, mereka gegas keluar dari tempat mereka sebelumnya, tak disangka justru melihat Gloria sudah berada disana.


Lagi-lagi Gloria tak menggubris Jade. Ia terfokus pada Sean.


"Katakan! Katakan apa yang membuatmu tiba-tiba menembaknya!" tuntut Gloria meminta penjelasan.


"Dia menyakitimu selama ini. Tapi dia mengatakan bahwa dia mencintaimu. Dia pecundang, aku tidak akan mengakuinya sebagai adik!"


"Kau lebih pecundang!" tandas Gloria menohok Sean. "Kau membunuhnya hanya karena dia mengatakan mencintaiku? Kau terlalu naif, Sean!" Gloria bergerak ke samping Owen.


"Sekarang ku tanya padamu. Owen adalah suamiku. Dia mencintaiku, apa kau juga akan membununya?" Intonasi suara Gloria menanjak lagi, membuat Sean mengepalkan tangan geram.


"Sayang...." Owen meraih kedua pundak Gloria, namun ini bukan waktu yang tepat untuk saling memahami atau melepas kerinduan, begitu batin Gloria. Ia masih menunggu jawaban Sean.


"Ya, aku akan membunuh Owen juga!" kata Sean membuat Gloria mendelik tak percaya.


Owen menatap tajam pada Sean. "Kau gila!" desisnya.


"Karena istrimu menantang ku!" kata Sean tak acuh.


"Jika itu niatmu, kau harus membunuhku juga!" tegas Gloria membuat Owen menghela nafas panjang dan Sean melotot tak percaya.


"Kenapa kau harus berbuat sejauh ini?" gumam Gloria, ia menunduk lalu menyandarkan dahi dibahu Owen dan terisak disana.


"Sudahlah," kata Owen mengelus rambut Gloria yang terkuncir asal.


"Kau harus hati-hati padanya, Owen. Dia benar-benar gila...." bisik Gloria membuat Owen tersenyum tipis karenanya.


"Apa terjadi sesuatu diantara kalian selama di pulau, hmm?" Owen balas berbisik. Gloria menatap Owen dengan tatapan sebal atas pertanyaan suaminya itu.


Melihat itu, Sean berdecak lidah. Ia buru-buru ingin beranjak tak mau menyaksikan kedua insan yang melepas kerinduan tanpa tahu tempat.


"Sia lan! Aku benar-benar akan membunuhmu!" gumam Sean sambil berlalu.


Owen menatap pada Jared dan asistennya itu sudah memahami apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Kita pulang, hmm?" tanya Owen menatap netra hitam bening milik istrinya.


"Ya! Kita pulang secepatnya, kau berhutang banyak penjelasan padaku!"


"Ah... come on! Lupakan hal ini... jangan tanyakan alasanku!" kata Owen merangkul pundak Gloria sambil menuntunnya melangkah keluar dari rumah tua itu.


"Katakan bagaimana bisa kau kesini?" Owen menanyai Gloria sambil menuju mobil Jade di garasi. Mereka akan menaiki mobil Jade karena tadinya Owen kesini bersama Sean menggunakan mobil pria itu.


Jade mengambil alih duduk di kursi pengemudi. Membiarkan Gloria dan Owen duduk di jok belakang.


"Tuan dan Nyonya, mau saya antarkan kemana?" kelakar Jade berlagak menjadi sopir bagi keduanya.


******


Kepulangan Jade, Gloria dan Owen ke Mansion disambut oleh tatapan heran Oxela.


"Gloria? Kau pergi bersama Jade? Kalian pergi berdua tidak mengajak aku dan anak-anak?" selidik Oxela yang belum melihat keberadaan Owen.


Gloria tak menjawab, membuat Oxela berdecak kesal. "Kau tadi mengatakan menitipkan Jeff sebentar, dan mau ke kamar kecil. Apa kamar kecilnya ada di luar kota?" sindir Oxela.


"Sudahlah, kau jangan berpikir macam-macam tentang Jade dan istriku!" timpal suara yang tak asing dipendengaran Oxela. Seketika itu juga pandangan Oxela tertuju pada satu sosok yang tak jauh dari Gloria.


"Ka--kak?" Suara Oxela terdengar berat dan tercekat.


Owen menunjukkan senyum andalannya. Satu sudut bibirnya ditarik keatas, membuat Oxela terkejut dan menyadari jika itu benar-benar sang kakak.


"Kakak?" pekik Oxela, wanita itu berdiri dan menghampiri Owen untuk lebih dekat. "Kau--kau benar-benar kakakku?" tanya Oxela lagi.


"Bukan, dia Nico. Dia mirip Owen, kan? Apa kau mau mengatakan bahwa aku berhalusinasi. Apa sekarang kau percaya padaku?" timpal Gloria sengaja mengerjai Oxela.


"Ah ya, dia benar-benar mirip kakakku." Rupanya Oxela percaya jika Owen adalah Nico seperti ucapan Gloria barusan.


"Kau mirip sekali dengan kakakku, Nico!" kata Oxela melirih. Sepersekian detik berikutnya mata wanita itu mengembun, mungkin teringat sosok kakaknya yang sesungguhnya.


"Berhentilah mengerjai istriku!" cetus Jade membuat Owen dan Gloria jadi tergelak.


"Sebenarnya? Ada apa?" Oxela masih kebingungan degan situasi yang ada.


*****


"Apa kau tidak akan menghukum Sean?" tanya Jade saat ia dan Owen berada dalam ruang kerjanya.


"Entahlah, menurutmu?"


"Dia pernah mengelabuimu. Apa kau tidak takut dia akan menjadi Boomerang nantinya?"


"Ya, aku akui itu. Tapi, dia juga telah menyelamatkan dan menjaga Gloria selama ini. Haruskah aku hanya mengingat keburukannya tanpa mengingat jasanya?" tanya Owen lagi.


Jade berpikir, ia mulai dapat menyimpulkan maksud yang Owen utarakan. Benar Sean pernah bersalah, tapi Sean juga pernah mengorbankan hidupnya untuk melindungi Gloria.


"Jadi, kau akan membiarkannya?" tanya Jade lagi.


"Mungkin aku akan tetap mengawasi pergerakannya dari jarak jauh. Aku akan menyadap ponselnya secara diam-diam dan melacak keberadaannya selalu untuk protect terhadap keluargaku."


"Baiklah, aku mendukung hal itu." Jade menepuk pundak Owen sekilas kemudian merekapun keluar dari ruang kerja.


"Owen, apa kau sibuk?" tanya Gloria yang kebetulan berpapasan dengan mereka yang baru saja menyudahi percakapan.


"Tidak, ada apa?" tanya Owen.


Gloria membisikkan sesuatu ditelinga Owen, membuat pria itu mengernyit karenanya.


******