
"Ayo kita ke Bar," ajak Owen setelah merasa baik-baik saja.
"Kau yakin?"
Owen mengangguk. "Aku ingin semua urusanmu disini cepat selesai, agar kita juga bisa cepat kembali ke Mansion."
"Mansion?"
"Hmm, ku pikir kau tidak keberatan jika nantinya akan tinggal di Mansion keluargaku. Disana tidak ada siapapun kecuali pelayan setelah Oxela menikah."
"Baiklah," jawab Gloria menurut.
Owen berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Gloria, wanita itu pun menyambutnya.
Mereka keluar dari kamar untuk menuju Bar yang ada di lantai 6.
"Tuan Zwart...."
Rupanya mereka bertemu Tuan Brandy di depan pintu masuk Bar itu. Pria tambun itu langsung melirik kearah Gloria yang digandeng oleh Owen saat ini. "Apa kencan butanya belum selesai?" tanyanya berkelakar.
Owen hanya tersenyum tipis. "Sebenarnya dia calon istriku, Tuan Brandy," jawabnya.
Tuan Brandy terkekeh pelan. "Oh, pantas saja incaranmu berbeda .... aku sudah yakin jika kau sebenarnya mengenali Nona ini," ujarnya sembari kembali melirik Gloria dengan tatapan genit.
Gloria segera memandang ke arah lain, seolah tidak tahu jika Tuan Brandy sedang memandanginya. Ia sebenarnya risih dengan tatapan pria itu, namun ia berusaha tak membuat keributan.
"Kami akan menikah beberapa hari lagi, jadi ku mohon jangan menatapnya seperti itu jika kau masih menghargai ku, Tuan Brandy." Ucapan yang sangat terdengar sarkasme.
Rupanya Owen juga menangkap tatapan lain dari relasi bisnisnya itu. Tuan Brandy segera terkekeh lagi, mungkin untuk menutupi rasa grogi akibat ucapan Owen yang terang-terangan memberinya peringatan.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu, Tuan Zwart..." ucap pria itu lagi.
Owen mengangguk. "Baiklah, kami akan masuk ke dalam," ujarnya.
"Silahkan Tuan, nikmati malammu," Tuan Brandy pun segera berlalu ke arah yang berbeda.
Owen dan Gloria baru melangkah masuk kedalam Bar saat Gloria justru berbisik ditelinga Owen. "Apa tidak masalah jika kau memperingati pria tadi? Ku pikir dia rekan bisnismu."
Owen tertawa. "Jika dia melihatmu dengan cara seperti tadi lagi, itu artinya dia yang membuat masalah denganku," jawabnya tenang.
Gloria hanya ber-Oh panjang mendengar jawaban prianya.
Mereka memasuki Bar dan langsung menemui manager tempat itu.
"Gloria, kau tidak bekerja malam ini? Cepat ganti bajumu, Bar sudah buka sejak setengah jam yang lalu," tegur seorang pria yang menatap heran pada kedatangan Gloria bersama seseorang ke dalam Bar.
"Malam ini aku tidak bekerja, Tuan Zeno. Dan kedepannya, aku memang tidak akan bekerja lagi," ucap Gloria.
"What?" Pria itu terkejut dengan ekspresi yang bisa dibilang berlebihan.
Owen masih diam memperhatikan, saat pria bernama Zeno itu juga tengah menatap ke arahnya.
"Maaf Tuan, kedatanganku kesini dengan niat mengundurkan diri," jelas Gloria lagi.
"Gloria, kenapa mendadak? Aku belum punya orang untuk menggantikan posisimu. Dan lagi, aku butuh alasan yang tepat," pungkas Zeno.
"Maafkan aku, Tuan. Alasanku berhenti karena aku akan menikah."
Zeno kembali menatap Owen. "Dengannya?" tanyanya dengan nada sarkas.
Gloria mengangguk. "Sekali lagi maafkan aku, Tuan."
Zeno terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu, tampak dia berat hati melepas Gloria untuk resign dari pekerjaan ini.
"Kontrak kerjamu seharusnya masih berjalan," jawabnya tersenyum tipis.
Disaat yang sama, Owen memahami maksud pria ini dan menyimpulkan sesuatu dari tatapannya pada Gloria.
"Aku sudah bekerja disini hampir setahun, Tuan. Kontrak itu akan berakhir beberapa bulan lagi saja."
"Tapi tetap saja kau tidak bisa keluar seenaknya. Tetap saja masa kontrakmu belum habis."
Owen yang sejak tadi memilih diam, mulai memegang tangan Gloria, kemudian memberi isyarat mata agar semua ini dia yang menanganinya.
"Aku pikir akan sangat mudah mengundurkan diri dari pekerjaan pelayan seperti yang Gloria lakukan disini, ternyata tidak semudah itu, ya," kata Owen tersenyum tipis.
"Begitulah," jawab Zeno terkesan angkuh.
"Bisakah aku bertemu pemilik Bar ini?" Sebenarnya Owen tak mau menggunakan kekuasaannya, tapi dia cukup geram dengan sikap pria ini.
"Tidak perlu, aku yang bertanggung jawab atas semua yang terkait dengan Bar ini."
"Dia harus membayar biaya pinalti."
"Berapa?"
"$100.000," jawab Zeno tersenyum miring.
"Baiklah, keluarkan surat kontrak itu, jika biayanya memang sebesar yang kau sebutkan, maka aku akan membayarnya," kata Owen tenang.
Gloria mengguncang pelan lengan Owen, membuat Owen melihat pada wanita itu. "Jangan, itu jumlah yang besar!" ucapnya meyakinkan Owen.
"Tenanglah, Sayang... kita lihat saja dulu surat kontraknya."
Zeno menatap nyalang ke arah Owen, sementara Owen hanya membalas dengan senyuman smirk andalannya.
"Ambilkan suratnya! Aku akan langsung mentransfernya. SAAT .... INI .... JUGA ...." ucap Owen menekankan kata-katanya.
Zeno segera berlalu setelah mendengkus keras.
Owen dan Gloria menunggu dengan duduk santai didepan meja bartender.
"Kau mau minum, Honey?" tanya Owen pada Gloria.
"Tidak, aku tidak minum lagi." Gloria menggelengkan kepalanya.
"Why?"
"Sejak aku hamil aku berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, sekarang aku juga meny usui, itu tidak baik untuk Jeff. Lagipula, aku merasa tidak cocok minum."
Owen mengangguk singkat. "Ya, itu benar... kau nekat minum tapi berujung muntah-muntah," ejek Owen.
"Kenapa kau masih ingat masa lalu yang buruk itu?" Gloria mencebik.
"Always, aku tidak mungkin melupakan pertemuan pertama kita, Baby..."
Gloria jadi terkikik. "Kau sendiri, apa tidak mau pesan minum?"
"Aku tidak mau memulainya, karena kalau sudah dimulai nanti akan menimbulkan masalah baru," pungkas Owen. Gloria pun kembali tertawa mendengarnya.
"Lama sekali dia kembali," gerutu Owen karena Zeno belum muncul juga. "Apa surat itu baru mau dibuatnya?"
Gloria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Owen yang mulai mengomel tak sabar.
"Dia pasti akan kembali, sebentar lagi, sabarlah, Owen."
"Kau tahu, aku merasa dia tertarik padamu."
"Hah? A-apa?" Gloria terbahak mendengarnya.
"Ya, aku bisa melihat dari tatapannya kepadamu."
"Ya dia memang pernah mengajakku berkencan," terang Gloria jujur.
"Apa?" Kini Owen yang terkejut. "Lalu, kalian berkencan, begitu?"
Gloria segera mengibaskan tangan didepan Owen. "Tidak!" sanggahnya cepat.
"Pandangan dan instingku memang tidak pernah salah," gumam Owen sambil mendengkus pelan.
"Sudahlah, aku juga tidak pernah menerima tawaran kencannya," kata Gloria. "Aku hanya mencintai satu pria," bisiknya didekat telinga Owen.
"Aku?" Owen menunjuk dirinya sendiri, pede.
"Bukan," kata Gloria tenang.
"Jadi, siapa?" Intonasi suara pria itu langsung menanjak, galak.
"Jeff..." kata Gloria tanpa rasa bersalah.
Owen menghela nafas perlahan, menahan kesabaran.
"Jeff itu bukan pria, Sayang. Dia masih bayi." Owen menggelengkan kepalanya.
"Kelak Jeff akan jadi seorang pria juga, dia pasti akan tampan dan aku adalah wanita pertama yang mencintainya."
Owen menghela nafas lagi. "Hah, terserahlah..." katanya menyerah.
******