
Waktu terus berputar cepat membuat hari terus berganti, Jared kembali bekerja bersama Owen seperti biasanya. Ia disibukkan dengan mengurus jadwal pertemuan Owen dengan klien penting. Kadang juga menemani dan mewakili sebagai pembuka suara dalam meeting.
Usai meeting yang dilakukan disebuah restoran mewah, Jared mengatakan jadwal selanjutnya pada Owen.
"Tuan, Anda ada pertemuan penting dengan Tuan Charlie malam ini. Di Zumora Club'."
"Di club'?" tanya Owen memastikan.
"Ya, sekretaris Tuan Charlie meralat tempat pertemuannya secara mendadak, sebelumnya dia mengatakan pertemuan ini di Restoran Hotel Foxy."
"Astaga, Gloria bisa marah jika aku ke Club' meskipun ini pertemuan dengan klien penting," gerutu Owen.
"Tapi ini tidak bisa dibatalkan."
Owen berpikir sejenak. Ia menatap Jared lamat-lamat dan mendapat sebuah ide cemerlang. "Kau saja yang menggantikanku kesana!" ujarnya.
"Hah?" Jared terkesiap.
"Kenapa begitu reaksimu? Berlebihan sekali..."
"Tidak, bukan apa-apa, Tuan."
"Bekerjalah, Jared.... gantikan aku. Kau kan belum punya istri yang mengaturmu. Setelah bekerja kau bisa bersenang-senang disana. Aku tak masalah yang penting pekerjaanmu selesai."
Jared menghela nafas berat. Bukan ia tak senang ada pertemuan di Club' tapi biasanya klien yang mengajak bertemu disana adalah orang-orang yang tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Ujung-ujungnya akan menawari wanita.
"Baiklah, Tuan."
Nasibnya sudah begini, mau tak mau, mana bisa menolak perintah sang atasan. Ya sudah jalani saja. Batin Jared pasrah.
Malam menjelang, Jared bersiap-siap untuk pergi ke Club' dimana dia harus bertemu dengan Tuan Charlie demi menjalin kerja sama.
Pertemuan itu berjalan lancar dan Jared bersiap-siap untuk segera undur diri. Sayangnya seperti dugaan awalnya, Tuan Charlie justru menawarinya untuk bersenang-senang.
"Tidak, Tuan. Saya harus segera undur diri." Jared menolak sopan. Meski begitu, ia sebenarnya tak enak menolak permintaan klien.
"Baiklah, jika itu keputusanmu," kata Tuan Charlie. Syukurlah Tuan Charlie tidak memaksanya.
Selepas dari pertemuan itu, Jared ingin segera beranjak meninggalkan Club' tapi ia melihat kerumunan orang-orang yang seperti tengah menyaksikan sebuah tontonan seru.
"Lily! Lily! Lily!"
"Vega! Vega! Vega!"
Suara seruan orang-orang membuat Jared mau tak mau menghampiri sisi itu. Bukan karena dia tertarik untuk ikut melihat, ia hanya merasa nama Lily akhir-akhir ini sering sekali disebut.
Jared ingin memastikan apa ini adalah Lily yang sama dengan yang membuatnya kesal beberapa hari lalu? Jika ya, maka ini saatnya dia membuat perhitungan pada gadis itu.
Sialnya, ia malah melihat tontonan yang membuatnya ternganga karena terkejut. Disana benar-benar ada Lily yang ia kenal--tengah beradu tancho dengan gadis lain dan permainan mereka tampak sangat menegangkan karena memang belum mendapat pemenang.
"Lily?" gumam Jared sedikit terkejut. Untuk apa Lily melakukan adu Tancho seperti ini? Ini pasti ada taruhannya.
Jared ingin mengabaikan karena merasa tak ingin ikut campur urusan Lily tapi suara beberapa orang disampingnya kembali membuatnya terkejut.
"Siapa yang menang dalam permainan ini akan mendapat hadiah yang lumayan. Tapi jika kalah, harus menghabiskan minuman-minuman itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika salah satu diantara dua gadis itu kalah dan harus menghabiskan berbotol-botol minuman keras, iyuhhh...." Pria yang berucap dengan pendampingnya tampak bergidik ngeri.
Jared jadi berpikir, bagaimana jika Lily kalah dalam permainan ini dan harus menghabiskan semua botol minuman dalam satu malam. Bisa-bisa Lily mabuk parah dan yang lebih menakutkan lagi adalah lambung gadis itupun akan bermasalah.
"Apa aku harus menunggu permainan ini selesai?" batin Jared. Ia juga penasaran apakah Lily akan menang atau justru kalah. Akhirnya Jared memutuskan duduk disalah satu kursi dekat bartender sembari menunggu permainan usai tanpa mau melihat aksi Lily yang sedang bertaruh.
Tak perlu waktu lama setelah ia mendudukkan diri, adu Tancho itu pun selesai.
Terdengar sorak-sorai orang-orang yang menyerukan nama Lily.
"Ah, ternyata dia menang," gumam Jared. Sekarang ia bisa bernafas lega dan beranjak untuk meninggalkan Club'.
"Jared!"
Pria itu menoleh dan mendapati Lily yang memanggilnya.
"Wah, ternyata ini benar kau. Kita bertemu lagi rupanya!" kata Lily dengan senyuman yang tampak sinis.
Jared ikut tersenyum miring. "Kau menang?" tanyanya.
"Kau melihatku bertaruh?"
Lily menundukkan wajah. Kalau saja tak butuh banyak biaya, ia mana mungkin datang ke Club' untuk melakukan taruhan.
"Memangnya apa hadiahnya? Kenapa kau tertarik melakukan ini?" tanya Jared dengan senyuman mencibir.
"Bukan urusanmu!" Lily melengos, melewati tubuh tinggi Jared untuk segera berlalu dari tempat itu, sebab ia sudah menerima notifikasi pengiriman hadiah ke rekeningnya.
"Tunggu!" Jared mencegah langkah Lily membuat gadis itu melotot kesal.
"Apa lagi?"
"Kau sudah menang, jadi kau harus mentraktirku minum kopi, karena kemarin teh ku sengaja kau buat tidak enak!"
"Aku tidak mau! Enak saja kau!"
"Kalau begitu aku akan mengadukan hal ini pada Bibi Dien."
"Dasar tukang adu!" marah Lily.
"Jadi, kau mau atau tidak?"
Lily mau menjawab tidak, tapi entah kenapa mulutnya yang sudah terbuka akhirnya tak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menolak permintaan pria itu. Ia juga takut jika kegiatannya malam ini diketahui oleh sang ibu.
"A-ayo!" kata Lily berjalan lebih dulu didepan Jared dengan wajah memberengut.
Mereka tiba disebuah kedai kopi yang tak jauh dari Club'. Bahkan mobil yang dikendarai Jared masih terparkir dipelataran club'. Mereka berjalan kaki menuju tempat ini. Tentunya dengan posisi Lily didepan dan Jared mengikuti langkahnya dibelakang, tidak mungkin mereka berjalan bersisian. Tidak akan.
"Pesanlah! Hanya kopi. Tidak yang lain!" Lily memperingatkan Jared sambil mendelik kan mata.
Jared tertawa pelan kemudian memanggil pelayan dan memesan kopinya.
"Kau tidak memesan?"
"Tidak," jawab Lily singkat.
"Kenapa?"
"Sudahlah, pesan saja kopimu!" sungut Lily.
Setelah pelayan itu pergi, Jared menatap Lily yang tak mau melihat kearahnya.
"Kau ini kenapa? Aku bahkan belum membalas perbuatanmu tapi kau bersikap seakan aku yang punya dosa besar padamu!" cetus Jared.
"Tidak kenapa-napa."
Jared mencebikkan bibir sambil manggut-manggut. "Apa kau sedang butuh uang?" tanyanya menerka.
"Bukan urusanmu!"
"Oke, bukan urusanku. Tapi bisa aku tahu berapa hadiahnya?"
"Untuk apa?"
"Barangkali aku jadi tertarik untuk mengikuti games itu juga." Jared tersenyum tipis.
"$500," gumam Lily.
"Sekali menang bisa dapat uang $500?" tanya Jared memastikan.
"Hmm...." Lily mengangguk.
"Kau sering mengikutinya?"
"Kadang-kadang," jawab Lily tak acuh.
Tanpa perlu dipertanyakan lagi pada gadis ini, Jared sudah bisa memprediksi jika Lily tengah membutuhkan banyak uang.
"Baiklah, kapan-kapan aku akan ikut juga."
Lily menatap Jared dengan mata membola. Pasalnya ia tak menyangka pria ini mau melakukan permainan taruhan semacam ini. Kelihatannya juga Jared sudah terbilang mapan dan tak perlu mengikuti taruhan seperti ini untuk mendapatkan uang. Apa mau pria ini sebenarnya? Apa mau mengerjainya?
******