Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Ayo pulang!


Gloria melangkah pelan, kepalanya tertunduk. Ia memikirkan bagaimana tanggapan Owen jika tahu tentang kondisinya. Kecewa? Marah? Atau justru biasa saja sebab Owen bisa mendapat wanita lain yang lebih baik darinya.


Sampai ia tiba didepan tangga, ia bisa mendengar suara pria yang sangat ia rindukan tengah memanggil namanya.


"Gloria..."


Dengan kemelut dihatinya, Gloria berusaha meyakinkan diri mengenai hal yang ingin ia sampaikan pada Owen tentang sebuah keputusan yang telah ia pilih.


Gloria menuruni anak tangga, satu persatu, perlahan tapi pasti akhirnya ia tiba didepan pria itu, Owen Zwart, pria yang telah memenuhi hatinya yang sempat terluka akibat kamuflase pernikahan bersama Richard.


Richard berdehem disamping tubuh Gloria.


"Bicaralah, aku hanya memberi waktu lima belas menit, tidak lebih," kata Richard mengelus pundak Gloria sekilas.


Sebelum benar-benar meninggalkan Gloria dan Owen, Richard kembali membisikkan sesuatu ke telinga Gloria.


"Berpikirlah! Hanya aku yang mampu menerima kondisimu. Kita sama-sama tidak sempurna, kita akan melewati hari yang lebih baik bersama-sama."


Setelah berbisik, Richard undur diri dari hadapan keduanya. Memberi ruang dan waktu, yang ia yakini jika Gloria pasti tak akan kembali pada Owen sebab ia lah yang akan menjadi pemenangnya.


"Ayo kita pulang!" Bukannya menanyakan sesuatu hal, Owen langsung mengajak Gloria untuk pergi dari sana, membuat Gloria tersentak dengan hal itu.


Owen menatap Gloria yang bergeming ditempatnya. "Kau kenapa? Ayo kita pulang ke Apartmen!" pintanya.


Gloria menggeleng. "Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Mendengar itu, Owen tidak memberi jawaban namun segera membawa Gloria dalam pelukannya.


"I miss you," ucap Owen ditelinga Gloria. Sedangkan wanita itu mengangguk didada bidang lelakinya. Dia pun teramat merindukan Owen, menghirup aroma maskulin yang berasal dari aftershave milik pria itu, aroma yang dihafalnya-- membuatnya semakin mengencangkan pelukan diantara mereka berdua. Ia benar-benar merindukan Owen lebih dari segalanya.


Owen mendekap Gloria erat, berapa lama ia meninggalkan Gloria? Seminggu? Kenapa rasanya seperti setengah tahun? Rasa rindunya tidak bisa hilang dengan hanya berpelukan sesaat seperti ini, ia ingin kembali bersama Gloria dihari-hari berikutnya. Menjalani aktifitas dengan bayang-bayang wanita ini cukup menyiksanya, jadi dia tidak mau berpisah lagi walau hanya sesaat.


"Apa dia menyakitimu? Katakan padaku!" Tiba-tiba Owen menangkup kedua pipi Gloria, menatapnya lekat dan serius.


Rasanya Gloria ingin mengadu pada kekasihnya, mengenai hal apa yang telah terjadi kepadanya, namun itu tidak bisa dia lakukan sebab memikirkan dampak setelah pengaduan itu.


"Kenapa kau diam saja?" Owen mendesak agar Gloria membuka suara. Gloria hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Baiklah, aku tahu kau tidak bahagia disini. Ayo kita pulang! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, jika aku pergi aku akan mengajakmu."


Gloria menggeleng, kemudian dia melerai jarak diantara mereka, membuat Owen mengernyit heran dengan sikap Gloria-nya.


Bagai disambar petir, ucapan Gloria membuat Owen membeku ditempatnya. Apa yang telah terjadi? Kenapa Gloria menjawab demikian?


"Gloria...?"


"Pulanglah ke tempatmu, Owen! Tempatmu bukan disini, disini adalah tempatku."


Owen menggeleng keras. Baru saja Gloria memintanya untuk memeluk, kenapa sekarang ucapan Gloria terdengar dingin padanya?


"Kau tidak bahagia disini, bagaimana bisa aku membiarkanmu tetap disini, Gloria!"


"Urusan aku bahagia atau tidak, sudah bukan menjadi urusanmu..."


"Apa maksudmu?"


"Hubungan yang terjadi diantara kita sudah seharusnya berakhir. Aku harus kembali pada kodratku sebagai seorang istri."


"Tidak! Apa-apaan kau ini, kau mencampakkan ku?"


Gloria mengangguk, ia sudah sampai pada sebuah keputusan. Lebih baik ia meninggalkan Owen daripada pria itu men-cap-nya sebagai wanita kotor, suatu saat nanti.


"Gloria! Kau lupa pada janjimu, hah?"


Maafkan aku Owen, lebih baik aku yang mengingkari janji daripada kau yang nantinya akan melanggar janjimu kepadaku. Kau berjanji tidak akan menyakiti aku, kan? Tapi apa janji itu akan tetap kau tepati jika suatu saat kau tahu kondisiku yang sekarang? - batin Gloria.


Gloria beringsut, tidak menjawab pertanyaan pria itu. Ia berbalik arah, lalu menaiki undakan tangga untuk mencapai lantai atas.


Owen terduduk lemas, ia tak menyangka Gloria akan meninggalkannya dengan cara seperti ini. Terlalu cepat, bahkan belum sepuluh menit mereka saling bicara demi melepas kerinduan yang sempat menyiksa jiwa.


"Jika ini adalah keputusanmu, aku akan menerimanya. Ku harap kau bahagia dengan pilihanmu."


Owen beranjak dengan perasaan sakit hati. Ia pun pergi meninggalkan kediaman Richard. Ia tak menduga, ternyata Richard mampu mengambil hati Gloria kembali, sampai Gloria bisa mengingkari janji yang telah diucapkannya berulang kali.


Gloria tidak berani berbalik demi menatap kepergian Owen. Ia memilih memasuki kamar, menutup pintu dan terisak disebaliknya.


Sebenarnya, ia belum puas untuk memeluk Owen. Belum reda pula rasa rindunya, tapi ia bersyukur karena akhirnya ia bisa berbicara bahkan menyentuh lelaki itu untuk terakhir kali.


*****