Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /6


Jared kembali mengantarkan Lily pulang kerumahnya malam itu. Rumah sederhana itu nampak sepi.


"Ini sudah larut, pasti Bibi Dien sudah tidur. Apa kau selalu pulang selarut ini?" tanya Jared menatap Lily.


Jared melupakan misinya untuk membalas tingkah tengil Lily beberapa hari lalu, mencoba melupakan teh rasa garam, karena hari ini Lily sudah membantu dan menyelamatkannya dari situasi dan hukuman membersihkan toilet club'.


"Tidak selalu. Aku hanya pulang larut jika mengikuti adu Tancho seperti kemarin malam dan sekarang ini."


"Apa penyakit Bibi Dien sangat parah?"


"Kanker usus, stadium 2," lirih Lily.


"Aku turut prihatin dengan kondisi Bibi. Kapan jadwal kemo-nya lagi?"


"Sebenarnya harus kemo dari seminggu yang lalu, tapi uangku belum cukup. Kemo membutuhkan banyak biaya dimuka sebagai deposit. Belum lagi biaya obat dan perawatan."


Jared menganggukkan kepalanya, paham. "Besok aku temani mengantar ibumu ke rumah sakit," putus Owen.


"Kenapa kau masih peduli pada Ibuku?" tanya Lily.


"Mungkin karena aku tidak pernah merasakan punya ibu, jadi aku bisa menganggap bibi Dien sebagai ibuku, itupun jika beliau tidak keberatan."


Lily tertawa pelan. "Ibu memang sangat ingin punya anak lelaki. Apalagi sepertimu, dia pasti akan sangat bahagia."


"Benarkah?"


"Huumm..." Lily mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya sudah, turunlah. Sampai jumpa besok."


"Tanpa sadar sekarang hampir setiap hari kita bertemu, Jared." Lily terkikik menyadari hal itu begitupula dengan Jared.


"Iya, kau benar!"


"Ya sudah, aku masuk..."


"Lily?"


"Hmm?" Lily menoleh pada Jared padahal tangannya sudah menyentuh handle pintu mobil.


"Bu-bukan apa-apa. Aku cuma mau mengatakan .... agar kau segera masuk dan jangan lupa mengunci pintu rumah."


Lily tersenyum lembut, senyum yang baru sekali ini Jared perhatikan tersungging dari bibir mungil gadis itu.


"Kenapa senyumnya seperti itu? Ternyata dia ... manis juga." Pikiran Jared itu membuatnya ikut membalas senyuman Lily.


Lily bahkan melambaikan tangan pada Jared sekilas, barulah ia masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya sesuai peringatan dari Jared.


Dibalik pintu rumah, Lily bersandar sembari memegangi dadanya yang terasa berdebar. Entah kenapa perlakuan Jared jadi berubah sejak mereka keluar Club' tadi. Apa ini karena Jared sempat mengatakan kalimat ajakan menikah? Tapi, itu kan hanya main-main. Lalu, kenapa sikap Jared benar-benar jadi melunak?


Dilain sisi, Jared kembali menyalakan mesin mobilnya setelah memastikan Lily benar-benar sudah masuk ke dalam rumah.


Sudut bibir Jared tertarik, sebuah sunggingan terulas disana. Membayangkan senyum Lily yang tadi dilemparkan padanya, entah kenapa membuatnya salah tingkah.


"Apa aku sudah gila?" batin Jared merasa aneh sendiri.


_______


"Jared, tolong antarkan Jeff ke daycare hari ini. Gloria kurang sehat. Aku akan memeriksakan keadaannya di rumah sakit."


"Baiklah, Tuan." Jared menatap Jeff yang mulai berjalan kearahnya didampingi oleh seorang pelayan sebab Gloria terbaring karena sakit.


"Let's go, Jeff!" kata Jared bersemangat.


"Let's go, Uncle!"


Sambil bersiul, Jared menggendong Jeff untuk membawanya menuju mobil yang terparkir.


"Apa yang Jeff bawa?" Jared melihat Jeff yang membuka tas-nya didalam mobil saat mereka sudah dipertengahan jalan.


"Cokelat."


"Banyak sekali?"


"Iya, Jeff akan membagikannya untuk semua teman-teman di daycare. Semua mendapat satu cokelat. Dan yang tiga ini...." Jeff menunjuk tiga batang cokelat lain yang tidak ia keluarkan dari dalam tas. "ini untuk Lily. Lily sangat suka cokelat. Wuhu...." Jeff bersorak senang dan tampak antusias.


"Kau pintar sekali, Jeff..." Jared menatap Jeff dengan bangga seolah bocah itu adalah puteranya sendiri.


"Jeff harus pintar, Uncle! Agar Jeff jadi orang sukses seperti Daddy dan jadi orang keren seperti Uncle...."


Jared tergelak mendengar celotehan Jeff yang sangat polos.


"Memangnya Uncle keren, ya, Jeff?"


Jeff mengangguk. "Iya, begitu kata Lily."


"Lily bilang begitu pada Jeff?"


Jeff mengangguk. "Uncle Jared sangat keren ya, Jeff.... begitu, Uncle!" ujarnya memperagakan ucapan Lily.


Jared tersenyum tipis, ternyata gadis itu memang mengaguminya hanya saja gengsi jika didepannya.


"Oh, jadi Lily bilang begitu ya?"


"Iya, tapi... pesan Lily, Jeff tidak boleh mengatakannya pada Uncle. Kemarin Jeff tidak mengatakan apapun kan, uncle? Kalau hari ini tidak apa-apa, kan?"


Jared menahan gelak, bocah kecil ini sangat cerdas tetapi polos.


"Iya, hari ini tidak apa-apa jika Jeff mengatakannya pada Uncle."


"Oke, Uncle...." Jeff tampak selalu girang. Begitulah anak kecil, tidak ada beban dalam hidupnya.


Mobil yang dikendarai Jared pun tiba di daycare. Jared mengantarkan Jeff sampai pada staff penjaga. Sementara mata pria itu menyapu ruangan, mencari-cari Lily disana.


"Uncle...." Jeff kembali pada Jared yang belum beranjak pergi.


"Ya, ada apa, Jeff?"


"Ini, cokelatnya untuk uncle saja! Lily tidak datang kesini hari ini."


"Benarkah?" Jared merasa ada kejanggalan. Apa ini menyangkut kesehatan Bibi Dien? batin Jared menerka-nerka.


_______


Selepas dari Daycare, Jared memutuskan mengunjungi kediaman Lily lebih dulu. Sayangnya rumah itu tertutup rapat meski Jared sudah mengetuknya secara berulang. Jared yakin ada yang tidak beres. Sayangnya ia lupa menanyakan pada Lily dimana Dientin menjalani pengobatan. Jared juga merutuk diri sebab tak menyimpan nomor ponsel Lily.


Saat hendak beranjak dari rumah itu, sebuah mobil ikut berhenti tepat disamping mobil Jared, membuat pria itu memperhatikan.


Seorang wanita dengan raut wajah taqk asing turun dari mobil.


"Ja-jared?" sapanya tak percaya.


Jared tak menyahut, ia melengos menuju mobil ketika menyadari jika itu adalah Rose.


"Mau apa kau kesini?" tanya Rose saat Jared hampir memasuki mobilnya.


"Aku ada keperluan dengan bibi Dien."


"Ada perlu apa dengan ibuku?" tanya Rose dengan nada tak senang.


"Tidak ada urusannya denganmu." Jared menjawab dingin.


Rose menggeram, ia tak menyangka harus bertemu mantan kekasihnya di rumah sang ibu. Matanya memicing, memperhatikan penampilan Jared dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dalam sekali pandangan, Rose tahu bahwa derajat hidup Jared sekarang sudah pasti tengah diatas.


"Apa kau datang kesini untuk pamer?" sarkas Rose.


"Mulutmu masih sama tajamnya seperti dulu!" ketus Jared dan segera memasuki mobilnya.


Sebenarnya Jared ingin tahu alamat rumah sakit dimana Dientin dirawat, tapi ia lebih memilih menghindar dari Rose karena pertemuan dengan wanita itu membuatnya cukup terkejut.


Meski sudah tak ada rasa, pertemuan antara dia dengan Rose hari ini adalah pertemuan pertama setelah mereka berpisah sepuluh tahun yang lalu. Ini cukup membuat hati Jared kembali nelangsa.


Ia memang seorang pria yang tak bisa menunjukkan sakit hatinya, tapi tetap saja ia punya perasaan. Ia tak bisa melupakan bagaimana penghianatan Rose kepadanya dimasa lalu. Tepatnya, saat ia tengah terpuruk dalam kondisi ekonomi yang kurang berkecukupan. Rose lebih memilih pria kaya untuk menjadi pasangannya dan menduakan Jared waktu itu.


"Sia lan! Kenapa aku harus bertemu dengannya!" Jared menggeram kesal.


*****