
Tubuh Gloria semacam magnet yang menarikku. Begitu aku memasukinya, rasa sempit, basah dan mencengkeram begitu terasa. Belum lagi rasa hangat yang menjalar disekujur pembuluh darahku.
Oh my... padahal ini baru seperempatnya, belum sepenuhnya. Aku merasa gila dengan kenikmatann yang ditawarkan tubuh Gloria.
Gloria bergerak gelisah, aku mulai menciumi wajahnya untuk membuat wanita itu rileks kembali. Semuanya mulai ku cumbui tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
Bibir Gloria juga sangat memabukkan, aku ingin merasakannya lebih dalam diposisi ini. Mendorong indera pengecapku masuk untuk mengeksplore kehangatan rongga dimulutnya.
Kami berdua seakan berkubang dalam kenikmataan, akupun berlanjut mencium tulang selangka wanita itu sambil terus memacu, membuat tubuhnya bergetar.
Demi apapun, aku harus berkonsentrasi agar tidak terpengaruh dengan rasa luar biasa yang kudapatkan setelah masuk sepenuhnya dalam penyatuan kami.
"Kau sangat cantik, Glo..." bisikku sembari menggigitt cuping telinganya. Wajah Gloria bersemu merah dan aku semakin suka melihatnya seperti itu.
Aku harus memfokuskan diri karena aku tak mau terlena begitu saja hingga menyudahi permainan ini dengan begitu singkat.
Aku melukis tubuhnya dengan stempel dari bibirku dan aku menyeringai puas.
Aku mulai menikmati setiap desisan dari bibir Gloria, ia memanggil namaku berulang kali dan aku merasakan tubuhnya yang bergetar.
"Owen..."
"Owen..."
"Owen..."
Aku hanya menjawabnya dengan tindakan karena aku sedang berkonsentrasi saat ini.
Dan hasil dari konsentrasiku itu, akhirnya tubuh Gloria mengejang dan miliknya terasa semakin menjepitt milikku, sepersekian detik berikutnya ia mendahuluiku mencapai puncak, aku tahu karena aku merasakannya. Ada kepuasann tersendiri dalam diriku karena berhasil membuatnya limbung.
Aku ingin mengulangi dengan gaya lain namun ku pikir ini adalah pengalaman pertama bagi Gloria jadi semua ini akan ku tuntaskan sampai disini dulu.
Dengan kesadaran penuh karena aku tahu siapa yang saat ini berada dibawah tubuhku, akupun menjeriti nama Gloria yang sudah membuatku melambung penuh kenikkmatan.
_____
*Gloria Pov
Aku merasakan lidah Owen menari-nari diatas puncak dadaku. Ia melumattnya bergantian kiri dan kanan, bersamaan dengan tangannya yang mengelus dan menekan-nekan didekat bagian yang sama, demi apapun aku tidak bisa menerjemahkan rasa aneh yang bergelenyar didiriku saat ini. Kenikmatann yang terasa begitu asing bagiku karena aku tidak pernah merasakannya sebelumnya.
Aku hampir sampai diambang batas ternikmat yang paling tinggi yang baru kini kurasakan.
"Owen...."
"Owen...."
"Owen...."
Berulang kali aku menyebut nama pria itu, namun ia tidak menggubrisku dengan suara melainkan ia menjawabku dengan tindakan. Tindakannya itu berhasil membuat sesuatu yang ada dalam diriku keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan lagi.
Tubuhku serasa limbung, seiringan dengan hentakan hebat yang Owen hujamkan berkali-kali ke milikku.
"Oh oh..." Suara Owen terdengar bergetar, sama seperti aku yang menjeriti namanya dengan suara khas yang sama.
Terakhir, Owen menyebut namaku dengan suara lenguhann panjang.
"Gloriahhh..."
Tak berselang lama dari itu, aku merasakan sesuatu yang hangat sudah membasahi kulit perutku. Namun, saat aku ingin melihatnya, Owen justru mencium kedua kelopak mataku dengan lembut.
"Thank you. Tetaplah disini, aku akan membersihkannya," ucapnya lembut. Kemudian lelaki itu beringsut menuju ke sudut ruangan. Dia kembali membawa sekotak tissue dan membersihkan area perutku.
"Bi-biar aku saja," kataku tak berani beradu mata dengan Owen.
Owen tersenyum tipis. Dia tetap melanjutkan aksinya membersihkan perutku. Aku membuang pandangan ke arah lain karena tidak sanggup menatap tubuh polosnya yang tepampang didepanku.
Oh my.... padahal sejak tadi dia sudah berpenampilan seperti itu, tapi kenapa sekarang aku baru menyadarinya, apa rasa malu ku baru kembali sekarang? Sedangkan tadi rasa malu itu terbang entah kemana.
Aku hendak bangkit dan duduk, Owen dengan sigap membantuku.
"Aku mau ke toilet," kataku pelan.
Owen mengangguk, aku pikir ia ingin pergi membersihkan diri juga, nyatanya ia justru mengangkat tubuhku, membawaku dalam gendongannya.
Aku memekik namun tertahan. Akhirnya aku hanya protes kecil kepadanya.
"Aku bisa sendiri," ucapku.
"Benarkah?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya, turunkan aku." Aku malu harus digendong Owen dalam keadaan kami yang sama - sama tak berbusana. Jika mengingat momen yang sempat terjadi tadi rasanya aku ingin bersembunyi dimanapun sanking malunya. Bagaimana bisa kami melakukannya di sofa ruang tamu?
Akhirnya, Owen menurunkanku dan aku mulai ingin beranjak menuju kamar mandi yang ada dikamarku, namun satu ringisan keluar dari bibirku begitu saja karena merasa sakit dibagian inti milikku. Rasanya cukup perih dan sedikit janggal, entahlah...
"Kau tidak apa-apa? Yakin bisa sendiri?"
Aku mengangguk, biar ku tahankan sakitnya daripada aku harus digendong Owen ke kamar mandi dengan rasa malu yang mendominasi.
"Tunggulah disini, biar ku ambilkan handuk." Owen berlalu begitu saja menuju kamar miliknya, kemudian dia kembali dengan sudah mengenakan handuk di pinggangnya dan sebuah handuk lain ditangannya.
"Handukku ada dikamar yang satunya," ucapku sungkan.
"Tak apa, ini hanya handuk. Pakailah, ini handuk bersih."
Aku pun mengambil uluran handuk yang diberikan Owen kepadaku, melilitkan itu di tubuhku yang sejak tadi dipandangi oleh pria itu.
"Apa mau ku bantu membersihkan diri?"
Aku menggeleng.
"Baiklah." Owen mengelus puncak kepalaku. "Setelah membersihkan diri, jangan tidur dulu. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucapnya tersenyum hangat.
Cup
Owen mengecup dahiku sekilas, membuatku tercenung beberapa saat kemudian pria itu mengangguk seolah menyuruhku untuk lebih dulu beranjak.
Aku pun masuk kedalam kamar yang ku tempati selama tinggal di Apartemen Owen dan berjalan menuju kaman mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku menghela nafas panjang.
Akhirnya, aku kehilangan sesuatu yang ku jaga khusus untuk suamiku. Dan orang yang merenggutnya adalah Owen, pria yang baru ku kenal belum sebulan penuh.
Entah kenapa tidak ada perasaan menyesal dalam diriku karena telah menyerahkan hal ini pada pria itu. Aku tidak munafik, aku menikmati semua perlakuan Owen kepadaku. Aku memang menginginkan hal ini meski dulunya aku ingin melakukan ini dengan Richard tentunya.
Namun, siapa sangka Richard sendirilah yang mengantarkanku pada Owen. Hal yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.
Owen memang tampan, tubuhnya proporsional, senyumnya menawan dan sikapnya yang tidak pernah memaksaku berhasil meluluh-lantakkan hatiku. Aku sadar bahwa aku telah jatuh kedalam pesona lelaki itu. Lelaki yang kini menjadi simpananku.
Tapi, aku juga paham jika Owen hanya menjadikanku sebatas permainan dan alat untuk kesenangan semata. Aku juga telah menikah dengan Richard walau dia tidak pernah menyentuhku sejauh yang hari ini Owen lakukan kepadaku.
Intinya, aku hanya perlu menikmati permainan ini bersama Owen. Tidak perlu memakai rasa karena beberapa saat lagi, semua yang terjalin antara aku dan lelaki simpanan akan segera berakhir ketika Richard menjemputku.
******