Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /2


Jared menatap Lily seolah memberi isyarat tak setuju, namun suara Dientin yang sudah memasuki rumah kembali terdengar.


"Jared, apa kau tidak mau masuk ke rumah Bibi lagi?"


"Hah? Bu--bukan begitu, Bi."


"Ayo masuklah!"


Walau urung, tapi mau tak mau Jared kembali menginjakkan kaki di kediaman mantan kekasihnya itu. Rasanya sudah lama sekali ia tak berkunjung kesini. Terakhir kali mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, saat ia masih berpacaran dengan Rose dan waktu itu Lily juga masih sekolah di jenjang Senior High School. Pada saat itu Jared juga belum bekerja dengan Owen, dulunya ia hanya bekerja disebuah kantor Agensi bersama dengan Rose.


Jared duduk disebuah sofa yang ada di ruang tamu dengan perasaan yang serba salah. Bukan karena ia masih memiliki rasa pada Rose atau mengingat saat masa lalunya, melainkan ia tak mau Dientin menanyakan lebih lanjut perihal kenapa ia bisa mengantar Lily hari ini.


"Lily, buatkan Jared minuman, ya..." perintah Dientin kepada Puteri bungsunya.


"Iya, Bu."


Astaga, Jared mengurut pelipisnya. Kenapa ia jadi bertamu disini.


Dientin duduk didepan Jared yang masih tampak kelimpungan karena keadaan yang mendadak absurd.


"Sudah lama sekali ya," katanya memulai.


"Ah, ya, Bibi...."


"Apa kabarmu, Jared?"


"I'm great, Bibi Dien." Jared berusaha menjawab sekenanya.


"Syukurlah, Bibi lihat kau memang banyak berubah." Wanita paruh baya itu tersenyum simpul, sementara Jared hanya menyengir kuda.


Tak berselang lama, Lily datang untuk menyajikan segelas teh didepan Jared dan memintanya untuk segera minum.


"Minumlah, setelah itu pulang!" ketus Lily tanpa basa-basi.


"Lily...." Dientin menggeleng ke arah sang anak seolah mengingatkan Lily agar tak bersikap demikian.


"Duduklah juga, Lily!" kata Dientin kemudian-- meminta pada sang anak.


Lily menggeleng. "Aku lelah, Bu."


"Apa kau tidak mau mengucapkan terima kasih pada Jared yang telah mengantarkan mu pulang?"


Lily berdecak lidah, tapi akhirnya ikut mendudukkan diri disebelah ibunya.


"Terima kasih sudah mengantarku," ujar Lily tanpa menatap pada Jared. Ia masih kesal pada pria itu.


"Kenapa kau bisa mengantar Lily pulang, Jared?" Dientin kembali menatap pria dihadapannya.


"Tadi kan sudah ku katakan bahwa kami hanya kebetulan bertemu, Bu," sela Lily.


"Ibu tidak bertanya padamu, ibu bertanya pada Jared."


Lily terdiam dan menekuk wajah.


Jared menggaruk pelipisnya sekilas. "Kami bertemu di pesta ulang tahun Jeff, kebetulan orangtua Jeff adalah atasanku."


"Oh, Jeff anaknya Gloria, ya?" Dientin mengetahui itu sebab hubungannya dengan Gloria juga sangat baik sejak Lily mengenalkannya pada keluarga Jeff.


"Benar, Bibi."


"Apa kau sudah menikah, Jared?"


"Ibu!" Niat Lily adalah mencegah ibunya untuk bertanya terlalu jauh pada pria itu.


"Belum, Bibi."


Dientin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya sudah, minumlah..." katanya kemudian.


Jared pun meneguk teh yang ada dihadapannya, namun belum sempat cairan itu tertelan melalui tenggorokannya, ia justru memuntahkan kembali tehnya.


"Astaga, ada apa?" Dientin tampak panik, segera meraih kotak tisu dan memberikannya pada Jared. Namun karena kejadian itu, sebagian baju Jared basah tak dapat terelakkan.


Jared segera meletakkan gelas teh ke meja dan menyorot Lily yang menahan geli diseberangnya.


"Pasti dia sengaja memberi teh nya garam, awas saja kau!" batin Jared. Ia menatap Lily dengan tatapan kesal. Sementara yang ditatap seolah tak melakukan kesalahan apapun. Lily malah fokus menatapi kuku-kuku jarinya sendiri tanpa mau membalas tatapan Jared yang sudah pasti jengkel padanya.


"Apa kau baik-baik saja?" Dientin menanyakan keadaan Jared setelah ia merasa jika Jared tersedak tadi.


"Tidak apa-apa, Bibi. Aku hanya takut darah tinggi karena meminum teh yang bergaram," kata Jared menyindir Lily.


"Apa? Teh bergaram?" Dientin yang terkejut segera menatap puterinya yang tampak tak merasa berdosa.


"Kau memberi tehnya garam, Lily?" Dientin menatap Lily dengan tatapan curiga.


"Tidak, mana mungkin!" sanggah Lily.


"Hhh! Kenapa jadi begini," gerutu Jared sembari mendengkus kesal.


Saat ini ia menyetir mobil menuju pulang. Ia tak habis pikir kenapa jadi bertamu ke rumah Lily. Semua ini karena permintaan Jeff, tapi mana mungkin ia menyalahkan bocah itu? Selain Jeff adalah anak Owen, ia juga amat menyayangi bocah tampan itu dan tak mungkin memarahinya.


"Diberi teh rasa garam pula!" sungutnya masih kesal pada Lily.


"Awas saja kau! Lain kali aku pasti membalas perbuatanmu," katanya jengkel.


Seingat Owen, dulu Lily adalah gadis yang sangat manis dan pendiam. Kenapa sekarang sikapnya jadi seperti ini? Apa karena Jared terang-terangan menuding bahwa gadis itu memiliki rasa padanya? Sehingga Lily menjadi kesal?


"Apa aku memang terlalu percaya diri, ya?" Jared kembali bermonolog pada dirinya sendiri.


Sesampainya di Mansion, rupanya kepulangannya itu sudah ditunggu oleh Jeff.


"Uncle...."


Jeff menyapa dan langsung menyerbu tubuh Jared sembari naik kedalam gendongannya, kebiasaan ini selalu terjadi tiap ia pulang. Ia tak bisa marah dan justru menyambut hangat bocah menggemaskan itu. Terkadang, ia justru merasa seperti ayah kedua bagi Jeff.


"Uncle, kenapa kembali sangat lama?"


"Lama?"


"Ya, apa Uncle dan Lily pergi jalan-jalan dulu?"


"Tidak ada, mana mungkin. Uncle hanya mengantarkannya pulang."


Jeff mengangguk-anggukkan kepala, tampaknya ia paham maksud yang Jared ucapkan. Bocah itu memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata anak seusianya.


"Tapi.... lama!" Tiba-tiba Jeff merengut sambil melipat tangan di dada, Jared terkekeh melihatnya.


"Apa besok Jeff akan ke daycare?"


"Memangnya kenapa? Apa uncle mau bertemu Lily lagi di daycare?" tebak Jeff.


"Ti-tidak!" sanggah Jared. Sebenarnya dia memang mau bertemu Lily untuk misi membalas mengerjai gadis itu, tapi dia tak mau terang-terangan pada Jeff, pasti bocah ini akan membuka rencananya pada Lily nanti.


"Besok Jeff tidak ke daycare, karena besok aku full dirumah." Gloria datang dan menimpali percakapan Jared dan bocah kecil digendongan pria itu.


"Oh...." Jared menganggukkan kepala. "Baiklah, Nyonya. Saya permisi ke paviliun belakang," katanya.


"Hmm...." sahut Gloria namun masih menatap Jared penuh selidik.


Jared pun menurunkan Jeff dari gendongannya.


"Jared?"


"Ya, Nyonya?"


"Apa sebelum hari ini kau dan Lily sudah saling mengenal?"


"Ehm... tidak juga," jawab Jared.


"Oke. Maaf aku jadi bertanya soal hal pribadi karena ku pikir kalian saling mengenal satu sama lain."


Jared diam saja tak berusaha menjelaskan.


"Uncle, Jeff dapat kado iron man dari Lily. Keren sekali!" ujar Jeff dengan pipi merah karena kesenangan.


"Kalau hadiah dari Uncle, apa Jeff suka?"


"Sangat suka! Nanti Jeff ajak Iron man naik mobil keren dari Uncle Jared."


Jared mengacak rambut Jeff dengan gemas, ia jadi mengurungkan niat untuk beranjak karena Jeff masih mengajaknya bicara. Jared memang menghadiahi Jeff sebuah mobil-mobilan yang memiliki aki dan bisa dinaiki sebagai kado ulang tahun bocah itu hari ini.


"Nanti kalau Jeff sudah besar, Jeff akan mengajak Lily naik mobil sungguhan. Seperti Uncle Jared. Apa itu boleh, Mommy?" Jeff menatap Gloria dengan tatapan teduhnya.


"Boleh, sayang..." sahut Gloria. "Tapi, Mommy diajak juga, kan?"


"Mommy bersama Daddy saja! Jeff bersama Lily dan uncle Jared bersama--" Ucapan Jeff terjeda, bocah itu terlihat berpikir keras-- memikirkan siapa yang akan menemani Jared nantinya.


"Tidak usah dipikirkan, Boy!" kata Jared terkekeh mendengar celotehan polos Jeff.


"Hmm, baiklah. Jeff bersama Mommy dan Daddy saja. Dan Uncle... Jeff akan biarkan Uncle bersama Lily. Bagus kan? Jadi tidak akan ada yang sendirian."


Kini giliran Gloria yang terkekeh. Bagaimana mungkin anak seusia Jeff bisa berpikir seperti ini. "Sudahlah, Jeff. Uncle Jared harus istirahat sekarang. Kau juga harus tidur, ya..." Gloria membawa Jeff dalam gendongan.


Sementara Jared jadi memikirkan ucapan bocah kecil itu.


"Jika sampai Jeff besar dan aku belum punya pasangan juga, otomatis ucapan Jeff benar adanya bahwa aku akan tetap sendirian." Jared pun tersenyum miris.


******