
Owen tengah melakukan rapat penting terkait masalah yang sedang dialami para pekerja proyeknya kali ini. Rencananya di tanah itu akan dibangun sebuah Hotel menggunakan jasa kontraktor perusahaannya, namun terkendala sebab tanah yang akan dibangun masih memiliki sengketa.
Ratusan masyarakat yang tinggal di sekitar tanah yang akan dibangun, menolak keras pembangunan itu, menganggap perusahaan Owen adalah milik mafia tanah yang akan segera mengusir mereka tanpa ampun. Kini, semua masyarakat itu tengah berdemo dan menuntut agar pembuatan proyek pembangunan Hotel itu dibatalkan, sebab mereka menolak untuk pindah dan tak memiliki tempat bernaung.
Seharusnya masalah ini bukan urusan perusahaan Owen sebab orang-orangnya hanya menjalankan tugas dari relasi yang mengaku sebagai pemilik tempat atau tanah tersebut. Tetapi berhubung orang-orangnya sudah turun langsung ke lokasi, maka tak bisa dihindari lagi orang-orangnya pun tak luput dari amukan masa.
Sehingga Owen harus punya strategi dan menuntut pada sang relasi yang menipunya dalam bisnis bermasalah ini. Pembangunan itu dipastikan akan gagal apabila pihak pemilik tidak dapat mengurus sengketa dengan masyarakat tersebut.
Sampai pada telepon dari Gloria, membuat Owen mengerutkan dahi.
"Owen....!!!" Suara Gloria terdengar histeris begitu panggilan tersambung.
"Ada apa, Sayang?" tanya Owen bingung.
"A-aku terjebak....." Suara Gloria tidak begitu jelas terdengar, namun Owen meyakini ada sesuatu yang tidak baik telah terjadi.
"Gloria? Hallo, sayang? Kau mendengarku?"
Tak ada sahutan lagi dari Gloria, inilah yang membuat Owen selalu was-was membiarkan istrinya itu bepergian sendiri, padahal sebenarnya ia sangat tidak ingin mengekang langkah sang istri.
"Gloria? Honey? Suaramu terputus-putus, aku tidak mendengarnya dengan jelas!"
"Sial!" Owen mengumpat pada udara.
Telepon masih tersambung, namun Owen tidak bisa mendengar apapun lagi diseberang sana.
"Jared, apa yang terjadi pada Gloria?" Seharusnya Jared akan mendapat laporan dari dua pengawal itu.
"Tuan, barusan saya mendapat kabar bahwa Nyonya sedang terjebak didalam lift di pusat perbelanjaan."
Rahang Owen mengeras. "Bereskan semua masalah disini. Aku akan menjemput istriku!" titahnya.
_____
"Nona...," panggil pria itu. Ia kewalahan sekaligus gelagapan melihat Gloria yang tampak sulit bernafas.
"Maafkan aku, aku hanya berniat menolongmu." Pria itu bergerak cepat, memberikan pertolongan pertama yang ia ketahui. Tindakan CPR¹ pun segera ia lakukan. Merasa denyut nadi Gloria melambat, ia tak membuang waktu untuk segera memompa jantung wanita itu demi membuka jalur napas, setelahnya, ia lanjut memberikan nafas buatan melalui mulut Gloria.
Pria itu mengulangi lagi tindakannya, ia cukup panik, namun berusaha tetap tenang. Berhubung belum ada pergerakan dari sang empunya, pria itu mengulangi setiap dua menit untuk melakukan pengecekan napas.
Menyadari ada pergerakan, pria itu segera menjauh dari depan wajah Gloria, Gloria terbatuk–batuk disaat yang sama.
"Kau sadar, Nona? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Gloria terkesiap saat menyadari seseorang tengah mengungkung tubuhnya.
"Si-siapa kau?" tanyanya sembari beringsut.
"Kita terjebak di lift jika kau lupa."
"Ah..." Gloria memijat pelipisnya yang mendadak pening. Kemudian dia mulai gelagapan lagi sebab menyadari masih berada di ruang yang begitu sempit dan gelap.
"Kau aman, tenanglah...." Pria itu seakan mengerti kekalutan Gloria, dia segera meraih ponselnya dan menyalakan Flashlight.
Gloria mengembuskan nafas pendek-pendek. Ia masih belum puas jika belum keluar dari lift.
"Sudah berapa lama kita terjebak disini?" tanya Gloria dan pria itu melihat arloji dipergelangan tangannya.
"Sekitar 20 menit, maybe..."
Gloria memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak menggigil.
"Kau tak apa?" pria itu menatap Gloria lekat, menyadari bahwa wanita dihadapannya memang cantik dan memiliki wajah khas Asia yang lain dari gadis biasa yang sering ia lihat. Matanya berhenti di satu titik, bibir Gloria yang tadi sempat dirasainya meski itu hanyalah sebuah pertolongan singkat. Tapi, entah kenapa sekarang ia ingin mengulangi lagi bagaimana rasa mencecapi itu secara intens dan lembut.
Pria itu membuka jas yang ia kenakan, kemudian menyerahkannya pada Gloria. "Pakailah, Nona."
Gloria menggeleng sungkan.
"Aku meminjamkannya, tak apa."
Gloria menurut sebab ia sudah tidak punya pilihan lain. Ia mengenakan jas milik pria itu.
"Aku .... Sean," katanya memperkenalkan diri.
"Gloria," ucap Gloria tanpa menyambut uluran tangan pria bernama Sean itu.
”Apa ini masih lama?"
"Entahlah, kita hanya bisa menunggu," jawab Sean tersenyum miring.
"Aku rasa aku tidak sanggup disini, ini terlalu dingin."
"Mungkin kita terjebak dilantai paling bawah dan diluar mulai turun salju."
"Salju?" Gloria panik. Seharusnya belum tiba musim dingin saat ini.
"Kenapa kau terkejut?" pria itu tertawa sumbang. "Aku hanya bercanda, aku tahu ini belum memasuki musim dingin," kekehnya.
Gloria mengembuskan nafas kasar.
"Kau bukan penduduk pribumi, kan?"
"Ya, aku orang Indonesia tapi aku sudah menetap disini."
Mereka memilih mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan akibat terjebak didalam lift yang tak tahu kapan akan selesai diperbaiki.
"Jadi, kau sudah menikah?" tanya Sean dengan raut wajah tak percaya.
"Ya, bahkan aku sudah memiliki putera. Oh, maaf aku terlalu banyak bicara masalah pribadiku." Gloria terlalu terbawa suasana, hidupnya di Indonesia selalu humble dan mudah bergaul, itulah yang membuatnya terbiasa bersikap ramah pada orang lain.
”Tak apa, aku senang kau terbuka padaku meski aku asing bagimu."
Gloria hanya mengangguk. Mendengar kata asing dari Sean, seharusnya ia memang lebih berhati-hati dalam berucap dan berkenalan.
"Pasti suamimu orang yang beruntung."
"Kenapa?"
"Karena mendapatkan mu. Apa kau mencintainya?"
"Tentu saja!" jawab Gloria yakin.
"Bagaimana jika dia tahu jika beberapa menit lalu kau berciuman denganku?"
"Apa?"
"Maafkan aku, tadi aku hanya memberimu pertolongan."
"Ah...." Gloria mengangguk sembari memegang bibirnya sendiri. "Kalau begitu, jangan anggap itu sebuah ciuman... anggap itu hanya pertolongan, thanks...." kata Gloria.
Sean mengangguk-anggukkan kepalanya samar. "Ku harap aku juga bisa menganggapnya begitu, jika aku tidur dan memimpikan momen itu lagi, maka kau harus bertanggung jawab, Gloria!" kata Sean dan Gloria hanya bisa tersenyum masam.
*******
CPR¹ \= Cardiopulmonary Resuscitation merupakan prosedur pertolongan pertama yang sangat penting, untuk menyelamatkan pasien henti jantung. Prosedurnya terdiri dari kompresi dada, membuka jalur napas, dan memberi napas buatan. CPR boleh dihentikan, bila korban tersadar atau merasa kesakitan.