Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Tak terduga


Owen merasa puas setelah berhasil memprovokasi Sean.


Sekarang ia tinggal menghadapi yang satunya lagi. Richard.


Diantara keduanya, sebenarnya Owen lebih was-was menghadapi Sean. Karena selain sudah cukup lama tak bertemu, tapi Sean yang dikenalnya adalah pria penuh perhitungan dan tidak terburu-buru seperti Richard.


"Nico? Kau darimana?" tanya Richard saat berpapasan dengan Owen di salah satu sisi Mansion.


"Saya baru saja menemui Tuan Sean," jawab Owen terus terang. Momentum yang tepat sekali, sepertinya ini adalah saatnya.


"Mau apa dia?" tanya Richard dengan nada tak senang.


"Tidak ada, Tuan Sean hanya tampak ingin memastikan sesuatu. Dia mengatakan kami pernah bertemu sebelum ini."


"Lalu kau percaya padanya?" Richard bersedekap menatap Owen.


Owen mengendikkan bahu. "Sejujurnya saya juga merasa pernah mengenalinya, tapi entah kapan."


Richard tertawa sumbang, dalam hatinya menganggap Owen terlalu bodoh dan sudah masuk dalam perangkapnya.


"Baiklah, aku beri kau sebuah kebenaran..." kata Richard, membuat Owen mengerutkan dahinya karena keheranan dengan pernyataan pria itu.


"Kebenaran apa yang anda maksud, Tuan?"


"Kau ingat momen pertamamu berada disini? Apa kau ingat kenapa kau bisa menjadi anak buahku?"


Owen berlagak berpikir, ia tidak mengerti maksud Richard berbicara hal ini dengannya. Apakah Richard akan membongkar jati diri Owen sekarang? Tapi, untuk apa?


"Entahlah, seingat saya, saya sudah berada disini dan sudah menjadi anak buah anda saja."


"Kau tidak pernah berpikir tentang apa dan ingin tahu bagaimana masa lalumu?"


"Untuk apa anda menanyakan itu?"


"Biar ku beri tahu, sebelum nantinya Sean yang lebih dulu memberitahumu."


Owen tertawa pelan. Jadi, Richard takut jika Sean yang lebih dulu membongkar siapa Owen sebenarnya. Richard takut Owen berpihak pada Sean. Yang Richard inginkan adalah Owen tetap menjadi pengikutnya.


"Baiklah, coba beritahu saya, Tuan." Kali ini Owen yang bersedekap, siap mendengarkan penjelasan Richard.


"Nico .... sebenarnya kau adalah anak buah Ayahku sejak lama. Kau mungkin tidak mengingat masa-masa diawal kau datang dan meminta pekerjaan ini, karena kau sempat mengalami kecelakaan yang menyebabkanmu lupa ingatan," terang Richard mengarang.


Owen tak bisa menahan gelak, ia tertawa diseberang Richard.


"Jadi, apapun yang nanti Sean katakan padamu.... jangan mempercayainya. Karena kau hanya boleh percaya padaku saja!" lanjut Richard, membuat Owen tak tahan lagi. Ini membuktikan jika Richard sangat takut jika Owen mengetahui jati dirinya dari Sean, sehingga mengarang cerita se-absurd itu.


"Ternyata kau sangat pintar mengarang cerita, Richard!" desis Owen dihadapan Richard, membuat mata Richard membola karena terkejut.


"Kau tidak perlu menceritakan tentang masa laluku, atau bersusah payah mengarang cerita palsu yang menjijikkan seperti itu." Owen tersenyum tipis dengan kilatan geram dimatanya. Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan misi untuk mengadu domba Sean dan Richard, tapi mendengar cerita karangan Richard membuatnya sangat geli.


"Apa maksudmu?" Richard tercekat seketika.


".... kau ingin tahu apa maksudku? Tentu saja maksudku ingin menghancurkanmu!"


"O--owen?" Richard menelan saliva dengan sulit. Apalagi kini Owen seperti hendak menelannya hidup-hidup dengan tatapan nyalang yang siap menghajarnya kapan saja. "Owen, a-apa kau sudah ingat semuanya?" tanyanya kemudian.


Owen menggeleng pelan, masih dengan sikap yang sangat santai.


"Jadi? Jangan katakan bahwa Sean yang mengingatkanmu segalanya!" Ternyata Richard masih mengira jika Sean yang ada dibalik ingatnya Owen pada semua ini.


"Aku tidak perlu diingatkan oleh siapapun, Richard.... karena tanpa diingatkan pun, aku sudah mengingat segalanya!" bisik Owen penuh intimidasi, membuat Richard semakin merasa terpojok. Bukan tanpa sebab, kini Richard jadi sadar satu hal bahwa pasti Owen telah mempunyai rencana besar.


"Jadi--jadi kau tidak pernah amnesia?"


Owen terbahak mendengar pertanyaan Richard. Tawanya menggelegar disepanjang lorong, membuat Richard menggeram karena tawa Owen terdengar sangat sombong.


"Jangan lupa dimana kau berada sekarang, Owen! Ini adalah Mansionku, kau harus ingat jika disini banyak orang-orangku yang bisa menghancurkanmu kapan saja," ancam Richard.


Owen kembali tersenyum tipis. "Orang-orang mana yang kau maksud itu?" tanyanya, "coba kau lihat sekarang, apa sejak tadi ada orang yang kau kenali di Mansion ini?" sambungnya.


Seketika itu juga, Richard melihat kiri dan kanan, seolah mencari para bodyguard yang biasa berjaga di Mansionnya. Sayang, ia teledor karena terlalu berambisi soal wasiat Markus yang akan dibacakan, ia baru sadar jika Mansion ini tampak kosong tanpa seorang penjagapun.


Saat tak menyadari adanya siapapun, disitulah Richard tahu bahwa Owen sudah merencanakan segalanya, sekarang.


Itu artinya tidak ada waktu lagi baginya untuk meminta bantuan orang lain. Kecuali, Sean-- yang mungkin masih berada di Mansion yang sama. Tapi, tentu ia tak mau meminta bantuan kakak tirinya itu, terlebih Sean pun tak mungkin mau membantunya.


Tanpa basa basi, akhirnya Richard memilih meladeni Owen demi menyelamatkan dirinya sendiri.


Richard langsung mengeluarkan senjata dari balik jas yang ia kenakan, lalu menodongkan pistol tepat ke wajah Owen.


Owen tersenyum tipis, bersamaan dengan pucatnya wajah Richard yang mulai menyadari bahwa sudah ada cahaya laser merah yang tepat berada didahinya.


Richard mencari sumber laser itu, itu adalah bidikan senjata yang juga telah siap menembaknya.


"Kurang ajar! Ke parat!" umpat Richard saat melihat seorang sniper yang sedang menyorotnya menggunakan senjata laras panjang dari atas gedung yang terpisah.


"Saat kau berhasil menembakku, maka nyawamu pun akan melayang disaat yang sama," kata Owen dengan seringaiannya.


Richard membeku ditempat, namun dengan senjata yang masih mengarah pada Owen.


"Jadi, kau sudah merencanakan ini?" gumam Richard lesu.


******