Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Jared-Lily /11


"Dia bilang apa tadi?"


Lily tersentak kaget saat mendengar seseorang berbisik di telinganya. Ia menoleh dan mendapati Jared disana.


"Kau ini! Mengejutkanku saja!" dengkus Lily sambil melengos.


Jared menarik lengan Lily. "Kenapa saat dengannya kau bisa jadi pendiam tapi didepanku kau bar-bar seperti ini!" kesal Jared.


"Maksudmu?" Alis Lily tertaut satu sama lain.


"Tadi.... saat ada pria itu kau banyak diam, tapi sekarang kau kembali menjadi menyebalkan!"


"Apa aku menyebalkan? Lalu kenapa kau mau menikahiku!"


Hhh ...


Kini giliran Jared yang mendengkus.


"Nevermind! Sekarang temani aku menjenguk Bibi Dien dan setelah itu kita akan mencari cincin pernikahan," tukas Jared.


Meski Lily terkadang kesal melihat tingkah Jared tapi hatinya tetap saja berbunga-bunga karena sebentar lagi akan menikah dengan pria ini. Semua terasa seperti mimpi bagi Lily.


Mereka pun masuk kedalam ruang perawatan Dientin, wanita paruh baya itu menyambut keduanya dengan senyuman teduh. Mereka berbincang sekilas tentang rencana pernikahan yang diusung Jared tanpa adanya sebuah pesta. Ternyata baik dientin maupun Lily menyetujuinya, mereka justru senang karena ternyata Jared tak memaksakan sebab masih memikirkan keadaan Dientin yang belum pulih pasca kemo.


Tidak adanya Rose dalam ruangan itu membuat Jared merasa lega sekaligus bisa menyampaikan semua usul nya terkait pernikahan tanpa dihantui rasa canggung dengan adanya mantan kekasihnya itu.


Soal Rose, Jared akan berusaha tak menaruh kebencian lagi pada wanita itu. Walau bagaimanapun, Rose akan jadi kakak iparnya nanti.


"Kenapa?" Lily bertanya sebab melihat Jared tampak seperti mencari-cari sesuatu.


"Tidak ada!"


"Bilang saja kau mencari keberadaan kakakku!" sarkas Lily.


Jared menghela nafas pelan, ia tak mau berdebat dengan Lily di ruangan Dientin. Diliriknya Dientin yang mulai terlelap diatas tempat tidur. Kemudian kembali menatap pada Lily.


"Aku senang dia tak disini. Itu membuatku leluasa dan menjadi apa adanya." Jared berujar terus-terang.


"Memangnya jika ada kakakku kau tak leluasa?"


"Tidak nyaman saja."


"Karena kau masih memiliki rasa padanya!" tukas Lily.


"Harus berapa kali ku katakan bahwa tak ada lagi tempat untuknya."


"Lalu?" Lily membuang pandangannya, malas menatap Jared.


"Hatiku saat ini sedang kosong. Didalamnya tidak ada siapa-siapa. Aku berharap, kelak nama istriku saja yang akan bersemayam disana."


Yes!


Ucapan Jared membuat pipi Lily memanas. Sungguh ia ingin menjadi gadis paling beruntung dengan dicintai oleh Jared dan menjadi satu-satunya wanita yang mengisi kekosongan hati pria itu.


"Tapi, jika kau masih menghindari kakakku itu berarti kau masih memiliki rasa padanya," tuding Lily.


"Ya, rasa tak nyaman." Jared tertawa pelan dan Lily menyukai tawa pria itu. Bukan, bukan hanya tawanya tapi semua tentang pria ini.


"Sebentar lagi kakakku akan tiba, tadi dia pulang sebentar untuk mengecek keadaan rumah. Setelah dia datang, barulah kita pergi."


"Iya," sahut Jared tersenyum.


Benar saja, tak menunggu lama Rose datang dengan membawa beberapa kantongan yang tampaknya berisi makanan.


"Lily, maaf aku lama. Tadi aku masak dulu dirumah untuk makan siang kita. Kita harus berhemat, butuh biaya banyak untuk perawatan ibu." Rose berujar biasa, belum menyadari keberadaan Jared diruangan yang sama karena dia sibuk mengeluarkan beberapa makanan yang dibawanya dan menyusun itu didekat meja.


"Iya, kak. Tapi, aku harus pergi sebentar. Aku titip ibu, ya, kak."


"Memangnya kau mau kemana?"


"Kami mau membeli cincin pernikahan."


Suara jawaban dari Jared itu berhasil membuat Rose menoleh padanya.


"Jadi, kalian benar-benar akan menikah? Aku pikir hanya untuk menyenangkan ibu saja," sarkas Rose.


"Kami akan menikah hari Sabtu," pungkas Jared, membuat Rose bungkam seketika.


Lily mengambil tasnya disisi nakas kemudian kembali pamit pada Rose yang memilih tetap diam.


Setelah Jared dan Lily keluar dari ruangan itu. Rose ikut beranjak.


"Lily!" ia sedikit memekik menjeriti nama sang adik yang belum pergi terlalu jauh.


Lily dan Jared pun berbalik menatap Rose diambang pintu.


Rose berjalan beberapa langkah sampai posisinya mencapai keberadaan adik dan mantan kekasihnya yang justru akan menjadi adik iparnya itu.


"Lily, aku tak masalah kau mau menikah dengan siapapun. Tapi, kenapa harus dengannya? Kau tahu dia mantan kekasihku, bukan?" Baru kali ini Rose mengeluarkan protesnya, padahal sejak beberapa hari lalu ia sudah mendengar perdebatan antara Jared dan Lily soal pernikahan ini.


"A-aku tahu kak, tapi....."


"Tidak bisakah kalian menghargai aku?" Rose menatap nyalang pada Jared dan Lily bergantian.


Jared mengulas senyum tipis. "Kau ingin kami menghargaimu? Memangnya sejak kapan kau bisa menghargai orang lain?" sarkasnya tak kalah pedas. Terkadang ucapan tajam rose harus dibalas hal serupa, sesekali, biar wanita itu jera.


"Bagaimana jika kau saja yang menghargai kami, Rose? Kami ini mau menikah, mengikrarkan janji suci dihadapan Tuhan. Bukan mau melakukan dosa! Jadi, jagalah sikapmu itu!" tandas Jared lagi.


Rose membuang pandangan dari Jared, kini tatapannya fokus pada Lily.


"Dengar Lily, anggap ucapanku ini sebagai nasehat seorang kakak! Kau tidak sepatutnya menikah dengannya. Dia hanya ingin membalas perlakuanku dulu dengan memanfaatkanmu!"


Jared terkekeh mendengar ucapan Rose. Dia malah menggenggam erat jemari Lily seolah meyakinkan gadis ini lewat perlakuan itu.


"Kami akan tetap menikah, kak!" pungkas Lily sambil berbalik pergi.


Jared tersenyum kecil kemudian menyusul langkah Lily.


_____


"Kau kenapa?" tanya Jared diperjalanan menuju toko perhiasan.


"Tidak ada."


"Jangan bilang jika kau memikirkan ucapan kakakmu! Aku sama sekali tak terpikir memanfaatkanmu seperti ucapannya itu!"


Lily terdiam, matanya menatap keluar jendela mobil seolah mencari ketenangan disana.


"Aku serius ingin menikahimu karena aku ingin kau yang mengisi kekosongan hatiku."


"Sudahlah, aku tidak mau membahas ini."


"Kenapa kau selalu saja menghindar jika aku mau membahas sebuah masalah denganmu, Lily?"


Lily hanya diam, membuat Jared jadi serba salah. Entah kenapa ada perasaan takut sekarang. Ia takut Lily berubah pikiran dan pergi meninggalkannya karena ujaran Rose tadi.


"Ku mohon, jangan terpengaruh ucapan Rose. Dia hanya ingin mengacaukan niat kita." Belum pernah Jared memohon seperti ini pada gadis manapun, bahkan Rose sekalipun.


"Katakan apa yang mau kau bicarakan! Aku senang kau bisa berterus terang padaku. Aku mau kau terbuka dan jujur dengan apa yang kau rasakan. Jangan memendamnya!"


Lily menoleh pada Jared.


"Aku merasa tidak ada alasan bagimu untuk menikahiku. Aku merasa kau memang berniat membuat Rose cemburu dengan pernikahan ini karena sejatinya hatimu memilih dia bukan aku!" cetus Lily membuat Jared mengerem mobil secara mendadak.


"Apa katamu tadi? Pendek sekali pemikiranmu Lily! Demi Tuhan, satupun perkataanmu itu tidak ada yang benar! Aku mau menikahimu bukan karena ingin membuat Rose cemburu! Tidak, untuk apa? Tidak ada gunanya!"


Baru saat inilah Lily melihat kemarahan Jared. Ia tidak menyesal sudah berterus terang tentang apa yang ia rasakan. Tapi, melihat Jared mengamuk membuatnya ciut juga.


"Aku butuh bukti bahwa kau benar-benar menginginkanku! Aku tidak mau hanya menikah diatas kertas! Aku ingin memilikimu seutuhnya!" tukas Lily sembari membuang muka.


"Oh, begitu... baiklah jika itu yang kau inginkan!" Jared kembali menstater mobilnya dan mengemudikan kendaraan itu entah menuju kemana.


******