
Aku tidak bisa berkata-kata lagi mendengar kalimat yang dicecarkan Gloria kepadaku. Aku memang egois dan aku tidak bisa menyanggah ucapan wanita ini.
"Maafkan aku," ucapku seraya mengangsurkan paperbag yang ku pegang kearah Gloria.
Akupun bergegas keluar dari kamar dengan lesu, sebab tak mungkin memaksa Gloria lagi mengenai suatu hal yang ingin ku dapatkan darinya namun tak bisa ku berikan padanya.
Aku menaiki tangga, menuju lantai teratas bagian Apartmenku. Di rooftop ada mini bar yang memberikan pemandangan kolam renang. Aku akan menenangkan diri disana daripada harus keluar dari area Apartmen.
Aku duduk di mini bar, angin sore mulai terasa menelisik ke pori-pori kulit, namun musim panas memang belum berakhir sehingga cahaya mentari siang masih menerpas ke arah air kolam renang.
Andai Gloria tidak marah padaku, seharusnya saat ini kami sudah berjalan-jalan menikmati musim panas terakhir sebelum aku terbang ke UEA.
Andai Gloria mau, aku akan mengajaknya menonton film di bioskop, surfing di pantai dan menaiki yacht ke tengah laut. Atau jika Gloria setuju, aku akan mengikuti kemanapun ia mau meski harus mengitari keseluruhan arena dunia fantasi yang tidak masuk dalam list perjalananku selama ini.
Kami pasti akan tertawa bersama dengan sukacita. Saling bergandengan dengan senyum terkembang. Lalu aku akan tenang meninggalkannya dan dia akan menunggu dengan setia sampai aku kembali kesini.
Namun, ekspektasiku hanya akan tetap menjadi khayalan yang menari-nari dikepala. Sebab, semua ini memang karena kesalahanku sendiri yang entah kenapa tak mempunyai pendirian untuk hubunganku bersama Gloria.
Aku menuang minuman ke dalam sebuah gelas sloki, meneguknya tandas, mengulangi hal itu beberapa kali sambil melihat keadaan kolam renang yang hening tanpa kecipak air.
Aku memantik api rokok dan menikmati nikotin yang ku sulut sembari mengusak rambut dengan frustrasi.
Kenapa Gloria harus menuntut ku agar memberikan perasaan terhadapnya? Ah, tapi aku juga menginginkan hal itu darinya. Damned!
"Owen..." Suara Gloria tiba-tiba sudah terdengar ada dibelakangku.
Aku menoleh demi melihatnya, ternyata ia sudah mengenakan dress yang ku berikan. Paperbag yang ku bawa memang berisikan dress floral dengan motif bunga-bunga yang cocok dikenakan saat musim panas.
Aku membelinya sendiri, karena tak sengaja melihat dress itu dipajang di manekin yang ada di pusat perbelanjaan saat pagi tadi mengadakan meeting di cafe yang ada didekat sana.
"Sangat cocok untukmu." Aku melempar senyum pada Gloria, ku rasa dia sudah tak marah lagi padaku. Entahlah, tapi ku harap begitu.
"Kau mau mengajakku kemana dengan dress ini?"
"Kemanapun kau mau."
"Aku sudah siap, kau bersiaplah. Atau kau mau pergi dengan penampilan acak-acakan begitu?" Gloria tampak mengulumm senyum.
Aku langsung melihat pada diriku sendiri, benar saja penampilanku sudah tak rapi lagi. Jangan tanyakan dasi dan jasku ada dimana, aku juga tak ingat mencampakkan benda itu dimana.
Aku menyengir. "Tunggu aku, aku tidak akan lama." Aku berdiri, menghampiri Gloria dan ingin mengecup pipinya sekilas namun Gloria segera menghindar.
"Nanti aku bisa bau rokok dan minuman," protes Gloria sembari mencapit hidungnya sendiri, menandakan ada aroma yang tak sedap.
"Aku tidak mabuk!" sanggah ku cepat.
"Kalau aku lama sedikit menghampirimu disini, pasti kau sudah mabuk." Gloria mendorong pundakku sebagai isyarat agar aku segera bergerak. "Cepat mandi, aku tunggu disini," lanjutnya.
"Siap, Nyonya." Aku terkekeh dan menuruni tangga dengan senyuman. Syukurlah mood Gloria mulai membaik. Aku harap sikap hangatnya terus seperti ini kepadaku.
_____
Aku dan Gloria benar-benar menikmati musim panas bersama. Kami ke pantai. Sudah lupa kapan terakhir kali aku memanfaatkan waktu untuk hal semacam ini. Biasanya waktuku hanya akan ku habiskan dengan bekerja dan memikirkan strategi perancangan bangunan, menara atau real estate terbaru-- untuk proyek bisnisku.
Adapun dulu, yang ku pikirkan hanya membalas dendam. Pantas jika aku lupa bagaimana rasanya liburan. Liburan pertamaku bersama Gloria harus menyenangkan.
Sebelum turun mobil, aku memakaikan Gloria topi pantai, bahkan aku mengoleskan sunblock disekujur tubuhnya.
Bukankah aku termasuk pria yang romantis dengan melakukan hal ini?
Jika tidak mengingat akan mengajak Gloria menikmati suasana akhir musim panas sebelum kepergianku, aku pasti akan menghabisinya di mobil saat has ratku justru membuncah naik ketika memberinya sunblock.
"Owen, ingat kita kesini bukan untuk ini!" Gloria mewanti-wanti saat tanganku mulai mencoba bermain-main.
"Hmm, baiklah," jawabku tak rela menyudahi.
Kami pun turun dari mobil. Suasana pantai sudah jelas cukup ramai namun tak terlalu sebab ini adalah weekdays.
"Kita akan ke tengah laut," kataku merangkul pundak Gloria.
"Aku takut, Owen." Gloria terkekeh pelan diujung kalimatnya. "Aku tidak berani berenang dilautan lepas."
"Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu. Setelah itu, kita akan naik Yacht yang ada di tengah sana." Aku menunjuk ke tengah lautan, disana memang sudah ada Yacht yang menunggu, sebab sudah ku lobby sebelumnya.
"Tapi..."
Aku segera menggendong Gloria ala bridal style, ia menjerit tertahan sebab aksiku yang tiba-tiba.
"Semakin sore airnya akan semakin naik, jadi kita harus cepat," kataku sembari terus membawa tubuh Gloria ke tengah lautan lepas.
Gloria menelusupkan wajahnya didadaku, sedangkan tangannya ia lingkarkan dileherku sembari memegang topi pantainya juga.
Momen ini membuatku merasakan suatu hal yang sulit ku jabarkan. Mendadak aku memikirkan ucapan Gloria saat kami sempat bertengkar di Apartmen tadi.
"Apa kau menggunakan perasaanmu seperti kau menyayangiku, misalnya? Atau... apa kau mencintaiku?"
Aku menatap Gloria yang tersenyum cerah. Aku merasakan ketulusannya kepadaku. Haruskah aku membalas perasaannya? Aku hanya lelaki simpanannya, tidak seharusnya dia mencintaiku tapi aku malah menuntutnya untuk memiliki perasaan itu.
Aku mendekatkan wajah pada Gloria, menciumi wajahnya yang silau karena terpaan sinar matahari.
"Kau menggodaku," ucapku pelan.
"Aku tidak melakukan apapun." Gloria tampak heran dengan ucapan yang ku lontarkan.
"Dengan kau diam saja sudah membuatku tergoda," jawabku dengan senyuman nakal.
Gloria memutar bola matanya dengan malas dan aku tertawa dengan sikapnya itu. Ku rasa, bukan hanya dia tetapi aku juga sudah termakan pesona wanita ini.
"Apa aku tidak berat?" tanya Gloria saat aku menatap lurus kedepan sambil masih menggendongnya.
"Tidak. Kau sendiri, apa kau tidak merasa bahwa tubuhku berat?" Aku balik bertanya pada wanita itu.
"Mana ku tahu, aku tidak pernah menggendongmu," jawab Gloria polos.
"Tapi, aku kan sering menimpa tubuhmu saat---" Aku tak bisa melanjutkan kata sebab Gloria segera membekap bibirku saat itu juga.
"Jangan membicarakan hal itu, ini bahkan masih siang!" keluh Gloria.
"Kalau menjelang malam, boleh?" Aku menaik-naikkan alis menggodanya, Gloria memukul bahuku sambil tertawa.
Kami tiba di Yacht dengan pakaian yang basah.
"Owen, aku tidak membawa baju ganti. Ah, aku ceroboh sekali." Gloria menepuk jidatnya sendiri saat kami sudah diatas Yacht.
Aku tersenyum smirk. "Yacht ini akan berlabuh di pulau itu," aku menunjuk sebuah pulau terdekat. "Disana banyak menjual pakaian, jangan khawatir."
Gloria mengangguk. Aku mengusak rambutnya dan kami menikmati fasilitas yang ada di Yacht.
"Aku mau berenang." Aku membuka kaos dan menitipkan waistbag milikku didalam lemari khusus. "Kau mau ikut?" tanyaku pada Gloria, wanita itu menggeleng keras.
”Jangan takut, aku akan menjagamu."
"Tidak, aku duduk dipinggir saja dan melihatmu berenang."
"Oke." Aku mencium pipi Gloria sebelum akhirnya menceburkan diri di lautan.
Gloria benar-benar memperhatikanku dari bibir Yacht, aku dapat melihatnya tersenyum lembut ke arahku.
"Gloria....." Aku menjerit dari dalam air. Wanita itu menatapku dengan mengerjap-ngerjap-- seolah menanyakan apa yang ku lakukan dengan menjeriti namanya seperti itu.
"Happy birthday!!! I'll miss you, later..." pekikku lantang.
Gloria terkesima, beberapa orang yang menaiki yacht yang sama dengan kami juga menatapnya dengan senyum terkembang, disusul ucapan selamat ulang tahun dari mereka untuk Gloria.
Setelah meladeni orang-orang itu, Gloria berjalan semakin mendekat ke bibir Yacht, kemudian dia berjongkok demi menatapku lebih dekat--yang masih berada di dalam air.
"Kapan kita pulang?" jerit Gloria.
"Kenapa? Kau tidak betah? Kita masih akan ke pulau."
"Bukan, aku ingin meminta hadiah ulang tahunku darimu." Gloria tertawa kemudian.
Aku ikut tertawa. "Kau bisa minta apapun saat dipulau nanti."
"Benarkah? Tapi kue ulang tahunku ada di rumah."
"Aku akan menghabiskannya saat kita pulang nanti."
"Baiklah, aku tunggu kau naik."
Setelah berbicara dalam jarak seperti itu, aku meneruskan sesi renangku sesaat sampai akhirnya kembali naik ke atas yacht.
Aku memeluk Gloria, membiarkan bajunya yang sudah mulai mengering menjadi basah lagi karena tubuhku.
"Kita akan pulang besok," ucapku pelan pada Gloria. "Malam ini kita menginap di pulau."
Gloria mengangguk patuh. Untuk pertama kalinya, ia mencium pipiku kiri dan kanan secara bergantian. Aku terpana atas perlakuannya, merasa istrimewa.
"Terima kasih, atas ucapan selamat ulang tahun darimu."
"Hmm, aku senang melihatmu bahagia. Maaf aku belum menyiapkan hadiah ulang tahun untukmu."
"Tidak apa, aku punya permintaan sendiri."
"Apa itu? Aku akan berusaha mengabulkannya."
******