
"Aku berangkat, ya." Aku mengecup pucuk kepala Gloria, ia mengantarkanku sampai Bandara bersama Robin-- salah satu ajudan yang ku minta untuk menjaganya selama aku pergi--sebab Jared juga akan pergi bersamaku.
Gloria menatapku nanar dengan bibir yang mengerucut-- seolah tidak rela melepas kepergianku. Aku tertawa pelan melihat sikapnya itu.
”Jangan memasang wajah begitu atau aku akan membuatmu kehilangan oksigen karena menciumimu disini sekarang juga," bisikku ditelinganya.
Gloria mencebik sembari menganggukkan kepala dengan perlahan.
Aku mengacak rambutnya sambil terkekeh.
"Tunggu aku kembali! Jangan mengabaikan teleponku nanti." Aku mewanti-wanti Gloria, tak lupa aku juga memberinya banyak pesan agar dia tetap mengabariku mengenai kesehariannya.
"Siap, Tuan..." kata Gloria mengambil sikap hormat layaknya seorang prajurit yang memberi hormat pada komandannya.
"I love you," Aku mencuri ciuman dibibirnya sekilas. Tidak peduli bagaimana tanggapan orang sekitar maupun Jared atau Robin.
Aku dan Gloria saling melempar senyuman dengan binar cinta diantara kami.
"Kita harus segera masuk, Tuan." Jared memberi peringatan agar kami segera memasuki area keberangkatan.
"Ya," jawabku datar.
Aku mengelus pipi Gloria sekilas, entah kenapa aku sudah merindukannya padahal perjalananku belum dimulai.
"Jika kau hamil, segera kabari aku! Jangan coba-coba menggugurkan anakku!" ucapku mengancam.
Gloria berdecak lidah. "Jangan terlalu banyak berharap dengan hal itu, Owen!"
"Kenapa?" Aku memicing kearahnya.
"Tidak ada," jawab Gloria singkat.
"Tuan..." Lagi-lagi Jared memanggilku demi memberi sinyal peringatan bahwa pesawat kami akan segera mengudara.
Aku mengibaskan tangan pada Jared sebagai isyarat agar ia lebih dulu masuk.
"Jangan melakukan hal yang akan membuatku cemas. Kau dengar itu?" Terserahlah Gloria akan menganggapku cerewet, aku tak peduli yang jelas aku memang mengkhawatirkannya.
"Iya, aku bukan anak kecil."
"Baiklah, aku berangkat. Bye, Honey.." Aku mengecup lagi pucuk kepala Gloria, menciumi aroma shampo dirambutnya yang selalu terasa memabukkan.
_______
Aku tiba di UEA, rasanya sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di Negara ini. Berhubung aku kesini bukan untuk traveling atau mencari hiburan, aku memutuskan untuk segera bekerja agar semua urusanku cepat selesai.
"Katakan pada Tuan Hasan kita akan menemuinya sore ini juga."
"Baik, Tuan."
Jared memang selalu bisa ku andalkan, dia tak mau membuang waktu sebab dia tahu, waktu bagiku adalah limpahan uang.
Entah kenapa aku begitu bersemangat agar pekerjaanku disini segera beres, rasanya aku ingin segera pulang.
Ponsel berdering disaat aku sudah menyelesaikan meeting kilat bersama Tuan Hasan disalah satu rooftop hotel berbintang. Aku pikir itu Gloria tapi ternyata itu adalah Oxela.
"Hmm?" jawabku saat panggilan baru ku terima.
"Kak, kau berangkat ke UEA? Aku baru pulang dari Swedia dan Jade ingin bertemu denganmu. Bagaimana ini?" Suara Oxela terdengar berang.
"Aku sibuk."
"Kapan kau tidak sibuk, kak?" Kini Oxela menghela nafas berat.
"Aku pulang dalam Minggu ini juga."
"Hais... lalu apa yang harus ku katakan pada Jade? Selama kau disini juga tidak pernah pulang lagi ke rumah. Apa aku harus buat janji pertemuan tertulis untuk menemui kakakku sendiri?" keluh Oxela.
"Kau cerewet sekali, Oxela. Aku bukan sedang bermain-main sekarang. Aku bekerja agar perusahaan ini tidak bangkrut!"
"Aku juga bekerja, tapi aku masih bisa jalan-jalan dan berpacaran!"
"Itu berbeda! Kau pikir aku tidak tahu pekerjaanmu hanya main-main di kantor!" jawabku kesal sebab Oxela seperti mengolokku.
"Oke, oke. Aku akan batalkan pertemuanmu dengan Jade. Tapi...."
"Apa lagi?" Perasaanku mulai tak enak.
"Tapi... jangan salahkan aku jika saat kau pulang aku sudah berstatus sebagai istrinya!" Oxela terkekeh kencang setelahnya.
"Jangan bilang kalau kau sedang hamil, Oxela!" geramku.
Oxela tertawa kencang. Aku semakin kesal dibuatnya.
"Apa iya?" tuntutku.
Aku menghela nafas lega. "Baguslah!" jawabku.
"Ah iya, Kak.... aku mau ke Apartmen kakak, karena--"
"Tidak!" potongku cepat. Aku tidak mau Oxela menemukan Gloria disana. Setidaknya untuk saat ini mereka jangan dulu dipertemukan sebelum aku kembali.
"Kenapa, kak? Aku ingin mengadakan pesta disana."
"Pesta? Oh my... buat saja di mansion, lebih leluasa," usulku.
"Ini pesta lajang, aku tidak mau di mansion karena ranah pribadiku akan diketahui banyak orang."
"Pesta lajang katamu? Di Apartmen ku? Tidak...."
"Tapi, kak..."
"Buat di hotel atau sewa villa. Tidak di Apartmenku!" ujarku tegas.
"Kenapa? Biasanya juga aku mengadakan acara disana. Apa ada yang kakak sembunyikan disana?"
"Ti-tidak ada," jawabku terbata.
"Jangan-jangan kakak menyimpan wanita disana," kata Gloria berkelakar.
"Bukan beg--"
"Baiklah, aku akan mengeceknya saja!"
"Oxela, jangan!"
"Bye, kak..."
Aku mengumpat melihat sambungan telepon yang sudah diputus sebelah pihak oleh Oxela. Aku menggerutu, aku ingin menghubunginya kembali tapi ku urungkan sebab aku menyadari jika sifat Oxela adalah 'semakin dilarang maka akan semakin ia lakukan'.
"Oxela pasti akan benar-benar mengecek ke Apartmen. Minta Robin memindahkan Gloria." Aku menatap Jared dan Asistenku itu sudah bisa memahami maksudku.
"Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya!" kata Jared tenang.
Aku membiarkan Jared sibuk menghubungi Robin demi memberi perintah. Setelah itu, kami meninggalkan area rooftop.
____
"Owen, aku diminta pindah dari Apartmen oleh orangmu. Apa benar begitu?"
Baru tiba di hotel aku sudah mendapat panggilan dari Gloria.
"Iya, sayang." Aku menjawab sembari membuka simpul dasi yang terasa membelit leher.
"Kenapa?"
"Oxela akan berkunjung kesana."
"Oh... kau tidak mau aku bertemu dengan adikmu?"
"Bukan tidak mau, belum saatnya."
"Baiklah, aku akan mengikuti arahan orangmu."
Aku lega sebab Gloria masih bisa ku beri pengertian. Sedikit tenang karena dia tidak sebebal biasanya. Gloria memang bisa mengatur hal-hal semacam ini. Dia memang bisa mengendalikan diri dan tahu menata sikap. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang harus dilakukan dan mana yang tak harus diperbuat. Dia juga bisa bersikap tegas dikala keadaan mengharuskannya berlaku demikian.
Tapi, terkadang dia juga amat cengeng untuk menangisi hal-hal yang tidak perlu, menurutku. Tapi menurutnya mungkin itu memang perlu untuk ditangisi, entahlah. Aku memang kurang memahami perempuan meski aku cukup peka akan kemauannya.
Setelah berbincang hal remeh temeh sampai membuat lelucon yang membuat kami sama-sama terpingkal, mau tak mau aku dan Gloria harus mengakhiri panggilan sebab Gloria harus segera berkemas untuk meninggalkan Apartmen.
"Maafkan aku, tinggallah di Apartmenku yang lainnya. Aku baru membelinya untuk aset, jadi Oxela tidak akan menemukanmu disana."
"Hmm, tak apa... aku memahaminya," jawab Gloria.
"Aku pasti akan mengenalkan mu pada Oxela nanti, aku tidak mau kalian bertemu disaat aku masih berada disini."
"Iya, tak apa. Uruslah pekerjaanmu disana, jangan mengkhawatirkan aku."
"Terima kasih, Baby. Aku merindukanmu," ucapku jujur. Aku merasa merindukannya meski belum lama meninggalkannya.
"I miss you too..." lirih Gloria dari seberang sana.
"Setelah semuanya beres aku akan segera pulang. Tunggu aku, jangan menunggu yang lainnya!"
Terdengar kekehan pelan dari Gloria. "Aku akan menunggumu, Owen!" ucapnya mesra lalu memutus panggilan seluler kami.
******