Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kompensasi


Makan malam baru dimulai, namun kecanggungan Gloria terlihat begitu jelas dibawah sorotan mataku yang mengintimidasinya. Rasanya aku tidak tahan untuk tidak menggodanya kali ini.


"Istri anda sangat cantik, Tuan Jensen..." Sengaja aku berkata demikian untuk melancarkan aksiku.


Gloria terbatuk-batuk diseberang sana saat suaminya justru tersenyum mendengar aku yang memuji kecantikan Gloria secara terang-terangan.


"Pelan-pelan, Sayang...." Richard memberikan Gloria air minum dan aku hanya tersenyum miring melihatnya.


"Dimana istri anda, Tuan Zwart?" Richard balik menanyaiku rupanya.


"Aku belum menikah," jawabku terus-terang.


"Wah, kenapa? Pasti Anda orang yang sangat pemilih," kelakar Richard dan aku tersenyum tipis.


"Tidak terlalu, aku hanya belum menemukan wanita yang seperti istrimu," jawabku dengan nada bercanda yang ku akhiri dengan tawa kecil.


Richard ikut tertawa, merasa ucapanku semacam guyonan. Padahal aku tidak main-main dalam mengatakan hal itu. Aku memang mulai tertarik lebih jauh pada sosok Gloria, dia wanita yang menghargai suaminya, walau dia tahu suaminya memperlakukannya dengan tidak baik, tapi mengingat sikapnya pagi tadi saat kami berada dikamar yang sama--aku cukup bisa menilai jika Gloria takut telah mengkhianati Richard secara tak sengaja.


"Istriku memang luar biasa," puji Richard sembari menatap ke arah Gloria yang tampak tertegun.


Aku bagai menyaksikan sepasang pasangan yang sangat romantis dihadapanku, apa ini hanya kamuflase yang ditunjukkan Richard didepanku? Bersikap seolah hubungannya dengan Gloria baik-baik saja? Oh, come on... aku justru mengetahui hubungan yang tak sehat diantara keduanya. Sikap mereka tampak seperti sedang ber-akting dimataku.


"Apa Anda juga bekerja Nyonya Jensen?" Aku beralih menatap Gloria.


Gloria menggeleng singkat sambil sesekali menatap ke arah lain, sepertinya dia tidak punya kosa kata untuk dilontarkan padaku dan juga tetap tak berani menatapku. Lucu sekali dia ini, bahkan pagi tadi kami juga sarapan di satu meja yang sama.


"Maaf, Tuan, kenapa anda terus melihat istri saya seperti itu? Apa anda tertarik pada Glo?" Rupanya Richard bisa melihat kemana arah pandangan mataku sejak tadi, dan aku cukup speecless dia berani menanyakannya secara langsung seperti ini.


"Ya, aku tertarik padanya. Apa kau mau melepaskannya untukku?" tanyaku tidak sepenuhnya serius.


Aku melirik Gloria yang tertunduk dengan wajah memerah.


Sementara Richard, dia justru tertawa dengan sangat kencang. "Ternyata Anda sangat suka bercanda, Tuan Zwart," katanya kemudian.


"Kalau aku tidak bercanda, bagaimana?"


Richard terdiam beberapa saat, dia mengambil air dan meneguknya singkat.


"Apa kau serius?" tanya Richard yang tak lagi berkata formal.


"Ya," jawabku yakin. Aku semakin tertantang karena Richard yang termakan ucapanku.


"Apa kau hanya ingin bermain-main dengannya? Just one night stand?" tanya Richard.


Aku terkekeh. "Maybe yes, tapi jika lebih daripada itu.... ku harap kau benar-benar melepaskan dia," ucapku sambil meneguk minumanku dengan santai.


Brak


Gloria menggebrak meja dengan cukup keras, ia bahkan berdiri dan menyebabkan kursinya terdorong ke belakang. Wajahnya tampak memerah, ia menatapku dan Richard secara bergantian dengan sorot mata yang tajam seolah ingin menguliti kami hidup-hidup.


"Tolong hentikan pembahasan konyol kalian! Ini sama sekali tidak lucu!" ucap Gloria tajam.


Wow, aku tidak menyangka respon Gloria akan seperti ini. Aku pikir dia tidak semarah itu dengan pembahasan kami, namun aku salah, ternyata Gloria cukup bar-bar dan mungkin tersinggung dengan topik pembicaraanku dan Richard yang memang terang-terangan membicarakannya.


"Kau lihat kan sikap istriku ini? Apa kau masih tertarik dengannya?" kata Richard.


"Shut up, Rich!" sahut Gloria cepat dengan nada tak senang.


Aku semakin yakin jika Richard tidak pernah menghargai istrinya ini.


"Hahaha, jika kau setertarik itu dengan istriku... beri aku kompensasi agar bisa menyerahkannya padamu," ucap Richard membuat mataku dan mata Gloria membulat sempurna.


Kompensasi? Apa aku tidak salah dengar? Ini sama saja dia menjual istrinya padaku, bukan?


"Kalian memang tidak punya ot-ak!" kata Gloria yang tampak bersiap pergi dari sana, namun Richard menahan lengannya.


"Baiklah, katakan apa kompensasi yang kau inginkan?" tanyaku.


Richard menyeringai, sementara Gloria mencoba menepis tangan Richard namun tidak bisa, karena sepertinya cengkraman itu sangat kuat.


"Aku ingin proyek real estate baru... yang sedang diurus oleh perusahaanmu. Modali itu, namun buat atas nama perusahaanku, bagaimana?"


Aku terkekeh pendengar penawaran yang sangat timpang ini. Bagaimana bisa Richard meminta barter proyek bernilai jutaan dolar dengan istrinya yang sudah puas ia cicipi? Benar-benar tak sepadan.


Jika proyek itu dibuat atas nama perusahaan Richard, memang tak akan menjatuhkan nama perusahaanku meski aku akan kehilangan keuntungan yang cukup besar. Namun, dalam posisi Richard, jelas itu akan sangat menguntungkan serta melambungkan nama perusahaannya yang terbilang baru memulai.


"Itu tidak sepadan," kataku akhirnya.


"Itu cukup sepadan karena kau menginginkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain!"


Aku diam sejenak. "Bagaimana jika proyek itu kita bagi dua saja, jadi aku tidak rugi terlalu banyak. Aku akan tetap memodali dan tidak menuntut perusahaanmu untuk ikut mengeluarkan biaya awalnya. Keuntungan dari suksesnya proyek itu, kita bagi dua, bagaimana?" ucapku bernegosiasi.


"Kalian benar-benar menjadikanku barter dalam dunia perbisnisan," protes Gloria keras. Namun, kami berdua seakan tidak mendengarkan ucapan wanita itu.


Aku menunggu jawaban dari Richard, jika dia tidak bersedia, maka akan ku pikirkan lagi cara mendapatkan Gloria tanpa hal semacam ini. Namun jika dia setuju, maka aku tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk bertemu Gloria, bukan?


"Deal," kata Richard mengulurkan tangan ke arahku.


Aku terkesima sembari menyeringai tipis lalu menjabat juga tangan pria itu. "Deal," ucapku mantap.


Gloria menatap kami dengan mata berkaca-kaca, aku bisa melihat raut kesedihan diwajahnya. Dia mungkin kecewa padaku, namun aku tahu dia lebih sakit hati atas ulah suaminya yang menjualnya secara tidak langsung.


Gloria tampak terduduk lemas dikursi sambil memegang pelipisnya sendiri.


"Baiklah, aku mau Gloria tinggal bersamaku!" kataku tanpa basa - basi.


Richard terkekeh. "Tidak, Tuan Zwart. Semuanya akan dimulai setelah kesepakatan kita tertulis resmi diatas hitam dan putih," paparnya.


Aku berdecak kesal, apa pria ini mengira aku akan menipunya tanpa perjanjian resmi?


"Baiklah, terserah kau saja!" ucapku datar.


"Tapi, perjanjian ini berakhir setelah proyek real estate itu selesai," kata Richard lagi.


"What? Tidak bisa begitu!"


"Lalu? Mau sampai berapa lama?" kekeh Richard.


"Sampai aku bosan dengannya," ucapku.


"Kalian berdua benar-benar brengssek! Kalian sama sekali tidak memikirkan perasaanku!" Gloria menitikkan airmata dan aku cukup terenyuh melihat itu.


Aku bukan berniat menjadikan Gloria sebagai barang untuk dibeli seperti ini, tapi tawaran Richard membuatku geram sehingga aku menyetujuinya saja tanpa berpikir panjang karena aku memang menginginkan wanita ini untuk sekarang, entahlah bila nanti.


*****