Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Kembali ke Mansion


Setelah kepergian Gloria dan kabar tentang kematian sang Ayah, Sean memutuskan untuk kembali ke kota dan meninggalkan pulau.


Sean membayar gaji terakhir Esther, berikut beberapa orang yang dia pekerjakan selama tinggal di pulau itu.


Sean menatap sendu pada ruangan yang dulu dijadikan Gloria sebagai tempat pembuatan tembikar. Ruangan itu adalah ruang yang dia sediakan khusus untuk sang wanita.


Sebelum benar-benar pergi, Sean memasuki ruangan itu dan melihat beberapa prakarya tembikar yang sudah jadi dan ada pula beberapa yang belum diselesaikan oleh Gloria.


Senyum getir tersungging dibibir Sean. Inilah resiko jika ia nekat memiliki rasa lebih dan bermain hati dengan Gloria yang adalah istri dari orang lain, terlebih orang lain itu adalah kakak sepupunya sendiri.


Jika saja Gloria mau membalas perasaannya, belum tentu juga mereka akan hidup bahagia karena bayang-bayang Owen akan selalu menghampirinya, sebab ia tak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya mengenai sepupunya itu. Entah masih hidup atau justru telah tewas.


Hhhhh ....


Sean menarik nafas berat, diambilnya satu buah tembikar yang berukuran paling kecil. Tembikar itu terbentuk menjadi sebuah vas bunga yang sederhana, ia membawa vas itu masuk kedalam sebuah ransel yang kini ia bawa. Mungkin ia akan merindukan momen saat membuat tembikar bersama wanita itu. Mungkin.


Tidak dipungkiri jika Gloria pernah mengukir sebuah kenangan manis dalam hidupnya. Sebelumnya, Sean memang tidak pernah senekat ini dalam memiliki rasa pada wanita lain. Baru kali ini dia merasa jika istri orang terlihat lebih menantang. Hah, pikirannya jadi kacau mengingat hal itu.


Sudahlah, kenyataannya wanita itu telah pergi meninggalkannya. Inilah keinginan Gloria yang sebenarnya. Tapi, dilain sisi Sean juga merasa khawatir dengan keadaan Gloria sekarang.


Apa wanita itu selamat? Atau justru telah ditemukan oleh Richard? Ayahnya telah tewas, tapi apa Richard akan membiarkan Gloria tetap hidup?


Keputusan berat harus Sean ambil, apalagi setelah tahu jika kini Richard menduduki tahta tertinggi untuk menggantikan posisi sang Ayah. Dan keputusan akhirnya adalah kembali ke Mansion yang seharusnya memang menjadi tempat tinggalnya dan kepunyaannya.


"Mungkin kau bisa memiliki tahta itu, Richard! Tapi, seluruh aset dan kekayaan ayahku tetaplah tertulis untukku sebab akulah anak yang sah dan diakui. Sedangkan kau hanyalah anak hasil perselingkuhan!" Sean tersenyum miring, membayangkan pucatnya wajah Richard yang kalah memperebutkan harta peninggalan Ayahnya.


Saat ini, Sean tak tertarik untuk mengejar-ngejar cintanya terhadap Gloria. Ambisinya yang utama bukanlah cinta, tetapi bebas dari kekangan ayahnya.


Sekarang ayahnya telah tiada, meski ia cukup bersedih akan hal itu karena bagaimanapun juga Markus tetaplah ayahnya. Tapi tak dipungkiri jika kini ia telah bebas menentukan arah dan pilihannya sendiri.


Tahta tak jadi masalah, biarlah Richard yang mendompleng itu semua. Tapi harta? Sean tetap merasa jika itu semua mutlak adalah miliknya-- yang patut ia pertahankan-- sekaligus untuk melihat bagaimana reaksi Richard setelah menduduki posisi teratas, tapi tak memiliki sedikitpun harta yang ditinggalkan.


________


Richard semakin menjadi setelah Markus tiada. Jika saat masih ada Markus, Richard terkesan menjadi anak yang penurut, berbeda dengan sekarang sebab ia lah yang menjadi pemimpinnya. Satu-satunya.


"Nico?!" serunya saat melihat sosok itu. Richard ingin mengerjai Owen, sebab merasa pria itu sudah tak mengingat apapun. Inilah saatnya ia membalaskan dendam pada pria itu.


"Ya, Tuan?"


"Hari ini, ikutlah bersama yang lain. Mungkin dengan kau ikut serta, Gloria mau menyerahkan diri."


"Maksud Anda?" Owen mulai bisa menyimpulkan rencana yang kini Richard pikirkan.


"Begini, selama beberapa hari mereka semua gagal menerobos masuk ke Mansion Adik ipar Gloria. Jadi, coba sekali ini pakai taktik mu untuk menangkap wanita itu dan seret dia kehadapanku!"


"Baiklah, tapi apa saya boleh bertanya satu hal, Tuan?" tanya Owen berlagak tak tahu menahu.


"Apa?"


"Beberapa kali saya mendengar jika Nona Gloria mengatakan bahwa saya adalah suaminya. Apa ada penjelasan untuk itu?"


Owen hanya mengangguk samar, padahal dalam hatinya dia tergelak melihat Richard yang sudah terkelabui.


"Untuk itu, manfaatkan saja kelebihanmu yang memiliki paras serupa dengan suami Gloria!" Richard mengatakan rencana yang terpikir di kepalanya. "Dengan begitu mungkin Gloria akan menurut!" lanjutnya.


"Jadi, anda mau saya mengaku jika saya suaminya?"


"Terserahmu, yang penting aku mau dia berada di hadapanku secepatnya!" Richard tidak sabar untuk membuat Gloria takluk ditangannya, seperti bagaimana kini Owen yang juga tunduk dibawah perintahnya.


"Baiklah," jawab Owen akhirnya. Padahal ia sangat menghindari pertemuan dengan Gloria lagi. Ia memang sangat merindukan wanita itu, tapi seperti pernyataannya pada Jade bahwa ia was was jika Gloria akhirnya tahu kebohongannya.


Tapi, menolak perintah Richard pun tak mungkin ia lakukan saat ini. Jadi, ia akan menuruti perintah pria itu demi semakin melancarkan aksi tipu-tipunya.


_____


Sesuai perintah Richard, akhirnya Owen ikut bersama beberapa orang untuk mendatangi Mansion Jade. Sebelumnya ia sudah memberitahu hal ini pada Jade dan adik iparnya itu sudah paham apa yang harus dilakukan.


Berbeda dari biasanya, kedatangan mereka kali ini adalah dimalam hari saat hari hampir larut. Ini dilakukan agar mudah menculik Gloria saat penjagaan juga lengah.


Padahal, mana mungkin penjaga lengah jika sebelumnya Owen sendiri yang sudah memberi tahu Jade untuk semakin memperketat penjagaan karena orang suruhan Richard akan segera tiba disana.


Tapi, ada untungnya dengan keadaan ini, jadi Owen benar-benar tak perlu bertemu Gloria secara langsung sebab istrinya itu pasti telah terlelap di jam ini.


"Baiklah, aku akan mencoba membuka gerbangnya!" kata Owen pada beberapa orang yang mengikuti langkahnya secara mengendap-endap.


Beberapa orang itu mengangguk setuju dengan usul Owen dan mempercayakan semua pada kemampuan pria itu.


Dengan gerakan gesit dan cekatan, Owen sangat bisa membuka gerbang Mansion. Ini ia lakukan untuk meyakinkan penjaga yang lain bahwa ia telah berusaha membobol gerbang jadi kebohongannya tak terbongkar.


Satu langkah Owen mengendap masuk namun beberapa langkah berikutnya suara tembakan terdengar dan ternyata seorang penembak jitu meloloskan peluru ke kaki rekannya yang masuk dibelakang tubuhnya.


Dorr!


Owen bersembunyi didekat pepohonan dan tak menggubris anak buah Richard yang menge rang kesakitan memegangi kakinya sendiri.


Beberapa rekan yang lain tak berani masuk dan ikut menginjakkan kaki ke dalam gerbang. Tapi, ada pula yang pantang menyerah dan ikut melesatkan peluru ke arah Mansion.


DorR!!


Dorr!!


Suara tembak menembak terdengar cukup nyaring di malam yang sudah senyap.


Tentu anak buah Richard tak mau kehilangan kesempatan lagi kali ini karena gerbang sudah terlanjur terbuka. Mereka mengabaikan rekan yang sudah terlanjur tertembak. Semua atensi mereka fokuskan hanya pada lawan yang bertugas menjaga Mansion dengan serangan tembakan.


Suara balas membalas tembakan terdengar menderu-deru. Owen sendiri berjalan ke arah lainnya agar tak terkena gencatan peluru itu, meski sebenarnya ia sudah mengenakan baju Anti peluru. Owen tak terlalu khawatir karena orang-orang yang ikut bersamanya hari ini tak sebanding dengan orang-orang yang menjadi tameng untuk perlindungan Mansion malam ini.


******