Pesona Lelaki Simpanan

Pesona Lelaki Simpanan
Plin-plan


Begitu tiba di Apartemen, aku justru merasa gugup luar biasa, perasaan aneh yang jarang terjadi padaku, kenapa tiba-tiba saja mendera?


"Kita sudah sampai, ayo turun!" ucapku menoleh pada Gloria yang diam sejak tadi. Wanita itu mengangguk samar, kemudian membuka tuas pintu untuk keluar dari mobil.


Kami menaiki lift apartmen yang hanya diisi oleh kami berdua. Aku melihat Gloria yang melipat kedua tangannya di dada. Aku mencoba mencari tahu apa yang tengah ia pikirkan mengenai kejadian ciumann intens kami beberapa saat lalu, namun raut wajahnya tidak terbaca, hanya sesekali ia terlihat menunduk lalu menghela nafas.


"Glo..." Ku beranikan diri untuk menyapanya. Gloria menoleh padaku dengan tatapan hangat. Mata lentiknya tampak mengerjap--membuatku terpana.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara pelan.


Aku menggeleng. "Tak apa," dustaku. Padahal aku sangat ingin mengulang ciuman panas kami lagi saat ini juga.


Namun, suara lift yang berdenting lalu terbuka, membuat kami mengalihkan atensi untuk segera keluar dari sana.


"Ayo," kataku sembari mengulurkan tangan untuk menggandeng jemari Gloria, sebab sejak dari basement tadi kami berubah jadi dua orang yang pemalu satu sama lain, hingga tak ada yang berani memulai untuk melakukan kontak fisik walau hanya sekedar bergandeng tangan.


Sampai di unit apartemenku, kami hanya diam. Sebenarnya aku memikirkan bagaimana tanggapannya mengenai diriku, namun Gloria tetap saja tak buka suara.


"Kenapa kau berubah jadi pendiam seperti ini, hmm?" Aku membuka coat yang ku kenakan saat kami masuk ke ruang tamu, begitu pula Gloria yang melakukan hal serupa.


"Aku merasa ada kesalahan, Owen."


"Salah?"


"Ya, seharusnya aku tidak membalas perlakuan Richard dengan cara yang sama. Jika aku berselingkuh denganmu maka aku dan dia tidak ada bedanya."


Aku menggeleng mendengar pernyataan Gloria yang sangat plin-plan. Apa-apaan ini? Apa dia mau membatalkan tawarannya yang ingin menjadikanku simpanannya? Oh my... kenapa dia mempermainkanku disaat aku sudah berada diatas angin.


"Jangan bilang kau mau menarik kembali ucapanmu mengenai menjadikan aku simpananmu, Glo!" cetusku gamang.


Gloria mengangguk. "Sebenarnya sejak tadi aku memikirkan hal itu."


"No! Kau milikku, Glo! Sejak ataupun sebelum tawaran itu kau ajukan! Karena Richard sendiri yang sudah mengantarkanmu kepadaku!" tegasku menekankan kata.


Gloria terkesiap, aku bisa membaca raut keterkejutannya atas ucapanku, namun aku tak peduli karena aku tidak mau dipermainkan oleh sikapnya yang plin-plan alias tidak berpendirian. Gloria harus tahu, meski aku masih bertenggang rasa padanya tapi disini tetap aku yang memiliki kendali.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Gloria nyaris berbisik.


"Of course! Jika tidak, kau tidak mungkin berada disini!" Aku menariknya untuk duduk disisiku yang sejak tadi sudah terduduk di sofa ruang tamu.


Gloria tampak gelagapan dalam posisi kini, tampaknya dia menyadari bahwa aku mulai mengendalikannya sekarang.


"Tapi aku istri Richard."


"I dont care, dia yang mengantarmu kesini, itu berarti tidak masalah baginya jika kita melakukan apapun termasuk bersenang-senang. Oh come on, Glo! Jangan mempermainkanku!" Aku menarik ikatan rambutnya yang dikuncir kuda, hingga rambut hitamnya tergerai begitu saja.


"Aku tidak mempermainkanmu, Owen." Gloria mengibaskan jemari didepanku dengan sikapnya yang tampak gugup.


"Kalau begitu, beri aku akses! I want you!" ucapku serius didepan wajah Gloria, matanya berkedip-kedip, mungkin terkejut karena tiba-tiba saja aku sudah memangkas jarak diantara kami.


Gloria tidak bisa menjawab lagi karena bibirku sudah mengunci bibirnya. Dan ternyata dia benar-benar tidak berpendirian, karena dia baru saja mengatakan ingin membatalkan tawarannya padaku, namun aku merasakan jika dia amat menikmati ciuman yang kini kami lakukan.


Aku menarik tangannya, meletakkan itu dipundakku dan secara naluriah Gloria justru melingkarkannya di leherku. Aku semakin memperdalam ciuman kami, mengendalikan posisi agar Gloria bisa berbaring di sofa karena saat ini aku tidak mau munafik, aku sangat menginginkannya sekarang juga.


Sesuatu dalam diriku mendesak untuk mendapatkannya.


Bayangkan saja, untuk menunggu hal ini terjadi antara aku dengan Gloria, sampai - sampai aku tidak pernah melakukan pelepasan baik secara mandiri maupun bersama wanita lain lagi, karena aku memang menunggu kesediaan Gloria saja. Tidak terbayang apa jadinya jika dia menolakku lagi kali ini. Mungkin aku akan menyerah saja padanya.


Mendengarnya mendesahh membuat gairahhku semakin tersulut. Aku semakin semangat membuatnya lepas kendali sama sepertiku yang sudah tidak karuan saat ini.


"Aku tidak akan menyakitimu, aku sudah berjanji akan hal itu, kan..." bisikku di ceruk leher Gloria.


Gloria berdehem, dia tidak bisa menjawab lagi karena begitu menikmati permainan yang sudah ku mulai.


Aku mulai menggigit, melumatt, mengulumm apapun yang ada pada bibir, cuping dan leher Gloria. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya termasuk responnya yang meski tidak begitu aktif, namun aku tahu dia menikmati setiap sentuhannku.


Aku menurunkan resleting gaunnya, melucutii semua yang ia kenakan hingga ia meringkuk dibawah kendaliku. Pemandangan indah ini akan terekam didalam memori otakku secara otomatis, sebab membuat kondisi Gloria seperti sekarang cukup menguras kesabaranku dan ini tidak mudah. Padahal biasanya aku bisa dengan mudah melakukan hal semacam ini dengan wanita lain yang ku inginkan, tapi sayangnya yang ku mau saat ini hanya Gloria saja.


"Aku mau melihat, jangan ditutupi," kataku dengan suara yang mulai serak karena sudah diliputi gairahh, aku membuka lengannya yang ia jadikan tameng untuk menutupi sesuatu yang ingin ku pandangi dengan lekat dan seksama.


Secara perlahan aku membuka yang sejak tadi ditutupi oleh Gloria.


"Aku malu, Owen..."


Kenapa ia harus menyebut namaku dengan nada seperti itu? Membuatku semakin menjadi...


Aku menggeleng. "Aku sudah melihatnya, jangan malu lagi," ucapku parau, aku menatap lapar pada hidangan menggemaskan yang ada didepan mataku ini dan tak mau menunggu lebih lama lagi, aku langsung saja memainkan peranku ditempat yang ingin ku jelajahi itu.


"Mulai saat ini aku akan sering melihatnya, jadi persiapkan saja dirimu!" ucapku disela-sela kegiatan nikmatt ini.


Aku merasakan tubuh Gloria bergetar, dia menyukai sentuhanku, tentu saja. Aku mulai me rem as dan memilinn. Shittt... rasanya membuatku mabuk, padahal ini belum ke permainan utama.


"Ahhss... Ahkkh," desahh Gloria.


Aku bangkit dari posisiku, merasa tidak cukup sampai disini. Ini semua harus dituntaskan. Aku menuntun jemari Gloria untuk menuju kemeja yang masih ku kenakan. Aku ingin dia yang melucutii pakaianku.


Ia menatapku dengan wajahnya yang sudah diliputi gairahh yang sama denganku. Baguslah, dia memberiku akses tanpa perlawanan dan ini yang ku inginkan karena aku paling anti pemaksaan.


"Buka," ucapku menyentuh jemarinya yang kaku didepan dadaku, seolah-olah dia tidak paham maksudku jika sejak tadi aku memintanya membukakan kemeja itu. Dia benar-benar terlalu polos untuk ukuran seorang wanita bersuami.


Dengan perlahan Gloria membuka satu persatu kancing, aku tidak sabar dengan gerakannya yang lambat itu, membuatku tersiksa harus menahan hassrat demi menungguinya.


Ku lepaskan kemeja yang sejak tadi melekat dan ku lempar ke sembarang arah, sama seperti aku melempar pakaian milik Gloria tadi.


Kulitku bersentuhan langsung dengan kulitnya.


Aku membelai miliknya, dan membuka akses itu secara perlahan. Ku rasakan dia sudah sangat siap. Tidak ingin membuang waktu lagi, aku masuk ke permainan utama, dan ternyata aku mendapatkan jackpott yang tidak pernah ku duga sama sekali.


"Glo, kau--kau..." suaraku tercekat dikerongkongan, namun anggukan Gloria menjadi jawabannya.


Aku menggeleng karena tidak memahami keadaan yang sangat janggal. Bagaimana mungkin Gloria masih perawann saat ini dan aku lelaki pertama yang menembusnya?


Lalu? Kemana Richard selama 8 bulan menikahi Gloria?


Aku mendengar Gloria meringis saat aku berhasil menyatukan diri dengannya.


"I'm so sorry, I dont know you're still a virgin. But, I can't stop, Glo!" kataku sembari melanjutkan aksiku untuk memacunya.


******


#capek ngetik yang beginian tau gak😂😂😂


Takutnya gak lulus review atau bakal dapat surat cinta dari entoon nantinya🤣