
Saat Yu Fei dan rekan-rekannya yang lain sedang menunggu, tiba-tiba udara di sekitar menurun drastis.
Yu Fei juga dapat merasakan energi murni yang berada di sekitar mereka, pria itu lalu berkata, "Apa kalian merasakannya?" Tanya Yu Fei kepada yang lain.
Changyi dan Xiao Mei mengangguk menandakan perkataan Yu Fei benar, Changyi kemudian bertanya, "Apakah ini pertanda kita sudah mendekati tempatnya?"
Yuwen langsung menjawab pertanyaan Changyi, "Sepertinya tidak... energi tadi itu terlalu murni, tetapi kehadirannya hanya sesaat, jika energi ini memang berasal dari tempat yang kita tuju pasti dari awal kita sudah merasakannya."
Perkataan Yuwen cukup masuk akal, mereka bertiga kembali mengangguk atas ucapan pria itu.
Tidak berselang lama Yuwen merasakan pergerakan dari pemegang peta, mereka kemudian bersiap untuk mengikuti.
**
Di sisi lain Liuzhen dan Mi telah bertukar jurus ratusan kali, meskipun sesekali pukulan mengenai pria muda itu tetapi tubuhnya cukup kuat untuk menahan.
Setelah beberapa waktu berselang Sang Kakek mundur beberapa langkah, dia mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan teknik yang dimilikinya.
Mi mengayunkan tangannya dari jauh sambil melihat ke arah Liuzhen, tiba-tiba tanpa disadari sebuah pukulan keras menghantam Liuzhen.
Pria tua itu bahkan bisa menarik Liuzhen dari jauh, "Tarikan Kematian!" Seketika Liuzhen terhempas dan kembali ke tangan pria tua tersebut.
Tetapi kali ini Mi tidak menggunakan tangannya, melainkan dia dibantu oleh roh angin untuk menggenggam Liuzhen.
Mi terpaksa menggunakan salah satu jurus andalannya, dia merasa kesulitan melawan Liuzhen dengan kekuatan fisik.
Di sisi lain Liuzhen yang merasakan sesuatu menggenggamnya tidak bisa berbuat apa-apa, dia cuma bisa diam dan berusaha melepaskan diri.
Tetapi cengkeraman tak terlihat oleh pria tua itu terlalu kuat, meskipun tidak menyakitinya tetapi tetap saja Liuzhen tidak menyukai.
Gerakan Liuzhen seolah dikendalikan oleh Mi, dia bisa menghantam Liuzhen ke tanah dan pohon sesuka hati.
Hingga pada satu momen Mi menghentikan total pergerakan Liuzhen, dia lalu berkata sambil memegang pedang muridnya, "Bocah sepertinya kematian sudah menunggumu, pedang muridku ini akan menjadi saksinya."
Tidak banyak berkata pria tua itu langsung menarik Liuzhen dengan cepat, selain itu dia juga melempar pedang muridnya ke arah Liuzhen.
Liuzhen tertarik dengan begitu cepat ke arah pria tua itu, sedangkan pedang Mi juga ikut melesat ke arahnya.
Saat pedang tersebut sedikit lagi mengenai Liuzhen, tiba-tiba sesuatu menghalangi pedang itu.
Bahkan pedang yang dilempar oleh Mi hancur berkeping-keping, mata pria tua itu semakin melebar ketika melihat seekor monyet putih yang menghalanginya.
Tidak hanya menghancurkan pedang milik Mi, tetapi cengkeraman yang menyelimuti Liuzhen memudar.
Momo berhasil mengehentikan teknik Roh Angin milik musuh, hanya saja Liuzhen masih sedikit mengingat kejadian sebelumnya.
Momo yang melompat ke pundak Liuzhen membuat pria muda itu mengangkat suara, "Meskipun tanpa bantuanmu aku yakin tubuhku bisa menahannya," ucap Liuzhen ketus.
Liuzhen juga menyambungkan kalimatnya, "Tapi aku tidak tau bagaimana kau bisa melakukannya, bahkan aku tidak mampu melihat benda yang mengikatku," gumam pelan Liuzhen penasaran.
Mi yang melihat Liuzhen bersikap acuh tak acuh padanya menjadi berang, dia berpikir jika Liuzhen tidak menganggapnya sebagai sebuah ancaman.
"Bocah tidak tau diri, hanya pada tingkatan Pendekar Ahli berani bersikap seperti itu padaku!" Teriak Mi kepada Liuzhen.
Pria sepuh itu langsung melepas seluruh tekanan spiritualnya, dia juga menggunakan aura pembunuh untuk mengintimidasi lawan.
Liuzhen tidak gentar sedikitpun, hanya saja dia masih sedikit penasaran dengan kemampuan Momo.
"Berani menginjakkan kaki di Tenah Terlarang, bahkan membuat kedua muridku menjadi cacat, dosamu sudah begitu banyak," Sang Kakek mengangkan seluruh pohon di sekitarnya.
Pohon yang terangkat berubah menjadi benda tajam, lebih tepatnya kayu-kayu itu merubah bentuknya menjadi runcing.
Ratusan pohon terangkat dan mengarah ke Liuzhen, selain itu akar pohon di sekitar Liuzhen menjalar dan mengikat kakinya.
Setiap kali pria itu memutuskan akar pohon, dia mendapati akar-akar menjadi lebih banyak menyerangnya.
Liuzhen lalu bergumam dalam hati, "Siapa kakek ini sebenarnya."
Kedua murid Sang Kakek juga dibawa oleh akar pohon sekitar, bahkan Liuzhen tidak dapat melihat arah hutan lagi.
Kemampuan Mi dalam memanipulasi sesuatu begitu tinggi, dia tidak hanya bisa menggunakan Roh Angin tetapi tumbuhan juga.