
Liuzhen mengangkat senjatanya ke arah pria di hadapannya, dia juga bertanya tentang mereka.
Saat Liuzhen bertanya pada pria bertopeng itu dia lalu menjawab dengan tawa, "Hahaha... bagus. Bagus!" Timpalnya sambil menepuk tangan.
Liuzhen tidak mengerti apa yang sedang pria itu lakukan, dia menyipitkan mata dan kembali berkata, "Apa perkataanku terdengar lucu? Atau kau terlalu khawatir dengan masa depanmu?"
Ucapan Liuzhen membuat pria tersebut berhenti tertawa, dia kemudian menjawab, "Apa aku terlihat seperti itu?" Ucapannya membuat Liuzhen terpental jauh.
"Ohh... kau kuat juga ternyata, bahkan mampu menahan pukulanku," sambung pria bertopeng itu.
Pria itu dengan cepat bergerak ke belakang Liuzhen, dan memukulnya kembali dengan kuat.
"Pukulan ini untuk orang yang telah kau bunuh," ucapnya kepada Liuzhen yang terlempar terus menerus.
Liuzhen bahkan tidak mengerti kecepatan pria itu, dia tidak pernah melihat orang yang memliki gerakan tersebut.
Saat pria itu datang lagi, Liuzhen mencoba menghindarinya dan menyerang balik tetapi tidak ada perubahan signifikan.
Liuzhen mencoba mengambil posisi dengan baik, dia tidak memiliki kesempatan untuk menganalisa.
**
Sudah sore hari Wu Yong berlari, dia mencari Liuzhen di setiap tempat tetapi tidak menemukannya.
Hingga pada akhirnya dia berpapasan dengan Li Liang di jalan, meskipun Wu Yong enggan menyapa tetapi dia tidak bisa mengabaikan pria itu.
"Ehmm. Uhukk...." Batuk Wu Yong yang tidak jelas.
Li Liang tidak mempedulikan batuk Wu Yong, dia terus berjalan lurus dengan santainya.
Wu Yong yang melihat hal tersebut memperbesar batuknya kembali, "Uhuk! Uhuk!"
Li Liang masih berjalan seolah tidak ada orang, saat dirinya sudah melewati Wu Yong tiba-tiba seseorang memanggilnya.
Wu Yong memanggil Li Liang dengan malu-malu, "Heii... kau! Apa kau tidak bisa menyapa seseorang yang kau kenal?"
Pria itu langsung memalingkan wajah ke arah Wu Yong dan berkata, "Apa kau memanggilku?"
Wu Yong sedikit kesal tetapi dia tidak peduli, pria itu membutuhkan bantuan Li Liang untuk mencari Liuzhen dan Annchi.
Sebenarnya Wu Yong tidak bisa meminta bantuan orang lain, pasalnya semua murid Grade E tidak menyukai keberadaan empat orang ini.
"Kau sekarang sudah berani membentakku? Heh... semenjak bersamanya kau seperti lupa diri," Li Liang memperingati.
Li Liang lalu menyambung perkataannya lagi, "Yaa... aku tidak begitu peduli, tapi sekali lagi kau seperti itu aku...."
Belum sempat Li Liang menghabisi kalimatnya Wu Yong memotong, "Aku apa? Kau ingin menghajarku? Sekarang bukan saatnya untuk itu...."
Wu Yong juga berkata, "Ada hal yang lebih penting," balas Wu Yong keras.
"Sebenarnya... aku juga berat untuk menyapamu, tetapi cepat atau lambat kita pasti saling membutuhkan lagi," Wu Yong melanjuti kalimatnya.
Li Liang lalu menjawab, "Heh... percaya diri sekali kau, sejak kapan aku membutuhkanmu... bahkan hari ini esok atau bahkan di masa depan aku tidak...."
Tiba-tiba Wu Yong memukul wajah Li Liang dengan cepat, bahkan pria itu tidak sadar dengan gerakan tangannya sendiri.
Li Liang juga tidak sempat menghindar, saat dia ingin membalas pukulan Wu Yong dia melihat mata pria itu.
Untuk sesaat emosi Li Liang mereda, pria itu melihat ke arah mata Wu Yong dengan dalam.
Wu Yong kemudian berkata, "Maaf...." ucapnya sambil menggosok mata.
"Aku benar-benar tidak tau yang terjadi pada saat itu," Wu Yong mengingat masa lalu.
Li Liang dan Wu Yong adalah teman masa kecil yang sangat dekat, tetapi suatu kejadian membuat mereka harus berpisah.
Setelah kejadian itu Wu Yong tidak pernah bertemu dengan Li Liang lagi, di sisi lain Wu Yong juga harus kehilangan sosok guru yang disayanginya.
Kenangan tersebut membuat air mata Wu Yong terus berjatuhan, dia juga tidak tahu kenapa bisa bertemu dengan Li Liang lagi.
Wu Yong hanya bisa menyalahkan keadaan pada saat itu, dirinya terlalu lemah bahkan begitu pengecut.
Dia tidak bisa melindungi orang yang disayanginya, di samping itu Li Liang juga mengingat kembali kenangan mereka.
Tetapi kenangan yang di rasakan oleh Li Liang langsung ditepis olehnya, dia kemudian membalas memukul Wu Yong lebih keras.
"Sejak kapan seorang pria mudah untuk menjatuhkan air matanya, kau membuatku semakin jengkel," ketus Li Liang kepada pria di hadapannya.
Sebenarnya pertengkaran mereka sedang di lihat banyak orang, tetapi mereka berdua tidak menggubris hal tersebut.