Pendekar Penentang Langit

Pendekar Penentang Langit
Ch. 14 - Kekonyolan


Keberadaan Liuzhen masih terus menjadi tanda tanya bagi Sang Kakek, dia khawatir akan terjadi sesuatu pada cucu bodohnya itu.


"Sudah tiga hari tapi aku masih belum menemukan tanda-tanda, sepertinya harus pergi ke tempat itu," gumam kecil Sang Kakek dengan senyuman khas penjahat.


Disaat seperti ini informasi sangat mudah didapatkan di rumah makan dewasa, cuma memberikan beberapa koin tembaga, informasi akan berjalan sendirinya.


Sang Kakek ingin memanfaatkan hal tersebut tetapi kantong terlalu tipis, terkadang rumah makan dewasa menjadi pisau bermata dua baginya.


"Ahh, ini akan sedikit memalukan bagiku." Pikir Sang Kakek melirik beberapa kantong pengunjung.


**


Anzhu tidak membebani pikiran dengan perkataan orang lain, karena itu bukan hal penting bagi Anzhu, dia yakin jika dirinya hanya menarik di mata orang yang memahaminya.


"Beberapa kata Liu gege memang selalu berguna disituasi seperti ini." Pikir Anzhu sambil mempertahankan keyakinan itu.


Jierui bersandar pada bagian dinding seolah mengetahui Anzhu akan melewatinya, "Dirimu menjadi lebih terkenal cuma dalam satu malam, tidak terlalu buruk untuk seukuran juniorku," sapa Jierui kepada adik seperguruannya itu.


"Ahh senior! Lama aku tidak melihatmu," balas Anzhu antusias.


"Yaa... belakangan ini aku harus membantu guru," ucap Jierui menghelakan napas.


Anzhu kemudian menoleh kanan kiri, "Ada apa? Senior terlihat begitu tidak bersamangat, mungkinkah sesuatu terjadi?" Tanya Anzhu mengecilkan suaranya.


"Aku terharu melihat junior kecilku ini perhatian pada seniornya, tapi aku tidak mengerti kenapa suaramu juga ikut mengecil," tanya Jierui penasaran.


"Senior aku tidak ingin orang-orang salah paham kalau aku perhatian padamu," balas Anzhu yang mulai membesarkan suaranya.


Anzhu mencoba mengubah pandangan orang terhadapnya, dia berpikir jika melakukan hal konyol mungkin dapat memberikan pandangan yang berbeda padanya.


Anehnya Anzhu merespon bahasa tubuh Jierui yang jika diterjemahkan kira-kira, "Dari dulu aku memang pintar, tidakkah senior menyadarinya?"


Jierui yang langsung mengerti ucapan Anzhu berkata, "Apa maksudmu? Apa kau sedang menghina seniormu ini," balas Jierui yang seolah semakin menjiwai gerakan dari Anzhu.


Banyak orang yang melihat tingkah konyol mereka berdua, ketika wanita dan pria berparas indah sedang melakukan gerakan bodoh hanya meninggalkan kesan polos di hati mereka.


Jierui merupakan salah satu murid terkuat dari tujuh murid lain, selain kuat dirinya juga memiliki paras yang cukup untuk meluluhkan para gadis, hanya saja Jierui tidak begitu tertarik untuk melakukan hubungan seperti itu begitu juga dengan Anzhu.


Melihat gerakan mereka berdua, perkataan yang awalnya menghebohkan Anzhu kini kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka semua sadar akan kepolosan dewi dan pangeran mereka masing-masing.


Anzhu yang mulai melihat situasi lebih tenang menyampaikan rasa terima kasih, "Senior terima kasih atas bantuanmu, aku tidak yakin apakah gerakanku dapat senior pahami barusan," ucap Anzhu tersenyum mengejek.


"Tenang saja, tanpa kau bergerak sekalipun aku sudah memahaminya, lagian tidak masalah jika itu untuk juniorku yang satu ini," balas Jierui sambil menunjukkan senyuman terbaik.


**


Pada akhirnya Liuzhen memutuskan untuk meninggalkan gubuk tua tersebut, dia berpikir agar melanjutkan perjalanan yang sudah tertunda cukup lama.


Liuzhen mulai berlari ke arah pedalaman hutan, awalnya dia tidak bisa melanjutkan perjalanan karena tubuhnya yang masih belum siap. Liuzhen sangat merasakan beban pada tubuh jika terus berjalan, tetapi sekarang dia merasakan perbedaan.


Berhari-hari Liuzhen terus memasuki pedalaman hutan, hingga akhirnya dia menemukan sebuah reruntuhan kuno. Liuzhen cukup terkejut melihat reruntuhan yang begitu besar.


Tidak ada satupun hewan buas yang mendekat pada reruntuhan tersebut, selain seekor monyet putih kecil.


Monyet itu terus memandangi Liuzhen, hanya saja Liuzhen mengabaikan hal tersebut. Dia berpikir monyet itu cuma mencari makanan pada dirinya.


Perlahan Liuzhen berjalan mengitari tepi bangunan, dia menemukan begitu banyak simbol tertentu pada bangunan tua itu. Ketika dia mencoba menyentuh simbol tersebut, monyet putih mulai berteriak dan melompat sehingga mengaktifkan beberapa jebakan.