Pendekar Penentang Langit

Pendekar Penentang Langit
Ch. 55 - Kitab Lima Jari I


Setelah pria itu memberikan beberapa barang dan Stone Merah, Liuzhen lalu memberikan sebuah pil tingkat ketiga padanya.


Setelah memberikan pil, Liuzhen dan Wu Yong kembali berjalan dan menuju lantai pertama.


Meskipun pria itu harus membayar harga yang lebih mahal tetapi dia tidak merasa rugi, dia juga mengucapkan terimakasih kepada mereka berdua.


Beberapa orang yang mendengar perkataan pria itu tidak mengerti, mereka jelas-jelas melihat pil tingkat ketiga dihargai dengan 150 Stone Merah.


Padahal di pasaran harga pil tingkat ketiga hanya 110 Stone Merah, tetapi dia lebih memilih membeli 150 dari Liuzhen.


Sebagian melihat Liuzhen adalah pria tidak tahu diri, sedangkan sebagian lainnya melihat pria yang membeli tersebut memiliki kepintaran tersendiri.


Dua orang pria yang menuruni lantai ketiga dengan santai, dan menunjukkan beberapa pil tingkat tinggi seolah memberitahukan kepada pria itu jika mereka berdua telah mengetahui semuanya.


Tidak ada orang yang mau keluar dengan cepat dari lantai atas, mereka mengetahui keuntungan yang didapat cukup besar.


**


Setelah sampai ke lantai pertama Liuzhen tidak melihat banyak orang, tetapi dirinya merasakan sesuatu dari lantai itu.


Kertas yang dia ambil dari lantai kelima memberikan sedikit respon, tetapi Liuzhen bingung kenapa kertas tersebut terasa lebih hangat.


Wu Yong memperhatikan gerakan Liuzhen pria itu lalu bertanya, "Ada apa? Apa kau sekarang merasa kasihan dengan pria tadi?" Tanya Wu Yong kepada Lizuhen.


Liuzhen tidak menanggapi pertanyaan Wu Yong, melainkan memberi isyarat untuk diam.


Wu Yong kembali melanjutkan perkataannya, "Sepertinya kau tipe malu-malu mengakuinya," sambung Wu Yong.


Liuzhen lalu mengeluarkan kertas tersebut dari sebuah buku yang didapatnya dari lantai keempat, dia kemudian melihat kertas itu berubah warna menjadi emas.


Rasa kaget Liuzhen tidak tertahankan, bahkan Wu Yong yang melihat kertas tersebut mengajak Liuzhen untuk menjualnya.


Perlahan Liuzhen mencoba merasakan penyebab respon kertas tersebut, tidak lama dia menemukan sumber buku itu.


Setelah berjalan beberapa saat di lantai pertama Liuzhen melihat sebuah perpustakaan tidak digunakan, dia lalu mendekat dan mulai memperhatikan.


Ketika Liuzhen ingin memegangnya tiba-tiba seseorang mendekati mereka dan berkata, "Apa yang sedang kalian lakukan di sini," ucap pria tua itu.


Pria itu bernama Wenhua, dia merupakan penjaga perpustakaan Perguruan Elang Putih.


Tetapi untuk suatu urusan dia harus mendatangi pagoda, tidak disangka dirinya bertemu dengan Liuzhen.


**


Keberadaan pria tua itu membuat Liuzhen terkejut, dia tidak dapat merasakan aura dan keberadaannya.


Setelah bertanya kepada Liuzhen, Wenhua menatap lama pria itu dan melihat buku yang ingin diambil oleh Liuzhen.


Liuzhen tidak dapat berkata apa-apa, dia berusaha menakar kemampuan pria dihadapannya itu tetapi tidak berhasil mendapatkan informasi.


"Maaf tetua, aku hany...." Belum lagi Liuzhen menghabiskan kalimatnya, Wenhua memotong perkataan Liuzhen.


"Buku itu... apa kau tertarik?"Tanya Wenhua kepada Liuzhen, dia juga kembali mengatakan, "kau tidak akan mampu mempelajarinya," sambung Wenhua ketus.


Perkataan Wenhua seolah membuat Liuzhen terjatuh, tetapi Wu Yong menimpal perkataan Wenhua dan berkata, "Pria tua, kau tidak mengetahui kemampuan sebenarnya dari saudaraku."


Wenhua lalu menoleh ke arah Wu Yong sebentar dan kembali berbicara kepada Liuzhen, "Jika kau tertarik silahkan," ucap Wenhua berjalan meninggalkan mereka.


"Satu lagi, tidak ada orang yang menyukai lantai pertama apa kau tau kenapa? Karena harta di bawah sini tidak ada yang bagus," sambung pria tua itu sambil tertawa.


Meskipun Wenhua berkata demikian tetapi dia tahu persis lantai pertama tersebut, buku yang dilihat oleh Liuzhen adalah Kitab Lima Jari yang terkenal.


Karena sulitnya pembelajaran kitab Lima Jari, banyak orang yang memilih untuk tidak menghabiskan waktu pada kitab tersebut.


Dikabarkan teknik tersebut sudah menghilang ratusan tahun, bukan hanya karena tidak ada yang ingin mempelajarinya tetapi keberadaan kitab itu tidak pernah ditemukan lagi.


Siapa yang mengira jika kitab itu berada di Negara Chu, lebih tepatnya di tangan seorang penjaga perpustakaan Perguruan Elang Putih.


Robekan kertas yang didapat Liuzhen menjadi kunci menemukan kitab tersebut, meskipun mereka mendapati kitab tetapi tanpa kertas itu kitab Lima Jari tidak akan merespon.