Pendekar Penentang Langit

Pendekar Penentang Langit
Ch. 69 - Harapan


Li Liang kemudian tidak mempedulikan Wu Yong, dirinya pergi meninggalkan pria itu.


Di sisi lain Wu Yong tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa membiarkan Li Liang meninggalkannya begitu saja.


Saat beberapa langkah Li Liang mulai merasa kesal, dia lalu membalikkan badan dan berteriak, "Apa kau tidak bisa memanggilku? Atau menghentikanku?" Li Liang mengepal tangannya dengan kuat.


Wu Yong yang sudah kehilangan harapan tiba-tiba mendapati harapan baru, dia tidak tahu pasti apa yang membuat dirinya tersenyum.


Perkataan Li Liang membuatnya senang, meskipun ucapan itu bentakan.


Li Liang kemudian melanjutkan perkataannya, "Apa kau hanya berdiam saja di situ? Kita tidak memiliki waktu lagi jika ingin menemukan mereka," ketus Li Liang.


Sebelumnya Wu Yong telah menceritakan kepada Li Liang, tetapi pria itu tidak mempedulikan hal tersebut.


Pada akhirnya Li Liang menyetujuinya, mereka berdua kemudian pergi mencari kedua rekannya yang lain.


Wu Yong memiliki perasaan aneh, dia terkadang mempunyai firasat tertentu ketika orang di sekitarnya mengalami hal buruk.


Li Liang juga sudah mengetahui kemampuan Wu Yong itu, sehingga dia memutuskan untuk mempercayainya.


**


Setelah banyak bertukar jurus dengan pria bertopeng putih tersebut, Liuzhen masih tidak bisa mengimbanginya.


Meskipun tubuhnya tidak terluka begitu berat, tetapi tetap saja dia masih belum sebanding dengan musuhnya sekarang.


Bahkan Langkah Tidak Berbayang juga mampu diimbangi oleh pemimpin musuh itu, kecepatan dan kekuatannya berbeda dari musuh yang pernah Liuzhen lawan.


Setelah memukul Liuzhen berkali-kali dia lalu bersuara, "Tubuhmu itu... cukup menarik," Pria itu berdiri di hadapan Liuzhen dan kembali berbicara, "Entah kenapa pukulan yang aku gunakan, seolah tidak bisa menembusmu."


"Tubuhmu itu... seperti seluruh semesta sedang bersamamu," sambung pria itu.


Liuzhen sedikit terkejut ketika dia menyebutkan beberapa kata, tetapi Liuzhen tidak begitu menggubrisnya.


"Sebenarnya setiap pukulanku mengandung hukum, tetapi hal tersebut tidak berlaku padamu... aku tertarik padamu, bagaimana kalau kau menjadi pengikutku?" Pinta pria bertopeng kepada Liuzhen.


Pria muda itu sebenarnya tidak begitu kesulitan melawan ketua pria bertopeng, tetapi dia tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik.


Liuzhen lalu menjawab, "Bergabung denganmu? Bagaimana bisa aku bergabung dengan orang yang tidak aku ketahui."


Pria itu kemudian menimpal, "Jika itu yang kau permasalahkan, hanya menunggu waktu sampai kau mengetahuinya nanti."


"Teruslah bermimpi!" Ketus Liuzhen.


Liuzhen kembali terpental dengan kuat, dia tidak bisa melihat sama sekali pergerakan musuhnya.


Saat Liuzhen terpental dengan kuat dia terpikir sesuatu, dia menerka-nerka kecepatan pria tersebut.


Liuzhen teringat dengan perkataan musuhnya itu, dia sempat menyingung tentang pukulan hukum.


Entah apa yang membuat Liuzhen tidak berpikir tentang hukum waktu, Liuzhen berasumsi jika lawannya sekarang memiliki kemampuan mengatur hukum waktu.


Kurang lebih prinsipnya sama dengan hukum ruang, dan bila disatukan menjadi hukum ruang dan waktu.


Liuzhen pernah menggunakan hukum tersebut ketika terjebak di Hutan Kuno, Yin mengajarinya teknik tersebut.


Lebih tepatnya Yin mengajari tentang Formasi Ruang dan Waktu, hanya saja berbeda dengan pria bertopeng itu gunakan.


Liuzhen lalu kembali berpikir, jika musuhnya menggunakan prinsip yang sama tetapi dibuat menjadi lebih sederhana.


Pria muda itu larut dengan pemikirannya sendiri, saat dia mencoba bangkit lagi Liuzhen lalu berkata, "Tunggu... kau dengan percaya diri bisa mengalahkanku, bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"


Liuzhen mencoba mengulur waktu, dia ingin mencari dimana pemicu formasi yang musuh gunakan.


Tetapi setiap matanya melirik ke arah lain, dia tidak bisa menemukan sesuatu yang dia cari.


Liuzhen lalu mencoba mengingat-ingat kembali dari waktu sebelumnya, pria itu muncul dengan tiba-tiba.


Pemimpin bertopeng menjawab, "Apa kau sudah menyerah? Heh... ternyata hanya sampai di sini saja."


"Kau masih saja terus bermimpi, satu serangan... jika mampu menghindari seranganku ini, aku mengakui diriku kalah, dan berlaku sebaliknya...." Balas Liuzhen pelan.


Pria itu menimpal perkataan Liuzhen, "Tanpa kau sebutkan, kau memang sudah akan kalah!"


Liuzhen dengan santai menjawab, "Baiklah... kalau begitu bagaimana kalau kita mulai," ucap Liuzhen dengan percaya diri.


Sebenarnya Liuzhen tidak begitu percaya dengan dirinya sendiri, dia bahkan masih belum menemukan pasti letak formasi itu.


Tetapi Liuzhen berpikir jika susunan formasi itu pasti berada di dekatnya, dan tempat yang paling aman adalah diri sendiri.


Permasalahannya adalah bagaimana cara Liuzhen menghentikan gerakan pria itu untuk sesaat, jika hal tersebut dapat di lakukan dia bisa memusnahkan pria itu tanpa menghancurkan formasi.


Liuzhen sangat yakin dengan kemampuan pedangnya, tetapi dia sedikit bingung untuk menekan gerakan pria tersebut.


Sebenarnya Liuzhen sudah mengeluarkan seluruh aura pembunuhnya, tetapi aura itu tidak berpengaruh sama lawannya.