
Yu Fei dan yang lainnya sudah memasuki Tanah Terlarang lebih dalam, mereka berempat terus mengikuti secara diam-diam.
"Ketua," panggil Changyi kepada Yu Fei.
Pria itu lalu spontan menjawab, "Ssstt," balas Yu Fei sambil mengangkat tangan ke mulutnya.
"Sepertinya mereka sedang berhenti," sambung Yu Fei memberikan isyarat untuk berhenti juga.
Di tengah-tengah hutan mereka berempat mengikuti si pemegang peta, Yuwen telah menyematkan sebuah formasi agar mereka dapat mengetahui lokasi peta.
Saat Yu Fei dan rekannya berhenti mereka mendengar auman hewan buas, Yu Fei berpikir jika tim di depan sedang bermasalah.
Jarak antara tim Yu Fei dan tim pemegang peta kurang lebih 100 meter, Yu Fei tidak berani mengambil risiko untuk lebih dekat.
Mereka berempat kemudian memutuskan untuk menunggu, sembari berdiam diri Yu Fei meminta agar mereka tidak mengendorkan kewaspadaan.
**
Di sisi lain aura pria tua itu tiba-tiba memancarkan hasrat menginginkan kristal, Liuzhen merasakan ada sesuatu yang salah.
Hanya beberapa saat Liuzhen merasakan aura tersebut, dia berpikir jika kemampuan tetua di hadapannya itu tidak lebih lemar dari puncak Pendekar Raja.
Napas Liuzhen sedikit memburu, sekarang dia sadar jika tindakannya baru saja mengundang bahaya.
"Nak... bagaimana kau memilikinya?" Tanya tetua kepada Liuzhen.
"Senior... terkadang seseorang memiliki satu atau dua rahasia, aku harap senior bisa memakluminya," balas Liuzhen gugup.
"Sepertinya barusan aku menakutimu, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap kakek.
"Tapi bukan berarti aku bisa mengizinkanmu tetap berada di sini, aku juga belum menyinggung lebih dalam teman-temanmu di sana," sambung pria sepuh sambil menunjuk ke arah belakang.
Sang Kakek menegaskan kembali, "Satu kristal itu bisa menyelamatkan nyawamu, tetapi tidak untuk rekanmu...."
Perkataan pria tua itu memperjelas kesepakatan antara mereka, Liuzhen membalas dengan senyuman kecil.
"Senior, kalau begitu...." Liuzhen melempar kristal ke atasnya, dan disambut baik oleh Momo.
Mata kakek melebar dengan penuh ketidakpercayaan, dia memberikan kristal yang penuh energi murni kepada seekor monyet.
"Kurang ajar!" Ketus Sang Kakek.
Sang kakek lebih terkejut lagi ketika monyet putih itu menghabiskan energi murni dengan cepat.
Kali ini aura yang dipancarkan pria sepuh lebih tinggi dari sebelumnya, bahkan para muridnya tidak lagi ikut campur.
Liuzhen yang merasakannya sedikit menyipitkan mata, sepertinya pertarungan tidak dapat dihindarkan lagi.
Setelah mengkonsumsi kristal, Momo pergi memanjat pohon yang lebih tinggi dia khawatir jika Liuzhen akan segera mati.
Gerakan Momo langsung terbaca oleh Liuzhen dia bergumam dalam hati, "Monyet sialan, lepas perut majikanpun dilupakan."
Saat Liuzhen larut dengan kekesalannya kepada Momo, tiba-tiba pria tua itu berbicara, "Nak... sepertinya kau tidak tau apa itu kematian." Tangan pria sepuh dengan sigap memegang leher Liuzhen.
"Bocah sepertimu berani mempermainkanku," ucap tetua sambil meraba topeng pria muda tersebut.
Liuzhen yang merasakannya langsung memegang tangan Sang Kakek, dia menggunakan tenaganya untuk mencengkram pergelangan tangan musuh.
Tidak lama kemudian mereka berdua beradu kekuatan fisik, Liuzhen lalu berkata, "Senior... jika kau berniat mengadu fisikmu denganku, aku rasa hari ini adalah penyesalanmu." Genggaman Liuzhen semakin kuat.
Tangan yang mencekik Liuzhen perlahan melemah, Sang Kakek semakin kesal ketika sadar fisik Liuzhen di atas rata-rata.
Pria tua itu dengan cepat memberikan isyarat kepada muridnya untuk membantu, sebenarnya tetua mereka tidak dapat merasakan tangannya lagi sehingga butuh bantuan.
Dua murid yang lain saling mengangguk dan menyerang Liuzhen bersamaan, Sam kembali menunjukkan kehebatannya.
Sedangkan pria satu lagi mengeluarkan pedang miliknya, dengan tangkas pedang itu mengarah ke Liuzhen.
Aura mereka berdua sudah dapat dirasakan oleh Liuzhen, pria itu langsung mendorong Sang Kakek dan mengambil ancang-ancang.
Kedua murid itu berpikir telah berhasil mengenakkan pada pria muda itu, tetapi Liuzhen dengan Langkah Tidak Berbayang miliknya menghindari serangan mereka berdua.
"Serangan anak-anak seperti itu, tidak akan bisa melukaiku," ucap Liuzhen berniat menjatuhkan semangat musuh.
Meskipun Liuzhen berkata seperti itu tetapi dia tidak boleh meremehkan musuh, di sisi lain mereka bertiga sekarang bersatu.
Liuzhen juga sadar kekuatan Sang Kakek berada di ranah Pendekar Roh awal, dia juga bisa merasakan jika aliran energinya masih belum stabil.
"Jarang-jarang aku bisa bertemu Pendekar Roh bersama muridnya melawan seorang junior," ucap Liuzhen dengan sinis.