
Suasana pantai Calheta cukup ramai oleh pengunjung. Lewati jembatan kayu, Cheryl sangat tak sabaran ingin cepat-cepat bertemu air laut. Menarik tangan Bellova sedang anak mata bersinar sumringah. Matahari pukul tiga sore lumayan menyengat, but, tak ada yang peduli.
Belliza menaruh bawaan piknik di salah satu rumah payung. Di mana sebelumnya, Paul Giorginho Damier dan Nyonya Damier telah lebih dahulu bersiap-siap untuk acara berbekyu. Di samping mereka Bellinda Damier oleskan lotion pada Amaris Damier. Keluarga penuh kehangatan dan berlimpah kasih sayang.
"Kemana kamu dan Bellova bepergian sepanjang dua hari ini?"
Lucio Vargas dan Raymundo Alvaro paling belakang, berjalan bersisian, acuhkan berpasang-pasang mata wanita pada mereka berdua.
"Bersenang-senang di Miradoura dos Frades," sahut Raymundo Alvaro amati pantai.
"Aku penasaran. Pria alergian serbuk bunga membawa istrinya ke suaka bunga hortensia? Apakah kamu berpikir untuk pingsan di sana dan dapatkan segala romantisme dari Bellova?"
Raymundo menyeringai kecil.
"Aku tak selihai Anda, Tuan Vargas."
Raymundo hanya mendayung sepeda sepanjang Miradoura dua hari lalu, di mana hortensia dan Cana Indika kuning berkoloni indah. Bellova duduk di bagian depan sepeda. Mereka berciuman sesekali sambil bersenda gurau, lalu ciuman berubah jadi sepanjang waktu dan nyaris saja berakhir di semak-semak bunga. Dari puncak, samudera Atlantik dan matahari terbenam begitu memukau. Mereka kembali ke rumah dan berdempetan sepanjang waktu. Raymundo tanpa sadar menggaruk hidungnya.
"Aku penasaran." Lucio Vargas gigih mencari tahu.
"Miradoura dan aku berbagi semacam rahasia kecil."
"Aku cemburu. Harusnya ajak Cheryl, aku dan Belliza."
"Kamu bukan balita. Buat moment-mu sendiri, Tuan! Bukankah kamu pria romantis? Belliza bisa berenang dalam matamu."
Lucio berdecak. "Sangat tajam dan tak berperasaan."
Raymundo Alvaro meskipun gunakan kaca mata gelap, anak matanya terus ikuti gerak-gerik Bellova Driely yang berlarian di atas tepian pantai bersama Belliza dan Cheryl. Kain pantai melambai-lambai dan tubuh indah Bellova sangat sempurna terpantul di atas pasir.
Lucio Vargas mulai gerah sebab lama kelamaan berpasang-pasang mata awasi Belliza dan Bellova. Campuran terpesona, terpikat dan kagum. Beberapa pria bahkan tak berhenti mengedip.
"Harusnya kita tidak ke sini. Ada banyak pantai yang lebih sepi dibanding ini. Mengapa kemari?"
Lucio Vargas tak sadar telah mengeluh.
"Pantai ini selalu ramai di akhir pekan," sahut Raymundo kalem. Lagi-lagi awasi Bellova, telah kesetrum bolak-balik saat dapati Bellova tersenyum dan tertawa.
"Mungkin kita perlu bergabung!" tambah Raymundo mendahului. "Harusnya pikirkan dirimu sendiri. Hampir semua wanita di sini terpesona padamu!"
Lucio Vargas menyusul. "Aku terbiasa pada semua tatapan serakah di mata wanita."
Melangkah di pinggir pantai, dua pria tanpa sengaja jadi pusat perhatian. Satunya tampan dan lainnya cool, punya tubuh bagus dan tato yang sama di area perut, tidaklah heran ketika beberapa gadis bergosip cukup jelas.
"Dua pria tampan ini sepertinya gay."
"Sayang sekali."
"Keseimbangan bumi mulai rusak."
"Pantas saja kita kekurangan pria untuk dikencani."
Raymundo atur ulang kaca mata menengok berkeliling kembali pada Lucio Vargas.
"Lepaskan anting di kupingmu, Luc!" tegur Raymundo. "Kamu seorang ayah kini!"
"Aku yakin bukan anting yang buat kita berdua kelihatan seperti sepasang kekasih, mungkin saja tato kita yang sama."
"Tetap saja antingmu mengganggu! Apa bagusnya benda itu dipakai pria?"
"Ayolah, ini cuma trend."
"Kecenderungan buruk."
Berdebat sampai Oskan Devano muncul dari arah jembatan pantai. Melambai pada Cheryl dan tersenyum lebar.
Cheryl langsung berseru girang dan lepas dari kedua Mommy pergi pada Oskan. Melompat-lompat di atas pasir. Bahagia kalahkan mentari sore.
"Kita tak bisa kalahkan Oskan Devano!" keluh Lucio Vargas.
"Kamu hanya perlu jadi ayah yang baik untuk Cheryl tanpa bermaksud gantikan posisi Oskan."
"Bijaksana sekali!" Lucio Vargas meninju pelan lengan Raymundo Alvaro.
Cheryl berakhir di pelukan Oskan. Dilemparkan ke udara dan berputar-putar. Cheryl menarik tangan ayahnya menuju pantai tetapi Oskan menolak halus. Cheryl memaksa sedang Bellova dan Belliza otomatis berhenti aktifitas.
Oskan tampak anggukan kepala ke arah Lucio Vargas dan Raymundo. Turunkan Cheryl dari gendongan dan datangi kedua pria lain yang lekas waspada.
Raymundo kerutkan kening lihat Oskan Devano saat pria itu sengaja lepaskan atasannya. Pria itu punya tato yang sama dengannya dan Lucio. Berbagi pandang.
"Dia punya?!"
"Ya, sepertinya dia adalah pria pertama yang miliki tato Hakuna Matata dan BL."
"Aku yakin itu tato Belliza," ujar Raymundo tetap tenang sedangkan cemburu bergemuruh macam angin tornado di dalam dirinya.
"No ..., No ..., kurasa itu tato Bellova."
"Oskan menikahi Belliza."
"Bellova adalah cinta pertama Oskan," balas Lucio menggeleng keras.
Raymundo berdecak. "Bellova istriku sekarang. Tetapi, Belliza masih istri Oskan."
Ini pertama kali Raymundo berhasil kalahkan Lucio Vargas dalam debat tidak formal mereka yang sering kali pecah dan Raymundo Alvaro selalu kalah dari Lucio.
"Hei, Ray! Aku dan Belliza bertunangan!"
"Lihat reaksi Belliza saat Oskan menggendong Cheryl?" pancing Raymundo suka lihat Lucio Vargas kacau.
"Biasa saja. Bukan suatu hal yang menarik."
"Kamu salah. Belliza sepertinya belum siap secara mental dan perasaan lepaskan Oskan."
Raymundo pikirkan dirinya barusan, terlihat lebih mirip Raphael Bourne. Suka panas-panasi situasi. Jangan lupa kalau Lucio Vargas pencetus api.
"Itu tidak benar," tangkis Lucio tanpa keraguan. "Kami membuat bayi di malam pertama pernikahanmu dan Bellova! Kupikir itu berhasil. Belliza jadi banyak makan sekarang."
"Apa maksudmu? Aku pikir kamu dan Belliza akan menunda punya bayi agar bisa berikan Cheryl banyak kasih sayang." Raymundo merasa seperti pecundang.
"Aku berubah pikiran. Aku tak suka Oskan Devano gunakan Cheryl sebagai alasan untuk bertemu Belliza. Dan yang lebih penting aku berharap dapatkan dua bayi kembar yang cantik sebelum dirimu dan Bellova, Tuan Alvaro." Mengedip penuh percaya diri.
Raymundo merengus, menjengkelkan pikirkan perkataan Lucio Vargas. Raymundo awasi Bellova, mende***. Sungguh tak ada pertanda.
"Jadi waktu aku ke studio mencari Bellova ..., kamu dan Belliza?!"
"Ya ya ya ... setelahnya," angguk Lucio Vargas.
"Di ruang tidur?" tanya Raymundo, banyak bayang-bayang Bellova berkelebat di sana. Ketika Bellova berubah buas dan hampir memakannya.
Lucio menyipit lalu berguman setelah sadar ekspresi aneh Raymundo. "Sepertinya ranjang itu bukan hanya milikku dan Belliza?"
Raymundo terdiam.
"Akh, tebakanku benar," seru Lucio berdecak panjang.
"Harusnya nikahi Belliza terlebih dahulu," saran Raymundo.
"Kami akan segera menikah."
Percakapan dihentikan sebab Oskan Devano bergabung.
Dari kejauhan para wanita lajang di sisi Bellinda amati ketiga pria.
"Sepertinya cinta segitiga." Seorang gadis berdecak dan memangku dagu.
"Ya, tato mereka bertiga sama."
"Siapa yang jadi rebutan?"
"Pria bermata biru, sepertinya. Dia sangat tampan."
Bellinda berdecak, berpaling pada Amaris Damier, menyesap minuman dingin hingga tandas.
"Apakah Anda mengundang 'Lalat Biru' itu kemari, Nek?" tanya Bellinda tak senang ada Oskan Devano.
Amaris Damier kerucutkan bibirnya. "Dia datang karena Cheryl."
"Nek?!"
"Bellinda ..., Lucio akan nikahi Belliza dalam waktu dekat. Jangan takut pada Oskan."
"Oskan Devano penuh tipu muslihat, Nek. Lihat saja dia!"
"Oh, Anda tak tahu Amaris Damier bahwa Belliza sangat cintai Lalat Biru."
"Mari taruhan denganku, jika jadi Belliza ..., aku akan pilih si Mata Biru. Ya Tuhan, bayangkan akan seperti apa cicit-cicitku nanti." Amaris Damier berseri-seri. Amaris berbalik pada Bellinda. "Ngomong-ngomong, kapan kamu berkenalan dengan pria? Kapan kamu akan berkencan Bellinda Damier?"
"Tidak akh, aku akan melajang."
"Terlalu lama sendiri tidak bagus, Bel."
"Kehidupan pernikahan sangat menakutkan." Bellinda bangkit berdiri.
"Nyonya Gracia Anthony mengirim putera bungsunya pada kita. Nyonya Gracia menginginkanmu jadi menantunya."
Bellinda menghela napas. Gracia Anthony melamarnya kemarin malam untuk Hector Anthony dan jodohkan mereka. Axel Anthony berkata, ini perjodohan paling masuk akal yang dilakukan oleh Ibunya dan dapatkan dukungan penuh dari semua orang.
Bellinda menolak dengan tegas tetapi Gracia Anthony adalah wanita yang tidak pantang menyerah. Gracia menawarkan Bellinda segala hal jika mau menikahi Hector Anthony.
"Sayangnya, 'pecundang itu' punya banyak wanita," sambar Bellinda tanpa sopan santun menyebut Hector Anthony, "Pecundang". Tak menyukai Hector sama sekali. Bagi Bellinda, Hector Anthony dan Oskan Devano adalah dua pria dari sekte pecundang sejati.
"Hector Anthony akan ada di sini pekan depan untuk syuting. Ini kebetulan yang bagus."
"Nek, apa yang Anda lihat darinya?" tanya Bellinda keheranan.
"Dia sangat tampan." Amaris Damier berbinar-binar. "Penuh pesona."
"Oh tidak, Amaris Damier. Pria itu kehilangan kualitas dirinya karena terlalu banyak mengkoleksi wanita. Bahkan dua orang model papan atas pergi ke sebuah hotel di Ibiza untuk menjambak rambut pelayan yang ditiduri Hector Anthony karena cemburu."
"Kamu hanya mendengar berita gosip, tak tahu apa yang terjadi sebenarnya."
"Pria itu penuh skandal."
"Nyonya Gracia berkata, itu karena Hector Anthony patah hati pada Puteri Walikota."
"Tetap saja pria itu murahan."
"Eih, baiklah. Berhenti cemberut. Temukan seorang pria yang baru keluar dari seminari dan menikahlah."
Bellinda terkekeh akhirnya mendengar nada pasrah Amaris Damier. "Aku akan bawakan minuman dan ingin mengajak mereka main bola pantai. Hari ini sangat indah meskipun aku sedikit sakit mata."
Mengatur minuman ke atas nampan, sedangkan para pria menegang satu sama lain.
"Luc, harimu sepertinya selalu indah," sapa Oskan menyindir.
Lucio menyipit. "Terima kasih. Berkatmu, aku jatuh di tangan yang tepat."
"Aku pikir seleramu sekelas Dakota Jhonson."
"Harus akui kehebatanmu, Oskan. Aku harusnya belajar darimu."
"Puteriku, Cheryl ...."
"Puteriku juga, Oskan," balas Lucio Vargas tajam.
Keduanya saling bertatapan berisi makna tertentu.
"Tato siapa di sana, Oskan?" sela Raymundo Alvaro dingin.
"Tebak saja jika kamu sanggup," balas Oskan sedikit meledek.
"Kau jadi besar kepala karena Helena meninggal," keluh Raymundo menahan tangannya untuk tidak bertindak.
"Jangan takut, tato ini tak akan mengubah keadaan apapun. Ini cuma kenangan terindah."
"Ya, masa hebat di mana dia miliki Belliza dan disia-siakan," potong Bellinda tiba-tiba, dengan sengaja menginjak kaki Oskan dan menyikut rusuk pria itu.
"Owwwh, Bell. Ada apa denganmu?" pekik Oskan kesakitan sedikit menunduk. "Kamu terlihat lebih patah hati dibanding dua kakakmu. Apa kamu menyukaiku juga?" rintih Oskan lekas jauhkan dirinya dari Bellinda sebelum tulang betisnya jadi sasaran.
"Hanya wanita buta warna akan suka padamu! Kamu itu dipenuhi elemen dari kegelapan," balas Bellinda jauhkan minuman dingin dari jangkauan Oskan. "Minuman ini hanya dua kakak iparku."
"Aku masih kakak iparmu," protes Oskan. "Aku bisa saja batalkan gugatan ceraiku."
"Jangan coba-coba Oskan!" ancam Bellinda. "Mau main bola pantai? Tiga lawan tiga sepertinya seru," tawar Bellinda pada tiga pria.
Raymundo mengerut sedang Lucio Vargas tersenyum.
"Boleh dicoba. Tetapi, Belliza tak boleh ikut."
"Belliza akan baik-baik saja. Para pria akan bersikap lebih lembut dan waspada."
"Kalian saja, aku tak akan mau!" tolak Oskan Devano awasi Bellinda menduga-duga trik yang sedang wanita itu mainkan.
"Oh ayolah Oskan ...," bujuk Lucio.
"Biarkan saja Pecundang ini jadi cheerleaders di pinggir lapangan bersama Cheryl!" sinis Bellinda pada Oskan berbalik pergi ke arah dua kakaknya mengajak Bellova dan Belliza bergabung.
"Kamu sungguh terlihat seperti itu!" Lucio Vargas mengangguk-angguk sepakati kata-kata Belinda seraya berdecak.
"Kamu akan menyesali perkataanmu barusan, sepupuku, Lucio Vargas. Aku memaafkan ketidak-tahuanmu." Oskan balas mengejek setengah mengeluh seakan beritahu Lucio Vargas bahwa Oskan tahu apa yang tidak Lucio Vargas ketahui.
"Aha sepertinya kamu tahu banyak, Bung."
"Ya," angguk Oskan. "Aku sering melihat ketiganya selebrasi kemenangan saat ada pertandingan pekan keluarga. Menghalau bola dan bermain."
"Sangat indah. Sayangnya semua berakhir untukmu Oskan."
"Tidak juga, Lucio. Kamu lupa kalau kamu menikahi Belliza, dia akan tetap memakai nama Devano sesuai ketentuan keluarga kita."
Lucio mengerut. "Devano yang dibawa Belliza adalah Devano milikku bukan dirimu."
"Tetap saja, orang tetap tak bisa lupakan bahwa Belliza istriku."
"Kamu mau ikut atau terus membual di situ, Oskan?" tegur Raymundo Alvaro perhatikan Oskan Devano yang seakan tak rela Belliza dinikahi Lucio Vargas.
Keluarga yang aneh, mengapa juga Belliza tak bisa gunakan nama Vargas? Satu-satunya kemungkinan Lucio Vargas adalah penerus klan Devano juga. Dengar-dengar Devano hanya punya dua orang laki-laki sepanjang empat generasi yaitu Oskan Devano dan Lucio Vargas.
Oskan Devano kemudian berdiri kaku bersama Raymundo Alvaro dan Lucio Vargas hadapi tiga wanita di seberang ring yang dipasang seadanya.
Melihat Bellinda menyeringai padanya, Oskan Devano tahu, ia akan berjalan pulang dengan bekas bola di seluruh tubuhnya karena tiga wanita di sana adalah pemain bola pantai terbaik dan tepat seperti prediksi, Oskan menjadi sasaran paling empuk bagi Bellinda, Belliza dan Bellova.
Ketiganya baru berhenti menyiksa Oskan setelah Oskan pura-pura pingsan dan bersembunyi di pelukan Cheryl.
Tim pria kalah telak. Lucio Vargas sampai terpesona berulang kali saat kaki lincah kekasihnya berakrobat dengan bola.
Menjelang sore, Raymundo Alvaro memeluk istrinya di bibir pantai sedang berpasang-pasang mata awasi mereka. Dunia milik mereka, pengunjung lain cuma menyewa pantai.
"Biasanya dia pemalu," ujar Lucio Vargas sok kenal tentang Raymundo, bicara di sisi kepala Belliza sesekali menciumi kuping Belliza. Mereka bertunangan beberapa hari lalu.
Cheryl tidur dalam pelukan Oskan Devano yang sejak tadi jadi bulan-bulanan Bellinda. Oskan mende*** galau.
Bagaimana tidak?!
Di depan Oskan, Bellova dan Raymundo Alvaro seperti kesurupan roh cinta. Hanya berpelukan dan berciuman, sedangkan di sisi Oskan, Belliza dalam pelukan Lucio Vargas.
"Cinta mengubah segalanya," Belliza menyahut. Tengadahkan kepalanya pada Lucio, amati si pria seksama.
"Ada apa?" tanya Lucio.
"Terima kasih Tuhan, Anda menemukanku."
Lucio tersenyum tulus. "Mari hidup bahagia Belliza."
Senja makin memerah. Kolaborasi yang sangat indah di cakrawala. Rambut Bellova melambai diterpa angin, Bellova berbalik dan menyukai pria penuh renungan di hadapannya yang mampu atasi diri dari rasa malu dan terus melekat padanya.
"Aku mencintaimu!" kata Bellova berjinjit dan mengecup suaminya.
"Terima kasih."
"Bagaimana dengan Raphael Bourne, Sayang? Anda menggantungnya di tebing pulau. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bellova.
Raymundo membungkuk dan mencium istrinya lama, tersenyum sedikit aneh.
"Biarkan saja dia jadi Batman."
***
Terima kasih untuk semua cinta yang aku terima. Sebagai ungkapan rasa terima kasih mendalam aku akan ngasih Bon Chap paling terakhir. Tentang Raphael Bourne.
Mohon tinggalkan komentarmu tentang My Hottest Man secara keseluruhan. Review yang membantu aku lebih baik dalam menulis.
Aku mencintai Anda semuanya, Readers.