
Belliza Driely Damier berulang kali mematut tubuh di cermin. Meskipun tekad membuncah, sorot mata masih bersinar sakit, kecewa dan sedih.
Wajah sedikit bengkak atau ia memang lebih gemuk. Pucat tersamarkan foundation beberapa tone lebih hangat. Poleskan lipstik agak merah hilangkan pasi juga sedikit perona pipi, ia menghimpun banyak kekuatan dalam dirinya.
Padukan celana panjang hitam, sweater kerah tinggi dilengkapi long coat warna peach, Belliza pejamkan mata, ucapkan syukur. Belliza kemudian berjalan di atas kaki bersepatu boot pergi hendak datangi Lucio Vargas.
Overall, tak tahu garis awal, tetapi harus melangkah. Ia ingin berjumpa Cheryl dan Bellova. Pendam rindu menyakitkan dalam diri, pada keluarganya. Terlebih ini pertama kali ia kembali bersosialisasi setelah dua tahun lebih tidur panjang. Semua terasa asing.
Segala hal begitu menyakitkan, saat kamu mencintai suamimu sepenuh hati, tetapi dia berselingkuh dengan wanita lain. Kamu kemudian koma dan sedang kamu tidur lelap, suamimu hamili selingkuhannya, ajukan cerai dan akan menangkan hak asuh puterimu. Ada banyak tumpukan malang, Belliza telah putuskan untuk mengubah segala hal kecuali pertahankan Oskan.
Dona sibuk di bangsal pasca transplantasi. Belliza bergerak pergi. Gunakan ponsel hubungi taxi. Menunggu pesanan di lobi sambil mengambil brosur yang ada di sana untuk melihat-lihat. Tak pernah berharap bertemu seseorang yang kenali identitasnya. Gunakan masker juga kaca mata hitam, ia rapikan rambut.
Tak lama berselang, taxi datang. Belliza tegak berdiri, tetapi sepertinya bukan taxi yang ia pesan. Belliza tajamkan penglihatan. Helena Alvaro menggenggam tangan Cheryl, buru-buru pergi ke taxi. Menengok bolak-balik ke belakang. Memeriksa sesuatu seolah-olah takut dirinya kepergok seseorang.
Apakah Belliza berhalusinasi? Tidak. Helena Alvaro dirawat pagi tadi di rumah sakit ini. Mengapa Cheryl ada di Rumah sakit jam segini? Di mana Oskan?
Belliza lepaskan brosur berlari mengejar dari belakang. Taxi itu pergi. Taxi lain datang. Belliza hampir saja melompat ke tengah lintasan untuk halau taxi.
"Apa yang Anda lakukan, Mam?"
"Sir, aku yang memesan taxi."
"Silahkan, Nyonya. Tak perlu anarkis macam tadi."
"Maafkan aku." Masuk ke dalam taxi. "Bisakah ikuti taxi di depan sana!"
"Baiklah, Nyonya."
Taxi depan berhenti setelah dua menitan berkendara dan sopir taxi turun dari sana. Helena mengambil alih kemudi. Belliza akan segera turun, ketika taxi kembali melaju.
"Ikuti saja, Sir. Puteriku di dalam taxi itu!"
Tujuh menit perjalanan, taxi mengarah keluar jalan raya ketika berbelok di sebuah bundaran. Masuki jalanan tak beraspal dan sempit.
"Ini menuju jalur pendakian Trilho C., Nyonya!"
"Mengapa bawa Puteriku ke tempat ini tengah malam begini?"
"Siapa pengemudinya, Nyonya?"
"Kekasih suamiku."
Belliza mendadak rasakan panas di sekujur tubuh, terlebih hatinya. Bagaimana bisa Helena keluar dari Rumah Sakit dan bawa puterinya. Bagaimana bisa Cheryl ada di Rumah Sakit sedangkan anak kecil harusnya tak boleh ada di Rumah Sakit? Di mana Oskan? Apa yang brengsek sialan itu kerjakan hingga tinggalkan puterinya pada Helena?
Apa?!
"Jalanan ini juga menuju kondominium mewah yang sedang dibangun. Mungkinkah mereka akan ke sana? Tetapi, sungguh aneh karena tempat itu belum 100 persen rampung."
"Apa Anda yakin, Tuan?" tanya Belliza galau.
"Memangnya Anda tak tahu, Nyonya? Kondominium dikerjakan awal tahun lalu. Itulah mengapa jalanan ini juga masih batu-batuan."
Di mana dirinya awal tahun lalu? Tidur, mati suri, terjebak?!
"Baiklah. Tolong ikuti mereka, Sir. Aku akan bayar Anda lebih."
Belliza kendalikan dirinya.
"Baik, Nyonya!"
Jalanan begitu gelap dan sunyi.
"Kita tak bisa terlalu dekat Nyonya atau taxi di depan akan sadar kita diikuti."
"Baiklah, jangan sampai kehilangan mereka."
"Oh tidak, Nyonya. Maafkan aku, kita ketahuan!" Sopir taxi panik. Mungkin baru alami hal menegangkan sekali ini.
Taxi Helena berhenti dan wanita itu turun dari sana, tak tampak sakit seperti pagi tadi.
"Maafkan aku, Nyonya. Aku tak bisa ikut campur urusan Anda, Nyonya. Bagaimana kalau Anda beritahu petugas keamanan?"
"Aku akan mengurusnya, Tuan. Jangan kuatir."
Helena mendekat.
"Baiklah."
Belliza turun. Taxi mundur, sorot lampu depan taxi pertontonkan siluet tubuhnya hingga Helena terpana. Siapa yang Helena kenali, dirinya atau Bellova?
"Apa yang akan kamu lakukan pada Puteriku, Helena Alvaro?"
Belliza menolak Helena, hampiri taxi untuk memeriksa. Walaupun sedikit cahaya dari mesin mobil dalam taxi juga lampu mobil, Belliza bisa kenali Cheryl tidur lelap di bangku belakang memeluk boneka mermaid. Tidak ataukah puterinya diracuni?
"Cheryl?!"
Belliza coba buka pintu belakang taxi, tetapi Helena menarik mantel Belliza.
"Cheryl?! Honey?! Cheryl ini Mommy! Honey bangun!" Belliza memukul-mukul kaca mobil. Ia cepat gemetaran. Bayangan buruk tiba-tiba berkelebat di kepala. Apa terjadi sesuatu pada Cheryl?
"Kamu yang menjauh dari Puteriku! Kamu monster, Helena. Jawab aku sebelum aku menelpon polisi. Kamu racuni Puteriku dan akan membuangnya di tempat gelap ini?" Belliza oleh marah segera berbalik dan merenggut rambut Helena hingga wajah Helena tengadah.
"Aku tak seburuk itu!"
"Lalu, mengapa bawa Puteriku kemari? Aku tak akan sakitimu karena kamu hamil, Helena. Aku akan bawa Puteriku!" Belliza menepis tangan Helena darinya dan hempaskan kepala Helena.
"Jangan coba! Pengadilan telah memilih Oskan sebagai pengasuh sah Cheryl!" Helena halangi Belliza.
"Kini tidak lagi. Aku akan mengurusi Puteriku."
"Bagaimana? Belliza mungkin tak akan pernah bangun lagi!"
Belliza menampar Helena keras.
"Lepaskan Cheryl juga Oskan!" jerit Helena. "Aku akan mengurus mereka dengan baik!"
Apakah Helena tidak waras?
"Lalu, mengapa bawa Cheryl ke tempat ini?"
"Kami akan pulang ke rumah kami, tetapi ada taxi yang mengikuti. Aku berputar dan tanpa sengaja masuk ke sini."
Alasan masuk akal tapi tak lekas puaskan Belliza.
"Mengapa Cheryl tidur seperti itu? Oh **** with you! Kamu boleh ambil Oskan karena sampah memang pantas berada di tempat sampah. Tetapi, Cheryl adalah Puteriku."
Belliza hendak kembali ke mobil, ketika Helena menyerangnya dari belakang.
"Jangan ganggu Cheryl!"
Helena menarik kuat rambut Belliza dan mendorong keras ke bagian sisi mobil.
"Helena, lepaskan aku! Kamu sedang hamil!"
"Jauhi Oskan juga Cheryl, Oskan telah ceraikan Belliza. Baik Oskan maupun Cheryl adalah milikku. Jangan coba-coba mengambil Cheryl dari Oskan."
Belliza menjadi sangat marah.
"Ambil saja Oskan, jangan ganggu aku dan Puteriku, Jala***. Karenamu aku tak bisa melihat Puteriku selama bertahun-tahun. Aku berdoa agar kamu mati dengan cara yang paling menyakitkan."
Pekikan Belliza berhasil buat Helena tercengang.
"Belliza?" guman Helena tak percaya.
"Ya, aku Belliza! Kenapa? Kamu kaget? Aku tak akan buatmu dan Oskan mudah jalani hari. Pegang sumpahku. Jika kamu berdua tak biarkan Cheryl bersamaku, aku akan buat segala hal sangat rumit untukmu."
"Tidak mungkin."
"Aku akan menelpon Oskan dan beritahu pria itu, kamu akan tinggalkan Puterinya di tempat sepi. Sialan kau, Helena."
Belliza merogoh ponsel dari kantong mantel dengan tangan yang bebas, tetapi Helena mendorong Belliza makin kuat ke mobil. Belliza bisa rasakan perut Helena menempel di belakang tubuhnya. Wanita ini hamil dengan Oskan sementara ia berjuang untuk hidup. Belliza lara dalam hati untuk malang celaka, yang diciptakan Oskan juga Helena padanya.
Secepat mungkin berbalik pada Helena saat Helena lengah dan mendorong wanita itu keras ke tepian jalan. Helena mundur beberapa langkah, tak sengaja menginjak batu dan terjungkal ke belakang. Kepala Helena membentur batu lainnya. Wanita itu menjerit kesakitan.
Belliza jadi panik ketika Helena mengerang.
"Helena?! Apa kamu baik-baik saja?" Berlutut di sisi Helena, maksudnya hendak menolong Helena. Namun, Helena Alvaro ayunkan kaki, menendang Belliza tepat di tempurung lututnya. Belliza menjerit.
"Aku akan menolongmu, sialan!"
Helena bangkit dengan sesuatu di tangan dan memukul kepala Belliza keras. Belliza jatuh, merangkak ke mobil pada Cheryl.
"Oskan juga tak mencintaiku. Hanya Bellova. Dia sering memanggilku Bellova."
Belliza menggeliat di tanah. Ini pertanyaan Belliza dari dua tahun lalu. Jadi, Oskan memang sangat sakit hati pada masa lalu mereka.
"Oskan ingin Bellova menderita dengan menyiksamu."
Sebelum kesadaran Belliza hilang, ia sempat lihat Helena kembali melorot ke tanah sembari pegangi perutnya. Belliza samar-samar mendengar detak jantung, juga suara Helena lagi.
"Cheryl tak nyaman di rumah sakit, beberapa orang mengincar kami. Aku ingin kabur dan bawa Cheryl pergi dari Rumah Sakit."
Keheningan berikutnya berdenging, memekakkan indera pendengaran Belliza.
Cahaya samar-samar dari jauh, redup lalu semakin kuat. Lampu mobil atau ia hanya mengkhayal. Apakah ia akan lewati lorong panjang kembali ke kubah kaca? Tidak, Tuhan. Jangan!
"Cheryl ...."
***
Ada lebih dari satu chapter karena aku gunting jadi tiga bagian. Biar kayak dapat greget-nya. Jadi, segala hal bermula ya di sini. Teman-teman pasti bisa tebak kelanjutannya karena ini sesuai sinopsis.
Komentarmu ditiap chapter, Readers.
Cast for Oskan Devano.