
Bellova tak bisa tidur hingga pagi hari. Hanya bolak balik di atas ranjang, coba pejamkan mata, ia kemudian menyerah dengan cepat. Selimut ditendang menjauh.
Deru halus roda make up bergulingan di atas lantai, Bellova tahu waktunya tiba untuk bersiap-siap. Tapi, mengapa pria itu belum juga kembali? Apa yang terjadi? Jari-jari Bellova berlarian di ranjang pada ponsel ingin menelpon Raymundo Alvaro, berhenti di tengah jalan. Terkejut ketika Queena menyapa dari luar kamar.
"Good morning, our bridges. Bukankah waktunya bersiap?"
Menyeret kaki-kaki berat, Bellova pergi ke pintu. Dua wanita di depan terbelalak melihatnya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Belliza memeriksa Bellova seksama.
"Oh ini buruk, Kak. Aku tidak bisa tidur hingga pagi."
"Ya Tuhan, sama sepertimu, Bellova. Aku menderita sindrom sebelum pernikahan. Ada banyak bayangan buruk hingga Axel Anthony memelukku sepanjang malam," ujar Queena.
"Kemana Raymundo membawamu semalam? Oh lihatlah dirimu Bellova, pucat seperti kertas gambar dan matamu berubah jadi mata panda?"
"Kami pergi naik balon udara."
Belliza dan Queena berbagi tatapan, shock.
"Apa maksudmu?" Belliza tempelkan telapak tangan di kening Bellova kalau-kalau adiknya sakit. "Aku akan minta ibu buatkan segelas susu dan roti."
"Aku kehilangan selera makan."
"Kamu butuh makanan agar bisa siap hingga pemberkatan selesai." Queena letakan buket bunga dan corsage juga dari mutiara.
"Ya Tuhan, di sekitar sini tak ada balon udara. Apakah kamu pergi ke Coruche?" tanya Belliza bersihkan wajah Bellova gunakan tisu wajah.
"Ya. Kami naik balon udara pukul 10 malam. Aku hampir pingsan," ulang Bellova lebih detil.
"Oh ayolah, apa yang akan dilihat seseorang dari atas balon udara tengah malam begitu?" tanya Queena geli. "Harusnya Ray beritahu aku jika inginkan hal romantis denganmu. Oh pria yang malang. Ray hanya tak tahu cara ungkapkan perasaannya seperti para pria umumnya."
"Tuan Alvaro mungkin tak bisa tunjukan sisi romantisnya di waktu normal," sambung Belliza hingga Queena tertawa kecil.
"Kamu harus terbiasa Bellova. Kamu tahu, honeymoon mungkin saja Ray akan mengajakmu panjat tebing." Queena lalu berhenti tersenyum. "Di mana pengantin pria?"
Bellova menghela napas panjang. "Dia pergi ke rumah sakit, kunjungi Helena. Adiknya siuman." Tangan kanan Bellova menggaruk kuping dan Belliza segera paham pertanda apa itu.
"Benarkah? Ya Tuhan, syukurlah, Helena akhirnya bangun. Ini pasti hari yang sangat diberkati. Helena siuman saat kakaknya akan menikah. Well, Bellova, apakah kamu sudah siap untuk cantik hari ini?" Queena bersemangat.
Bellova mengangguk lesu. "Ya."
"Irishak akan segera bawa gaunmu masuk. Aku akan menolongnya." Queena lekas pergi keluar ruang tidur sisakan Bellova dan Belliza.
"Ada banyak orderan dari Perancis. Pergilah ke sana dan gantikan aku, Kak! Aku butuh waktu bersama suamiku."
Belliza menatap adiknya. Menggeleng dan tersenyum. "Tidak! Aku akan ada di sisimu selamanya. Aku tak akan kemana-mana."
Belliza menuntun Bellova duduk di ranjang dan mulai menyikat rambut Bellova. "Kita hanya akan biarkan rambutmu terurai."
"Ya. Aku juga hanya akan memakai make up tipis. Hatiku terus-terusan gelisah."
"Lihat aku, Sayang! Tarik napasmu, tahan lalu hembuskan perlahan. Hmmm?!"
"Aku telah lakukan itu sepanjang pagi tetapi malah makin menderita sesak, Kak."
"Baiklah, kemarilah! Aku akan memelukmu!" Belliza bentangkan kedua tangan dan memeluk Bellova. Membelai rambut Bellova pelan.
"Pergilah sebelum dia kembali, Kak. Ray tak akan suka kakak ada di sini. Pria itu mungkin akan terus curiga kita bertukar tempat."
"Yang benar saja. Jangan konyol! Aku mulai jatuh cinta pada Lucio Vargas."
"Pria-mu sempurna, Kak. Apa yang kakak cari?"
"Mommy?! Apakah aku juga perlu bersiap sekarang?" Cheryl muncul di ruang tidur, pegangi gaunnya dan bertanya seperti gadis dewasa.
"Ya Tuhan, lihatlah dia Love!"
"Tentu saja, Sayang. Pergilah dan minta Bellinda pakaikanmu gaun."
"Baiklah, aku akan memegang keranjang dan menabur bunga di lorong gereja," lambai Cheryl dan pergi.
"Sayangnya tak ada bunga, Sayang."
"Begitukah?"
"Kamu akan pegangi balon dan berdiri di depan pintu gereja saat pemberkatan pernikahan usai," hibur Bellova.
"Oh aku senang, Mommy."
Dalam tiga puluh menit menuju pukul 8 Bellova telah selesai memakai make up sederhana di wajahnya.
"Aku tak perlu tambahan bulu mata," kata Bellova mengusir cemas. Raymundo belum kembali sementara 30 menit lagi mereka akan menikah.
"Pakai saja wedding dress-mu dan kita bisa menunggu di depan. Semua orang telah bersiap-siap."
Queena berusaha tidak panik dan tetap hubungi Raymundo Alvaro.
"Ponselnya tak dijawab."
"Apa yang terjadi?"
Mereka selesai dengan gaun dari rangkaian mutiara.
"Aku mengerjakan gaun ini empat hari empat malam untuk adikku. Maaf tak ada gaun cinderella karena menurutku, suasananya tidak begitu tepat. Adik pengantin pria sedang berjuang hidup. Tidak bagus jika kita terllau berlebihan rayakan pernikahan."
Bellova mengangguk sepakat. "Aku menyukai yang ini, Kak. Tanganmu tak hilang kemahiran. Memang terlahir untuk jadi ahli."
Bellova menyukai gaun yang terangkai dari mutiara broken white dan disatukan dengan teknik anyaman, yang hanya bisa dilakukan oleh ahli desainer.
"Ini berbeda dari yang lain."
"Sangat indah dan luar biasa." Irishak Bella tak bisa sembunyikan kekaguman pada keindahan gaun sedang Queena telah bolak-balik di ruang tidur dengan ponsel menempel di kuping.
"Aku akan minta Ibu menelponnya!"
"Aku akan mengecek persiapan dan melihat anak-anak," pamit Irishak mengekor Queena dan berlalu.
Belliza membantu Bellova memakai gaun. Coba tenangkan Bellova yang gelisah. Queena kembali dengan raut muram.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Belliza selesai dengan gaun dan veil. Mengeluarkan buket bunga dari mutiara.
"Bellova ...."
"Ada apa?"
"Ray tak menjawab panggilan dan dia sudah pergi dari rumah sakit sejak tiga jam lalu."
"Oh, ya Tuhan, Queena."
***
Dari sebuah ruangan, Raymundo perhatikan dari layar setiap adegan yang berlangsung di ruang tidurnya setelah BM terus-terusan persuasif dan recoki dirinya.
Tinggalkan kesedihan di belakang, setelah peringatkan keluarganya untuk semayamkan Helena dan menunda pemakaman. Tidak ada yang boleh beritahukan kabar duka mereka pada siapapun sampai ia membuat keputusan. Raymundo berkendara dalam kehampaan menuju sarang BM.
BM tinggal di sebuah ruangan gelap, berdempetan dengan mini market 24 jam. Studionya tidak mewah. Tak ada yang pernah tahu identitas asli BM bahkan Raymundo Alvaro. Nama BM di lingkungan sosial adalah Raphael Rui Bourne, seorang pemilik minimarket 24 hours, R & B Minimarket.
"Turut bersuka cita, Romeo!" sambut BM ketika Raymundo datang.
Raymundo Alvaro duduk di sofa, di hadapannya sejumlah laptop dan puluhan layar tersusun rapi. Ia berada di banker salah satu hacker terbaik di dunia.
BM menerima pekerjaan sebagai pengawal siluman. Bergerak dan bekerja, mengelola semua informasi dengan manfaatkan jutaan kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru dunia juga sesuatu yang lebih canggih dari itu.
"Kapan Helena akan dimakamkan? Apa setelah pernikahanmu?"
"Mari tidak bicarakan adikku." Raymundo berusaha larikan diri. "Aku perlu tenangkan diriku."
"Pernikahanmu tinggal dua jam lagi."
"Tempat ini lebih rapi dari biasanya dan pemiliknya lebih berisi." Raymundo menghindar. "BM berubah dari kerempeng sedikit berisi kini. Rambut gondrong berganti cepak."
"Anda bisa mengakses ruang tidurmu di layar utama dan melihat pengantinmu. Aku harap Anda tidak goyah karena kepergian Helena."
"Ada apa denganmu?" Raymundo mengubah percakapan, letakan kepala di sandaran sofa. Wajah datar seperti biasa, tapi BM tahu lebih baik dari siapapun pria ini sedang menderita.
"Ada apa, apanya?" Ikuti mau Raymundo, BM pikir ia perlu sedikit menghibur Romeo.
"Lama tak bertemu sekalipun bicara di ponsel tiap waktu, penampilanmu berbeda," sahut Raymundo naikan kaki di meja dan pejamkan mata mengusir bayangan Helena.
"Aku seorang hacker juga agen ganda saat ini dan bekerja untuk ICPO - Interpol."
BM menaruh dua kaleng soda di meja dan ladeni Raymundo Alvaro yang terlihat kacau dan berantakan.
"Agen ganda tak akan ungkapkan identitasnya pada orang lain. Kamu bisa dilenyapkan diam-diam."
"Kita cukup dekat untuk berbagi rahasia. Tidak adil aku tahu dirimu dengan baik. Lagipula ini prestasi."
"Apakah uang kami tak cukup untukmu?"
"Sangat cukup. Aku ingin membeli sebuah rumah di pulau terpencil dan menyingkir." BM anggukan kaleng soda pada layar utama berukuran 3x4 di depan mereka, pada sebuah rumah di sebuah pulau terpencil di tengah lautan luas."
"Aku menginginkan pulau itu."
"Tak mungkin, pulau itu di bawah kepemilikan pemerintah."
"Aku sedang mencari celah. Suatu waktu saat aku ketahuan Pentagon dan NASA, aku mungkin akan diburu."
"Beritahu aku pekerjaanmu sekarang!"
Berputar dalam dunia kehitaman, ia mencari jalan keluar dari sesuatu yang mencengkeram dirinya. Bellova yang sangat indah kemarin dengan mini gaun yang bikin dirinya mabuk kepayang.
Lalu, Helena. Ke mana sekarang adiknya pergi? Apakah pulang ke rumah mereka? Apakah Helena telah bersama puteranya sekarang?
Raymundo bukan kakak yang baik. Mereka tidak sedekat Belliza dan Bellova tapi kasih sayangnya pada Helena tidak bisa diremehkan.
"Banyak," jawab BM menarim dirinya dari kegelapan. "Mengontrol satelit dunia. Melacak keberadaan nuklir, mengunci komputer-komputer dari beberapa perusahaan mencurigakan sampai awasi seorang wanita dan puterinya. Belakangan aku juga lakukan beberapa pekerjaan sangat penting. Deteksi organisasi bawah tanah. Penyelundupan manusia."
"Negara ini? Aku tak percaya."
"Bukan di negara kita. Beberapa anak-anak diselundupkan dalam sebuah peti kemas, dibius, berlayar seberangi Asia ke Eropa. Aku berhasil mencegah beberapa kali sebelum anak-anak dikeluarkan penculik anak dari negara mereka."
"Berhati-hatilah. Pekerjaanmu beresiko."
Apakah ia perlu larikan diri dari pernikahan? Ia punya alasan. Adiknya meninggal.
"Ya, aku selalu berhati-hati kecuali ada seseorang dengan kehebatan melampaui aku. Tetapi, aku belum temukan orangnya bahkan seseorang yang bekerja untuk Lucio Vargas tak sehebat aku."
"Sudah aku duga."
"Untuk menjaga kekasihnya. Seperti aku menjaga kekasih Anda, Tuan."
"Kamu bohong padaku. Kamu mengetahui segala hal tentang Belliza."
"Tidak! Lucio Vargas membayar mahal pihak rumah sakit untuk sembunyikan keadaan Belliza yang sesungguhnya."
Raymundo melipat tangan.
"Kamu tahu bahwa Belliza ada di malam itu, bukan?"
"Ya."
"Mengapa menutupinya dariku?"
"Apakah Helena beritahukan Anda sesuatu?"
"Ya, Belliza dan Bellova di sana."
"Tapi bukan Twin B dan kembarannya yang lakukan kekerasan! Aku mengirim Key untuk mengeksekusi tiga pria yang menguntit Helena juga Twin B. Mereka adalah anggota organisasi gelap dari tempat Oskan bergabung. Bukankah sudah aku beritahu padamu bahwa Oskan putuskan keluar dari keanggotaan, berhenti membayar upeti dan menolak bayar denda? Mereka sangat murka dan mulai mencari-cari hal dengan Oskan."
"Terlepas dari itu, Bellova sembunyikan banyak hal dariku!"
"Lalu, apakah Anda akan lari dari pernikahan?"
Tak menyahut, Raymundo Alvaro hanya membisu di sofa.
Menit-menit berlalu. Black Mask tak punya pilihan. Koneksikan gambar dari ruang tidur Raymundo ke layar utama. Ia menekan remote control.
Layar utama berganti dari rumah di tengah laut menjadi seorang wanita cantik bergaun putih. Duduk membisu di bibir ranjang. Tatapannya hanya tertuju ke pintu masuk, menunggu seseorang.
"Pemandangan terindah hari ini," puja BM melirik pria yang seperti dealing dengan meditasi panjang. Tak ada reaksi. Romeo mungkin tidur atau tidak, pria itu hanya berjalan-jalan di dunia yang ia ciptakan sendiri.
"Mrs. Owl selalu pancarkan kelembutan seorang malaikat yang bisa buatmu bertekuk lutut. Mrs. Piglet begitu mempesona dengan tatapan setajam belati hingga bisa remukan tulang-belulang. Tetapi, paras satu ini pantas dijuluki reinkarnasi dewi kecantikan."
Berdecak saat tak ditanggapi. Raymundo Alvaro tak begitu menggubris penilaian jujur Black Mask karena sibuk dengan perdebatan dalam dirinya.
"Sekarang aku bisa berdiri di posisimu saat jatuh cinta pada Queena. Begini rasanya jatuh hati pada kekasih orang lain terlebih wanita ini adalah kekasih Bosku," keluh BM tak berkedip melihat ke layar. Sekali lagi, melirik Raymundo.
"Aku harap pernikahanmu batal, aku mungkin akan berusaha menggapainya."
Raymundo mendadak buka mata dan Bellova terpampang dalam layar ukuran raksasa.
"Matikan layar itu!"
"Apa masalahmu, Tuan?"
"Jangan memujanya!"
"Bisakah aku saja gantikan Anda menikahi Twin B. Oh, jantungku benar-benar bolong di segala sisi melihatnya dalam wedding dress. Benar-benar indah. Aku akan beli topeng dan pita suara yang bisa diunggah agar mirip suaramu seperti yang dipakai agen rahasia Ethan Hunt di Mission Imposibble."
"Matikan layar itu!" tegur Raymundo lagi tidak senang berusaha menutup mata.
"Wah wah wah! Anda akan lindungi Mrs. Owl dengan nyawamu. Aku akan lindungi Juliet dengan nyawaku. Alasan aku malas bekerja keras untukmu belakangan. Aku ingin Juliet dan kembarannya bahagia. Belliza jatuh di tangan yang tepat. Jika tak ingin bersama Juliet, biarkan aku mendekatinya. Oskan Devano pasti akan cari-cari kesempatan untuk bersama Bellova jika pernikahanmu gagal, Romeo."
Raymundo Alvaro bangkit berdiri, berbalik jengkel pada BM.
"Lucio Vargas sedang mencari teman pria. Kurasa kamu cocok dengannya!"
Raymundo tinggalkan BM.
"Mau kemana?"
"Aku tak tahu."
"Aku akan datang dan berikanmu kejutan!"
"Berani keluar dari sarangmu?"
"Tentu saja!"
Brakk! Pintu dibanting keras.
"Aku perlu merias ranjang pengantinmu!" jawab BM pada pintu yang tertutup. "Oh tidak, pria itu sedang berduka."
***
Sementara Bellova mulai putus asa dan menduga Helena telah mengadu pada kakaknya. Ia menaruh buket bunga di sisi ranjang dan lepaskan sepatu. Hampir 30 menit menatap pintu dan waktu pernikahan semakin dekat.
"Baiklah! Kita tak perlu menikah."
Lepaskan kerudung di kepalanya ketika tiba-tiba, Queena muncul di ambang pintu yang terbuka.
"Oh, apa yang kamu lakukan? Pakai sepatumu! Raymundo mengirim pesan bahwa ia akan menyusul ke gereja."
"Apa maksudmu?"
"Kita akan ke gereja sekarang," jawab Queena pakaikan kerudung pada Bellova lalu sepatu.
"Apakah dia baik ...."
"Tentu saja!" potong Queena berseri-seri. "Ayo cepat!"
Seolah tersihir, Bellova menurut pada Queena. Jika pernikahan biasanya pengantin pria menunggu wanita, tak terjadi di pernikahan ini. Bellova menanti di tangga gereja menahan tangis. Tak masalah dipermalukan jika pengantin pria itu tidak datang, tetapi ia tak bisa percayai hatinya lagi.
Hanya termenung pada buket bunga, termasuk ketika mobil pria itu masuki parkiran gereja. Semua orang segera masuk diiringi senyuman.
"Nah, pengantinmu datang, Bellova," ujar Paul Damier. "Aku butuh ke toilet sebentar karena terlalu gugup."
"Baik, Dad."
Raymundo Alvaro turun dari mobil, Bellova menoleh sedikit. Setelan jas hitam, rapi dan melangkah padanya. Naiki tangga dengan kaki-kaki panjang yang memikat.
"Apa kamu siap, Bellova?" tanya Raymundo datar, keluarkan pita hitam lalu ikatkan pada lengan kanan Bellova. Kini, Bellova melihat pita yang sama ada di lengan kanan Raymundo.
"Apa yang terjadi?" tanya Bellova ngeri pada benda itu.
"Kita sedang berkabung."
"Katakan padaku dengan jelas!"
"Keinginanmu terkabul. Adikku meninggal tadi pagi," jawab Raymundo tanpa emosi.
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kamu inginkan kematian paling menyakitkan baginya di malam kalian bertengkar?" Raymundo menatap Bellova hingga Bellova terdiam.
"Kita bisa batalkan pernikahan. Masih belum terlambat."
"Tidak, mari menikah." Raymundo katupkan rahang, mengangguk ke dalam gereja.
"Kita bisa menunda pernikahan dan dahulukan pemakaman Helena." Bellova merasa pening, mual dan ingin muntah. Ia bahkan mulai gemetar.
"Mari menikah dan pergi ke pemakaman. Atau jika kamu mau, kita bisa menikah di depan jenazah adikku," ujar Raymundo sarkas. "Kebahagiaanmu bisa jadi berlipat ganda."
***
Tinggalkan komentar, Vote ya!
Komentar paragraf juga jika berkenan.
Dan koreksi, juga segala hal yang dibutuhkan untuk jadi lebih baik.