
Setelah hari kemarin, Bellova berjanji tak mau larut. Mereka berciuman sebelum pria itu pergi dari studio, ucapkan selamat tinggal yang Bellova terjemahkan kini sebagai, "aku akan kembali".
Raymundo Alvaro akan jadi miliknya jika ditakdirkan untuknya. Ia hanya tak perlu terlalu gigih berusaha dan berhenti memelas macam wanita linglung.
Bellova menggeliat di ranjang, menangkap suara ribut-ribut dari dapur, diikuti aroma makanan. Apakah itu dia? Bellova tajamkan pendengaran.
"No, please don't. Aku tak temukan cara atasi diriku sendiri saat melihatmu." Berkeluh kesah.
Abaikan pendengaran, Bellova yakin Raymundo Alvaro inginkan mereka bersama setelah malam di tenda. Namun, keadaan pria itu buruk setelah mereka berpisah.
Bellova kembali pejamkan mata masih terbuai kantuk. Bawa serta bayang-bayang Raymundo Alvaro. Black and Blue.
Oskan Devano jauh lebih tampan dari Tuan Alvaro, klasik juga romantis. Bellova pikir Oskan Devano adalah cinta pertama. Ia sangat bahagia ketika Oskan nyatakan cinta suatu sore dan mereka tidak berbagi hal intim karena Oskan takut menyentuh atau melukainya. Sangat manis dan perhatian. Bellova menaruh respek pada Oskan. Jadi, sangat terpukul Oskan Devano dan Belliza bersama.
Namun, Bellova sadari kini, tak semenyakitkan manakala menjalin kisah tanpa ikatan bersama Raymundo Alvaro. Bukti bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada Raymundo Alvaro.
Jam 6 pagi, Bellova akhirnya harus bangun. Ia membuat banyak sketsa jas hingga larut. Sedikit menganalisa dan akan kembangkan pola dari desain semalam. Kayla akan mengambil alih hari ini. Terus terang ia tak sanggup membuat jas pengantin untuk Raymundo Alvaro karena ia sangat kesakitan.
Bunyi denting piring juga gelas. Apakah pria itu masuk ke kamarnya dan diam-diam mengamati selagi ia tidur?
Bellova turun dari ranjang menyeret kaki ke kamar mandi. Ia harus berbaikan dengan situasi rumit. Kendalikan diri agar tak mengintip ke dapur.
Fitting pertama bersama Viviane menanti. Ini berat. Segarkan diri, apakah ia perlu berpura-pura ada urusan di luar dan Kayla gantikan dirinya ladeni Viviane? Bellova yakin Raymundo Alvaro pasti datang temani Viviane. Lalu, mengapa pria itu harus ada di dapurnya? Apakah ingin kepergok Viviane?
Jarum-jarum air terlontar dari kepala shower, memijat wajah, perbaiki sedikit ketegangan, tidak dengan hati berlubang. Cinta hanya berisi elemen kesedihan mencekal jiwa. Bellova berubah melankolis semenjak malam di tenda. Itu karena saat ia serahkan tubuhnya, hati tanpa ia sadari ikutan pergi pada pria itu.
Bellova pergi ke dapur setelah memoles make up tipis di wajahnya.
Bagaimanapun, orang-orang bergerak di bisnis ini, harus tampil cantik dan energik meski sum-sum tulang keropos akibat cinta pelik. Berpakaian dan pergi ke dapur.
"Pagi Bos!" Kayla memanggang roti di atas tungku sedang Charlize bolak-balik bersihkan lantai. Meja berisi sup di mana uap mengepul dari bowl keramik juga ada croissant beraroma pisang di atas nampan baru keluar dari pemanggang. Susu segar di samping.
Bellova menyipit, bukan pria itu.
"Pagi sekali kalian datang?" tegur Bellova, menghela napas panjang hingga seperti sesenggukan. Mengapa ia berharap melihat Raymundo Alvaro di dapur studio?
"Tidak, kami barusan datang."
"Dan membuat sup juga croissant? Cara kerjamu cepat juga, Kay?"
"Aku tak membuat sup dan croissant, Nona. Aku memanggang roti tawar karena sepertinya Anda sangat niat sarapan pagi ini."
Bellova datangi meja, membungkuk seakan memeriksa makanan itu.
"Bukan Anda yang membuat sarapan ini?" Kayla menahan napas. Tentu saja, Bellova Driely sangat-sangat aneh. "Nona, kita hanya meng-handle dua klien, tetapi Anda selalu terlihat kebingungan?"
"Aku mabuk susu kotak," sahut Bellova.
Bayangkan Raymundo Alvaro mungkin menyelinap diam-diam ke studio dan memasak untuknya sungguhan bikin Bellova berbunga-bunga. Ia kemudian tersedak dan batuk-batuk. Setelah pria itu menikah, apakah akan sering mengendap-endap dan datangi dirinya?
Kayla bertambah heran.
"Wajah Anda memerah."
"Uhum ..., aku buatkan makanan ini dan kutinggal untuk mandi. Mabukku belum hilang."
Meraba mangkuk, masih panas dan menoleh ke tangga.
Kayla mengangguk, meskipun terlihat jelas tanda tanya seluas benua Eropa terukir di kening glowing itu.
"Aku ambil ponselku dulu di kamar," kata Bellova sembari pergi ke kamar, hampiri jendela. Singkirkan tirai dan melihat ke jalanan.
Pria itu di bawah, bersandar pada mobil. Mengunyah sesuatu, dari rahang yang bergerak-gerak. Wajah Raymundo Alvaro terangkat dan mereka berbagi pandang dari jarak jauh. Menelpon.
Ponsel Bellova berdering.
"Halo ...." Menyapa di ponsel tetapi sorot mata tak beralih dari Raymundo Alvaro.
"Bellova?!"
"Ya. Apakah kamu yang buatkan aku sarapan?"
"Ya."
"Terima kasih."
"Aku buatkanmu sarapan sebagai permintaan maaf."
"Maaf?"
"Aku tak bisa ingkari janjiku pada Nyonya Gracia dan aku tak ingin Beliau menyakitimu jika tahu kita masih bersama." Jeda, suara kendaraan lewat. "Lupakan saja aku!"
Bellova tak menyahut, menyeret napas. Mereka berputar di pusara yang sama. Maju hari ini dan melompat mundur di detik berikutnya. Sekali ini mungkin berbeda. Bellova tak akan mengemis, kemarin-kemarin lebih dari cukup. Setidaknya ia telah berjuang.
"Aku akan berusaha."
Diam. Bunyi kendaraan dan pria itu masih terarah padanya.
"Bolehkah aku bertanya?" tanya Bellova lekas tenggelam dalam kesengsaraan.
Mengangguk.
"Mungkinkah kamu menyukaiku, walau sedikit saja?"
Tak ada sahutan.
"Maaf untuk itu juga. Aku hanya menyukai satu orang wanita."
Bellova mengangguk paham. Dalam kelam dan kesedihan, pria itu amat indah baginya.
"Baiklah. Semoga Anda selalu berbahagia, Tuan."
Bellova matikan ponsel, menutup tirai jendela pelan, sandarkan kening di sisi jendela. Ia kembali ke ruang makan. Serasa pagi begitu muram.
"Maafkan kami soal kemarin, harusnya kami tahu bahwa Anda mungkin mabuk dan tidak tanggapi pesan tak masuk akal Anda."
"Ini salahku juga, Kay." Bellova menarik bangku dan duduk. "Charlize? Kemarilah!" panggil Bellova.
Bertiga duduk di meja makan, berpegangan tangan setelah membuat Signum Crucis. Lalu mengucap syukur.
"Mari kita sarapan dan bekerja lebih pagi."
Menikmati sarapan, Bellova makan sup daging, murung. Kayla membuat roti lapis panggang, sedikit ham dan sayuran, juga saos pedas tetapi Bellova makan croissant.
"Kayla, lanjutkan pengerjaan jas Tuan Alvaro."
"Baik, Nona."
"Charlize, ambil lebih banyak orderan. Kita perlu bekerja keras."
"Baik, Nona."
"Kejadian kemarin jangan sampai terulang lagi. Bayangkan jika ada klien menikah hari ini dan perlu kebutuhan di hari kemarin? Bukankah customer akan komplain?"
"Maafkan kami, Bos. Tapi, kami mengecek jadwal sebelum putuskan menghirup udara laut Peniche."
"Okay. Mari lupakan. Jika nanti kamu berdua temukan bahwa aku sedikit konyol untuk keadaan serius, Anda perlu abaikan aku."
"Baiklah."
Pukul 10 pagi, ketika Viviane Anthony datang ke butik, pucat pasi seolah baru sembuh sakit. Namun, wanita itu tersenyum riang.
Bellova menghela napas lega saat Viviane datang seorang diri. Tak berlangsung lama. Viviane sedang memuji gaunnya, pintu studio didorong dan Nyonya Gracia Anthony masuk. Raymundo Alvaro di belakangnya.
"Pagi Nyonya," sapa Charlize lebarkan senyum, sedikit membungkuk.
"Oh ya, pagi ... pagi. Bisakah tempat ini ditutup saja sementara waktu? Aku tak suka ada orang mengganggu."
"Nyonya, kita akan baik-baik saja," sahut Raymundo.
"Di mana Nona Bellova?"
Bellova menghela napas panjang. Apa yang diinginkan darinya?
"Pagi, Nyonya," sambut Bellova tersenyum apa adanya. "Kami sedang persiapkan gaunnya. Aku pindahkan fitting ke lantai bawah agar Anda tak perlu memanjat tangga ke lantai dua."
"Anda sangat perhatian, Nona Bellova."
Bellova hanya tersenyum.
"Pagi, Tuan Alvaro," sapa Bellova pada pria yang berdiri kaku di samping Nyonya Anthony. Akan terlihat aneh jika ia hanya menyapa Nyonya Gracia dan abaikan pria itu. Nyonya Anthony duduk di sofa sedang sampiran ditutup menunggu Viviane selesai dengan gaunnya.
Viviane tak banyak komentar, mungkin karena gaun sesuai ekspetasi dan cocok melekat di tubuh.
Sampiran dibuka, Bellova berdiri di sisi Viviane karena ada tiga look yang harus disesuaikan. Menunggu komentar Nyonya Gracia.
"Bagaimana menurutmu Ray?" tanya Nyonya Gracia menengok pada Raymundo.
"Bagus," sahut si Pria lurus.
"Hanya bagus?" tanya Nyonya Gracia skeptis.
"Cantik," tambah Raymundo macam robot.
"Ini mungkin look yang diinginkan untuk resepsi," kata Bellova.
"Ya, Bellova," sahut Viviane.
"Look kedua dan ketiga bisa untuk pemberkatan."
Skirt ditambahkan, dikasih belt dan bolero bermotif daun yang sangat indah.
"Ini lebih enak dilihat mata," ujar Nyonya Gracia. "Tetapi, bukankah itu berarti Anda harus ada di dekatnya untuk wujudkan tiga look, Nona Bellova?"
"Salah satu di antara staf akan datang," sahut Bellova.
"Bagaimana denganmu Nona Bellova?" tanya Viviane. "Aku dan Tuan Alvaro mengundangmu juga. Queena menganggapmu anggota keluarga. Jadi, Anda ada dalam daftar wedding dance**r untuk Fandango (tarian berpasang-pasangan). Kamu bisa bawa kekasihmu juga."
"Terima kasih banyak untuk undangannya. Aku sangat sibuk karena banyak klien inginkan diriku, maaf menolak undanganmu." Bellova berkata tajam. Viviane sengaja mengundangnya. Hanya wanita gila pergi ke pernikahan pria yang dicintainya dan menari sedang ia mungkin pecah berkeping-keping di hari itu.
"Kamu masih tidak nyaman?"
"Tidak ada masalah."
"Maafkan kejadian terakhir kali. Kekasih Anda membuat tunanganku marah, alasan Tuan Alvaro memukulinya."
"Mari kita fokus ke gaun." Bellova abaikan Viviane. "Jika wedding dance termasuk dalam ceremonial maka ekor gaun ini too much (terlalu panjang). Tuan Alvaro mungkin akan kesulitan menari bersama Anda, Nona!"
"Sabar sebentar," kata Bellova melihat pada Charlize. "Siapkan kancing mutiara dua pcs."
"Baik, Nona."
"Final fitting, gaunnya bisa langsung dibawa. Ekornya akan aku jepitkan pada belakang gaun hingga Anda bisa dengan mudah berputar. Suami Anda tidak akan kesulitan menari bersama Anda."
Pria itu akan memeluk pinggul Viviane saat wall dance dan mereka akan sah sebagai suami istri. Bellova hindari hal yang bisa sebabkan hati terlampau menderita.
"Jika tak keberatan selesaikan saja sekarang, Nona Bellova."
"Ini akan makan waktu, Nyonya Gracia."
"Selesaikan saja. Viviane bisa berdiri di sana selama yang kamu inginkan, Nona. Aku akan tunggu di mobil," ujar Nyonya Gracia bangkit berdiri. Raymundo ulurkan tangan dan Nyonya Gracia menggandeng pria itu.
"Oh ya, Bellova. Kapan jas pria ini selesai dibuatkan?"
"Tuan Alvaro akan memakai jasnya di hari pernikahannya."
"Aku akan kembali lagi nanti. Aku tak temani Axel Anthony saat puteraku akan menikah. Itulah, mengapa aku perlu ada di setiap momen untuk pria yang satu ini."
"Aku antar Anda, Nyonya," ujar Raymundo jelas tak suka pembicaraan di masa depan.
"Kamu tahu, Bellova. Pria ini istimewa bagiku meski aku punya Axel Anthony?"
Bellova menengok pada Raymundo. Bellova menggeleng. Apakah dirinya tampak seperti pengurus wedding dress sekaligus menampung aspirasi juga inspirasi saat ini?
"Pria beruntung," sahut Bellova.
"Axel Anthony patuh padaku tetapi hanya pria ini tetap tinggal di sisiku tanpa diminta dan peduli padaku meski aku terkadang tidak masuk akal. Jadi, aku minta tolong padamu, beri dia sesuatu yang sangat bagus."
Menepuk punggung tangan Raymundo pelan. Itu mengharukan untuk dilihat.
"Baiklah, Nyonya."
"Semoga hari Anda menyenangkan, Nona Bellova."
"Terima kasih, Nyonya."
Dibantu Raymundo, Nyonya Gracia keluar dari studio. Viviane tak ingin lepaskan gaunnya, terus saja pandangi diri di cermin. Viviane sangat puas. Berputar-putar dan berkeliling. Bellova setia di sisi Viviane.
"Bisakah aku minta tolong videokan?" tanya Viviane.
"Ya, tentu saja."
"Semoga ini berjalan lancar. Raymundo Alvaro sepertinya terganggu akan sesuatu." Viviane menatap pada yang kembali masuk, ikuti langkah pria itu ketika hampiri mereka.
"Beberapa pasang pengantin alami demam pra menikah. Anda bisa mengajak Tuan Alvaro refreshing dan piknik ke suatu tempat yang romantis untuk hilangkan keresahan."
Bellova tak percaya ia baru saja sarankan perjalanan romantis pada pasangan ini.
"Ya, ya, ya, aku sangat tegang. Kami akan pergi ke Santa Cruz dalam waktu dekat untuk bertemu keluarganya."
"Itu bagus." Bellova tersenyum. "Udara dan pemandangan di sana sangat bagus. Anda datang di waktu tepat saat hortensia sedang suburnya."
"Begitukah?" tanya Viviane.
"Ya."
Takdir macam mana yang dibicarakan Raymundo Alvaro? Menungguinya jadi duda? Bergandengan tangan dan berciuman di belakang Viviane? Atau Raymundo Alvaro benar, lupakan segala hal tentang mereka lantaran memang sia-sia.
"Aku akan lebihkan pembayaran untuk gaun ini."
"Tak perlu Nona Viviane."
"Tolong diterima."
"Tidak, sesuaikan nominal berdasarkan kesepakatan di awal."
"Aku hargai usahamu, Bellova. Juga, aku ingin minta tolong padamu."
"Ya?!"
"Bisakah tak menemui calon suamiku? Orang akan berpikir yang tidak-tidak tentangmu."
Bellova beku di tempat. Ia sedang menjahit kancing mutiara di belakang gaun.
Raymundo menatap tajam pada Viviane.
"Apakah aku campuri urusanmu, Nona?" tanya Raymundo Alvaro tidak suka. "Jangan coba-coba menyerangnya!"
"Apa aku salah, Tuan Raymundo Alvaro?" tanya Viviane berubah jadi sangat serius. "Aku tak peduli pada cinta belum padam di antara kalian. Tetapi, akan ada pernikahan. Kita telah sampai sejauh ini."
"Tak ada apa-apa di antara aku dan calon suami Anda, Nona Viviane." Bellova berkata dingin. Bellova selesai menjahit pengait pada ekor gaun. Menarik simpul ke pertengahan gaun, model lepas pasang. "Coba berputar, Nona," pinta Bellova seakan tak pernah mendengar ucapan Viviane.
"Jika memang tak ada apa-apa, mengapa menolak datang ke pernikahan kami? Bukankah kamu harusnya bertanggung jawab hingga pernikahan selesai?"
Kayla dan Charlize saling pandang. Cermati raut datar Raymundo Alvaro dan Bellova. Putuskan Viviane kurang waras.
"Baiklah, aku akan menginap di tempat Anda sejak sehari sebelum pernikahan." Bellova terpancing, lontarkan janji dan pandangi Viviane tanpa berkedip. "Tolong berputarlah dan coba langkahkan kaki Anda seperti biasa."
Tanpa sengaja tatapan mata membentur mata dingin Raymundo Alvaro.
"Anda sangat keren. Sayang saja, jika karena sebuah skandal, bisnis Anda berakhir."
"Terima kasih atas masukannya. Sangat membangun. Silahkan kemari Tuan, dan mencoba sedikit gerakan. Anda bisa mengangkat istri Anda berputar, hapuskan keraguannya," ujar Bellova panjangkan sabar. Harus akui Viviane benar dan merasa idiot.
"Tidak perlu, aku percaya padamu," sahut Raymundo menatap Bellova.
"Terserah Anda saja, Tuan."
Bellova kembalikan gunting dan jarum pada Kayla, tanpa sengaja membuang napas berat.
"Aku bisa bersama Nona Viviane."
"Tidak masalah, Kay. Selesaikan jas Tuan Alvaro."
"Baiklah."
Viviane dan Raymundo pergi dari sana setelah transaksi terakhir meski masih ada final fitting. Viviane bicara soal pergi ke klub dan bersenang-senang karena salah seorang teman mereka baru kembali dari luar negeri. Sedang Raymundo tak ingin melihat padanya atau ia abaikan pria itu demi keadilan bagi hatinya.
Bellova kemudian sibuk seharian, lebih tepat menyibukkan diri. Putuskan bantu Kayla selesaikan jas pengantin untuk Tuan Alvaro.
Terlepas dari pernikahan ini ciderai hatinya, Nyonya Gracia tampak sangat perhatian pada Raymundo Alvaro.
Bekerja hingga menjelang makan malam. Bellova kemudian memesan taxi setelah makan malam berakhir.
Turun di depan Luxury Club, Bellova disambut antrian panjang. Ia sengaja datang tanpa beri kabar terlebih dahulu pada Lucio Vargas. Seseorang tanpa persiapan cenderung lebih jujur. Ia masuk dalam antrian. Menunggu dengan sabar. Para pengawal berjaga-jaga. Gadis penjaga pintu menyeleksi pengunjung dengan cepat hingga tak terasa gilirannya tiba.
"Malam Nyonya, 35 Euro ..., eh ...."
Terputus. Bellova mengangkat wajah.
"Sorry?!"
"Selamat datang kembali. Silahkan masuk." Si penjaga pintu membungkuk dalam-dalam.
"Berapa tiketnya?"
"Tak ada tiket. Silahkan masuk!"
Salah satu penjaga mengenalinya.
"Silahkan masuk, Nyonya!" Penjaga keamanan berbadan besar hampiri dirinya. "Aku akan beritahu Tuan, kedatangan Anda."
Bellova berpikir mereka pasti mengiranya Belliza. Sedikit terbuka. Belliza sering datang ke klub ini dan minum-minum. Mungkin mabuk dan Lucio Vargas adalah pria yang bersamanya.
Oh, ini tidak benar. Ya Tuhan. Belliza tak mungkin khianati Oskan meskipun sangat kecewa pada Oskan.
Bellova terus masuk ke dalam, pergi ke lantai dasar ikuti arus. Datangi bartender.
"Nyonya Anda di sini?" sapa si Bartender ceria. "Senang melihat Anda."
"Apa aku sering kemari?" tanya Bellova.
"Maafkan sambutanku yang berlebihan. Aku melihat Anda sekali, pertama dan terakhir kali, dua tahun lalu."
"Ingatanmu sangat bagus."
"Ya, karena Anda menginap di tempat ini, Tuan Vargas menutup klub lebih cepat dan libur keesokan harinya."
Jadi, apa hubungan Belliza dan Lucio Vargas? Mengapa Belliza menginap di sini?
"Aku ingin pesan minuman," sahut Bellova amati sekitar. "Apakah ...."
"Tentu saja."
Segelas besar minuman berwarna putih tersodor ke hadapannya. Bellova mengernyit.
"Apa ini?" tanyanya di antara bunyi musik.
"Susu sapi segar."
"Apa aku tampak seperti balita malnutrisi?" tanya Bellova keheranan.
"Tuan Vargas memberi perintah, jika Anda kemari, Anda hanya boleh minum susu."
Meskipun bingung, Bellova yakin Lucio Vargas adalah seseorang yang sangat dekat dengan Belliza, melegakan karena pria itu bukan pria jahat.
"Nyonya, aku akan antar Anda ke ruangan Tuan Vargas." Seorang pria lain muncul di sisinya. "Anda bisa minum dengan santai di sana."
"Di mana Tuan Lucio Vargas?"
"Tuan sedang ada urusan."
"Bisakah kirimkan pesan pada Tuan Vargas?"
"Aku telah kabari kedatangan Anda. Tuan Vargas akan segera kemari."
***
Tinggalkan komentar di bawah ini. Tebak apa yang terjadi di chapter berikutnya?!
Aku ada final fitting hari ini jadi sangat sibuk.