
Bellova pandang hampa benda di tangannya. Menarik napas berat. Genggaman pada testpack sangat kuat, seakan ingin hancurkan benda itu. Tidak disangka-sangka ayunkan tangan dan lemparkan testpack ke lantai bawah, melayang terbang dan jatuh tepat di ujung kaki Lucio Vargas.
Raymundo Alvaro tidak terkejut, mungkin telah duga akan terima reaksi ekstrim. Raymundo Alvaro hanya menatap Bellova datar juga dingin. Bellova pikirkan satu garukan pada wajah Raymundo, mungkin bisa lampiaskan kesal juga marah.
Menarik.
Lucio Vargas amati testpack lalu pada dua orang di sisi ranjang. Si wanita, halus dan polos dengan sinar mata lembut miliki lingkaran halo di atas rambut cokelat keemasan, sedang si pria?! Lucio Vargas miringkan leher. Anarkis, kejam, pemarah, tak berperasaan, sukar dikalahkan, ekspresi persis pemain Joker profesional yang sukar ditebak dan bertanduk dua di kepalanya. Bayangkan saja, konsep-konsep Angel falling in love with Demon?
Raymundo Alvaro keluarkan lagi testpack lain, mengangkat benda itu di depan wajah Bellova.
"Masuklah dan mari kita lihat hasilnya, Bellova!"
Bellova merebut testpack tanpa aba-aba dari tangan Raymundo dan lemparkan ke kolong ranjang.
"Bellova?!"
"Lalu, jika aku hamil, apakah akan ada perbedaan? Datang padaku karena Anda mencintaiku bukan sesuatu yang kamu tinggalkan dalam tubuhku! Pergilah! Meskipun aku terlihat mencintaimu, aku tak akan manfaatkan kondisi apapun. Sekalipun aku mungkin punya bayi, aku tak akan repotkanmu!" jawab Bellova marah. Mata bergerak-gerak. Mengutuk dalam hati, mengapa ia begitu sukai pria egois ini?
Raymundo mengunyah gigi dibalik rahang.
"Bellova ..., mari kita lihat hasilnya," kata Raymundo tenang. Bujukan.
Bellova cari celah untuk kabur karena secepatnya ingin bertemu Cheryl dan bertemu Belliza. Ingin tahu keadaan Belliza. Jadi, masalah dirinya sendiri tidak penting. Meskipun berarti jika hamil di luar pernikahan, ia akan dipecat dari sekolah, diperbincangkan dan mungkin akan kecewakan kedua orang tuanya.
"Bellova ..., sabarku sangat tipis," halau Raymundo menahan tubuh Bellova di dinding ruang tidur Lucio Vargas.
"Apa maumu?" tanya Bellova berang. "Jawab saja aku, apa maumu, Tuan? Jika aku hamil, apa maumu? Beritahu aku kejelasan dan akan gunakan benda itu!"
Tanpa sahutan, sulit ditebak. Bellova benci sikap tertutup Raymundo Alvaro.
"Kamu tetap akan nikahi Nona Viviane beberapa hari lagi."
Bellova menarik napas panjang dan kuat. Bahkan ratapan sama sekali tak berikan dampak berarti pada Raymundo Alvaro.
Jika, seorang pria mencintaimu, bukankah harusnya ia tak suka wanitanya bersedih?
"Kamu hanya cintai satu wanita dan bukan aku. Cintaku tak cukup buatmu berubah. Aku bertahan padamu, tetapi kamu semakin tak bisa kutebak. Aku coba pahami dirimu, dan hanya ada kesakitan. Jadi, aku akan berubah dan mundur." Bellova menghela napas lagi.
Mereka bertatapan. Tak bisakah Raymundo Alvaro lihat lubang menganga di hatinya.
"Masuklah, Bellova!"
"Tidak akan! Kita tidur tanpa ikatan bukan? Mengapa aku perlu peduli apakah aku hamil atau tidak? Mengapa kamu perlu peduli? Aku tak akan menuntut tanggung jawab darimu!"
Helaan napas kasar juga sorot tajam menikam, Raymundo Alvaro tanpa sengaja buat Bellova menggigil.
"Bellova?!"
"Tidak! Tolong jangan paksa aku!"
Kesabaran Raymundo Alvaro habis. Dengan cepat lingkari lengan ke pinggang Bellova dan menggendong Bellova pergi ke kamar mandi.
"Lepaskan aku! Kamu benar-benar tidak waras!"
Jeritan Bellova dijawab pintu kamar mandi ditutup kuat oleh kaki panjang.
"Lepaskan aku!"
Pria itu kuatkan pelukan.
"Bellova, saat aku bicara baik-baik denganmu tolong ikuti saja! Jangan abaikan aku, itu menjengkelkan."
"Aku tak peduli denganmu!" Bellova memukuli pria di depannya karena kesal. "Menjauh saja dariku!"
"Mari menikah jika kamu hamil." Raymundo Alvaro tiba-tiba bicara di ujung kuping Bellova hentikan gerakan kasar Bellova. "Aku akan menikahimu."
Dalam situasi normal, Bellova mungkin akan balas memeluk pria di depannya dan sanggupi. Harga diri Bellova semakin terkoyak.
Hening.
Raymundo Alvaro benar-benar pria yang hanya gunakan logika tanpa libatkan emosi apapun.
"Aku tidak hamil! Jujur jadwal Shark Week ku (M) kacau belakangan karena aku banyak tertekan tetapi aku tidak hamil."
Bellova tak akan ijinkan Raymundo Alvaro nikahi dirinya hanya karena bayi. Tidak akan ulangi kesalahan Belliza. Bellova hanya akan nikahi pria yang mencintainya dan ia cintai. Membangun pernikahan tanpa paksaan karena pernikahan libatkan dua orang yang akan terikat komitmen soal cinta, kompromi dan toleransi.
Bellova diturunkan. Raymundo Alvaro keluarkan lagi testpack. Pria itu punya 3 pcs testpack, mungkin lebih.
"Kamu akan lakukan sendiri? Atau butuh bantuanku?" tanya Raymundo tak lepaskan Bellova, sentuh mantel Bellova.
Aaarggghhh .... Bellova menjerit keras, selubungi wajah dengan kedua telapak tangannya. Mengusap air mata cepat, menatap murka pada Raymundo Alvaro. Bellova mengangguk pada pintu minta Raymundo pergi.
"Keluarlah!"
Bellova hanya bisa lakukan itu. Mengalah penuh. Menentang Raymundo Alvaro hanya menguras energi juga emosi.
Raymundo periksa kamar mandi, temukan bahwa Bellova tak akan mungkin kabur darinya. Tinggalkan kamar mandi, tutup pintu dan bersandar di sisi pintu. Lucio Vargas berdiri di pintu menuju teras luar. Bersidekap.
"Kamar mandi tak punya pintu alternatif. Jangan takut Bellova kabur!"
Raymundo menatap tajam pada Lucio Vargas.
"Anda tak boleh menyentuh Bellova seperti tadi! Aku tak peduli siapa dirimu, jika kamu kedapatan lagi, aku akan membunuhmu!" Buka mulut, lontarkan ancaman jarak jauh.
Lucio Vargas bergeming. Berdecak beberapa detik berselang.
"Dari pertikaian yang kudengar, Anda tak mencintai Bellova. Lalu, mengapa overprotektif padanya?"
"Aku tak pandai berekspresi sepertimu!"
"Bukankah Anda akan nikahi Viviane? Bellova, em, jujur saja adalah tipeku, aku suka kehangatan dan kelembutan dari matanya."
"Anda sukai semua tipe wanita," balas Raymundo datar. Meski demikian ada sinis ditiap katanya.
"Menakjubkan, Anda cari tahu tentang kehidupan pribadiku?"
"Aura-mu, bukan teka-teki sulit."
"Lepaskan Bellova, aku benar-benar akan berjuang untuk dapatkannya!"
Meskipun tampak bercanda, Lucio Vargas kedengaran tekun buat Raymundo Alvaro gusar.
"Aku tidak bercanda Tuan Vargas."
"Apa aku kelihatan bercanda? Bellova sangat-sangat manis. Menikahlah dan bahagialah dengan Viviane. Aku bisa menjaga Bellova." Menyeringai pada Raymundo Alvaro.
"Jangan coba-coba gunakan sihir dari mata birumu pada wanitaku! Jangan tersenyum padanya! Juga jangan menyentuhnya." Tangan Raymundo Alvaro berikan penegasan.
"Luar biasa obsesif," sahut Lucio Vargas berdecak lagi. "Um, ini punyamu! Mungkin rusak," tambah Lucio akhiri basa-basi sebelum Raymundo yang temperamental hancurkan studionya.
Bawakan testpack yang dilempar Bellova.
"Sungguh niat simpan banyak benda ini di sakumu?" kata Lucio Vargas.
"Anda terlalu banyak bicara," sahut Raymundo. Ia memang sengaja belikan tiga pcs saat di apotek rumah sakit gara-gara percakapan sepasang kekasih di ruang tunggu dokter kandungan. Menyimpan benda itu di saku jaket. Ia akan tinggalkan Viviane di klub dan pergi temui Bellova. Rencananya.
"Dengar Tuan, tes urine bagus di pagi hari. Lebih akurat."
"Aku tak minta pendapatmu!"
"Ini anjuran tanpa diminta. Waktu malam tidak ideal bagi tubuh yang terus konsumsi minuman sepanjang hari. Apalagi kopi dan garam. Bisa jadi hasilnya samar bahkan negatif. Lebih pasti pergi ke dokter kandungan."
Lucio Vargas tampak sangat berpengalaman. Tentu saja, pria itu punya banyak wanita. Raymundo tak akan ijinkan Bellova dekat-dekat Lucio Vargas.
Bellova keluar tak lama kemudian.
"Secepat ini?" Raymundo bertanya periksa menit. Lekas curigai Bellova.
"Aku hanya ikuti petunjuk! Apa pikir Anda, aku perlu 24 jam di dalam kamar mandi, mengisi bath up hingga penuh lalu tenggelamkan selusin testpack? Aku mungkin punya bayi kembar empat untuk semalam suntuk percintaan panas tanpa jeda denganmu."
Lucio Vargas berdecak. Belliza juga meledak-ledak, bedanya Bellova ini sedikit pembangkang dan seakan tak takut pada wajah bengis di depannya. Bagaimana bisa Bellova terjebak dengan pria ter-misterius di planet ini?
Raymundo berdiri tegak dan menegang ketika melihat tangan Bellova. Pria itu menahan napas.
"Bagaimana hasilnya?"
Bellova tak menyahut, meraih tangan Raymundo dan letakan hasil.
"Aku tidak hamil. Jangan ikuti aku!" kata Bellova ketus.
Hasil testpack negatif. Tujuh Minggu setelah mereka tidur bersama di tenda. Bellova tahu hasil testpack bisa terbalik. Tak ada gejala khas wanita hamil. Namun, sadar penuh ia tak dikunjungi "shark week". Dua Minggu setelah ia bersama Raymundo Alvaro harusnya ia menstruasi. Telat dua tiga hari biasa tetapi ini telat lebih dari 2 Minggu. Bukankah pertanda sesuatu.
Mungkin gangguan hormon. Lebih dari itu, Bellova yakin ia memang hamil. Sangat sulit bagi Bellova pikirkan hal ini. Itulah mengapa ia hanya sibuk bekerja dan sama sekali tidak ingin menyerempet ke sana.
Percintaan panas mereka beberapa waktu lalu, begitu keras mengguncang dan menghimpit perutnya tanpa ia sadari, hingga perutnya keram-keram dan timbulkan banyak bercak. Bellova, abaikan. Jika Tuhan membuatnya punya bayi, bukankah tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima?
"Aku antar," tawar Lucio Vargas. "Bukankah kamu perlu bertemu Cheryl dan Oskan?"
"Terima kasih, Anda bisa lihat. Aku dilindungi jelmaan iblis yang turun langsung dari neraka. Dia akan menembak semua pria yang coba-coba dekat denganku. Mungkin juga akan menembak tukang parkir yang bicara padaku. Bisa jadi akan membunuh burung yang tak sengaja kencingi aku!" sahut Bellova sarkas.
"Kita bisa bersama-sama pergi!" Lucio Vargas masih gigih. "Kita bisa kunjungi kakakmu bersama."
"Tuan Vargas, saat ini aku minta Anda jauhi kakakku. Keadaan ini bingungkan aku, tetapi aku tak percaya padamu karena Anda datang dari São Vicente. Menjauhlah dari kami sementara waktu."
"Bellova aku ada di pihakmu! Aku akan menolongmu!"
Bellova hanya menggeleng. Bellova tak baik-baik saja dari caranya putuskan untuk tak percayai siapapun. Bellova pergi dari sana, turuni tangga dan memungut tas.
"Jangan abaikan peringatan dariku, Tuan Vargas." Raymundo datangi Lucio Vargas.
"Sepertinya kita tak bisa berteman ya?"
"Tidak!" sambar Raymundo Alvaro cepat. "Ada banyak pria di luar sana, berteman saja dengan mereka!"
"Aku pergi! Trims kamar mandinya!"
"Kamu bodoh atau apa, Tuan Alvaro?"
"Apa masalahmu?" tanya Raymundo Alvaro tidak senang.
"Bellova sepertinya terburu-buru gunakan testpack, itu invalid."
Raymundo terhenyak, teliti benda di tangan lalu pada Lucio Vargas.
"Aku pergi!"
"Ya. Tolong jangan datang lagi kemari!"
Raymundo turuni tangga sedang Bellova telah menghilang. Raymundo ikut dari belakang. Keluar dari ruangan Lucio Vargas.
"Mau kemana?" Viviane ternyata mencari dan temukan pria itu keluar dari ruangan Lucio Vargas setelah Bellova lima menit sebelumnya.
"Bersenang-senanglah! Aku akan jemput kamu kembali!"
"Raymundo Alvaro?!"
Raymundo hentikan langkah berbalik pada Viviane.
"Viviane?!" ujar Raymundo, "Aku sedang kesal! Menjauh saja dariku!" Bicara cukup dekat dan sangat-sangat gusar hingga Viviane tak punya alasan keras kepala.
Raymundo keluar ke depan klub, berdiri di parkiran, amati sekitar. Bellova berjalan terburu-buru di sepanjang jalan sambil berusaha mencari taxi. Raymundo kemudian mengejar.
Bellova tampak putus asa di sisi jalan saat tak ada taxi berhenti, menelpon seseorang.
"Bellova?!" panggil Raymundo keras.
Bellova berpaling, tertegun beberapa waktu sebelum berlari sekuat tenaga. Jalanan Invante dipenuhi kendaraan lalu lalang. Tak ada lampu merah. Jalanan ini selalu sibuk tetapi tak pernah macet. Hanya selalu terburu-buru.
"Bellova?!"
Tiba-tiba saja Bellova berhenti, berbalik. Napas wanita itu ngos-ngosan. Menatap Raymundo kosong. Tak ada kalimat tanya, apa maumu? Hanya sesuatu seperti irama sad ballads.
"Bellova ...."
Wanita itu bergeming, tetapi ketika Raymundo Alvaro mendekat, Bellova dengan cepat terobos jalanan yang sedang ramai.
"Bellova?!"
Raymundo berteriak nyaring.
"Berhenti! Apa yang kamu lakukan? Bellova, kembali!"
Mobil melaju kencang, otomatis di-rem mendadak. Ban mobil berdecit dan terdengar suara jeritan. Raymundo shock di sisi jalan, ikuti kemana ia lihat Bellova pergi. Saking panik ia telah berhenti bernapas. Seruan penuh umpatan pengemudi terlontar begitu saja. Raymundo Alvaro bernapas lega melihat Bellova bangun, minta maaf berulang kali dan pergi ke sisi seberang. Raymundo nyaris ditabrak sebuah mobil.
Beberapa petugas patroli mendekat. Bellova minta maaf.
"Anda dilarang menyeberang sembarangan, Nona! Anda bahayakan pengemudi jalan yang lain! Tolong ikut kami!"
"Tolong aku, Pak. Pria itu terus mengejarku dan mengawasiku!" Bellova menunjuk dengan mimik ketakutan pada Raymundo Alvaro yang akhirnya mencapai seberang jalan. Bellova bahkan bersembunyi di belakang petugas polisi.
"Bellova?! Mari kita bicara!" kata Raymundo kalahkan suara deru kendaraan. Polisi beralih pada Raymundo.
"Apa Anda kenal wanita ini?" tanya petugas.
"Ya. Dia milikku."
"Kekasih Anda? Istri Anda?"
"Ya."
"Tidak, dia bohong!" geleng Bellova. "Aku tak kenal dengannya. Pria ini hanya salah seorang customer dari tempatku bekerja yang akan menikah beberapa hari lagi. Tapi pria ini terus meretas kehidupan pribadiku dan mengusik aku!"
Polisi percayai Bellova. Tentu saja cenderung condong pada wanita selembut dan setenang Bellova dibanding pria mengerikan berwajah penuh parut luka, dingin dan tampak kejam seperti psikopat.
"Tuan?! Identitas Anda, please!"
Bellova dibawa pergi petugas. Raymundo keluarkan identitas.
"Bellova?! Hei, Bellova?!"
"Sir, Bellova kekasihku!"
"Tetapi wanita itu menolak mengakui Anda?"
"Dia hanya sedang marah karena aku akan menikahi wanita lain dalam waktu dekat. Ini kami!"
Raymundo Alvaro keluarkan ponsel. Tunjukan gambar suatu pagi ketika ia mendekap Bellova yang tidur nyenyak dalam lengannya.
"Baiklah! Tapi ...."
"Telpon pengacaraku jika aku melanggar aturan."
"Tuan?! Aturan negara kita tak bisa seenaknya dilanggar dan kami tidak tolerir pelanggaran yang bisa sebabkan banyak nyawa melayang."
"Bellova sedang tak baik-baik saja," kata Raymundo lagi panjangkan sabar. "Dia mungkin bisa lakukan sesuatu yang buruk dan bisa bahayakan dirinya sendiri. Tolong minta teman Anda menahannya sementara waktu sampai aku datang, please!"
Raymundo menelpon Axel Anthony dan jelaskan situasinya. Menunggu 20 menit hingga Axel Anthony datang dan Raymundo benar-benar panik ingin melihat Bellova.
Pos penjagaan polisi, Bellova dalam mobil patroli. Raymundo masuk ke dalam.
"Mari kita pergi!"
Bellova terlonjak kaget. Menatap hampa, bingung dan tak mengerti. Termasuk ketika Raymundo Alvaro menarik tangannya untuk segera turun dari mobil pergi ke mobil Axel Anthony.
Mereka berkendara dalam diam.
"Bellova, apa kamu baik-baik saja?" tanya Axel Anthony penuh perhatian.
"Ya, Tuan. Terima kasih sudah bertanya. Bisakah beritahu pada pria ini untuk lepaskan aku?"
Bellova sandarkan punggung di bangku. Kesedihan menyerang hatinya. Ia pikirkan Belliza juga Cheryl. Serta dirinya sendiri jika ia benar-benar hamil. Menahan sakit di sekujur tubuh.
Melirik pria yang datar dan tenang di sisinya, tanpa emosi.
"Tuan Axel, aku turun di depan Anjos 70 jika Anda tak keberatan."
"Tidak! Kita akan pulang ke rumah!" jawab Raymundo Alvaro.
Mereka sampai di kediaman Anthony.
"Pergilah dulu bersama Raymundo, aku akan parkirkan mobil." Axel Anthony tersenyum pada Bellova. Raymundo turun dan menarik Bellova bersamanya.
Bellova menolak ikut, tangan satunya berpegang kuat pada bangku mobil.
"Apa sesuatu terjadi? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Raymundo pelan.
"Jangan ganggu aku, please!"
"Aku terganggu jika tak mengganggumu!" Jawaban teraneh bagi Bellova. "Mari pergi bersama!"
"Tidak!" geleng Bellova jadi terlalu emosional. "Banyak hal yang harus aku urusi."
"Aku janji akan lepaskanmu setelah ini!" Raymundo Alvaro hapus tetesan air mata Bellova. Mengatur rambut Bellova yang berantakan.
"Apa yang hendak kamu lakukan?" tanya Bellova diserang panik. Coba tahan tubuhnya saat Raymundo menjalin jemari mereka Naiki undakan tangga menuju ruang keluarga kediaman Anthony. Bellova terantuk-antuk. Masuk ke dalam.
"Bellova, apa kamu baik-baik saja?" Queena terlihat cemas dan langsung berhenti gelisah ketika Bellova mengangguk.
"Apa Nyonya Gracia sudah tidur?"
"Tidak, Ibu menunggumu Ray, setelah tanpa sengaja dengar kamu bermasalah dengan petugas kepolisian."
"Raymundo, kamu baik-baik saja?" Gracia Anthony telah gunakan pakaian tidur ditambah mantel berbulu, muncul di ruang tengah. Tatapan mata wanita yang sungguhan kuatir pada seseorang.
"Ya."
Nyonya Gracia hampiri Raymundo Alvaro dan amati Raymundo.
"Apa kamu terluka?"
"Tidak."
"Di mana Viviane?" Nyonya Gracia bergantian awasi Raymundo Alvaro lalu pada Bellova yang ketakutan. Tangan Bellova berkeringat dingin,
"Masih di klub dengan teman-temannya."
"Apa sesuatu terjadi?"
Raymundo menggenggam tangan Bellova kuat. Menarik Bellova padanya.
"Mam, aku tidak bisa nikahi Viviane. Maafkan aku!"
"Raymundo? Apa yang terjadi?"
Raymundo Alvaro hembuskan napas. Menoleh pada Bellova yang gagu dan kelu. Raymundo tersenyum, pertama kali Bellova lihat pria itu tersenyum padanya. Berkata dengan pasti.
"Aku mencintai Bellova!"
***
Greatest Part dan aku breaking the rule, hancurkan sinopsis yang sudah kubangun susah payah. Parah banget gak sih? Harusnya puncak konfliknya di chapter ini. Aku malah mengubah plot. Sumpret, Ceine (nama asliku), kamu luar biasa.
Entahlah. Mari berdoa untuk perdamaian dunia karena ini sangat serius.
Tinggalkan komentarmu soal Chapter ini!