
"Beri aku waktu, Dad. Aku akan bekerja keras mengurus Belliza dan Cheryl. Jika semuanya membaik dan aku tak ada tanda-tanda berkencan dengan seseorang, Daddy boleh jodohkan aku dengan pria yang Daddy inginkan."
"Baiklah, Sayang. Ambil waktumu. Pria ini seorang yang sangat baik perilaku dan kehidupannya."
Bellova mengangguk, percaya pada ayahnya.
"Aku ingin bertanya, Dad?"
"Ya?"
"Mana yang lebih baik. Menikahi seorang yang mencintaimu atau seseorang yang kita cintai?"
Paul Damier secara serius berpikir.
"Cinta itu bergerak, Bellova. Bukan searah tetapi dua arah. Timbal balik. Take and Give juga nothing to lose. Ibumu tak cintai aku di awal pernikahan kami. Aku bersabar, hanya berikan cinta dan perhatian. Aku bahkan tak menyentuh ibumu hampir dua tahun. Ia luluh padaku, kami bahagia akhirnya. Tuhan kirimkan kami, Belliza dan Bellova sebagai hadiah juga Bellinda untuk sempurnakan kami. Beritahu padanya bahwa kamu mencintainya dan ingin bersama. Jika dia menolak komitmen, kamu berhak untuk tinggalkannya." Menghela napas panjang. "Beritahu padaku, siapa pria itu?"
Bellova menggeleng. "Kami hanya bertemu beberapa kali dan tak berkomunikasi lagi dalam waktu lama."
"Jika seorang pria jatuh cinta padamu, ia akan datang padamu. Cinta menghapus jarak dan ambisi, hanya akan mengejar dan perjuangkan cintanya."
"Ya, Anda benar, Tuan Paul Damier."
"Dia mungkin sibuk dengan pekerjaannya."
"Mungkin. But, mungkin juga dia bertemu wanita sesuai tipenya." Bellova mengisi popcorn ke dalam mulut. Mengunyah pelan. "Aku bukan tipenya."
"Bukan tipenya? Oh pria bodoh seperti apa itu? Bellova-ku penuh cinta, kehangatan dan pembawa bahagia. Apakah ada gadis lebih cantik dari Puteriku?"
"Tak semua orang dadanya berhasil kutembak dengan cintaku, Dad. Tak semua kecantikan menaklukan."
"Pria sulit sepertinya."
"Ya." Bellova mengangguk pelan. Apakah ia perlu datangi Raymundo Alvaro dan katakan ingin bersama? Berikan kesempatan bina hubungan? "Siapa pria itu, Dad? Yang Anda inginkan untukku?"
"Salah satu kerabat kita."
"Beri aku kesempatan."
"Dia bersedia menunggu, Love." Menghela napas panjang. "Beritahu ayah, jika kamu butuh uang. Ayah mungkin bisa mencari ...."
"No, Dad. Aku dapatkan uang dari menjual Miradoura dan beberapa pekerjaan akan hasilkan uang. Percaya saja padaku dan bantu aku dengan jaga kesehatan kalian. Hmmm?!"
"Puteriku yang sangat berbakti. Itulah mengapa aku ingin seorang pria yang bisa aku andalkan menjagamu sepenuh hati. Pria yang akan buat umurku panjang karena berikan kebahagiaan untuk Puteriku."
"Doa Ayahku akan tembus ke tiang-tiang awan dan akan menerobos langit langsung ke hadirat Tuhan."
"Amin."
Bellova tinggalkan keluarganya tiga hari kemudian. Naik pesawat lintasi Samudera Atlantik pergi ke Ibukota. Ia tiba di sana menjelang tengah hari dengan penerbangan pagi meskipun transit. Tak menunda waktu langsung menuju studio tak begitu jauh dari pusat kota.
Orang tak tahu, Belliza koma. Begitu pula, teman-teman bahkan kerabat terdekat. Jadi, Bellova akan mengambil posisi Belliza sementara waktu, tetapi tetap sebagai Bellova dan berikan alasan Belliza sedang sibuk di suatu tempat. Ia akan berhenti jadi Belliza dan terlibat masalah.
Pintu studio didorong, tak ada satu orangpun terlihat. Tentu saja, hanya tersisa dua pegawai. Bellova langsung pergi ke lantai atas, di mana terdapat tiga ruangan. Satu dipakai untuk menerima tamu, satu dijadikan gudang dan satu ruangan lagi di mana proses produksi berlangsung. Setelah sketsa gaun disepakati, membuat pola, cutting, sewing, fitting tahap awal sebelum beading dan final fitting. Menerima bayaran akhir dan segalanya berakhir.
"Nona?! Oh ya Tuhan, syukurlah Anda datang," seru salah seorang gadis segera bangkit dari duduknya diikuti seorang gadis lain yang sibuk drapping pecahan kain sebagai pola dasar pada manekin.
"Kayla ..., Charlize ...," sapa Bellova lepaskan sarung tangan dan kaca mata hitam.
Kayla dan Charlize adalah dua orang yang tetap tinggal karena cukup banyak berutang pada Belliza. Mereka bisa saja kabur, tetapi dua wanita ini bertahan. Kayla berkulit putih, sedikit bergaya, bawakan tablet dan pen. Sedang Charlize, lebih muda dan ceria segera turun ke lantai satu.
"Lantai atas telah dibersihkan dan dicat ulang, untuk Anda."
"Terima kasih."
Namun, Bellova tak mungkin tidur di sana dengan aroma cat segar atau ia akan sesak napas nanti malam.
Memeriksa jadwal kerja. Pernikahan Viviane Raquel dua Minggu lagi. Jadi Viviane adalah pekerjaan pertama dan utama. Permintaan wanita itu jelas, one dress for three looks. Menggambar desain dress di atas gambar manekin tiga dimensi, Bellova memulai dengan gaun mermaid di bagian dalam. Memilih bahan dan membuat pola berdasarkan ukuran tubuh yang dirinci Kayla. Ia akan mengunjungi Belliza setelah fitting pertama Viviane selesai. Menemui Cheryl dan lihat keadaan Puterinya sebelum putuskan hubungi pengacara. Ia juga perlu bertemu Tuan Lucio Vargas.
Berkonsentrasi, cuaca cukup dingin menjelang awal Februari. Bellova rapatkan syal. Mengapa ia memakai syal ini?
"Aku memakai syal ini karena sangat hangat." Membela diri.
Bukankah ia putuskan lupakan Raymundo Alvaro?
Lupakan? Yakin?
Mengapa sengaja lewat depan Anthony's steel dan berharap tanpa sengaja melihat Raymundo Alvaro?
Sekalipun mereka habiskan malam bersama, Bellova tak tahu apapun tentang pekerjaan pria itu sampai Aldinho beritahukan dirinya. Raymundo Alvaro adalah seorang petinggi dari Anthony's Steel. Mereka punya banyak branch dan melakukan pekerjaan konstruksi hingga keluar negara. Perusahaan mereka hanya berjarak empat blok dari studio.
Lupakan dia! Ya Tuhan, apa susahnya campakan Raymundo Alvaro?
Tentu saja sulit, Bellova. Kamu berbagi malam indah dengannya.
Itu hanya malam biasa, Bodoh! Aku bisa dapatkan malam seperti itu dengan seorang pria.
Tidak akan sama, Bellova.
Shut up, please!
Bagaimana bisa Tuan itu pengaruhi dirinya?!
"Aku bisa gila," keluh Bellova ketika menatap kertas putih yang awalnya bergambar manekin berubah jadi gambar Raymundo Alvaro. Ia telah menggambar pria itu dengan sangat detil. "Aku tak terselamatkan. Ya Tuhan."
Bellova hentakan pensil kasar ke atas meja. Bangkit dari duduknya. Putuskan butuh udara segar agar tidak mengacau.
"Apakah bahan dan beads yang aku pesan telah sampai?"
"Ya, Nona."
"Aku akan keluar sebentar."
Bellova melangkah pergi dari studio, ke jalanan yang ramai. Tanpa tujuan, sampai aroma buah segar memanggilnya. Berhenti di Fruity & Fresh Swalayan di blok ke tiga dari studio. Masuk ke dalam dan mengambil troli. Tidak hanya buah, tempat ini punya keju, yogurt, anggur dan sayuran segar.
"Raymundo Alvaro berbeda saat di dapur. Bakat terpendam." Bellova mengulang sepenggal percakapan dengan Queena.
Bellova mengeluh untuk kesekian kalinya. Ia memilih jeruk ke dalam kantong, anggur putih dan beberapa buah lain, ketika tiba-tiba suara pria itu terdengar sangat jelas tak jauh darinya sedang bicara pada seseorang.
"Apa ini juga?"
"Ya."
Bellova berpaling ke arah datangnya suara, temukan pria itu, tampak sangat formal dan Bellova tak berhalusinasi. Tuan Raymundo Alvaro di sana, di sisi seorang wanita paruh baya yang terlihat bukan dari kalangan biasa. Tak jauh dari mereka seorang wanita muda asyik memilih buah dan sayuran.
"Makanan apa yang kamu suka, Tuan Raymundo? Kita bisa membeli beberapa bahan untuk makan malam."
"Apa saja, Nona," sahut pria itu datar.
Bellova menggenggam Sunkist di tangannya, tertegun. Tak bisa menolak kenyataan, Bellova sangat ingin mendengar suara berat tak bernada dan dingin si pria.
"Memangnya apa yang bisa kamu masak, Viviane?" tanya wanita paruh baya terdengar tak percayaan.
"Banyak, Nyonya Gracia Anthony. Aku tak hanya punya modal cantik saja."
Bellova menghela napas panjang, kenali wanita itu Viviane Raquel dari profil customer yang gaunnya sedang dikerjakan Bellova.
"Berubahlah setelah menikah Viviane! Pria ini pandai memasak, belajarlah darinya!" tegur Nyonya Gracia terlihat musuhi Viviane.
"Ya Tuhan, ini swalayan Aunty. Apakah Anda perlu nasihati aku di antara buah dan sayur?" sahut Viviane menggandeng Raymundo Alvaro.
Bellova mengangkat bahu, no hope for me. Almost die karena merindukan Raymundo Alvaro, selama sebulan hingga detik lalu. Saat ini, tak ada apapun di antara mereka bahkan meskipun hanya tentang sebuah nama.
Bernapas sangat kesakitan.
Bellova mengisi anggur, apel, kentang dan berdiri di depan rak-rak botol bebidas (minuman) memilih satu botol Martini. Ingin satu Red Label tetapi takut jatuhkan botol yang sangat rapat terusun, jadi melambai pada seorang karyawan yang lumayan tinggi. Bellova kembali ke rak sambil menunggu, memilih Chocolate Negro dan Chocolate de Lette.
"Ada yang bisa aku bantu, Nona?"
"Ya, aku ingin Red Label," tunjuk Bellova ke rak paling atas. Kembali memilih banyak camilan. Menu makannya akan berubah beberapa hari ke depan.
"Baiklah. Sabar sebentar." Sang pelayan mengambil tangga khusus lalu mengambil botol minuman yang diinginkan Bellova. Turun dari tangga dan hendak berikan pada Bellova, akan tetapi tangan seseorang pegangi benda itu.
"Bisakah tukarkan dengan satu karton susu!" Bukan pertanyaan tapi perintah.
Bellova mendongak, temukan Raymundo Alvaro sedang menatapnya. Mata mereka bertemu. Bellova mengumpat dalam hati, ia tak bisa temukan cara menendang pria ini keluar dari dirinya.
Aku merindukanmu. Bellova menjerit dari kedalaman jiwanya oleh putus asa.
"Apakah kita saling mengenal, Tuan?" tanya Bellova keheranan. "Terserah Anda saja. Bisakah ambilkan aku satu?" Bellova minta ulang pada karyawan swalayan.
"Pergilah!" perintah Raymundo pada karyawan yang langsung pergi.
"Hei, Tuan. Setidaknya layani permintaan pelanggan. Aku bayar cash bukan berutang."
Raymundo Alvaro mengerut padanya. "Apakah karena aku tanpa kabar, kamu jadi pecandu alkohol?"
Bellova sedikit mangap, hempaskan napas kasar. Palingkan wajah, kumpulkan keberanian. Entah mengapa, setiap momen bersama Raymundo Alvaro terarsip dalam otaknya. Ia kembali, balas menatap penuh intimidasi.
"Anda tak cocok untukku dan aku bukan tipemu. Kita telah berjalan di kehidupan masing-masing. Aku akan menerima perjodohan dan menikah dalam waktu dekat. Tolong bangun dari mimpi," sahut Bellova.
"Begitukah?"
Aku menyukaimu, Tuan Raymundo Alvaro. Bisakah kita menjalin hubungan serius?
"Tentu saja, mengapa aku perlu berlarut-larut pada pria tanpa emosi, datar, kaku, kikuk, kejam, egois, tak berperasaan dan berkepribadian aneh?"
"Terdengar kesal padaku."
Tentu saja aku kesal. Anda sama sekali tak bertanya kabarku.
"Siapa Anda hingga aku perlu kesal padamu? Tolong, menyingkirlah!"
Bellova mendorong barang belanjaan ke kasir, tinggalkan pria itu di belakang. Luar biasa Bellova, kamu menendangnya dengan cepat setelah merindukannya selama sebulan. Antara memuji dan menghujat diri sendiri.
"Apa ada tambahan, Nona?" tanya kasir mulai menghitung belanjaan.
"Tidak, terima kasih."
"Punya kartu member?"
"Ya," angguk Bellova memakai kartu milik Belliza.
"Kartunya expire," kata kasir.
"Ehem, aku tak gunakan kartu member selama satu tahun belakangan. Aku akan sering gunakan lagi mulai sekarang."
"Baiklah, sambil aku menghitung belanjaan bisakah mengisi kembali formulir keanggotaan?"
"Aku sedang terburu-buru. Aku akan kembali kemari nanti saat sedang tak sibuk."
"Oh ya tentu."
Bellova memeriksa belanjaan, berbalik ketika Viviane menegur.
"Belliza Damier?!" Viviane datangi Bellova, tersenyum cerah. "Aku dan Adriella datang ke studio beberapa waktu lalu tetapi asistenmu katakan kamu sedang ada di Macau."
"Maafkan aku Viviane. Aku Bellova, adik Belliza."
"Oh no, don't kidding me! Belliza, aku tahu kita bukan the bestie friend tetapi please jangan mainkan lelucon konyol ini."
"Ya, I am so sorry. Belliza masih di Macau untuk sebuah pekerjaan. Aku Bellova, adiknya. Aku telah persiapkan look awal untuk gaun Anda, Nona. Silahkan mampir ke studio nanti. Kayla akan kirimkan Anda pesan."
"Aku tak percaya ini. Apakah kamu sungguh bukan Belliza?"
"Ya, aku adiknya."
"Baiklah," angguk Viviane masih belum percaya. "Bisakah aku mampir hari ini? Kebetulan Aunty di sini dan studio tak jauh dari sini. Aku bisa tunjukan pada Beliau, gaun pengantinku." Viviane melambai pada wanita paruh baya. Juga pada Raymundo Alvaro. Bellova alihkan perhatian dengan meminta formulir pada kasir.
"Aku sedang sibuk hari ini, lagipula Kayla akan kirimkan pesan saat semuanya siap."
"Tak mengapa, boleh ya? Tuan Raymundo perlu dapatkan ukurannya juga."
What the hell?! Jerit Bellova. Apakah pria ini akan menikahi Viviane?
Bellova akhirnya sanggupi.
"Ini Aunty-ku. Nyonya Gracia Anthony." Viviane perkenalkan mereka. Gracia Anthony, bukankah berarti wanita ini Ibu dari Axel Anthony?
"Nyonya Gracia, aku Bellova Damier."
"Aunty, ini desainer yang membuat gaun pengantinku."
"Bellova Damier?! Tampak tak asing. Apakah memang banyak wanita bernama Bellova Damier? Queena mengatakan sesuatu tentang seorang wanita bernama, Bellova Damier."
"Jika Bellova Damier ..., mungkin disebutkan oleh menantu Anda, maka akulah Bellova."
Nyonya Gracia Anthony menoleh pada Raymundo Alvaro yang datar. Kembali menatap curigaan pada Bellova seolah Bellova menguntit mereka ke swalayan. Sedang, Viviane tak peduli.
"Kebetulan yang aneh."
"Studio kami cuma beberapa blok dari sini, Nyonya. Aku sering kemari."
"Bellova Damier ini, teman kencanmu yang dimaksud Queena?" Berpaling pada Raymundo.
Tak menyahut.
"Raymundo Alvaro?"
"Ya, Nyonya."
Nyonya Gracia Anthony menyipit pada Bellova. "Anda tahu bahwa, Tuan Raymundo akan menikahi ponakanku?!"
Sesuatu menyerang langsung tepat di hati Bellova. Jika, tiga hari ini dingin, kosong dan kelabu maka hari ini babak belur. Bellova ngilu di seluruh sendi.
Jadi, pria ini sibuk karena akan menikah?
Jadi, pria ini akan membangun hunian di atas tanahnya untuk ditinggali bersama Viviane?
Good job. Kamu memang na'if dan ceroboh, Bellova.
Dan Bellova Damier mengerjakan gaun pengantin pesanan khusus bagi wanita yang akan dinikahi Raymundo Alvaro? Pria yang tidur dengannya sebulan lalu di sebuah tenda.
Increadible, Bellova Driely Damier. Selamat, Andalah pecundang sejati di tahun ini. Luar biasa pencapaianmu. Nikmati Martini dan terjunlah ke dalam nelangsa setelah ini.
"Hubungan kami berakhir sebulan lalu. Aku belum kabari Queena lagi karena kupikir Tuan Alvaro telah memberitahu Queena," kata Bellova menoleh pada Raymundo Alvaro, bicara tak alihkan pandangan dari pria itu. Ketika tak temukan jawaban, Bellova mengutuki pria yang tak terbaca sama sekali ekspresi wajah, dengan semua mantra jahat dari seluruh dunia. "Semoga bahagia selalu," tambah Bellova sedang ia telah mengumpat di atas jantung yang merana, APA INI?
"Nona, silahkan ambil belanjaan Anda." Kasir menegur kembalikan dirinya dari shock.
"Red Label, apakah telah ditambahkan?"
"Sudah, Nona."
Bellova mengambil belanjaannya.
"Aku akan menunggu di studio, Nyonya Gracia, Viviane, Tuan Alvaro."
Bellova pergi dari sana. Hidup penuh kejutan bukan? Tetapi, kejutan ini paling tak masuk akal.
Perlukah Bellova hubungi Queena dan bertanya apa yang terjadi? Ia tak punya apapun tentang Raymundo Alvaro. Nomer Queena, atau yang lainnya.
Ponsel berdering. Paul Damier menelpon.
"Bellova, apa kamu baik-baik saja di sana? Kamu tak mengirim kabar hingga kami sangat cemas."
"Dad. Um, sorry. Aku tiba dan langsung bekerja."
Menyeberang. Beberapa pengguna jalan ajukan protes karena ia bicara di ponsel sambil menyeberang. Bellova berhenti takut disambar kendaraan melintas. Ia bersandar di sebatang pohon, jauhkan ponsel dan tertawakan diri sendiri.
"Ada apa Bellova?"
"Aku akan menikahi pria yang Daddy pilihkan untukku. Tak perlu menunda."
"Bellova?! Bukankah ini terdengar buru-buru? Ada apa, Sayang? Apa sesuatu terjadi?" Panik.
"Jangan panik, Dad. Aku berubah pikiran. Aku akan menikahinya. Cinta bisa tumbuh kapan saja, bukan?"
***
Chapter-chapter teraneh.
Kirimkan dukungan-mu ya!