My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 47. Lose or Win


"Cheryl akan tinggal bersamaku di sini sementara waktu, Tuan Vargas."


Bellova bicara lembut pada Lucio Vargas di teras tengah kediaman Anthony, di mana, area menghadap langsung ke lahan hijau rerumputan taman.


Cheryl bermain di sana, bersama Niña dan Juan Enriques yang kebetulan datang pagi tadi. Seorang asisten rumah tangga yang baru dua bulan bekerja, menemani ketiga bocah.


Queena hidangkan banyak minuman, juga camilan sambil mata lentik tak berhenti amati Lucio Vargas. Walaupun Axel Anthony cemburu, pria itu menjaga wibawa. Axel Anthony tak mungkin mengusir Lucio Vargas hanya karena istrinya yang hamil muda dan jabang bayi lebih suka memuja raut tampan tamunya ketimbang dirinya.


Raymundo Alvaro hanya menatap Lucio Vargas datar seperti biasa. Selama Bellova Driely di sisinya ia tak peduli pada Lucio Vargas. Dan percaya bahwa cara primitive pertahankan Bellova akan buat Bellova berpikir jutaan kali untuk pergi dari sisinya. Pria romantis lakukan hal-hal konyol gunakan cokelat dan bunga. Sedang Raymundo alergi bunga. Dan Bellova sepertinya bukan tipe wanita yang mudah larut dalam cokelat. Lebih dari itu, Raymundo punya tombol panas taklukan Bellova.


"Anda memang sulit ditebak," ujar Lucio Vargas pada Raymundo. "Aku yakin kamu manipulasi Bellova agar tidak bisa pergi dan mengikat kedua kakinya," tambah Lucio Vargas bukan curiga, menuduh.


"Ambil udara di sekitarmu dan bernapaslah, Tuan Vargas. Saat aku mengendus keterlibatanmu, kamu akan segera karam."


Kedua alis Lucio Vargas terangkat tinggi dan tingkahnya buat kedua bola mata biru semakin menarik untuk dilihat.


"Ya, galilah sedalam mungkin. Aku tak begitu mempan digertak." Lucio Vargas bangkit. "Nyonya Anthony, terima kasih untuk keramah-tamahan Anda. Aku sungguh sangat tersanjung. Anda seperti kakak perempuanku saat aku berkunjung ke rumah mereka."


Queena tersenyum sangat lebar dan berseri-seri.


"Cheryl lupakan kesedihan saat bermain bersama Niña dan Juan Enriques. Jangan kuatirkan Cheryl. Anda sungguh Paman yang luar biasa. Jika tak keberatan, berkunjunglah akhir pekan kemari. Aku dan Bellova akan sangat senang hati menyambutmu."


Ada gelombang protes mengudara dari geraman-geraman kecil, tetapi tak cukup berarti. Tentu saja, siapa berani menghalau keinginan wanita hamil muda dan keinginan anehnya? Queena sudah selesai dengan bawang goreng di lautan minyak, Lucio Vargas jenis ngidam yang jauh lebih menggiurkan.


"Terima kasih atas undangannya? Apa aku boleh bawa kekasihku?" tanya Lucio Vargas.


Bellova tanpa sengaja tersedak liur dan terbatuk-batuk. Hingga reaksi spontan Bellova timbulkan petikan tanda tanya, terlebih Raymundo. Belakangan Raymundo sering kehilangan wajah datarnya, Bellova kadang bisa menangkap ekspresi kesal, marah meski dalam hitungan detik.


"Kamu tak apa, Bellova?" tanya Lucio Vargas penuh perhatian, hendak mendekat, tetapi tatapan tajam Raymundo Alvaro hentikan tindakan. Bellova mengangguk, matanya penuh harap dan senyuman Lucio Vargas adalah jawaban. Bellova pegangi jantungnya, berkaca-kaca. Belliza baik-baik saja. Ia akan minta ijin untuk menjenguk Belliza atau tidak sekarang.


"Terima kasih," ucap Bellova tanpa suara menahan tangisan. "Bolehkah aku antarkan Tuan Vargas?" Bellova berbalik dan bertanya pada Raymundo Alvaro.


"Ya, silahkan."


"Nyonya Anthony, aku pamit. Aku akan kemari di akhir pekan bersama kekasihku dan sekaligus menjemput Cheryl."


"Oh ya tentu saja. Kami akan dengan senang hati menerima Anda."


Lucio Vargas pergi dari sana diikuti Bellova. Pergi ke taman. Cheryl tertawa nyaring saat Juan Enriques menggambar wajah menyerupai wajah kucing memakai peralatan menggambar. Bulatan hitam di puncak hidung Juan Enriques dan garis kumis kucing di kedua pipi.


Cheryl merengek minta salah satu kuas lukis Juan Enriques.


"Bisakah kamu berbaring? Aku ingin kupu-kupu."


"No, no, Cheryl. Kamu akan sulit menggambar kupu-kupu jantan."


"Tapi aku lebih suka kupu-kupu dibanding kucing."


"Meow ... Meow ...." Juan Enriques tiba-tiba membuat gerakan mengeong kucing, keluarkan gigi taring dan cakaran. Cheryl lari terbirit-birit sambil kecekikan.


"Jangan kencang-kencang larinya!" Niña memekik berjaga-jaga dari belakang. "Tidak lucu Juan Enriques, kamu bisa buat Cheryl jatuh dan terluka," tegur Niña.


"Yang penting Cheryl tertawa, Kareniña. Kamu tahu, sulit buat bayi tertawa?"


"Ya bisa kulihat, kamu berbakat, Juan Enriques," sahut Niña terkekeh geli lihat wajah Juan Enriques. "Cobalah ke dapur dan berhadapan dengan Chocolate, dia akan mengira punya teman baru."


"Ramai ya?" Lucio Vargas bicara pada Bellova menunggui Cheryl di ujung taman. Gadis kecil itu langsung berlari pada Lucio Vargas.


"Uncle, aku punya kucing jadi-jadian di sini."


"Ya bisa aku lihat. Apa kamu senang?"


"Ya, aku menyukai Juan Enriques."


"Kamu sangat bahagia, Nona Devano."


Lucio Vargas bentangkan kedua tangan dan Cheryl paham isyarat itu, melompat ke dalam lengan Lucio. Wajah Cheryl kemerah-merahan oleh mentari sore.


"Kamu akan tinggal bersama Mommy dan Uncle Raymundo." Lucio Vargas mengangguk ke arah teras, di mana Raymundo Alvaro dan Axel Anthony awasi mereka.


Cheryl tak menyahut, memeluk leher Lucio kuat.


"Apa kamu takut?"


"Tidak, selama aku bersama Mommy. Aku kenal dengan Tuan Saudagar. Dia yang berikan aku foto Mommy."


"Foto?"


"Ya, foto Mommy yang aku tunjukan pada Uncle, ingat?"


"Oh ya?" tanya Bellova berpaling pada Raymundo Alvaro. "Di mana?"


"Di Rumah Sakit saat Helena sakit. Tuan itu bilang, dia teman Mommy dan akan bawa aku bertemu Mommy."


"Baiklah," ujar Lucio Vargas mengangguk-angguk yakin Bellova jatuh di tangan pria yang tepat, hanya saja pria ini sedikit bermasalah dengan kepribadiannya. "Mommy akan tidur denganmu, bacakanmu dongeng dan buatkanmu sarapan di pagi hari."


"Bagaimana dengan Daddy?" tanya Cheryl di leher Lucio Vargas. "Apakah Daddy tak akan kesepian?"


"Aku akan menjaganya." Lucio Vargas mengecup Cheryl dan kembali memeluk erat. "Semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Kami akan berkunjung tiga hari lagi untuk makan malam."


"Bersama kekasih Anda?" tanya Bellova pelan.


Lucio Vargas turunkan Cheryl, biarkan bocah kembali bermain bersama Niña dan Juan Enriques yang sangat excited pada Cheryl. Lucio Vargas berbalik pada Bellova.


"Ya, aku harap kamu tidak keberatan aku bersamanya."


Bellova sangat terharu, berkaca-kaca dan mengangguk berulang kali.


"Aku yakin, Anda akan menjaganya dengan baik. Mungkin akan sulit baginya menerimamu. Belliza adalah wanita yang hanya ingin bersama seorang pria dan mencintai dengan tulus."


"Aku hanya perlu bersamanya dan menangkan hatinya."


"Jalanmu mungkin sulit. Mantan Suaminya adalah segalanya, ia tak bisa melihat ke lain hati meskipun terus terluka."


"Ya ya ya, aku tetap tak mau menyerah. Aku, pria yang gigih."


Lucio Vargas menepuk pundak Bellova.


"Jangan bersedih."


"Aku akan pergi mengunjungi kakakku hari ini."


"Tidak, Bellova. Kita akan bertemu lusa di sini. Aku perlu lakukan sesuatu bersama pacarku."


Lucio Vargas memeluk Bellova. Tak peduli jika Raymundo Alvaro menembaknya dengan laras panjang.


***


Belliza pulih dengan cepat, memar di tubuhnya hilang dan ia benar-benar turunkan berat badan hingga mencapai berat badan Bellova. Ia memikirkan Bellova dalam tidurnya. Lucio Vargas mengatakan bahwa Raymundo Alvaro bebaskan Bellova dan Bellova berada bersama pria itu. Lucio Vargas yakinkan Belliza, Raymundo Alvaro tak akan menyakiti Bellova karena Lucio Vargas pastikan Raymundo Alvaro jatuh cinta pada Bellova. Walaupun demikian tak lantas buat Belliza lega, ia tetap gelisah ingin lihat adiknya.


Lucio Vargas setia sebagai teman dan pendamping. Mendukung Belliza untuk melabur tiap retakan dan coba membangun kembali kehidupannya. Lucio Vargas seperti udara segar yang ia hirup setelah keluar dari ruangan penuh asap mematikan.


Belliza masih mengantuk di jam enam pagi, di hari ke tujuh ia berada di Rumah Sakit. Ia terbaring di ranjang ia koma, ketika para penjaga di depan ruangan ribut-ribut. Belliza dengan cepat kenali suara Oskan Devano yang meminta akses berkunung.


"Maafkan kami, tetapi Anda tak diijinkan masuk dengan status Anda sebagai mantan suami."


"Kami belum resmi bercerai."


"Tetap saja, Anda tak diijinkan menjenguk."


Jawab salah satu pengawal tegas.


"Aku perlu melihat keadaannya sebentar," kata Oskan gigih.


"Silahkan lewat kaca pintu, Tuan Devano."


Belliza rasakan jantung berdegup antara sakit dan benci, juga sisa-sisa cinta yang berusaha ia suntik mati. Apakah Oskan curiga padanya? Apakah Oskan mungkin setidaknya mengingatnya sebagai seseorang?


Belliza terus pejamkan mata rapat-rapat, ia tahu, Oskan Devano sedang perhatikan ia kini dari balik kaca. Menghapus wajah Oskan tak semudah menghapus gambar di atas pasir. Namun, ia berusaha keras. Jika raut tampan Lucio Vargas tak cukup kuat, Belliza kemudian pasrah.


Belliza membuka mata ketika didengarnya Oskan berkata, "Terima kasih, aku pergi", pada para pengawal yang ditempatkan Lucio Vargas untuk melindunginya.


Belliza turun dari ranjang. Melangkah tanpa alas kaki, keluar dari ruang tidurnya.


Belliza tak menyahut, hanya melangkah pelan. Salah seorang pengawal ambil inisiatif ikut dari belakang dan beri sinyal pada teman lainnya untuk hubungi Dona atau Lucio Vargas.


Belliza berjalan pelan tak jauh dari Oskan yang lunglai. Hati Belliza bersedih, berkaca-kaca. Oskan berbelok di koridor. Beberapa orang terlihat di koridor, Bellova beranikan diri melihat. Oskan di depan ruang perawatan intensif bicara dengan wanita paruh baya lalu masuk ke ruangan itu.


Wanita paruh baya pergi, bertolak arah. Belliza pelan-pelan dekati ruangan yang ia duga tempat Helena dirawat. Berdiri di sisi jendela, melihat ke dalam ragu-ragu.


Helena Alvaro masih terbaring di atas ranjang, dengan banyak selang dan peralatan medis. Oskan Devano di sana, di sisi Helena, hanya termenung. Menggenggam tangan Helena. Wajah tampan Oskan kacau dan tak beraturan. Pria itu merana di sisi kekasihnya.


Belliza tak tahu sejak kapan ia telah terluka, dan semua selalu hebat menyiksa. Oskan meninggalkannya berkubang dalam kematian selama dua tahun. Oskan telah putuskan hubungan diantara mereka dengan perceraian sementara ia meregang nyawa. Tidak ada yang lebih luar biasa dari itu. Oskan juga menangkan hak asuh atas puterinya.


Terpaku cukup lama dalam diam, walaupun singkat mereka pernah saling berbagi hal-hal indah. Sekalipun mungkin hanya kepalsuan atau usaha yang kemudian berubah jadi petaka.


"Selamat tinggal. Semoga kamu bahagia," kata Belliza di antara bulir air mata meluruh jatuh. Melangkah perlahan dengan pandangan buram. Beberapa bayangan pergi tetapi ada yang tetap berpijar menghantuinya. Berpegangan di dinding koridor, pengawal tak berani menyentuhnya.


Mengapa ia masih menangisi Oskan? Belliza berhenti dibalik koridor, duduk dan menangis tersedu-sedu.


"Belliza," bisikan cemas dari seorang yang gelisah.


Lucio Vargas berjongkok di hadapan Belliza, mengangkat wajah Belliza yang penuh air mata. Menyeka perlahan. Dengan cepat mendekap Belliza.


"Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis di sini?"


Air mata semakin deras mengucur. "Aku melihatnya."


"Siapa?"


"Pria itu! Aku tak bisa membuangnya begitu saja dan aku sangat sangat benci ini." Belliza mengeluh dan tenggelam di dada Lucio Vargas. Bagian depan pakaian pria itu dengan cepat dipenuhi air mata juga cairan dari hidung Belliza.


"Ya, aku paham."


Lucio Vargas berpikir betapa beruntungnya Oskan dan betapa rentan perasaan Belliza seperti kaca mudah pecah di hadapan Oskan.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku pikir mudah saja karena aku telah banyak menderita. Ia sangat tak adil padaku dan terus menyiksaku. Mengapa masih ada setia padanya? Aku benci ini."


Bisakah Belliza bertarung dan menangkan pertikaian dalam dirinya sendiri?


"Lihat aku, Belliza!"


"Ini sangat buruk. Aku pikir semudah kata-kata."


"Jangan menangis! Lihat aku!"


Belliza membuka mata saat Lucio Vargas pegangi kedua bahunya. Lucio Vargas tersenyum hangat. Tatapan lembut sedikit menenangkan.


"Jangan berusaha terlalu keras tetapi jangan mau terjebak dalam situasi ini. Atau kamu akan hancur pelan-pelan."


Belliza mengangguk. Lucio Vargas benar. Oskan Devano bahkan tak pegangi tangannya saat ia koma. Oskan bahkan doakan kematiannya.


"Aku tahu."


Belliza biarkan Lucio Vargas mengusap air matanya. Mengelus punggung lembut hingga sakitnya berkurang dan reda.


"Apakah wanita itu akan baik-baik saja?" Belliza bertanya lirih di antara isak halus.


Belliza menderita dan kesakitan tetapi masih peduli pada Helena yang merebut suaminya. Lucio Vargas berpikir betapa menariknya wanita ini.


"Kita hanya bisa pasrah."


"Nuraniku terganggu. Aku diikuti bayangan buruk dari malam itu. Aku terus melihatnya," bisik Belliza.


Lucio Vargas pegangi tangan Belliza menggeleng keras.


"Percayalah padaku semuanya akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja."


"Kemejamu basah." Belliza tersenyum ketir di antara puncak hidung dan pipi memerah.


"Tak masalah, ini kemeja keduaku yang kamu nodai dengan air mata."


Belliza menatap Lucio Vargas.


"Apakah kamu sungguh-sungguh tak punya pacar, Tuan?"


"Ya, begitulah. Aku diam-diam pacari istri sepupuku yang sedang koma. Dia lalu bangun dari tidur lelapnya dan hanya mengenang suaminya." Lucio Vargas menarik napas panjang tak hilangkan senyuman di wajah. "Sesuatu di sini terasa menusuk." Menunjuk dadanya.


Belliza menggeleng. "I am so sorry. Aku mungkin terbawa suasana. Sulit menghapus wajah suamiku, tetapi kamu harus tahu, aku hanya mendengar suaramu sepanjang tidurku. Aku terkurung dalam kubah kaca kristal beku dan setiap kamu bicara padaku, esnya meleleh secara ajaib."


Lucio Vargas terpesona.


"Wah, jantungku berdebar-debar." Pria itu tersenyum lebar. Mata birunya bersinar semakin terang. "Jadi, mantan kakak iparku ..., maukah Anda menjadi kekasihku?"


Belliza terdiam. Lucio Vargas mengambil resiko besar dengan melamar Belliza jadi kekasih. Ia membuka peluang pada cinta yang mungkin tak akan terbalas penuh. Namun, Lucio Vargas tak mau membuang kesempatan.


Tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan berlian murni nan berharga. Belliza sulit jatuh cinta dan ia ingin jadi satu-satunya pria yang dicintai Belliza, walaupun itu berarti ada perjuangan berat untuk menendang Oskan dari dunia Belliza.


"Apakah aku terlalu terburu-buru?" tanya Lucio Vargas.


"Aku rapuh dan tidak sempurna. Aku tidak stabil. Kamu mungkin akan sakit hati suatu waktu."


"Bagaimana kalau aku tetap menginginkanmu? Aku telah bermimpi tentang kita selama dua tahun."


Belliza mencari kebenaran dalam mata biru seindah samudera Atlantik. Di mana hidung tinggi dan rahang Lucio Vargas adalah terbaik yang pernah dilihat mata Belliza. Tangannya tanpa sadar terulur. Bagaimana bisa seorang pria bisa sesempurna ini? Terlebih, pria ini menginginkannya. Setia padanya dalam kemalangan.


Lucio Vargas tak menolak saat Belliza menciumnya di lorong rumah sakit.


"Lupakan dia, Belliza. Ada aku dan kita akan besarkan Cheryl bersama."


Lucio Vargas berkata dengan yakin karena ia akan membuat perjanjian dengan Oskan agar Oskan biarkan Belliza mengasuh Cheryl.


Lucio Vargas meraih tangan kanan Belliza tempelkan pada dada di mana jantung berdetak berapi-api dibalik kulit. Tak perlu katakan seberapa kuat bara memanas. Belliza bisa rasakan sendiri.


Mereka berciuman tak peduli pada suasana pagi rumah sakit yang mulai ramai. Juga tak sadari sepasang mata sedang awasi mereka.


Oskan Devano kenali wanita yang sedang berciuman dengan Lucio Vargas adalah Belliza bukan Bellova. Oskan terpaku. Belliza bangun dari koma? Sejak kapan? Barusan? Bellova masih tertidur satu jam lalu.


Oskan Devano tak mencintai Belliza, tetapi tak rela Belliza berpaling dan pergi pada Lucio Vargas. Bagaimana bisa mereka bersama?


Lucio Vargas, ulurkan tangan dan bantu Belliza berdiri. Berjalan pulang bersama, mulai menyusuri koridor rumah sakit.


"Belliza?!" panggil Oskan Devano yakinkan diri sendiri, tak berilusi.


Belliza berhenti melangkah langsung berbalik begitu pula Lucio Vargas. Oskan datangi mereka dalam gerakan lambat.


"Belliza?"


Tangan Lucio Vargas lingkari pinggang Belliza erat-erat seolah menegaskan satu hal, Oskan tak punya hak lagi dan Belliza akan memulai hidup baru bersamanya.


"Kamu?" Oskan Devano jelas geram pada sepupunya.


"Aku mendukungmu berpisah dari Belliza karena aku jatuh cinta pada Belliza." Lucio Vargas teratur dan sangat transparan. Bahasa tubuhnya mendukung.


"Itu tak mungkin terjadi."


"Bisakah kita pergi?" tanya Belliza pada Lucio Vargas seakan Oskan hanya seekor lalat biru yang berdenging mengganggu. Menengok Lucio Vargas penuh harap. Untuk pertama kali, Belliza dapati wajah masam Lucio Vargas padahal tak pernah terjadi sebelumnya. Pria itu selalu tersenyum seakan hidup hanya butuh senyuman.


"Ya, tentu saja."


Lucio Vargas menggendong Belliza karena rasakan tubuh Belliza bergetar. Berbalik pergi, tinggalkan Oskan yang mematung.


"Aku rasa kita perlu beli kemeja baru. Kemeja ini akan pensiun dan jadi barang antik."


"Aku akan buatkan untukmu, Tuan."


"Aku lupa bahwa kekasihku seorang desainer. Tanganmu mungkin kaku, Belliza."


"Aku akan come back dan kemeja Anda-lah akan jadi karya pertamaku."


"Oh aku jadi tak sabaran."


***


Apakah Anda menyukai Chapter ini?