
Yakinkan diri sendiri, Raymundo Alvaro bukan apa-apa. Namun, ketika pria itu pergi Bellova remuk redam. Tak ingin peduli pada Raymundo Alvaro, tetapi saat pria itu tak berpaling, Bellova hancur luluh. Tak ingin Raymundo pengaruhi dirinya, tetapi ciuman mematikan Raymundo yang membakar kulit semalam buat ia terus menggigil.
Pukul 10 pagi, studio lengang.
Bellova meraih ponsel menelpon Kayla juga Charlize, dua-duanya tidak aktif.
"Apakah hari ini libur Nasional?"
Memeriksa penanggalan lalu beralih ke pesan group.
💌 : Nona, terima kasih untuk liburan yang menyenangkan ini. (Charl)
"Apa ini?" desis Bellova.
💌 : Kami dalam perjalanan ke Peniche. Akan sampai setengah jam lagi. (Kay)
💌 : Kami akan mengisi energi untuk lembur 24 jam besok. Kami mencintaimu. Anda Bos paling luar biasa. (Charl)
"What?!" Bellova melotot pada ponsel. "Apa yang terjadi? Mengapa ke Peniche sedang kita punya banyak kerjaan?"
Scroll message dan temukan pesan sebelumnya dari pukul lima pagi.
💌 : Hari ini libur! Bersenang-senanglah! 🥱🥱🥱
"Apa aku mengetik pesan group macam begini?"
Coba mengingat-ingat. Mengumpat.
"Aku terlalu mabuk dan tak ingat apapun."
Coba ingat. Sial, yang diingat Bellova cuma ciuman semalam dan sesuatu yang membuatnya ketagihan pada Raymundo Alvaro.
Bellova menggeleng. "Tidak, aku tak mengetik pesan ini."
Arrgghh. Pasti Raymundo Alvaro.
"Pria Brengsek, aku membencimu! Sangat membencimu!" rutuk Bellova murka membaca pesan gusar. Mengetik dengan cepat.
💌 : Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali dan masuk kerja! Kita ada fitting besok.
Mengetik lagi dengan cepat.
💌 : Jika aku mengirim pesan tak masuk akal, kamu berdua hanya perlu mengabaikannya. Mengerti? Cepat kembali!
Tak ada balasan. Bellova mondar-mandir di ruang kerja lalu putuskan terpaksa menutup studio. Ia tak mungkin ladeni pelanggan lain sedang ia harus selesaikan kerjaan pada gaun Viviane.
Bekerja seharian, merakit kancing pada tahap akhir gaun, memeriksa secara detil dan sepakati bahwa gaun yang ia buat berkarakter sesuai tubuh Viviane yang slim dan beauty. Pandangi gaun, berencana tambahkan sedikit ornamen.
Periksa ekor gaun. Raymundo Alvaro akan menggandeng Viviane dan para malaikat kecil akan berdiri di belakang mereka untuk pegangi ekor gaun. Mungkinkah Niña? Bellova tanpa sadar tersenyum pedih, Niña mungkin akan merusak acara jika ditambah Juan Enriques. Sekali lihat, Bellova tahu, Niña Anthony suka usil.
Bisa dipastikan pernikahan Viviane tanpa acara wedding dance karena panjang ekor gaun 1, 5 meter. Raymundo tak mungkin berdansa dan memutar Viviane di udara atau pria itu akan terlilit ekor gaun.
"Aku berikanmu nyawa, tolong cekik saja leher Raymundo Alvaro dan buat ia berhenti bernapas." Bellova memutar jemari di atas ekor gaun. Merasa sinting setelahnya.
Makan siang ia pergi ke dapur, membuka kulkas, deretan susu berbaris. Gambar sapi belang pada kemasan kotak susu berubah jadi dada bidang Raymundo Alvaro dan kedua kaki sapi berubah jadi dua lengan Raymundo. Bellova menutup pintu kulkas kasar. Sialan, pria itu telah merasukinya.
Duduk di meja. Bekas sarapan masih di sana, tetapi orang-orang hangat itu tidak akan pernah jadi milik Bellova kecuali Queena. Bellova yakin Queena miliki hati setengah malaikat. Sedang pria yang duduk kaku di hadapannya pagi tadi adalah luka terindah.
Kuatkan diri, bagaimanapun juga.
Ia tak bisa menghapus Raymundo Alvaro secepat mencuci noda di gaun.
Jangan berusaha terlalu keras, Bellova!
Miliki saja dia di hatimu dan buat segala hal membaik. Jangan sia-siakan waktumu untuk memikirkannya. Biarkan pria itu jadi masa lalu. Tutup pintu sekarang.
Bellova minum susu sambil mengisi perut dengan roti tawar empat lapis, mengunyah buru-buru ia kembali bekerja hingga sore. Ia sangat optimis akan lupakan pria yang pergi darinya tadi pagi perlahan.
***
Sedang di sisi lain kota, Raymundo Alvaro berdiri di sisi Axel Anthony yang mematung menikmati udara halaman belakang.
"Maafkan aku! Aku goyah."
"Bellova mirip Queena dan tidak takut apapun seperti Irishak."
"Tidak. Bellova sangat ceroboh."
"Aku mendorongmu balaskan sakit hatiku. Harusnya tak aku lakukan."
"Queena adalah duniamu tetapi aku menyayanginya." Raymundo Alvaro menghela napas. Tak ada yang berubah ia sangat menyayangi Queena. "Aku akan perbaiki."
"Mari akhiri masalah ini, jangan bunuh Oskan Devano. Cari cara agar pria itu pergi ke penjara."
"Baiklah. Bagaimana dengan Queena?" tanya Raymundo.
"I have no idea. Sangat sensitif." Amati Raymundo. "Obati wajahmu!"
Ribut-ribut dari dalam. Axel Anthony mende***.
"Dari 14 cucu Warren Anthony hanya Viviane Anthony kesayangan kakek-ku. Tapi, lihat kelakuannya!"
Mungkin karena Viviane satu-satu cucu berambut pirang dan bermata biru seperti nenek moyang Anthony. Warren Anthony selalu ingin bersama Viviane kemanapun ia pergi dan sangat idolakan Viviane. Semua orang menduga harta Warren akan jatuh pada Viviane. Namun, Viviane lepas kendali. Pesta tak berkesudahan, bermasalah karena menyetir sambil mabuk dan berulang kali ditangkap petugas kepolisian. Terakhir kali, video skandal dengan salah satu putera konglomerat bocor ke media sosial. Vivian kehilangan jutaan Euro karena Warren Anthony memilih wariskan seluruh harta kekayaannya pada Yayasan Amal.
Kini harapan Viviane satu-satunya adalah warisan dari Jeff Anthony, saudara tertua Grace Anthony.
"Tuan Raymundo, Nyonya mencari Anda." Asisten rumah tangga tergopoh-gopoh datangi dirinya.
"Ini akan sulit untukmu, Raymundo."
Mereka pergi ke dalam. Suara muntah-muntah Viviane.
"Berhentilah membuat skandal Viviane! Ya Tuhan." Gracia Anthony telah mengomel sepanjang pagi sambil memijat punggung Viviane. Gracia Anthony mencintai kesempurnaan, Viviane tercela baginya, tetapi darah selalu berhasil kalahkan ego.
"Nyonya, Anda memanggilku?"
Gracia Anthony mengangkat wajah, lihat Raymundo yang penuh goresan, kening Gracia Anthony terlipat sempurna.
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Chocolate menggaruk wajahnya!" sahut Axel Anthony.
"Chocolate tak punya kuku setajam itu!" Sangat kritis.
"Kukunya tumbuh dengan cepat, Bu. Cobalah Ibu periksa," jawab Axel Anthony.
"Kurung Viviane di kamarnya. Jangan ijinkan dia pergi tanpa seijinku."
"Aunty?!" protes Viviane.
"Viviane ada fitting gaun besok, Nyonya." Raymundo bersabar.
"Viviane bersamamu semalam, lalu kemana kamu pergi hingga gadis bodoh ini kembali sendirian?"
"Ray sedikit ada urusan," sahut Axel Anthony cepat sedang wajah Raymundo Alvaro berubah kaku.
Semalam?!
Raymundo bersama Bellova. Tubuh pria itu mendadak panas. Ia terus mengingat kepala celana yang diiris Bellova dan tubuh polos yang meliuk di atas tubuhnya. Let it all go!
Nah, di mana celana itu sekarang? Juga kemeja?
"Dengar Raymundo, berhenti temui mantanmu karena kamu akan menikah!" Gracia Anthony beri peringatan keras.
"Raymundo pergi karena jas pengantin pria dibuatkan oleh mantan pacarnya sesuai kehendak Ibu. Mengapa jadi masalah kini?"
"Apakah Raymundo Alvaro bisu hingga kamu jadi juru bicaranya ..., Axel Anthony?"
"Berhenti menuntut Raymundo ini dan itu, Bu. Viviane tipe-tipe keonaran akut. Masih beruntung Ray mau menikahinya." Axel Anthony menyahut ketus.
"Mengapa tak urus saja istrimu, Axel? Queena telah memasak lebih dari 15 menu sejak pagi dengan porsi jumbo seakan-akan kita akan mengadakan perjamuan besar."
Axel Anthony tertegun. Alasan ia mencium aroma bumbu sepanjang hari. Berdecak buru-buru pergi ke dapur. Queena punya kebiasaan aneh belakangan. Sangat suka aroma bawang bahkan ruang tidur mereka beraroma bawang hingga Axel Anthony merasa ia tidur di dapur restoran.
"Aku harus pergi, Nyonya!" pamit Raymundo.
"Kemana?"
"Ada proyek taman kota yang sedang dikerjakan, aku perlu pergi ke lokasi untuk inspeksi."
"Queena, kemarilah! Berhentilah menumis bumbu, ya Tuhan. Apa aku berubah tak waras? Atau aku berubah normal dan orang rumah berubah tak waras?" Tak sengaja kuatkan pukulan pada punggung Viviane.
"Aunty, ini sakit!" pekik Viviane mulai muntahkan angin.
"Aku akan gunakan pengocok telur lain kali, Viviane. Apakah kamu ingin semua minuman di bar pindah ke dalam perutmu? Belum puaskah masalah skandalmu dulu?"
"Aunty, itu telah berlalu."
"Tentu saja, tetapi ketika namamu diketik di mesin pencarian maka hanya skandalmu saja yang dibahas bersyukur wajahmu disensor."
Sebulan ini mansion Anthony berubah ramai padahal tak ada Hector Anthony, berandalan keluarga. Hector memilih nomaden hindari Gracia Anthony yang terkadang bar-bar saat jodohkan semua orang.
"Ada apa Ibu? Aku masih repot memasak." Queena muncul di ruang tengah, suaminya mengekor dari belakang seakan tak punya kerjaan lain.
"Sayang, siapa yang bisa habiskan makanan sebanyak itu? Berhentilah memasak dan obati pria ini!"
Angguk Nyonya Gracia pada Raymundo.
"Lukanya akan sembuh sendiri, Bu."
"Queen benar, Nyonya. Aku harus pergi."
"Eh, kamu tak makan siang?" tanya Queena. "Aku masak banyak menu protein tinggi untukmu dan Axel Anthony agar kualitas Cerebrum kalian berdua bertambah sehat dan cerdas."
"Cerebrum?" Gracia Anthony mengerut. Queena semakin hari semakin aneh.
"Cerebrum ini ..., bagian otak yang bedakan manusia dari binatang. Jadi, bagian otak ini bertugas mengatur cara berpikir manusia, kesadaran dan perencanaan. Pria yang suka kekerasan dan menarik pelatuk kadang kala otaknya sedang macet. Butuh asupan gizi."
Axel Anthony dan Raymundo saling pandang. Queena sedang menyindir mereka. Sedang, Gracia Anthony memijat kening kuat. Pening pada tingkah semua orang.
"Bolehkah makanannya aku bawa saja?"
"Tunggu sebentar."
Raymundo kemudian tinggalkan rumah dengan berkotak-kotak makanan di mobil. Pergi ke tempat persembunyian BM.
"Di mana spesimen itu?" Raymundo Alvaro duduk dalam ruangan pengap. Satu-satunya penerangan hanyalah sinar-sinar biru dari rangkaian layar berbagai ukuran.
"Kantornya! Perlukah aku mengirim isi rekaman pada perusahaannya?"
"Tidak, aku akan pergi ke sana. Makanlah!"
"Luar biasa, makanan ini tercium dari jarak 100 mil."
"Aku pergi!"
Raymundo Alvaro meluncur ke kantor Greg Luigi. Masuk ke kantor. Temui petinggi perusahaan. Berikan rekaman CCTV dari restoran.
"Greg adalah salah satu pekerja aktif dan sangat berprestasi." Direktur perusahaan menolak percaya.
"Kami akan lakukan investigasi."
Raymundo jadi murka.
"Baiklah, aku akan kirimkan ini pada pihak berwenang dan biarkan mereka datang kemari untuk investigasi."
Raymundo mengambil ponsel. Direktur Perusahaan menjadi gelisah dan cemas.
"Baiklah. Kami akan pecat dia!"
Raymundo keluar dari kantor Greg Luigi, berkendara di jalanan ramai pergi ke sebuah wilayah.
"Aku sampai, BM."
"Flat no. 25."
"Kamera pengawas?"
"Ini koloni biasa. Kabar bagus untukmu Romeo, spesies ini telah dipecat tanpa pesangon?"
"Aku sangat dendam. Dia menginjeksi Blue H pada minuman Twin B."
"Bukankah bagus, usahanya dinikmati oleh Romeo."
"Buka bekalmu dan mengunyahlah, BM. Ada banyak protein untuk menyokong kemampuan berpikir-mu."
"Hebat." Tawa BM pecah. "Sejak melihat Bellova di bandara dan menciummu, ramalanku benar. Suatu hari kamu akan pergi ke nirwana dan bermain di awan dengannya. Hati-hati kamu mungkin akan kecanduan Twin B."
"Mulutmu panas juga!"
Gedung apartemen dan mencari flat no.25. Masuk ke dalam gunakan kunci tiruan. Berkeliling. Memeriksa apartemen Greg Luigi.
"Pria ini maniak."
"Similarly but different dengan Anda, Tuan," sahut BM.
"Aku tak koleksi underwear pink dan blue feminim di kamarku. Aku hanya pergi ke ranjang dengan satu wanita."
"Pria langka abad ini!"
Foto Bellova ada di salah satu dinding. Miringkan kepala. Panas, Greg punya foto cantik Bellova. Hati Raymundo Alvaro murka, copot foto itu dan menyimpan ke balik saku jaket.
"Ya, Anda hanya kegandrungan pada Twin B."
"Shut up! Dia datang."
Greg Luigi masuk ke dalam flat. Menerima telpon.
"Ya, Tuan Paul. Kami dinner bersama semalam. Nona Bellova sangat baik dan sopan. Aku sangat menyukainya."
"Ya ya ya, Bellova seperti itu. Sangat manis dan dia sangat mandiri."
"Anda boleh percepat pernikahan kami. Keluargaku akan datang melamar besok atau lusa."
"Begitukah?"
"Kita tak perlu beritahu Bellova, Tuan Paul. Aku akan bawa dia pulang dan jadikan kejutan indah untuknya. Bellova pantas dapatkan hal-hal baik."
Raymundo menggaruk ujung hidungnya. Ia baru saja melihat jelmaan buaya.
"Begitukah? Bellova setidaknya harus punya persiapan."
"Tidak perlu. Aku akan lakukan segala hal yang dibutuhkan. Tunggu saja kami."
"Baiklah."
Greg Luigi lakukan panggilan lagi, sepertinya pada Bellova. Tak dijawab. Pria tak tahu malu ini, mencoba lagi dan mengumpat ketika panggilannya ditolak. Mungkin diblokir Bellova. Pria itu melempar ponselnya ke sofa.
Raymundo berdecak. Lalu ....
"Halo Greg," sapa Raymundo dari belakang.
Greg Luigi berbalik temukan Raymundo Alvaro mengawasinya.
"Anda?!"
"Terkejut?"
"Bagaimana bisa?"
Raymundo kedipkan bahu.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Greg lagi.
"Penting?"
"Aku dan Bellova akan segera menikah. Anda sepertinya tergila-gila pada Bellova!"
"Apa sangat jelas terlihat?"
"Aku dan Bellova akan menikah."
"Tak ada pernikahan. Pengantin pria Bellova akan mati tertembak di hari itu."
"Siapa kamu?"
Raymundo Alvaro menjawab Greg dengan ayunkan tinju keras pada wajah Greg. Satu dua kali seakan Greg bantal tinju. Greg tersungkur. Raymundo memaksa pria itu bangun, memukuli dada, rusuk dan rahang.
"Jauhi dirimu dari Bellova!"
Meraih punggung Greg dan gunakan siku untuk memukul tengkuk pria itu. Greg bangkit, hidungnya berdarah.
"Apakah kamu berpikir dapat tiduri seorang wanita setelah mencampur minumannya dengan sesuatu?"
Raymundo Alvaro suka kesal tiap ingat kejadian itu, meskipun Bellova berakhir penuh peluh dengannya di ranjang wanita itu, tetap saja tak bisa obati tindakan Greg yang lukai ego-nya.
Raymundo Alvaro menendang pria yang sekarat lalu menyeretnya keluar dari flat.
***
Hari mulai sore.
Satu panggilan dari Greg Luigi, tak diladeni. Bellova memblokir nomor pria itu. Bellova akan menelpon ayahnya dan beritahu betapa brengseknya Greg Luigi. Oh, Demi Tuhan, Bellova tak ingin lanjutkan temui pria mesum itu.
Bunyi bel mobil dari jalan, mula-mula pelan lalu berubah tak sabaran. Itu dari depan studio.
"Ya Tuhan, ada apa lagi? Apa ada kecelakaan?"
Bellova penasaran, turuni tangga. Mobil Raymundo Alvaro parkir di jalan.
"Mau apa pria ini dariku?" Bellova cepat tertekan. "Tuhan, selamatkan aku! Bagaimana aku bisa lupakan brengsek ini kalau aku terus terjebak padanya."
Pintu mobil terbuka, Raymundo Alvaro turun dari sana memakai kaca mata gelap, jaket hitam dan celana jeans, pergi ke bagian belakang mobil. Membuka kap dan menghela seseorang dari bagasi.
Greg Luigi. Bellova menahan napas. Kehilangan kata, hanya tertegun pada segala kejadian yang berlangsung di depan matanya.
Pintu bagasi dibanting hingga berbunyi keras. Raymundo Alvaro menyeret Greg Luigi yang tampaknya habis dipukuli dari wajah memar dan babak belur pria itu.
Tak ada yang tahu apa yang tersorot dari wajah dibalik kaca mata hitam, tetapi Bellova telah menempel di kaca toko oleh pengap. Mundur perlahan ketika Raymundo Alvaro datangi toko dengan Greg Luigi seperti boneka mati.
Pintu studio diketuk. Bellova mematung di tengah ruangan. Raymundo Alvaro mengangguk ke arah pintu.
"Buka!" perintah pria itu dari luar.
Diluar kendali, Bellova membuka pintu. Raymundo Alvaro adalah kelemahan terbesarnya kini. Melihat Raymundo Alvaro, Bellova seakan punya harapan, ia ingin menjerit, "Tinggalah di sisiku. Aku akan berikan diriku dan cintaku padamu". Lalu, ia menderita sendiri ketika pria itu pergi.
Raymundo Alvaro lemparkan Greg Luigi ke hadapannya dan pria itu jatuh tepat di kakinya.
"Bellova, ampuni aku. Maafkan aku!" Greg terbatuk-batuk. "Bellova, maafkan aku."
Bellova terlalu kaget untuk menyahut. Hanya tertegun.
"Jangan biarkan Tuan ini hancurkan hidupku, Bellova."
"A ... pa ya ... ng terjadi?"
Bellova mengangkat wajah, Raymundo Alvaro bersihkan jaket. Menembus kaca mata, Bellova tahu pria itu menatapnya.
"Tolong pergilah, Greg!"
"Maafkan aku!" Greg berdiri sempoyongan, melangkah keluar dari studio, pergi ke sisi jalan, hentikan taxi dan pergi.
Tinggalah Bellova dan Raymundo Alvaro terpisah sejauh dua depa.
"Akui saja bahwa untuk melihatku kamu ciptakan seribu alasan," tuduh Bellova.
"Aku hanya temukan alasan yang diperlukan! Tidak lebih, Bellova!"
"Tanpa kamu sadari, kamu provokasi aku dan mengikatku padamu."
"Bukankah kamu tak ingin pria kasar, kejam, egois macam aku?"
"Orang berubah kecuali kamu."
"Anggaplah aku sejenis mesin."
"Mesin tak peduli pada orang lain. Martabat siapa yang kamu jaga? Aku? Untuk apa? Tanggung jawab apa di pundakmu? Kamu menyukaiku dan terus menyangkalnya."
"Bellova, jangan berlebihan!"
"Lalu, mengapa tampakkan dirimu? Kamu berjanji tadi pagi tak akan bertemu denganku lagi!"
"Aku punya alasan."
Raymundo Alvaro berbalik menuju pintu. Bellova melangkah cepat menahan pintu sebelum Raymundo menggapai pengait pintu.
"Jangan pergi, aku mohon!" Bellova benar-benar ucapkan kata-kata itu. Menangis tanpa sadar. Ia ingin berlari pada pria kokoh dengan pengingkaran paling keras kepala yang pernah dilihat Bellova.
Tak ada tanggapan. Mereka hanya mematung. Raymundo hampiri Bellova, bersihkan pipi Bellova dari air mata yang jatuh. Pergi ke bibir mengelus halus.
"Greg berencana membawamu ke pernikahan tanpa sepengetahuanmu. Alasan aku datang."
"Aku tak peduli alasanmu. Jangan pergi! Aku tak akan pernah sama lagi jika kamu kembali nanti!"
Hening.
"Lalu, maukah kita backstreet?"
Pertanyaan logis untuk sadarkan Bellova. Raymundo Alvaro Mengangkat dagu Bellova tengadah padanya, ciumi kelopak mata Bellova.
"Sejauh pasir pergi ke tengah lautan, akan kembali pulang ke tepian. Jika aku takdirmu, aku akan kembali padamu, Bellova."
***
Semoga Anda masih suka membaca tiap chapter dan tak bosan berikan pendapat. See you in the next chapter.
Susah nulisnya karena hari Senin aku punya wedding dan dua hari ini aku sibuk beading (pasangi mutiara ke gaun) untuk final fitting di hari Sabtu.