
Terbangun di sebuah ruangan asing, mata masih sangat berat, kelopak mata seakan direkatkan oleh lem. Bellova rasakan pusing dan mual. Seorang wanita berseragam putih, bergerak lincah di sisi ranjang. Seseorang lain bersihkan tubuhnya.
"Kamu sudah bangun?" Sayup-sayup pertanyaan lembut.
"Jangan sentuh aku!" Bellova berkata lambat. Ingin membentak tapi tak cukup bertenaga. Ingin bergeser tapi terlalu lemah. Tak suka tubuhnya diraba.
"Aku Dokter Angel Gimenez dan ini perawat di sini, Norah Milan."
Bellova awasi Dokter, waspada. Cairan infus terpasang di sisi kiri dan Bellova sekali lagi tak mau terbelenggu pikiran gelap. Bellova ingat kejadian beberapa waktu lalu. Jenifer berusaha lakukan sesuatu padanya. Ia mendadak muntah-muntah.
Lama setelah semuanya kembali tenang. Bellova menatap ngeri pada paha yang terbuka.
"Apakah aku baik-baik saja?" tanya Bellova pelan. Tak berharap sesuatu buruk terjadi pada janin. Ingin memeriksa ke bawah, mendadak ngeri.
"Tahukah bahwa kamu sedang hamil?"
"Ya." Bellova menduga ia hamil dan ia tidak begitu yakin.
"Berapa kali kamu periksakan kehamilanmu?"
Bellova menggeleng pelan. "Tidak pernah."
"Apa kamu tidak harapkan bayimu?"
"Aku hanya terlalu sibuk." Dan terlalu takut.
"Maafkan aku."
"Apa yang terjadi? Apakah ...."
"Sangat menyesal aku sampaikan bahwa kamu kehilangan janinmu. Kami baru saja bersihkan bagian dalam rahimmu setelah prosedur aborsi."
Bellova pejamkan mata, larikan diri dalam labirin. Tak ingin temukan pintu keluar. Secara sengaja biarkan ia tersesat.
Bellova memang takut akan kehidupan tanpa harmoni dengan Raymundo Alvaro, tetapi ia tidak berharap akan sebuah kehilangan.
Bellova secara emosional berubah marah pada diri sendiri karena tak bisa selamatkan diri juga menjaga janin dengan baik. Secara skeptis menghujat diri sendiri karena tak serius inginkan bayi. Ia menyesal setelah kepergian janinnya.
Coba bernapas tetapi semakin ia berusaha, ia mati lemas di dalam. Jadi, ia hanya menutup mata.
Berbaring di ranjang berusaha pulihkan diri, Bellova hanya habiskan jam dalam lamunan panjang. Tahu dengan baik saat ia serahkan tubuhnya, sengaja menyimpan pria itu dalam tubuhnya, ia kemungkinan besar akan hamil.
Tanpa sadar mengingat ciuman demi ciuman. Seberapa keras ia berusaha taklukan pria beku agar bisa jangkau hati bak batu, kini berjanji tak akan sebodoh itu lagi, hanya perlu raih kembali waktu yang hilang untuk sembuhkan diri dan bangkit.
Bellova kembali terlelap. Lama dan panjang. Tak ada mimpi hanya sesuatu yang gelap dan hampa. Bellova terbangun beberapa saat kemudian ketika suara pria itu terdengar. Mengerang susah payah. Tak suka jika si pria seakan kendalikan hidupnya.
"Bolehkah aku membawa Bellova?"
"Tentu saja. Tetapi, Anda perlu tahu bahwa setiap wanita lalui tahapan berbeda untuk pulih. Mental dan psikis. Diperlukan sekitar 2 - 8 Minggu untuk kembalikan siklus M normal dan menyeimbangkan hormon dalam tubuh."
"Baiklah." Terdengar dingin.
"Pastikan obat dan antibiotiknya harus habis atau akan ada infeksi. Kejadian yang menimpanya mungkin akan berdampak pada psikologis pasien, harap hubungi psikolog dan psikiater untuk berkonsultasi."
"Terima kasih atas sarannya."
Lalu, Bellova masuk dalam gendongan, tangannya memeluk leher Raymundo Alvaro, tak kuasa menolak dibawa pergi.
Menit-menit berlalu dalam dekapan Raymundo Alvaro dan dengar percakapan-percakapan aneh. Mobil, berjalan. Lucio Vargas, sangat setia temani dirinya dan setia mengusik ketenangan Raymundo Alvaro.
"Aku lihat kamu tak percayai siapapun! Bahkan wanita yang bersamamu. Percaya pada seseorang itu penting. Aku pikir kamu tak akan berpaling dari Bellova, berharap sesuatu yang posesif darimu sama seperti kamu akan tembaki aku karena menyentuh milikmu."
Mende**** tidak suka.
"Kamu ribut seperti Ibuku!"
"Ya, aku ibu baptismu yang baru," sambut Lucio Vargas mengejek dari bangku depan.
"Berdiri di posisiku dan aku ingin tahu pilihanmu!"
"Aku akan netral, apalagi jika adikku bukan seseorang paling benar. Dan kekasih adik perempuanku bukan pria yang bisa dipercaya."
"Kamu sepupunya, kamu mungkin sama saja."
"Aku tak meninggalkan wanitaku dalam kesulitan. Jadi, kamu lebih mirip Oskan dibanding aku."
"Kamu tahu segalanya."
"Ya, dan beberapa hal yang tak kamu ketahui tentang Bellova."
"Anda buatku mual. Apakah kamu tak punya urusan lain?"
"Aku kuatir pada Bellova!"
"Tak perlu lagi, aku akan mengurus Bellova. Tolong pergilah!"
"Aku harus pastikan Bellova baik-baik saja."
"Kamu memantik pertikaian."
"Bellova belum sadar, aku akan mencegah pernikahanmu sampai Bellova siuman."
Berdecak di kuping Bellova. Irama jantung di telapak tangan Bellova dan ada belaian halus di puncak kepala Bellova. Mungkin Bellova terlalu banyak disuntik bius hingga ia mulai berimajinasi.
"Jika aku ingin menikahi Bellova, tak ada satu orangpun bisa gagalkan niatku."
"Kecuali Bellova sendiri!" sambar Lucio Vargas. "Dilihat dari tingkat kekecewaan saat kamu tak datang menjenguknya, kamu tak akan mudah dapatkan persetujuan Bellova."
"Lucio Vargas, aku sedang berduka."
"Apa aku peduli? Biarkan Bellova bersamaku, aku akan bawa Bellova ke rumahku di Sao Vicente dan Bellinda akan mengurusnya. Bellova akan sepakat. Cheryl juga akan sangat senang bertemu Mommy."
"Ada banyak wanita untuk dikencani, jangan ganggu milik orang lain."
"Terlihat jelas alasanmu nikahi Bellova secepat kilat."
"Tepat sekali," balas Raymundo tajam.
"Aha, begitukah? Kamu takut Bellova memilih bersamaku?"
"Turunkan pria ini di depan!"
Bellova dengar perintah dingin itu. Bellova angkat kepala, menengok sedikit pada wajah di atasnya. Tertawa sinis dalam hati. Ia berhasil membuang cinta, jauh lebih banyak dari yang ia duga. Atau ia hanya menekannya jauh ke dasar sanubari. Rahang si pria terus bergerak-gerak, terlihat tak ingin terpancing Lucio Vargas.
"Aku akan ikut ke kediaman Anthony. Nyonya Queena Anthony mengundangku makan siang sebagai ucapan terima kasih."
Raymundo mengunyah rahang lebih keras. Apakah pria ini akan menanduk Lucio Vargas?
"Queena tak serius! Itu hanya basa-basi."
"Tawaran Queena tiga kali."
"Jika itu maumu, tolong tutup mulutmu. Kami tak suka serigala yang terlalu banyak melolong."
"Aku tak peduli padamu, Tuan Raymundo Alvaro. Lagipula, aku seekor elang bukan serigala."
Raymundo memilih diam. Kuatkan pelukan pada Bellova. Lucio Vargas sengaja buat Raymundo jengkel. Mereka sampai di kediaman Anthony. Tak ada Nyonya Gracia sebab Gracia Anthony harus pergi ke tempat kakaknya bersama Viviane untuk pembatalan rencana pernikahan atau teruskan pernikahan, tak ada yang tahu strategi Gracia Anthony. Viviane terus uring-uringan setelah Raymundo menarik diri, takut tak dapatkan harta warisan.
Jika Bellova tak salah, ia menangkap suara prihatin Irishak juga suara anak-anak yang diminta jaga ketenangan.
Bellova menggulung diri makin terperosok dalam mimpi. Dari awal Bellova memang ketakutan jika sampai punya bayi karena tak akan bisa berikan kehidupan ideal. Tak ingin anaknya alami apa yang Cheryl alami.
Bellova dibaringkan di atas ranjang empuk di dalam kamar Raymundo Alvaro. Queena pasangi infus dan beri instruksi begini, begitu pada Raymundo Alvaro.
"Oh, aku akan merawatmu dengan baik." Queena mengusap kening Bellova berikan ketenangan juga kedamaian. Seakan Bellova bayi. "Aku akan buatkanmu makanan yang enak. Saat ini, tidurlah. Turut berduka cita untukmu."
Raymundo Alvaro bukakan pintu kaca ke taman, biarkan udara segar masuk.
"Jangan terlalu lebar, Tuan. Bellova bisa kedinginan," tegur Queena pelan. "Jangan pergi dari sisinya, 24 jam." Kali ini sedikit keras.
"Aku harus pergi ke rumah sakit."
"Bukankah Helena bisa bersama Ibu dan Oskan Devano sementara waktu? Lagipula Helena dijaga banyak dokter. Beberapa pengawal kita juga pergi ke sana. Bellova butuhkan dirimu dan kamu butuh Bellova. Berhentilah keras kepala!"
Queena keluar dari ruang tidur Raymundo Alvaro. Bellova kembali terlelap di bawah anak mata tajam. Ia tak sukai tidur. Saat mata terpejam, ada ritme kelabu di kepalanya. Ia tak ingin jadi satu-satunya yang menderita, tetapi tak tahu harus bagaimana.
Bellova buka mata perlahan.
"Apakah kamu rasakan sesuatu?" tanya Raymundo dan Bellova benci pada wajah tak berekspresi itu.
Bellova tak menyahut, tak ingin menatap Raymundo Alvaro, putuskan berbalik ke sisi lain. Kembali pejamkan mata. Ia mengabaikan segala hal dan hanya berbaring. Ia harus segera pulih dan berlari dari Raymundo Alvaro.
Malam merambat naik, Queena secara berkala datang menjenguk juga memeriksa keadaan Bellova. Mengajaknya ngobrol.
"Bisakah Anda bersama Bellova sebentar, Nyonya?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku perlu antarkan uang untuk Ibu."
Queena tak menolak. "Baiklah."
"Apakah kami boleh bergabung?" Irishak melongok dibalik pintu setelah bunyikan bel.
Masuk karena pintu terbuka. Juan Enriques dan Kareniña Luciano, mengekor dengan sikap tersopan yang bisa dipamerkan. Layak dapatkan pujian. Atau karena Tuan Enrique Diomanta di belakang, awasi sikap keduanya. Menggiring seperti gembala menggiring domba.
"Hai, Tuan Raymundo," sapa Juan Enriques. Nina membeo.
Keduanya adu kepal dengan Raymundo Alvaro dan tampak dewasa ketika berdiri di sisi ranjang.
"Semoga Anda segera sembuh, Nona Bellova," ucap Juan Enriques kikuk.
"Ya, Nona Bellova. Semoga cepat sembuh." Nina tambahkan menaruh bunga segar di atas nakas.
"Terima kasih," sahut Bellova pelan, tersenyum tipis. Anak-anak yang manis.
"Semoga cepat sembuh, Bellova. Aku sampaikan turut berduka cinta untuk kehilanganmu," kata Tuan Enrique Diomanta. "Ayo anak-anak, kita akan menunggu di luar karena Nona Bellova harus beristirahat," tambah Tuan Enrique lagi.
"Sampai jumpa, Nona Bellova!" lambai Nina.
"Raymundo, mari pergi bersama."
Enrique Diomanta keluar lebih dulu. Raymundo ikut dari belakang. Axel Anthony menunggu di ruang tengah.
"Apakah kamu temukan sesuatu?"
Raymundo menggeleng. "Ya, BM identifikasi tiga pria."
"Biarkan polisi bekerja." Tuan Enrique Diomanta mengelus kening.
"Anda berdua benar. Aku hanya harus ke rumah sakit sebentar untuk antarkan sejumlah barang."
"Tidak. Jangan tinggalkan Bellova!" cegah Axel Anthony. "Minta seseorang penuhi semua kebutuhan Nyonya Beatrix dan Helena. Apakah bajingan itu serius ceraikan istrinya yang koma? Aku suka kesal jika ingat padanya."
"Ax benar, jangan tinggalkan Bellova. Ini rumit. Oskan Devano dan Lucio Vargas berasal dari São Vicente. Sangat disayangkan karena Adele Diomanta dan Yves Devano adalah teman baik."
"Lucio Vargas tak terlibat apapun," kata Raymundo.
Benar sekali, negara ini tak cukup luas dan orang-orang kelas atas ciptakan circle dan korelasi.
Tak punya pilihan, ketiganya duduk di ruang tengah, minum kopi dan tak banyak bicara.
"Kita akan mengirim seseorang untuk 'bersihkan nampan'," kata Axel tegas, menatap Raymundo tak mau dengar pria itu membantah.
"Jangan ambil langkah apapun, Romeo!" tambah Tuan Enrique.
"Baiklah."
"Awasi Romeo, Ax!" Enrique Diomanta seakan tahu sesuatu yang tersusun rapi di kepala Raymundo Alvaro.
Irishak dan suaminya kemudian pamitan dan Niña seperti biasa ingin bersama Juan Enriques.
"Oh bisakah kamu tinggal?" tanya Queena memelas pada Niña.
"Kami akan melihat pemerahan susu sapi besok, Mom. Sore, aku akan kembali kemari. Juan Enriques akan ikut menginap di sini."
Apakah dua bocah itu akan kemana-mana bersama?!
"Baiklah, semoga malam Anda berdua menyenangkan," ujar Queena mengecup Niña lalu Juan Enriques.
"Ini yang terakhir, Queena. Aku tak ijinkan-mu dan Irishak menciumku lagi. Bagaimanapun aku sudah besar sekarang!" protes Juan Enriques.
"No no no, bagiku kalian berdua tetap bayi yang manis," tolak Queena tambahkan intensitas mengecup Juan Enriques bahkan cubiti pipi Juan yang manyun hingga anak itu memilih berlari pergi. "Malam, Queena. Semoga mimpimu indah."
Raymundo Alvaro tinggalkan ruang tengah ketika semua orang pergi. Semakin banyak kerumitan, hati semakin keras bak batu.
Masuk ke dalam ruang tidur, amati Bellova yang nyenyak. Ia menelpon.
"Halo, Romeo?"
"Temukan lokasi mereka?"
"Ya."
"Tuntun aku ke sana!" Masuk ke ruang ganti Nyalakan loudspeaker, lepaskan jaket. Menarik kaos.
"Jangan tinggalkan Juliet. Ya Tuhan, kita bisa kirimkan A - Z kecuali R, untuk berburu."
"BM?"
"Mr. Owl mengancamku dan Piglet berikan peringatan keras."
"Aku butuh pengalihan energi."
"Ada banyak jenis pengalihan energi. Berlari, berenang, pecahkan tembok, atau ..., sesuatu yang lebih alami, lembutkan nuranimu."
"Jangan bercanda, aku sedang kesal." Raymundo pergi ke balik rak, pencet tombol dan rak-rak terbuka. Senjata berjejer di sana. Mengambil satu pistol.
"Ayolah, curahkan kasih sayangmu pada Juliet. Cara paling produktif habiskan energimu. Mulailah dengan menyikat rambut lalu bantu Juliet dengan sikat gigi, hal-hal bersifat merangsang pertumbuhan ikatan lahir batin di antara Romeo juga Juliet. Ini klise tapi efektif dan efisien."
"Beritahu aku sasaranku!" sambar Raymundo dingin. Mengisi peluru.
"Baiklah," sahut BM tak punya pilihan lain selain serius. "Sasaran pertamamu ...."
"Ya?"
"Sepuluh langkah panjang darimu. Belok kiri. Selamat malam!"
"Ei ei ei, jangan bercanda!"
"Permainan akan dimulai besok malam tanpa R. Aku tak bisa abaikan ancaman Mr. Owl."
"Mari selesaikan malam ini!"
"Bye, Romeo. Ruangan tidur Anda lockdown in 5 seconds. 5, 4, 3, ...."
"Hei ...." Raymundo Alvaro berlari panjang ke arah pintu kamar. "2, 1. Click. Pintumu aku sandera, Romeo."
"Kali ini kamu keterlaluan!"
Bellova jelas terbangun dan mengangkat kepala saat Raymundo Alvaro mengumpat di depan pintu kamar. Terlihat kurang waras.
"Hei, berhenti bercanda!"
"Pintu akan diaktifkan kembali pukul 06.00 pagi. Selamat malam, Romeo dan Juliet."
"Oh, shits!"
Raymundo Alvaro termangu setelah tombol di pintu kamarnya macet. Menekan berulang kali. Menelpon berulang kali, bagaimana jika Bellova butuh makan, misalnya? Namun, ketika pandangan membentur meja di dekat sofa, sadari Axel Anthony telah mencegat langkahnya.
Bellova jatuhkan kepala dibantal. Raymundo Alvaro sepertinya temukan sesuatu dan ingin pergi. Bellova tak begitu peduli.
Raymundo berdecak panjang. Terkejut ketika Bellova bangkit dari ranjang, mendorong infus dan tertatih-tatih pergi ke toilet. Menyusul Bellova, ulurkan tangan.
"Biarku bantu!"
"Aku bisa sendiri!" sahut Bellova ketus.
"Jangan keras kepala."
Bellova tak peduli, hanya terus melangkah bertumpu pada tiang infus. Raymundo jadi tak sabaran, menggendong Bellova ke toilet. Tak terima protes. Raymundo mengambil kaos ketika Bellova di kamar mandi. Masukan kembali senjata ke rak. Mengumpat sebelum kembali ke ruang tidur.
"Anda bisa pergi, aku bisa pergi. Aku sangat ingin pergi darimu!" Bellova bersandar di pintu kamar mandi.
"Tak ada yang boleh pergi!"
Raymundo Alvaro datangi Bellova, menggendong Bellova kembali ke ranjang. Raymundo duduk di tepi ranjang setelah mengatur Bellova agar nyaman.
"Aku tak mau menikah denganmu."
Pernyataan tegas Bellova semacam cambukan cemeti bagi Raymundo Alvaro. Sekilas terkejut lalu mengubah ekspresi wajah, jadi datar.
"Aku tak minta pendapatmu."
"Pendapatku penting, karena yang kamu ajak nikah itu, aku!" balas Bellova tajam.
"Aku tak peduli pada pendapatmu. Kita hanya akan menikah."
"Aku tak mau."
"Aku menutup kasusnya. Ucapan terima kasihmu adalah dengan jadi pengantinku."
"Jangan paksa aku karena aku tak mencintaimu lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dan tak akan pernah. Aku terluka amat sangat dalam dan enggan terlibat lagi dengan hal-hal mengenai cinta."
"Bellova, kamu bukan satu-satunya yang berhenti cintai seseorang," sahut Raymundo tajam. "Aku juga tak bisa terus cintai seseorang yang sakiti adikku. Tetapi, aku tak bisa biarkanmu di penjara. Kita akan menikah."
"Tidak, aku tak ingin dirimu!" hardik Bellova kasar.
"Aku tak peduli pada keinginanmu!"
"Kamu kejam, tak berperasaan, obsesif, apatis dan awh ... awwwhhhh ...."
Bellova berhenti bicara hanya merintih pelan. Meremas selimut kuat dan pejamkan mata.
"Bellova?! Apa sesuatu terjadi?" tanya Raymundo panik. Datangi Bellova, tangannya pegangi tangan Bellova. Kebingungan.
"Bellova?! Apa yang terjadi?!"
"Jangan ganggu aku! Menyingkir dariku!" tolak Bellova bernapas satu-satu menahan sakit.
"Berhenti menjerit!"
Oh sialan, mengapa BM harus matikan sistem kerja pintu ruang tidurnya? Ia jadi tak bisa memanggil Queena. Rutuk Raymundo.
Berlari ke meja ambilkan segelas air. Memaksa Bellova duduk tegak dan minum air. Menaruh gelas, menyibak selimut. Menarik Bellova ke dalam lengannya lalu berbaring hati-hati. Memaksa hingga Bellova menyerah.
"Aku benci padamu! Bisakah kamu mengerti?"
"Baiklah!"
"Pergilah dari hidupku!"
Raymundo menarik selimut dengan kaki panjangnya.
"Tidak akan!"
"Apakah setidaknya kamu sedikit menyesali sikapmu padaku? Seorang pel***r menciumku dan buatku kehilangan janinku."
"Jika kamu tinggal diam di kamarku malam itu, kamu tak akan kehilangan apapun!" Meskipun ucapkan penyangkalan, Raymundo tertangkap sangat murka.
"Aku harus melihat kakakku!"
"Kamu bisa menungguku!"
"Baik. Lupakan. Aku tak mencintaimu lagi!"
"Kamu sungguh-sungguh?" Raymundo menyipit.
Tengadahkan wajah Bellova yang berusaha berpaling, tak suka mata terbaca. Memaksa Bellova menatap padanya.
"Kamu takut matamu bicara padaku?" tanya Raymundo Alvaro lagi.
Menuntut jawaban atau dia akan mulai mencarinya sendiri ketika Bellova tak menjawab. Menunduk dan miringkan leher, mencium Bellova. Ditolak, ditepis Bellova tapi pria itu adalah si Tuan Pemaksa.
Perdalam ciuman perlahan-lahan, penuh penekanan, tak peduli Bellova tak merespon. Menyesap sebanyak yang ia inginkan seakan minta Bellova lupakan kekerasan yang ia dapat kemarin malam. Hanya boleh mengingat ciuman darinya saja.
"Bellova," guman Raymundo melirih, bernapas di atas kelopak mata Bellova. Berakhir di puncak hidung Bellova. "Aku tak peduli kamu mencintaiku atau membenciku! Aku hanya akan menikahimu."
***
Tinggalkan pendapatmu tentang chapter ini!