
Pagi, ketika Bellova terbangun dalam lengan Raymundo. Tengkuknya sedikit pegal.
"Mengapa Oskan mengganggu keluargamu?" tanya Bellova. Ini penting.
Ekspresi Raymundo segera berubah. Pria itu lepaskan Bellova, berbalik dan segera tengkurap. Raymundo mengatur kepalanya di atas bantal, mendengus gusar. Bellova menarik selimut tutupi dadanya.
Hening.
"Aku ingin tahu. Oskan tak pernah terlibat dengan kejahatan."
Cih ....
Bellova bisa melihat seringai sinis di wajah Raymundo Alvaro. Bagaimana mungkin Bellova bisa berpikir Oskan tak terlibat kejahatan.
"Ceroboh." Raymundo Alvaro dalam sekejab kembali jadi pribadi itu. "Apakah setelah kamu tahu, kamu akan ijinkan aku membunuh Oskan Devano?" kata-kata Raymundo agak ketus.
"Aku hanya ingin lindungi Belliza dan Cheryl."
"Bangunlah!" Raymundo berbalik dan bangkit. Ia Menoleh pada Bellova."Aku akan buatkan sarapan. Kita bisa pergi setelahnya."
Lebarkan selimut dan berpakaian, Raymundo Alvaro keluar dari tenda. Bellova bangun sedikit payah. Ia merasa tubuhnya seakan habis dipukul dengan pengibas kasur. Tahu pasti bahwa bagian bawah tubuhnya bengkak.
Berpakaian, rapikan tenda. Temukan banyak noda di atas penutup matras. Menggulung seprei, menimang. Apakah perlu ia bawa ke mesin pencuci? Diurungkan. Ia akan kembali setelah bersihkan dirinya. Bellova meraih tas. Keluar dari tenda, terkejut dapati Raymundo Alvaro berdiri seperti penjaga tenda. Tanpa kata meraih lengan Bellova menggiring ke kamar mandi.
"Penutup matras sedikit bernoda," kata Bellova.
"Aku akan mengurusnya, nanti."
Raymundo Alvaro masuk ke bawah pancuran, menarik Bellova bersamanya, hanya bersihkan tubuh. Tinggalkan Bellova setelah dirinya sendiri selesai.
Sedang Bellova menatap tubuhnya di cermin besar setelah mandi, temukan banyak bekas merah di dada juga leher. Ia mengerang, tak punya atasan turtleneck, hanya kaos. Satu-satunya cara adalah biarkan rambut tergerai, mengaturnya agar tutupi leher.
Keluar dari kamar mandi, Raymundo Alvaro di dapur. Dua orang asisten rumah tangga berdiri di pojok amati Raymundo yang sibuk.
"Apakah Anda butuh bantuan, Tuan Alvaro?" tanya Bellova.
Raymundo berpaling padanya.
"Bellova? Sudah selesai?"
"Ya."
"Anak-anak suka churros dengan saos cokelat. Apa yang kamu suka untuk sarapan, Bellova?"
"Sereal saja, Tuan."
Mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan. Bellova bolak balik bawakan sarapan. Menolak Irishak Bella yang ingin membantu.
"Terima kasih untuk sarapannya, Nona Bellova." Niña tersenyum cerah. "Bisakah kita main game lagi hari ini?"
"Di luar mendung, Sayang," sahut Tuan Hellton Pascalito. "Kita bisa main game satu dua jam dan kalian berdua perlu belajar setelahnya."
"Ya, H benar. Besok Anda berdua harus ke sekolah, Sayang," sambung Axel Anthony.
"Oh Daddy, mengapa anak seusia kami harus bersekolah dari Senin sampai Jumat dan dari pukul 7 pagi sampai pukul 3 sore? Bukankah itu berlebihan? Kami cuma anak-anak! Ya Tuhan, kami butuh bermain."
Axel Anthony berdecak.
"Bukankah kalian lebih banyak bermain di sekolah? Bahkan jika ada peringkat untuk jahili orang, kamu dan Juan Enriques juara satu Nona Usil?"
Niña terkekeh.
"Niña usil jika sedang bosan, Mr. Owl."
"Dan kamu mengikutinya?"
"Ya, karena usil itu menantang," sahut Juan Enriques.
"Kreatif!" sambung Irish Bella memutar kedua bola matanya. "Beruntungnya sekarang aku dan Queena tak perlu menghadap kepala sekolah jika timbul kerusuhan."
"Ya, itu bagus Irishak. Suamimu akan lakukan itu untukmu." Hellton Pascalito menanggapi ucapan istrinya.
"Tentu saja, Sayang. Kami telah lakukan selama berbulan-bulan. Terima kasih sudah membantu."
Queena terkekeh geli.
"Baiklah, jangan lekas kesal. Nina dan Juan Enriques akan dididik dengan disiplin tinggi," bujuk Hellton Pascalito mengerling pada Juan Enriques dan Niña.
"Oh, Tuhan aku ingin punya bayi perempuan yang lembut seperti Aruhi dan manis seperti Arumi Diomanta."
"Ya terima kasih. Aku sangat bangga padamu."
"Para pria memang terlahir sedikit brutal, jika mereka lemah lembut bukankah mereka akan diteriaki bencong?"
Irishak tersedak liurnya sendiri, lekas batuk-batuk. Tertegun pada Juan Enriques.
"Darimana kata itu? Brutal? Gunakan kata-kata yang pantas untuk anak seusiamu, Juan Enriques!"
"Komentator mengatakan brutal di pacuan kuda dan dalam ring tinju."
"Juga dilarang menonton adegan kekerasan!"
"Arumi Diomanta ada di landasan pacu dengan Aorta, mengapa kami tak boleh melihatnya?"
"Maksudku ring tinju." Irishak berpaling pada suaminya. Tatapan menyerang. "Anak-anak perlu bimbingan orang tua saat menonton channel tertentu, Tuan Diomanta."
"Oh, ya Tuhan. Kami hanya menikmati keseruan para pria, Irishak."
"Pria ini masih tujuh tahun," sambar Irishak dingin.
"Baiklah. Juan Enriques hanya akan menonton acara Barbie ulang tahun dan bagaimana cara menyisir rambut mulai besok."
Bellova masuk tepat waktu bawakan teh sekaligus akhiri perdebatan di meja makan. Namun, sepertinya perdebatan akan terus berlangsung lain kesempatan.
"Bagaimana tidur Anda, Nona Bellova?" tanya Axel Anthony penuh perhatian. "Semoga Anda nyaman di tenda."
Bellova sedikit tersedak. Tanpa sengaja mengatur rambutnya.
"Ya, sangat menyenangkan," sahut Bellova sedang Raymundo Alvaro tampak datar dan kaku seperti biasa. Mengunyah sarapan tenang.
"Sering-seringlah berkunjung, Bellova. Kami akan sangat senang," ujar Irishak diikuti anggukan Queena.
"Anda akan sering bawa Bellova kemarikan, Tuan Raymundo?" tanya Queena.
"Bellova sangat sibuk mengajar, Nyonya."
"Oh, sayang sekali."
"Maafkan aku, hari ini aku harus pulang," kata Bellova setelah sarapan usai.
"Begitukah?" Queena tampak keberatan.
"Maafkan aku, Queen. Aku akan berkunjung saat liburan."
"Apakah Tuan Raymundo juga akan pergi?" Kareniña lekas murung.
"Tidak, Niña. Tuan Alvaro hanya akan antarkan aku ke bandara dan kembali kemari."
"Baiklah, terima kasih telah berkunjung, Nona Bellova." Nina tambahkan kembali berseri-seri.
Begitulah akhirnya Bellova tinggalkan Lembah Tena setelah pamitan pada seluruh anggota keluarga. Paham alasan Raymundo menyebut orang-orang ini keluarga. Mereka sangat hangat dan peduli satu sama lain.
"Aku pergi, terima kasih untuk malam menyenangkan."
"Em, ya. Maaf tak bisa temanimu." Raymundo Alvaro singkirkan rambut dan memeriksa leher Bellova. Ia lilitkan syal di leher Bellova.
"Tak masalah. Sampai jumpa." Bellova berjinjit mengecup Raymundo Alvaro di bibir pria itu. Ia pergi ke dalam setelah melambai, menghitung langkah berharap setidaknya Tuan Alvaro menahannya dan katakan sesuatu. Ingin berbalik dan melihat, apakah pria itu masih di sana?
Bellova kebingungan pada diri sendiri, tak tahan ia berbalik di mana ia tinggalkan Tuan Alvaro. Jika pria itu masih di sana, Bellova mungkin akan berubah pikiran. Namun, Raymundo Alvaro tak kelihatan. Di bandara yang belum ramai, mata mencari-cari.
Menghela napas panjang. Bellova lanjutkan langkah. Sesekali masih menengok. Takdir menulis kisahnya dan Raymundo Alvaro semalam. Pagi ini, takdir akhiri kisah mereka. Bellova menatap ke depan. Ia berdoa dan berharap temukan seseorang yang akan mencintainya sepenuh hati. Seorang pria yang akan mengikat takdir dengannya dan tak bisa lepaskan diri darinya.
Langit Zaragoza kelabu dan Bellova hendak tinggalkan Spanyol. Ia berencana pergi ke Barrancos bertemu Cheryl dan menunda pulang ke Santa Cruz hingga Senin. Tetapi Oskan menolak panggilannya.
Apa yang terjadi? Raymundo Alvaro telah berjanji akan jauhkan Helena dari Oskan. Namun, mengapa Bellova tak yakin? Duduk di kabin dengan sejuta hamparan pertanyaan di benaknya. Hanya bisa ucapkan doa untuk kebahagiaan semua orang. Tak bisa mengusir raut Raymundo Alvaro yang bergairah padanya semalam tadi. Bersemu merah tetapi juga sedih karena pria itu menghilang dengan cepat.
Menoleh ke luar jendela pesawat saat pesawat tinggalkan apron berpindah ke runaway Tersentak kaget ketika temukan pria itu berdiri tak jauh dari petugas bandara yang melambai awasi pesawatnya.
Raymundo Alvaro tak bergerak, hanya tegap seperti patung. Dibalik kaca mata gelap, tak ada yang bisa menebak apa yang pria itu pikirkan. Bellova menahan napas. Berkedip untuk pastikan penglihatannya.
Berusaha melihat Raymundo Alvaro, mengisi debaran aneh di dada. Tidak mungkin tinggalkan pesawat dan turun ke bawah, meskipun ia mendadak ingin lubangi atap pesawat agar bisa terbang pada Raymundo Alvaro dan katakan pada pria itu bahwa, ia mulai menyukai sikap posesif Raymundo Alvaro.
***
Wait Me Up ....
Tinggalkan komentar Anda....