My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 49. Black Love Segmented


Be my lady, be the one for me


I will hold you into my arms and never let you go....


Bellova tersipu-sipu dan berbunga-bunga saat seseorang yang terlihat datar dan kejam, menggenggam tangannya dan mereka menyusuri Miradoura dos Frades, di mana hortensia bermekaran sangat indah di tepi jalan.


"Mari mulai hidup baru yang indah, Bellova."


Bellova mengangguk. Pria di hadapannya tidak setampan Lucio Vargas, tetapi hanya pria ini satu-satunya yang bisa buat Bellova melambung kemana-mana. Satu kembang hortensia kebiruan diselipkan di atas kuping dan rambutnya diikat dengan pita putih. Mereka bertatapan di latar belakangi samudera Atlantik.


"Aku mencintaimu, Bellova."


Bellova mengangguk sangat bahagia, mereka berciuman. Tangan Bellova telusuri dada bidang dibalik jaket hitam kulit. Dingin, sangat dingin.


Lalu ....


Tangan meraba-raba di sisi ranjang. Kosong juga dingin. Bellova sontak buka mata.


Shits!


Just a dream?!


Kesadarannya kembali, napas tercekat kemudian panik karena sendirian di ranjang.


"Cheryl?!"


Bellova menampar pipi sendiri karena tidur terlalu lelap hingga telat bangun. Bergegas turun dan tinggalkan ranjang, ia berlari tergesa-gesa karena panik.


"Cheryl?! Cheryl?!" panggil Bellova.


Jantungnya hampir meledak. Ruang tengah kosong begitupula ruang makan. Bellova pergi ke dapur di mana aroma roti dan susu begitu pekat.


"Mommy?"


Cheryl dan dua kepala berukuran lebih besar serentak menoleh. Begitu pula pria bercelemek yang sedang sibuk masak.


"Morning, Mam ...," sapa Niña ceria diikuti Juan Enriques.


"Mommy?"


Bellova tertegun beberapa saat, mengatur detak jantung yang kacau.


"Mommy?! Uncle Ray buatkan kami sarapan menakjubkan. Omelet karakter." Cheryl pamer plates di mana omelet berbentuk bulat, ada dua titik saus untuk mata dan lengkungan smile yang sangat lebar.


"Ada apa denganmu?" tanya Raymundo heran, Bellova seakan sedang mengigau.


"Harusnya Anda bangunkan aku."


"Aku bangunkan Mommy tadi pagi. Tetapi, Uncle Ray bilang Mommy sangat lelah dan lelap. Jadi, Uncle menggendongku ke dapur dan siapkan sarapan." Cheryl sangat fasih bicarakan kegiatan bersamanya dengan Raymundo dan merajut hubungan akrab. "Uncle juga hadiahkan ini padaku," pamer jemarinya, "dan bertanya, maukah aku jadi puterinya?"


Bellova termangu.


"Apakah hanya Cheryl saja yang akan jadi Puteri Anda, Tuan Ray? Aku dan Juan Enriques?" Niña cemberut dari satu sisi meja.


Raymundo berdecak panjang, Niña sangat cerdas, kritis juga sangat ingin di manja. Raymundo baru saja akan bicara ketika Axel Anthony dan Queena bergabung.


"Ramai ya, pagi kita?"


"Manis sekali," puji Queena manggut-manggut pada Raymundo. "Tiga orang bocah dan seorang pria besar. Anda luar biasa, Uncle Ray."


"Tentu saja. Lucio Vargas tak ada bandingannya dengan Raymundo Alvaro. Jika saja ada yang bisa berikan penilaian secara adil dan berimbang," ujar Axel Anthony tanpa ekspresi dan mengambil tempat di sebelah Juan Enriques.


"Oh, wow ..., hebat sekali, Sayang. Kamu terdengar jealous pada Tuan Vargas. " Queena bertepuk tangan tanggapi ejekan suaminya. Axel Anthony kedipkan bahu cepat, perhatikan anak-anak kembali pada Queena.


"Tentu saja, istriku lebih memuja pria lain ketimbang suaminya. Jika aku tak cemburu, bukankah itu pertanda buruk?"


"Ya, baiklah. Aku memujamu, Suamiku."


"Siapa yang kamu sukai saat hamil Niña? Bukankah wanita hamil hanya harus ngidam makanan dan buah-buahan?"


"Ini berkaitan dengan psikologis, Sayang. Aku suka pelototi Lucky Luciano saat hamil Niña. Lucky tinggalkan fotonya agar bisa aku pandangi. Aku menyayangi Lucky Luciano karena pria itu selalu ada untukku di masa-masa sulit."


Semakin buruk saja. Axel Anthony menyipit ingin ungkapkan isi hati terpendam, mencari kata paling cocok.


"Dari semua pria hanya Axel Anthony yang aku puja dalam tidurku dan hatiku. Hmmm?! Apakah belum cukup?" goda Queena kerlingkan kedua mata jenaka.


"Aku pikir hanya Irishak dan Daddy-ku saja yang suka berdebat?" gerutu Juan Enriques selesai dengan omelet.


"Semua orang dewasa berdebat. Kadang mereka bertengkar masalah sepele, juga saling meneriaki jika tidak puas." Niña menyambar.


"Aku harap kita tidak perlu tumbuh dewasa dan bersikap konyol."


"Selama kita satu misi, sepertinya kita akan baik-baik saja."


Pelajaran berharga, jangan pernah berdebat di meja makan di hadapan anak-anak, apalagi jika mereka sangat konsumtif juga punya banyak kosa kata hebat sebagai lambang kecerdasan.


"Makanlah dalam diam dan pergilah menonton kartun setelah ini. Kita akan bertemu satu jam lagi untuk belajar bersama." Queena peringatkan para bocah.


"Bolehkah kami minum sesuatu yang manis, Romeo?" tanya Juan Enriques.


"Ya, 15 menit lagi. Deborah akan antarkan camilan dan jus."


Anak-anak berdiri tinggalkan bangku. Cheryl datangi Bellova dan minta digendong. Mengecup Bellova sebanyak yang dimau. Saat hendak pergi, Cheryl berkata lagi.


"Bukan hanya aku, Mommy juga punya cincin. Hadiah dari Uncle Ray."


Bellova tercengang, lekas-lekas mengangkat kedua tangannya dan temukan cincin di jari tengah tangan kanan, melingkar di sana. Cincin bermotif sulur sederhana dan dari tampilannya adalah sesuatu yang tak suka basa-basi.


"Bye ... Mommy."


"Owh?!"


Bellova mengangkat wajah dan amati Raymundo Alvaro yang sibuk mengaduk dadar. Pria itu juga memakai cincin yang sama di tangan kanannya.


"Jadi, kalian diam-diam bertunangan?" tanya Queena.


"Ya, semalam," sahut Raymundo Alvaro penuh keyakinan tanpa menoleh pada Bellova.


"Aku tak tahu," sergah Bellova tajam hingga Axel Anthony dan Queena bertukar pandang.


"Tidak tahu?" tanya Queena tak sembunyikan raut keheranan dan bingung. Bagaimana bisa ada orang lamaran dan salah satu pihak tak tahu?


"Aku melamar Bellova saat dia tidur." Raymundo membela diri.


Jawaban Raymundo terdengar masuk akal tetapi Raymundo sukses buat ketiga orang yang dengar mendadak bengong. Terlebih Bellova. Ia kehilangan kata-kata.


Apakah ada satu kata tepat gambarkan kepribadian Raymundo Alvaro?


Oh, seseorang jawab aku! Bellova menjerit dalam hati. Apakah Nyonya Beatrix Alvaro mengunyah batu laut saat hamil pria ini?


"Apa ada yang salah?" tanya Raymundo saat reaksi semua orang sama. Terpana padanya.


"Bagaimana jika jawabanku, tidak?" Bellova bendung gusar di seluruh tubuhnya.


"Tidak?!" Raymundo matikan tungku. Pajang wajah datar sangat rata seperti lempengan omelet yang ia buat. "Mengapa tidak?" Raymundo tekankan dua kata tanya itu.


Bellova kelu. Bagaimana ia bisa menyukai pria menyebalkan ini? Sangat egois karena nikmati momen berharga sendirian.


Gestur tubuh Bellova pasrah. Hanya tak habis pikir.


"Duduk dan sarapanlah! Kamu boleh menghirup udara segar hari ini dan bisa pergi ke studio. Aku akan antarkanmu dan Cheryl karena aku harus berada di kantor untuk rapat."


"Tindakanmu tak bisa dibenarkan, Tuan Raymundo. Apa Anda sama sekali tak sadari kekeliruan ini?"


Bellova berani protes dan kini dua mata beradu pandang.


"Ampuni dia, Bellova. Pria ini tidak suka hal-hal yang populer," pinta Axel Anthony iba pada Raymundo Alvaro. Axel Anthony juga pria dingin, datar, tak suka ekspresi berlebihan dan kaku, tetapi Raymundo Alvaro memboyong semua piala. "Ini sejarah baru. Melamar kekasih saat lelap."


"Oh, ini tidak bisa dibenarkan. Anda sangat egois. Wanita punya imajinasi tentang momen - momen seperti lamaran, tunangan dan bahkan ciuman. Mana bisa Anda pakaikan cincin dan melamar sedang wanitanya terlelap dan tidak sadar ia dilamar?"


Queena jelas-jelas menentang Raymundo dan Axel Anthony, wakili isi hati Bellova.


"Tak mengapa Queena. Aku akan mandi." Bellova berbalik pergi.


"Mari sarapan bersama," balas Raymundo.


"Tidak, terima kasih. Aku kekenyangan."


Raymundo tak menahan diri menggaruk belakang kupingnya. Mata ikuti Bellova yang menghilang di pintu dapur.


Queena gelengkan kepalanya berulang kali.


"Aku tahu bahwa kamu, Axel dan Tuan Hellton sangat kaku, tetapi bukan berarti harus menjelma jadi balok es. Ya Tuhan, momen manis perlu dibagikan dan dirasakan oleh kedua belah pihak. Apa rasanya sematkan cincin pada Bellova sementara wanita malang itu nyenyak? Apakah Anda juga bertanya, will you marry me?" Queena menyipit. Mulutnya sedikit menganga saat Raymundo diam tak berkutik. Queena menerka dengan benar. "Oh ya Tuhan, kamu semanis anggur stroberi juga sepat dan pahit seperti obat patah tulang."


"Kamu perlu membujuk Bellova," saran Axel Anthony. "Hanya karena kamu dan Bellova saling mencintai, bukan berarti kamu skip bagian penting ini darinya."


Raymundo menghela napas panjang.


"Aku tak suka ribet," jawab Raymundo berpikir, letak kesalahannya di mana? Bellova setuju menikahinya bukankah berarti Bellova tak keberatan ia sematkan cincin dan melamar. "Silahkan sarapan. Aku akan melihat Bellova."


Raymundo lepaskan celemek, keluar dari dapur. Berpapasan dengan Deborah.


"Jangan lupa camilan dan jus untuk anak-anak, Deborah."


"Ya, Tuan."


"Ya, ada apa?"


"Kamu masih tidur jam segini?" tanya Raymundo.


"Ya, aku menerima pekerjaan penting dari seorang klien VIP."


"Oh ya?"


"Ya, awasi istri dan puterinya."


"Baiklah. Aku butuh bantuan."


"Ya?"


Hening. Raymundo Alvaro menimang. Akankah Bellova sedikit terhibur oleh potongan video dari kamera pengawas. Em, Raymundo menatap pantulan di cermin. Hanya sesuatu yang buruk rupa dan jahat.


"Romeo?!"


Raymundo terkejut. "Lupakan saja! Selamat bekerja, semoga harimu menyenangkan."


"Jadi, kapan Romeo akan melamar Juliet?" tanya BM cegah panggilan berakhir.


"Well done, semalam."


"Begitukah? Aku ketinggalan pesta. Bukankah aku perlu hadir jadi saksi?"


"Kamu sungguh tak menonton ruang tidurku?" tanya Raymundo.


"Owh, apakah habis lamaran Anda push up 2000 kali?" goda BM.


"Apakah aku terlihat mesum?"


"Tentu saja tidak. Tetapi, pada umumnya, wanita akan berbunga-bunga saat dilamar dan si pria semacam punya akses penuh untuk mulai menyetir. Anda tentu tahu kemana jalur kereta akan pergi. Itulah mengapa, ketika pria menikahi kekasih dua Minggu kemudian ada zigot yang berkembang dalam rahim wanita."


"Tak ada push up apalagi zigot. Aku melamarnya saat dia tidur."


"Itu tidak sah, sama saja Anda melamar bantal guling."


"Bantal guling tak punya jari."


"Intinya, Anda di luar nalar, Romeo," keluh BM. Lalu segera sadar. "Apakah Anda mungkin berharap sesuatu dari kamera pengawas di ruang tidurmu, Romeo?"


"Ya."


"Silahkan periksa laptop Anda. Spy Camera dari bohlam ruang tidurmu selalu aktif, tetapi tidak fokus ke ranjang. Hanya tersorot ke pintu masuk."


"Baiklah."


"Jika Juliet masih kesal setelah melihat videonya, beritahu aku. Mungkin aku bisa membantumu sedikit."


"Tidak perlu."


Raymundo akhiri panggilan tepat waktu. Bellova keluar dari kamar mandi dalam kimono towel besar. Melangkah ke dalam ruang ganti dan memilih pakaian.


"Aku akan mandi, kamu bisa berganti di sini."


Bellova menengok satu, dua, tiga detik sebelum berlalu tanpa sepatah kata. Raymundo tak suka diabaikan. Ia bergerak ke kamar mandi, masuk saat Bellova hendak lepaskan kimono hingga Bellova terkaget-kaget.


"Apa maumu, Tuan?" Pupil Bellova melebar.


Sayangnya Raymundo Alvaro bingung apa maunya.


"Jangan abaikan aku."


"Dengar, aku malas berdebat denganmu. Please, aku perlu berganti pakaian."


"Keluarlah! Aku mau mandi."


Menarik lepas kaos dan lepaskan kaitan celana jeans yang dipakai. Bellova hempaskan napas kasar, meraih pakaiannya dengan kesal dan pergi ke ruang tidur.


"Jangan lupa sarapanmu."


Bellova tak menanggapi. Mencari Cheryl dan menggendong gadis itu ke ruang tidur setelah mandikan gadis kecil.


"Kamu tidak sarapan?"


"Tidak."


Percakapan pendek dan canggung.


"Aku tak akan lama di kantor."


"Baiklah."


Raymundo Alvaro turunkan Bellova di studio. Ia menyetir ke kantor.


Sedangkan Bellova dan Cheryl masuk ke studio hendak pergi ke lantai dua. Mereka hanya akan berada lima menit di studio dan pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Belliza.


Studio kosong, di mana orang-orang? Apakah mereka sedang kerjakan gaun Adriella di ruang produksi. Sebuah mobil berhenti di depan studio. Cheryl berbalik seakan tahu siapa yang datang.


"Uncle Cio ...," guman Cheryl riang hingga pipi gembulnya mengembung sempurna.


Lucio Vargas turun dari mobil dengan satu buket kembang besar di tangan kiri dan satu kotak cake di tangan kanan. Bellova menduga-duga, dan hatinya lekas bergetar. Apakah kakaknya ada di studio? Lucio Vargas benderang dan rapi. Melangkah dengan beat musik remix terlihat sangat bahagia.


***


Sedang Raymundo Alvaro baru selesai rapat, berdiri di belakang meja kerja, minum kopi bersama Axel Anthony.


Ponsel bergetar dan beberapa file gambar masuk. Ia tercekat saat melihat gambar.


"Romeo?!"


"Apa ini?"


"Ada apa?" tanya Axel Anthony tanpa suara melihat raut datar Raymundo perlahan terkikis. Raymundo keraskan speaker.


"Apalagi menurutmu?" BM sedikit menghardik. Pertama kali terjadi.


"Aku tak tahu sebab kamu kerasukan arus listrik beberapa hari ini."


"Tuan Vargas pergi ke studio bawa bunga, kotak kue dan juga memesan cincin di tempat yang sama denganmu. Tiga buah cincin. Firasatku, Lucio Vargas akan melamar Juliet di studio dengan sesuatu yang sangat romantis. Oh My God, aku rasa Bellova akan melayang ke awan dan lepas darimu." BM bicara tanpa jeda. Hilangkan beberapa part penting sebagai kunci untuk membuat Raymundo Alvaro gregetan.


Raymundo Alvaro minum seteguk kopi tenang, tak bisa tutupi cemburu, tetapi tak mau terhasut. Santai menanggapi isu panas yang dilemparkan BM.


"Itu tidak mungkin. Bellova akan menikahiku."


"Ramalanku tentangmu selalu benar. Mau lihat yang lebih ekstrim?" BM mulai pemanasan.


BM kirimkan lagi pesan. Lucio Vargas tanpa atasan di tepi pantai dan di tubuh Lucio terukir tato BL juga Hakuna Matata sama seperti di tubuh Bellova.


Kali ini pertahanan Raymundo Alvaro langsung roboh tanpa aba-aba.


"Aku harus pergi." Raymundo meraih jaket. Gunakan ear phone.


"Reaksi Bellova aneh saat Lucio Vargas katakan akan datang ke makan malam dengan pacarnya." Axel Anthony menganalisis. "Juga reaksi Bellova tadi pagi. Ia tak suka dilamar dan ingin katakan tidak."


"Ya."


"Semoga semuanya baik-baik saja."


Raymundo mengangguk, keluar dari ruang kantor. Lucio Vargas adalah tipe pria tak mudah dikalahkan karena pria itu meskipun tampak tak berbahaya tetapi menyimpan banyak ambisi. Cheryl juga sangat dekat dengan Lucio. Jelas Cheryl akan lebih memilih Lucio ketimbang dirinya karena ikatan darah kental. Lucio akan sangat sempurna jika bersama Bellova.


"Juliet tak bisa lari dariku, aku mengikatnya."


"Lucio Vargas sama sepertimu, Romeo. Bedanya, pria itu jatuh cinta dan terang-terangan show up perasaannya. Ia sedang mulai berlomba denganmu. Wanita cepat meleleh pada sesuatu yang bisa buat jantung mereka bersayap. Jangan sampai jantung Juliet terbang pada Lucio Vargas. Kamu mungkin akan dipecat jadi Romeo." BM nyalakan api. Kobarannya segera sambar-menyambar hingga si target panas dingin.


"Okay, tutup mulutmu, please."


"Tidak. Anda sangat ceroboh. Harusnya beritahu aku jika ingin melamar Juliet. Aku bisa lakukan sesuatu yang sedikit romantis."


"Oh ayolah, hal-hal romantis tak cocok untukmu."


"Menyarulah, Tuan. Berapa kali harus kukatakan, wanita itu makhluk sensitif? Mereka menyukai hal-hal manis."


"Bellova tak suka bunga."


"Sudah coba?"


"Belum. Aku alergi bunga karena aku akan gatal-gatal seminggu penuh oleh serbuk bunga."


"Cokelat?"


"Apakah aku perlu belikan satu gerbong cokelat sekarang? Apakah cincin tidak cukup? Aku akan berikan kekayaanku padanya setelah kami menikah."


"Semoga tidak terlambat, Tuan. Anda hanya perlu mengemudi dan konsentrasi pada jalanan. Lucio Vargas mungkin akan pilihkan gaun dan menggiring Bellova ke pernikahan paling privasi sebelum kamu sampai di studio sebab São Vicente mendadak sibuk. Wah, wah, wah, lawan-mu Lucio Vargas, Tuan, bukan Greg Luigi. Kamu terlalu remehkan dia."


***


Mari sedikit bersenang-senang dan buat pria ini kebakaran.


Ada 2 chapter, tinggalkan komentarmu di bawah. Jadi, cover yang baru diberikan oleh Noveltoon. Kalau yang lama dibuat oleh saya sendiri.