
"Bellova, kamu bukan Cinderella dan aku bukan Pangeran."
Raymundo jauhkan wajah dari Bellova. Terluka di samarkan di balik raut datar. Ia berharap Bellova menikahinya tanpa banyak menuntut.
"Ternyata ..., susah temukan wanita yang mencintaimu apa adanya."
Raymundo tanpa sadar mengeluh, amati gaun di tangannya. Turuni lengan Bellova. Kembalikan gaun. Salah paham pada permintaan Bellova. Bagaimana harus ia katakan? Jika Bellova ingin pernikahan mewah, berarti mengusung banyak bunga.
Demi apapun, ia terlihat keras dan kokoh seperti baja. Tetapi ia sangat sensitif. Kulitnya rapuh pada air hujan dan detergen. Ia tak suka bunga dan alergi pada aroma juga serbuk bunga? Bahwa kemungkinan ia akan menderita gatal-gatal selama seminggu lebih karena alerginya?
Dan konsep Cinderella libatkan banyak orang dari satu kerajaan. Yang benar saja? Sedang ia hanya ingin menikahi Bellova disaksikan orang-orang terdekat mereka. Tak perlu berlebihan. Dalam benak Raymundo Alvaro, ia hanya akan gunakan jaket dan celana jeans-nya dan pergi ke altar dengan Bellova.
"Aku punya banyak uang Bellova, tetapi aku tak mau kamu melihat uangku."
"Bukan itu masalahnya. Aku tak peduli jika kamu punya pohon berdaun uang atau kamu hanya seorang buruh kasar pelabuhan. Ini bukan soal uang," sorot Bellova tajam.
"Lalu?!"
"Kamu abaikan perasaanku. Melamarku saat aku lelap, bukankah sangat keterlaluan? Aku paham jika kamu tak bisa ekspresikan hatimu, aku tak keberatan, setidaknya libatkan aku."
Raymundo Alvaro termenung. Lepaskan pelukan dari pinggang Bellova.
"Aku butuh udara segar."
Raymundo Alvaro hendak pergi. Bellova menahan tangannya. Ia berbalik dapati bola mata besar di bawah lengkungan alis sempurna, pancarkan keinginan hati, sangat gigih.
Raymundo Alvaro lepaskan tangan Bellova. Tinggalkan Bellova, acuhkan decak halus Lucio Vargas yang jelas-jelas skeptis pada pribadinya.
Oskan Devano tak terlihat diambang pintu studio, mungkin tinggalkan mereka saat melihat perdebatan mengingat ada Cheryl.
Ya benar.
Pria itu bersama Cheryl di kafe seberang jalan. Cheryl melambai bersemangat saat ia keluar dari studio. Raymundo tersenyum dan balas lambaian. Ia memakai kaca mata gelap. Langit-langit otaknya hitam pekat. Tidak punya gagasan apapun. Raymundo Alvaro masuk ke mobil, hidupkan mesin ketika Belliza tiba-tiba terobos pintu dan duduk di sebelahnya.
"Dengar, jangan menyerah! Aku akan menolongmu dan Bellova."
Belliza bicara pada Raymundo Alvaro. Percaya, Bellova sungguhan jatuh cinta pada Raymundo Alvaro. Hanya saja temukan kendala karena pria berkarakter dingin ini.
Raymundo menatap Belliza, mencari letak perbedaan. Oh sial, mata tajam tak bisa kenali perbedaan. Pupil cokelat kehijauan, hidung sama, porsi wajah sama, rahang halus dan indah yang sama, gaya bicara juga sama. Kini saat bicara padanya, Raymundo seolah sedang bicara pada Bellova.
Tuhan seakan "lupa" bahwa ia telah ciptakan seorang manusia suatu waktu dan tanpa sadar menduplikasi manusia tersebut menjadi dua.
"Memang susah bedakan aku dan Bellova." Belliza menerka isi pikiran Raymundo Alvaro. Dari cara Raymundo cermati dirinya. Ditambah mereka sama-sama tirus dan kurus kini.
"Pasti punya perbedaan."
"Aku Belliza. Dan adikku Bellova. Suara kami mungkin."
"Bellova bisa meniru suaramu. Dan tidak ada perbedaan terlalu mencolok."
Ingat ketika di sebuah restoran di Barrancos, ketika Raymundo dan Deenar menyamar. Bellova samarkan suara di hadapan teman-teman Oskan, tetapi saat menelpon seseorang ia bicara dengan suara lebih serak khas Bellova.
"Jika kamu sungguh-sungguh mencintai Bellova, maka tak akan sulit bagimu kenali aku dan Bellova."
"Apakah Lucio tahu perbedaanmu dan Bellova?"
"Ya," angguk Belliza percaya diri. "Tentu saja."
Raymundo tak percaya dalam hati. Raymundo menoleh, amati Belliza seksama dan Belliza sedang tersenyum lembut padanya.
"Jadi, maukah terima bantuan kecil dariku?"
"Tidak perlu, tolong turunlah! Aku butuh berpikir dan bisa temukan caraku sendiri."
"Dengar," ujar Belliza hati-hati, coba bersabar. Pria keras kepala, angkuh, dingin dan seperti kata Bellova tak mudah ditebak. Belliza menghela napas panjang, hembuskan perlahan. "Raymundo Alvaro, aku tahu apa yang adikku inginkan. Percaya saja padaku."
Raymundo menyipit pada wanita yang akan jadi kakak iparnya dan tak suka ide jika Belliza juga Bellova bersengkokol suatu hari untuk perdayai dirinya. Karena ia akan merasa jadi orang terbodoh saat itu.
"Kita baru bertemu sehari dan aku tinggalkan kesan buruk untukmu. Mengapa mau membantuku?" Raymundo abaikan banyak pertanyaan di pikiran. Paling sering muncul, kapan Belliza bangun dari koma?
"Bellova sangat mencintaimu, aku bisa lihat di matanya. Jangan salah paham, aku tak lakukan ini untukmu, tapi aku tak suka adikku bersedih. Cheryl juga sukai Anda. Jika saja Bellova tak cinta padamu, aku tak akan ikuut campur. Bellova tidak pernah bahagia sejak aku menikahi Oskan. Ini pertama kalinya aku lihat dia sangat ingin bersama seseorang."
Raymundo menggaruk kuping. Bellova sangat ceroboh. Haruskah perasaan dipamerkan pada semua orang? Atau tidak, Belliza seperti yang diakui wanita ini, pasti mengetahui isi hati adiknya.
"Kamu tidur dengan adikku dan punya anak. Kamu bicara padaku tadi. Bellova sembunyikan rahasia kalian dariku. Apakah kamu tahu bahwa kalian terikat secara istimewa?"
Sesuatu terasa hangat mengalir. Bagaimana ia bertemu Bellova, ciuman pertama mereka, hari di mana mereka saling berserah. Raymundo Alvaro berusaha mengekang emosi. Namun, pancaran mata Bellova sangat mengganggu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Pernah dengar ini, sejumput gula bisa sebagai penawar rasa pahit?"
Belliza baru akan bicara lagi, pintu mobil diketuk. Lucio Vargas berdiri di sisi tidak sabaran. Belliza turunkan kaca.
"Sayang, aku tak suka kamu berduaan dengannya," keluh Lucio Vargas. "Pria ini tak mudah diajak kompromi. Turunlah dan urus Bellova. Aku akan tangani makhluk satu ini."
Raymundo menyeringai kecil dengar kata-kata Lucio Vargas sinis padanya.
"Benarkah? Apakah kamu akan menolong Bellova?" tanya Belliza penuh harap.
"Tentu saja." Lucio Vargas tersenyum lebar, mengusap pipi Belliza dengan jempol. "Untukmu, apa yang tidak bisa kulakukan?"
Raymundo membuang muka ke sisi lain jalan. Sungguh pria yang menggelikan. Tingkahnya kepergok Lucio Vargas.
"Turunlah, Belliza. Seseorang terganggu dengan kemesraan orang lain." Lucio menyindir.
"Bawa kekasihmu, Lucio Vargas. Aku harus pergi," serang Raymundo Alvaro.
Lucio Vargas membungkuk dan amati Raymundo Alvaro.
"Aku butuh penanggung jawab. Wajahku lecet dan ketampananku berkurang drastis karena sikap bar-bar pria posesif. Terlebih Nyonya Yves Devano akan panik dapati aku lebam-lebam."
"Lucio Vargas, aku tak suka pria yang terlalu banyak bicara."
"Kamu akan sukai aku, Raymundo Alvaro. Kita akan ciptakan keseimbangan."
"Omong kosong. Jika ingin ikut, naiklah. Jika tidak, pergilah. Jangan buang waktuku."
"Beri aku, lima menit." Lucio Vargas membuka pintu, ulurkan tangan pada Belliza, hati-hati menuntun Belliza keluar. Lucio bertingkah seakan Belliza keramik berusia ratusan tahun.
Belliza sangat tersanjung dan berikan Lucio Vargas senyuman indah.
"Aku, Bellova dan Cheryl akan bersenang-senang hari ini."
"Tentu saja, Sayang. Dean Thomas akan temani kalian. Kita bertemu di rumah nanti pukul enam."
"Oh Lucio, bagaimana dengan Bellova dan pria ini?"
Lucio Vargas berkedip, rengkuh Belliza ke dalam lengan. Tanpa jarak dan Lucio Vargas hanyalah pria sedang kasmaran berat. Ia mengecup kening Belliza lama seakan tak ingin berpisah.
"Serahkan padaku. Aku akan mengaturnya."
Belliza mengangguk. Lucio Vargas lepaskan pelukan berat hati, hendak masuk ke mobil.
"Lucio ...." Belliza memanggil pelan. Lucio Vargas berbalik dan Belliza masih terus tersenyum. Berucap, "Terima kasih banyak." Datangi Lucio dengan cepat dan memeluk leher pria itu.
"Apa aku saja yang pergi denganmu?" tanya Lucio lekas-lekas meleleh. Tatapan Belliza padanya buat kepalanya kesetrum.
"Tidak, jangan. Pergilah ke dokter."
Oskan Devano dan Cheryl keluar dari kafe. Lucio Vargas menggenggam tangan Belliza sebelum mereka berpisah.
Lucio Vargas tahu Oskan Devano sakit hati pada kemesraan mereka. Sayangnya, Lucio tak begitu peduli meski berterima kasih banyak, lewat Oskan ia berjodoh dengan Belliza. Dan harus akui bahwa Oskan Devano lebih hebat darinya soal selera pada wanita. Terbukti Oskan pernah jatuh cinta pada Bellova dan menikahi Belliza. Dua wanita yang tak ada dalam angan Lucio sebelumnya.
Lucio Vargas masuk ke dalam mobil.
"Rumah sakit? Dokter mana?" sambut Raymundo Alvaro putuskan Lucio Vargas kelewat romantis dan mereka memang berbeda.
"Mana saja."
"Kamu pria cengeng. Wajahmu tak butuh obat."
"Oh ya? Aku hanya perfeksionis, tak suka bekas luka di wajah." Lucio Vargas tersenyum sedikit mengejek. Bercermin, periksa wajah.
"Ya, kamu juga sangat feminim." Raymundo Alvaro tak suka kaca.
"Luka di wajah merusak pemandangan. Ditambah sikap keras kepala, dingin, apatis, aku pikir raut itu menakut-nakuti orang."
Raymundo tak ingin ladeni.
"Harusnya bersyukur Bellova jatuh cinta padamu. Berhenti sewenang-wenang padanya." Lucio Vargas mulai bicara lagi.
"Bukan urusanmu." Raymundo berbelok di blok ke-tiga. Mereka lewati dua tempat praktek Dokter.
"Urusanku kini karena Bellova akan jadi adik iparku. Aku sangat penyayang."
"Bisa aku tangkap," balas Raymundo menyeringai tipis. "Jadi, kamu sungguhan ingin berkunjung ke dokter atau terus meracau dalam mobilku? Turunlah di depan. Aku harus pergi."
"Dengar Tuan Aneh! Bukan kamu satu-satunya pria yang melamar saat kekasihmu lelap. Aku melamar Belliza sementara dia koma."
Raymundo Alvaro paham kini alasan Lucio Vargas menumpang padanya.
"Kamulah Tuan Aneh. Kamu sarkas padaku satu menit lalu dan menghiburku sekarang."
Lucio Vargas ingin mengumpat pada Raymundo Alvaro, ia hanya tabah.
"Belliza, bangun suatu hari dan inginkan Oskan. Belliza tak begitu peduli padaku meskipun akulah pria yang bersamanya selama dua tahun lebih. Dia tak mendengar lamaranku saat ia lelap."
"Kapan Belliza bangun dari koma? Kamu sungguhan tak pernah bertemu Bellova sebelumnya padahal dua tahun di sisi Belliza?" Rentetan pertanyaan.
Kini Lucio Vargas waspada sebab Raymundo Alvaro curiga. Pria itu alihkan topik.
"Aku akan ceritakan padamu suatu waktu, Tuan. Ini sedikit rumit."
"Aku ingin dengar."
"Tidak sekarang."
"Aku ingin dengar."
"Baiklah." Lucio Vargas mengalah. "Suatu malam, dua tahun lalu. Aku pulang ke Lisbon dari Paris untuk rencana pernikahan adik perempuanku. Kami akan berkumpul di Sao Vicente. Oskan Devano adalah sepupuku, pria brengsek itu sepupuku, kesayangan Ibuku. Oskan akan datang dengan Belliza, istrinya."
"Itu bukan jawaban," potong Raymundo Alvaro.
"Berhenti mengulang kata tampan. Aku mual mendengarnya!" Ekspresi Raymundo sebabkan Lucio Vargas terkekeh.
"Kamu hanya alergi fakta. Aku baru menyebut 'tampan' dua kali."
"Narsis-mu berlebihan."
"Kita butuh narsis untuk meningkatkan percaya diri. Alih-alih menodong wanita dengan senjata lebih baik kamu gunakan wajah tampan-mu." Tak berhenti mengolok Raymundo.
"Pria Aneh."
"Aku tak tahu Belliza ..., aku tak hadir di pernikahan mereka dan bahwa Belliza punya kembar. Oskan berselingkuh malam itu dan Belliza dapati langsung. Adik perempuanmu sedang bermain kuda-kudaan dengan Oskan Devano. Belliza sangat sakit hati dan datang ke Luxury. Kami bertemu pertama kali di sana. Belliza koma dalam pelukanku."
"Akhir cerita?!" Raymundo tak sabaran.
"Belliza koma."
"Kau menyebalkan," komentar Raymundo Alvaro memaki. "Kapan Belliza bangun dari koma?"
"Sekitar tiga bulan lalu. Aku masih di Paris. Belliza jalani perawatan karena sedikit lumpuh dan perbaiki koordinasi buruk tubuhnya. Ia kemudian berhasil. Tetapi, karena usahanya terlalu keras, Belliza kembali tak sadarkan diri dan baru bangun dua hari lalu."
Itulah alasan Bellova sangat yakin Belliza akan bangun karena Belliza memang pernah bangun dari koma.
"Aku melamar Belliza hari ini. Karena melamarnya saat ia koma, seperti aku bicara dengan boneka. Kami akan bertunangan nanti malam."
"Selamat."
"Kamu perlu lakukan hal yang sama."
"Apa maksudmu?"
"Ikutlah ke perjamuan makan malam nanti."
"Tidak, aku sangat sibuk."
"Datanglah malam nanti saat aku menelponmu. Bagaimana kalau kamu mengulang proses lamaran?"
"Terima kasih untuk pencerahannya. Aku rasa itu tak perlu."
"Kamu punya waktu enam jam berubah pikiran, Pria Aneh. Jika kamu terus tampil sebagai Tuan Pemaksa, bisa jadi Bellova akan kabur di hari pernikahan."
"Bellova tak akan lari dariku."
"Mau coba?"
Sementara mereka berdebat, Raymundo berbelok di sebuah klinik kesehatan. Ponsel Raymundo berdering. BM. Melirik Lucio Vargas.
"Pergilah ke dalam dan dapatkan perawatan. Aku akan menunggumu di sini."
Lucio Vargas tak menyahut. Hanya turun dan pergi temui dokter.
"Romeo?"
"Ya?!"
"Aku kirimkan potongan video lamaran Anda pada yang bersangkutan."
"Lalu?!" Napas Raymundo tercekat di ujung pernapasan.
"Aku menuntunnya ke taman Montes Claros."
"Untuk apa?"
"Aku sangat sibuk tapi aku prihatin pada nasib cinta Anda, Romeo. Belajarlah dari Lucio Vargas cara menyenangkan hati wanita."
"Aku menanduknya."
"Sudah aku duga."
"Semua salahmu."
BM menyeringai senang. "Bukankah Anda punya kemampuan bedakan seseorang?"
"Aku akan membalasmu."
"Itu sulit."
"Mungkin aku akan berhenti menggajimu. Aku akan belajar dari Piglet, bekerja seorang diri."
"Oh, silahkan Romeo. Sebelum aku dipecat, pergilah ke taman."
"Sekarang?"
"Ya sekarang. Juliet menunggu di sana. Jangan biarkan dia mengering di dekat danau."
"Apa yang kamu lakukan? Tepatnya apa yang akan aku lakukan."
"Pergi saja ke sana!"
"Aku masih menunggui Lucio Vargas di klinik."
"Well, bawa pria itu bersamamu."
"Untuk apa?"
"Buat Tuan Vargas berhenti mengolokmu. Ya Tuhan, apa lagi?"
"Baiklah."
"Kamu tahu arti bunga hortensia?"
"Tidak."
"Seorang kaisar di Jepang memberikan bunga hortensia pada kekasihnya sebagai permintaan maaf. Sejak itu bunga hortensia sering dipakai sebagai ganti permintaan maaf."
Raymundo tak paham ucapan BM, hanya menyimak. Ia kemudian mengerti. Tak yakin akan lakukan ini, tetapi mungkin ia perlu membuat Bellova senang. Bukankah Bellova tahanannya? Mengapa ia peduli pada keinginan Bellova.
Satu-satunya jawaban adalah, ia jatuh cinta pada Bellova. Sungguh jatuh cinta. Apakah ia perlu menelpon Queena dan bertanya, baiknya bagaimana? Membuka ponsel. Menonton beberapa acara lamaran dan geli sendiri jika harus memegang bunga dan berlutut di depan wanita dan katakan hal-hal manis.
Mengerang. Oh ya Tuhan. Ia tak punya pilihan lain. Bellova sangat ingin jadi Cinderella.
Lucio Vargas keluar dari klinik. Saat pria itu melangkah para wanita menatapnya. Tertarik. Tak ada yang berubah, wajah pria itu masih lebam-lebam.
"Aku pikir jaringan kulitmu langsung regenerasi?"
"Hei Tuan, ini semua ulahmu." Lucio Vargas mengatur rambut dengan jarinya. "Aku akan menghajarmu suatu waktu."
"Maafkan aku!"
"Mengapa kamu pikir aku mencintai Bellova?"
"Tato-mu!"
Lucio Vargas mengangkat kemeja.
"Tato ini?" Mengerut. "Apa Bellova punya tato ini?"
"Ya."
Lucio Vargas mengelus kening.
"Aku bisa bedakan Belliza dan Bellova!"
"Jangan membual. Aku yakin kamu sama bingungnya denganku saat pertama kali ketemu Bellova."
"Tidak juga. Bellova sangat lembut tetapi berapi-api. Belliza halus, sangat lucu saat mabuk dan kadang berapi-api."
Raymundo menarik napas kuat. "Sama saja."
"Apa maksudmu sama saja?"
"Bellova seperti Belliza, sangat lucu saat mabuk."
Mereka berhenti di toko bunga.
"Mau apa kita kemari?"
"Diam saja!"
"Mau kubantu pilihkan bunga? Mungkin Bellova su ...."
Brak! Pintu mobil dibanting keras hingga Lucio Vargas terlonjak kaget.
Raymundo Alvaro datangi toko bunga. Berdiri di depan toko. Angin sepoi bertiup. Aroma bunga tercium hidungnya. Ia bisa tahan jika hanya sedikit bunga. Melangkah masuk dengan pasti demi Bellova Driely Damier.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa kami bantu?"
Raymundo Alvaro memandang berkeliling pada rak-rak dan pot-pot serta kendi berisi banyak bunga. Warna warni, aroma purwa rupa. Lekas bergidik.
Demi Bellova.
"Aku ingin banyak kuntum bunga hortensia."
"Ya Tuan. Berapa banyak?"
Aroma bunga menyergap dari seluruh penjuru mata angin.
Hatcchyyy .... Bersin-bersin.
Sedangkan Lucio Vargas seksama ikuti dari dalam mobil, pria yang tampak kebingungan di depan toko bunga. Mungkin pria itu akan membeli bunga untuk Bellova. Setidaknya Raymundo Alvaro belajar sedikit romantis.
Tidak juga.
Raymundo Alvaro beranjak tergesa-gesa dari dalam toko bunga. Bersin-bersin di luar toko. Dan seperti pria mabuk kembali ke mobil.
"Lucio Vargas, bisakah aku minta tolong?"
***
Ini ada dua chapter aku cut jadi dua bagian karena kepanjangan. Tinggalkan komentar, vote, like.
Kadang aku up tetapi tergantung sistem yang review.