My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 42. Bloody Sacrifice


Lucio Vargas amati dua wanita di belakangnya. Pengorbanan luar biasa. Namun, Raymundo Alvaro tampak bukan seperti pria bodoh untuk kasus-kasus macam begini.


"Raymundo Alvaro akan temukan rekaman CCTV rumah sakit dan akan tahu bahwa Belliza ikuti Helena. Karena aku yakin, Raymundo kenali Bellova." Lucio Vargas bicara, setelah diam cukup lama menyimak pembicaraan dua kembar.


"Tidak! Selama Belliza diketahui masih koma," sergah Bellova tajam, menusuk mata Lucio Vargas. "Dengar Belliza, jangan sepenuhnya percaya pada Tuan di depanmu! Jangan percaya siapapun saat ini!"


"Trims, aku mendengar segala hal sejak tadi!" balas Lucio Vargas berdecak.


"Anggap saja Anda tak mendengar apapun!"


"Aku tidak menyerang wanita, terlebih seseorang yang aku sukai. Aku berbeda dengan pria-mu, Bellova!"


"Aku harap begitu."


"Love?!"


"Bukan apa-apa, Kak."


"Dengar Bellova, aku akan bersama Belliza dan sepertimu akan menetap di sisi Belliza untuk hadapi ini."


Lucio Vargas sekali ini berkata cukup tegas agar Bellova berhenti curigai sikapnya. Matanya bertemu mata gundah-gulana Belliza di kaca.


"Ya, tapi apakah Anda bersiap hadapi Raymundo Alvaro?" tanya Bellova. "Lihat bagaimana dia menarik pelatuk karena marah?"


"Apa aku terlihat takut padanya?" tanya Lucio Vargas tak hangat. "Bellova, hanya karena aku tak memegang pistol bukan berarti aku tak tahu bermain dengan benda itu! Aku hanya bosan jadi pria buruk yang cuma andalkan senjata."


Bellova terdiam, berharap pria di depannya memang tahu apa yang dia katakan. Raymundo Alvaro pernah menembak kaki Oskan dan menodong keningnya.


Sayang beribu sayang, Bellova jatuh cinta pada iblis macam Raymundo.


"Jadi ..., selingkuhan Oskan yang tadi itu ..., adik perempuan Raymundo Alvaro?" Lucio Vargas, kembali lembut. Seakan menyesal buat suasana semakin muram.


"Ya," angguk Bellova.


"Dan kamu berharap Raymundo Alvaro akan kasihani dirimu manakala kamu gantikan Belliza?"


Tak menyahut tapi tebakan Lucio Vargas tepat dari cara Bellova Mende***.


"Raymundo Alvaro tak akan curiga?"


"Tidak akan, jika Belliza masih koma."


"I see. Kamu akan gunakan asas emosional? Raymundo Alvaro tak akan menyakitimu karena pria itu mencintaimu?"


Belliza menegang, berusaha berpaling pada Bellova.


"Apa yang terjadi, Love? Beritahu aku, apa yang aku lewatkan?"


Bellova termenung.


"Aku dan Tuan Alvaro ...." Terputus. Cari kata-kata yang tepat sebagai jawaban pertanyaan Belliza. Tidak temukan satupun yang pas gambarkan hubungannya dengan Raymundo Alvaro sedang Belliza menunggu.


"Em, kami bersama."


"Love, apa maksudmu bersama?"


Saling mencintai? Ya, kedengaran hebat. Raymundo Alvaro katakan itu beberapa jam lalu. Aku mencintaimu. Namun, Bellova meragu.


"Kami putuskan untuk bersama," sahut Bellova lagi. "Sayang, itulah mengapa aku mengenalnya seperti aku mengenal tiap jalan di Flores. Meski begitu, Belliza, Tuan Alvaro tak dapat ditebak apa maunya! Itulah, mengapa aku perlu gantikanmu!"


"Oh Love, aku sangat sesali ini."


"Jangan bersedih. Kita akan baik-baik saja."


"Ini sangat rentan, Bellova. Hati-hatilah terhadap amarah pria itu dan segala hal." Lucio Vargas peringati Bellova.


"Terima kasih. Aku tak bisa biarkan kakakku tersakiti, Tuan Vargas. Maukah Anda menolongku? Polisi tak boleh menyentuh dan menangkap kakakku. Belliza baru sembuh dari sakit. Bisakah, Anda jauhkan saja baik itu polisi atau Raymundo Alvaro dari Belliza?"


"Aku akan mengurus segala hal, Bellova! Percayalah padaku." Bellova lupakan Oskan Devano. Bukankah Bellova harus cemaskan Oskan juga? Oskan begitu gembira akan kedatangan puteranya.


"Belliza sedang koma dan aku bersama Helena. Hanya itu faktanya."


"Ya Tuhan, tidak. Aku tak bisa biarkan kamu hadapi ini," tolak Belliza. "Helena kenali aku. Jangan berkorban untukku."


"Aku akan atasi, Kak, dan semuanya akan baik-baik saja."


Bellova hanya berharap Raymundo Alvaro mencintainya sungguh-sungguh hingga bisa terima penjelasan.


"Doakan Helena baik-baik saja," tambah Bellova.


Mereka tiba di rumah sakit. Dona serahkan Helena pada teman sejawatnya sedang Lucio Vargas menggendong Belliza lewat basement sesuai instruksi Dona pergi ke lantai atas melalui lift khusus untuk situasi darurat.


Belliza disuntik sesuatu dan berbaring di atas ranjang setelah berganti pakaian. Sekalipun Belliza menolak keras ide Bellova, menurut Bellova hanya ini satu-satunya cara untuk situasi mendesak mereka.


"Ini hanya sementara saja, Sayang. Kamu akan segera bangun."


Bellova mendekap Belliza di atas ranjang tahan tangisan. Napas mulai lambat.


"Love, aku menyayangimu."


"Me too, Belliza. Bangunlah nanti, sembuhkan dirimu dan selesaikan segala hal, Kak. Kita akan bertemu kembali sesegera mungkin."


Belliza berkaca-kaca. Mengelus kening Bellova. Sedikit gelisah.


"Aku tak suka kubah es. Aku terjebak di sana sangat lama, Love."


"Sekali ini, kakak hanya beristirahat biasa."


Bellova membelai rambut Belliza ketika mata kakaknya kian sayu.


"Bagaimana dengan Cheryl?"


"Bellinda akan datang dan tinggal di São Vicente untuk merawatnya. Tuan Lucio akan pastikan Cheryl tak pergi kemana-mana sampai kakak kembali."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan baik-baik saja, Kak. Jangan pikirkan aku!"


"Love ..., My Bellova." Belliza menggenggam tangan Bellova. Ia mulai mengantuk. Lucio Vargas di balik punggung adiknya, mematung, berikan senyuman khas, sehangat mentari pagi di Caveira.


"Bisakah kamu jaga Cheryl dan adik-adikku sementara aku tak ada, Tuan Lucio?"


Bellova berdiri, balikan badan, mengusap air mata. Sedang Lucio Vargas telah pegangi tangan Belliza.


"Aku akan menjaga Cheryl dan seluruh keluargamu, Belliza. Lagipula, kamu hanya akan tidur sebentar. Aku akan berada di sini saat kamu membuka mata."


"Aku bisa hidup tanpa suamiku, aku bisa berusaha keras. Tetapi, aku tidak yakin bisa jatuh cinta pada orang lain setelah Oskan Devano. Aku perlu beritahukan kamu, Tuan Lucio Vargas."


Lucio Vargas tersenyum hangat. Bibirnya sedikit berkumpul.


"Tak masalah, Belliza. Aku tetap akan menunggumu."


Belliza mengangguk-angguk kecil, ada kehangatan aliri dirinya. Semakin berat. Infus selesai dipasang.


"Selamat malam, Tuan Lucio Vargas."


Lucio Vargas membungkuk di atas kening Belliza, mengecup dalam dan lama ketika mata-mata Belliza mulai terkatup. Rileks dan kembali terlelap.


"Selamat malam, Belliza. Selamat bermimpi indah."


Ruangan Belliza kemudian kembali diprivasi dan dijaga ketat. Lucio Vargas tidak main-main sekali ini, bahkan Oskan Devano tak diijinkan masuk. Meskipun, Oskan masih berstatus suami Belliza.


Lucio Vargas kemudian mengurus sopir taxi dan kamera pengawas. Ia telah lakukan ini selama dua tahun agar bisa diam-diam menjenguk Belliza. Tanpa sengaja terlibat pada Belliza dan Bellova, ia paham konsekuensi terlebih Raymundo Alvaro bukan tipe pria yang bisa diajak kerja sama dengan mudah. Lucio menelpon Charlotte untuk menjemput Cheryl.


"Bisakah aku tinggal dengan Mommy?" tanya Cheryl memeluk leher Bellova kuat-kuat. Tak ingin berpisah.


"Sebenarnya anak kecil dilarang berada di kawasan Rumah Sakit karena di sini banyak virus." Bellova gelitik leher Cheryl dan menggigit sedikit pipi puterinya.


"Virus?!"


"Ya, sesuatu seperti bulu pig, tetapi tak terlihat. Dia sedang berkeliaran mencari mangsa untuk disantap."


"Bukankah aku punya dua Mommy?! Aku bisa bersama Mommy-ku yang satunya lagi. Mengapa saat Puteri Bellova pergi, Puteri Belliza juga ikut?"


Lucio Vargas pikirkan hal ini. Cheryl hanya anak kecil. Bellova mendekap Cheryl erat-erat. Tercekat di ujung tenggorokan.


"Apakah Belliza kembali ke istana dan Bellova akan tinggal di rumah saudagar kaya gantikan Belliza?"


Bellova tenggelam di leher Cheryl, tak sanggup berkata-kata. Itu hanya dongeng konyol yang ia ciptakan tentang dua Puteri Kembar. Sedang Lucio Vargas cukup tercengang.


"Dengarkan Mommy ya, Nona Devano." Mengusap air mata. Menghela napas, hembuskan. "Kita tak boleh ceritakan pertemuan kita dengan Belliza hari ini pada siapapun. Karena, ini sangat berbahaya."


"Kenapa?!"


"Emm, karena jika Pangeran tahu Belliza kabur dari istana, Belliza akan dalam masalah."


"Bahkan Daddy?"


"Ya, bahkan Daddy tak boleh tahu sampai waktunya tiba."


"Kapan itu?"


Bellova mulai kacau. Kapan itu? Lucio Vargas ulurkan tangan.


"Kita akan menungggu kepompong berubah jadi kupu-kupu pelangi. Mungkin sampai di situ." Lucio menggendong Cheryl. "Ucapkan selamat tidur pada Mommy! Cheryl akan bersama Cekomaria dan Nicoletta, menunggui kepompong jadi kupu-kupu pelangi."


"Baiklah, Uncle Cio." Cheryl tak bisa menolak Lucio Vargas, sangat patuh padanya.


Mungkin saja mata pria itu berisi sihir seperti yang Raymundo Alvaro takutkan. Bellova dengar percakapan Raymundo dan Lucio Vargas saat ia di kamar mandi.


"Bye bye Mommy. Kita akan bersama kan?"


"Ya, Sayang. Secepatnya."


Cheryl mengecup Bellova, tanpa diduga berikan tanda di kening Bellova.


"Aku akan berkatimu, Mommy! God bless you."


Bellova mencium tangan Cheryll berulang kali juga kedua pipi, rambut, mata, sebelum Lucio Vargas bawa Cheryl pergi. Bellova berdiri di tengah koridor lengang. Lambaikan tangan pada Cheryl yang memeluk leher Lucio Vargas kuat.


"Begitukah?" Cheryl ingin antusias tetapi tubuh lunglai Bellova menghilang dengan cepat. "Aku ingin bersama Mommy, Uncle Cio."


"Mau aku antarkanmu pada Daddy?"


"Tidak, aku tak mau bersama Helena. Daddy minta aku bersikap baik pada Helena dan adik laki-lakiku, tetapi aku ingin Mommy-ku, Uncle Cio."


"Baiklah, tetapi untuk saat ini, Charlotte akan membawamu pulang ke rumah. Sikat gigimu sebelum tidur dan jangan lupa berdoa. Mommy akan segera kembali."


"Aku percaya padamu."


"Terima kasih."


Sungguh malang, Mommy akan terbaring seperti koma lagi sedang Mommy satunya akan berkorban pergi ke kantor polisi. Cinta Bellova kemungkinan tak bisa menyelamatkan.


Atau mungkin terbalik?


Bellova sedang hamil dan Raymundo Alvaro tak akan mungkin tega pada wanita sedang mengandung bayi mereka.


Entahlah. Yang pasti Lucio Vargas perlu bentengi Bellova. Ia akan hubungi pengacara. Sementara waktu, tak akan pancing kemarahan Raymundo Alvaro, atau Oskan Devano. Hanya diam-diam amati mereka.


Sementara itu.


Bellova tak larikan diri. Memakai pakaian Belliza, sakiti kaki sendiri juga bagian tubuh lain seperti yang Dona temukan di tubuh kakaknya, Bellova tak bisa menyerah sekarang.


Ini membingungkan. Belliza dapatkan sedikit tanda kekerasan di bagian perut dan punggungnya. Menurut Belliza ia sangat kesakitan setelah bangun dari pingsan. Kemungkinan Helena bangun saat Belliza pingsan dan memukuli Belliza. Tetapi, bagaimana bisa Helena lebam-lebam lebih parah sedang Belliza bersumpah tak menganiaya Helena?


Bellova menunggui Helena di ruang tunggu ICU setelah menelpon Oskan Devano. Beritahu hal sebenarnya tanpa tutupi apapun. Operasi Helena berjalan baik, tetapi wanita itu kritis karena kehilangan banyak darah.


Dua puluh menit kemudian, Beatrix Alvaro datang, tergesa-gesa oleh cemas. Beatrix Alvaro menatap marah padanya.


"Mengapa Helena bersama Anda, Nyonya? Aku tahu Helena bersalah, tetapi bukankah akan ada perceraian?" Tangisan wanita itu pecah. Mengusap air mata.


"Harusnya Anda tak tinggalkan Helena sendirian di rumah sakit. Jika saja Helena diawasi, kejadian seperti ini tak mungkin terjadi."


Beatrix Alvaro sangat geram hingga menampar Bellova keras. Bunyi tamparan mengisi keheningan. Bellova percaya ini telah dimulai.


"Aku laporkan Anda ke pihak berwajib meskipun puteraku berusaha mencegah. Aku tak bisa biarkanmu terus menyerang Puteriku."


Beatrix kemudian pergi untuk melihat puterinya. Sedikit meraung.


Oskan Devano datang tak lama berselang. Pria itu kelihatan sangat tidak ramah. Bellova bersandar di tembok.


"Bellova?! Aku tak berharap ini datang darimu! Kamu tahu akibatnya jika sesuatu terjadi pada Helena?"


Bellova tak menyahut.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Di mana Cheryl?"


"Bersama Tuan Vargas."


"Lucio Vargas?" Oskan terdengar tak suka. "Bagaimana bisa?"


"Aku menelpon Tuan Vargas karena terdesak."


"Luar biasa."


"Bukankah aku harus bertanya, mengapa tinggalkan Cheryl bersama Helena?"


Mata Oskan mengecil, sangat marah. Pegangi lengan Bellova.


"Apa yang kamu lakukan pada Helena?"


"Mengapa tinggalkan Helena sendirian bersama Cheryl? Aku ikuti mereka keluar dari rumah sakit dan Helena bawa Cheryl ke lahan kosong di Trilho. Apa yang terjadi Oskan?"


"Dengar, Helena tak akan sakiti Cheryl!"


"Begitukah? Cheryl ketakutan saat melihatku!"


"Apa yang kamu lakukan di Rumah Sakit, Bellova? Mengganggu Helena?"


"Apa aku tak punya kerjaan Oskan? Aku datang untuk mendukung wanita koma yang akan diceraikan suaminya," sahut Bellova marah. "Aku dan Helena bertengkar, tak sengaja mendorongnya hingga jatuh. Aku hanya lindungi diriku sendiri!"


"Apakah bayinya baik-baik saja?"


Bellova terdiam hingga Oskan sangat terpukul.


"Maafkan aku!" Bellova tertunduk lemas.


Oskan mengangkat tangan kanannya, ingin menampar Bellova. Namun, hanya melayang di udara lalu berubah jadi kepalan dan meninju tembok di sisi Bellova keras. Pria itu mengumpat.


Begitu sayangkah Oskan pada Helena? Belliza, please lupakan Oskan!


"Ini akan berakhir buruk untukmu, Bellova!"


"Pikirkan darimana semua ini bermula!"


"Bellova?!" Oskan menatap Bellova tajam. "Semua ini bermula darimu! Aku berusaha keras, tetapi tiap kali melihat Belliza aku mengingat pengkhianatanmu dan terus mengingat kebodohanku. Helena telah banyak membantuku. Kamu tahu, ini benar-benar tak akan mudah untukmu."


"Periksa dirimu Oskan. Dengan siapa kamu terlibat, berbisnis. Helena katakan beberapa orang mengincarnya!"


Oskan menjadi radang.


"Jangan sembunyikan tanganmu setelah melempar batu, Bellova! Puteraku meninggal, kamu akan kehilangan Cheryl. Aku tak akan ijinkan kamu temui Puteriku."


Pintu ruangan terbuka, dokter keluar dari sana. Memanggil keluarga Helena. Oskan lepaskan Bellova dan Nyonya Beatrix ikuti dokter.


Bellova pejamkan mata, kuatkan diri, palingkan wajah. Temukan Raymundo Alvaro melihat dari jauh perdebatannya dengan Oskan. Pria itu melangkah panjang di koridor, menelpon seseorang, lebih tepatnya beri instruksi.


Bellova berdiri kaku bersandar di tembok awasi Raymundo Alvaro. Tangannya dalam mantel, mengepal. Ia punya banyak jawaban di kepalanya tetapi ketika dapati raut datar, tak berekspresi Raymundo Alvaro, sangat amat tenang. Lebih dari siapapun Bellova tahu, gulungan kemarahan siap-siap akan menelannya. Bellova langsung menciut.


Raymundo Alvaro lewati dirinya, tak berpaling juga menegur. Melangkah ke ICU, berdiri di depan kaca. Mengerut. Kening pria itu berpikir keras. Ia kemudian berbalik, datangi Bellova yang kian lekat di tembok. Tangan Bellova telah berkeringat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria itu datar hingga Bellova mengangkat wajah, ini di luar dugaan.


Mengangguk. Suara lenyap seakan pita suara berhenti berputar. Raymundo memeriksa wajah Bellova. Sedikit menunduk. Mata pria itu adalah bagian lain paling mengerikan saat samarkan emosi.


"Setidaknya kamu bisa menunggu sampai Helena lahirkan bayinya! Aku tak peduli jika kalian adu kekuatan dan patahkan tangan masing-masing."


"Aku tak berniat lukai Helena. Aku hanya inginkan Cheryl." Bellova berani mengangkat wajah, menatap Raymundo Alvaro seakan mengemis pengertian pria itu.


"Cheryl?"


"Ya, aku datang ke rumah sakit untuk menjenguk kakakku. Tak sengaja bertemu Helena dan Cheryl. Aku ikuti mereka. Helena pergi ke jalur pendakian Trilho, kami bertengkar di sana dan aku tak sengaja mendorongnya hingga terjatuh. Jangan salah paham padaku."


"Tidak, tentu saja tidak. Helena bersalah pada kakakmu, kamu pantas sakiti Helena. Kamu juga pantas membunuh bayi yang akan segera datang. Mata dibalas mata, bukan? Kamu belajar dengan cepat dariku!"


"Demi Tuhan, aku hanya lindungi diriku sendiri."


"Bellova, kamu mabuk?" tanya Raymundo menyipit semakin dekat dengan wajahnya. Mereka berciuman dua tiga jam lalu. Apa yang terjadi kini? "Kamu lindungi diri dari wanita hamil yang bahkan susah bergerak karena perut besarnya? Apakah masuk akal?"


"Helena menendang kakiku!"


Raymundo tegak.


"Jelaskan pada petugas kepolisian. Jika kamu tak bersalah, mereka akan bebaskanmu."


Bellova langsung lunglai.


Segala hal berlangsung begitu saja. Dua orang opsir datang untuk menjemputnya. Mereka katakan tentang saksi, saksi pelapor, sesuatu yang tak ingin didengar Bellova karena ia hanya tertegun pada Raymundo Alvaro.


"Nyonya Beatrix Alvaro laporkan tindak pidana yang dialami adik perempuan Anda. Penyidik akan ajukan permintaan bagi pihak hospital untuk melakukan visum."


"Aku mengerti."


"Alangkah bagus jika visum dilakukan secepatnya agar bukti yang ditinggalkan di tubuh korban tidak hilang."


"Bukankah Nona Bellova perlu dapatkan visum juga? Dia juga alami kekerasan."


Polisi akan temukan sidik jari Belliza di pakaian Helena. Tidak. Lucio Vargas atau Dona pasti akan antisipasi dan tak akan lewatkan hal ini.


"Kami hanya akan meminta keterangan Nona Bellova."


"Baiklah. Tolong kabari aku hasilnya."


Bellova kira ia butuh dukungan Raymundo saat ini. Setidaknya pria itu ikut bersamanya. Namun, Raymundo berbalik pergi. Bellova menatap pada punggung menjauh, tak menoleh.


Bellova menarik napas kuat.


Raymundo Alvaro kembali berdiri di depan ruangan ICU. Heningkan cipta menembus kaca, di mana Helena terbaring dengan begitu banyak selang. Tanpa perut berisi, tanpa bayi. Luka di seluruh wajah, kritis.


Oskan terlihat tak lama kemudian berdiri di sisi Raymundo Alvaro.


Bellova telah diterjang penderitaan, turut berduka cita bagi Helena. Di luar itu, rasakan sakit berlebihan bagi Belliza yang mencintai Oskan Devano sepenuh hati dan untuk dirinya sendiri. Nyeri menerpa hatinya.


Pandangi Raymundo Alvaro, harapkan keajaiban.


Lihat seberapa jauh kita telah melangkah, seberapa dalam kita terikat? Tetapi, itu tidak cukup.


Hidup meluncur jatuh, terselip rahasia. Jarak harusnya kian dekatkan dua hati yang sama-sama alami cinta kuat.


Atau tak cukup kuat?


Mungkinkah kita akan sampai di sana suatu hari nanti?


Aku mencintaimu ..., hanya kalimat penghantar dongeng indah sebelum tidur. Itulah mengapa sangat berbahaya mencintai seseorang secara berlebihan. Karena ketika dia tak bersedia bersamamu dalam kesulitan, hatimu tak temukan tempat sandaran, kamu jadi rapuh dan patah. Bellova bisa tolerir rasa sakit, lebih dari itu, ia berpikir cinta saja tidak cukup.


"Mari kita pergi, Nona Bellova!" Petugas bicara sopan padanya.


Bellova menarik napas kuat-kuat, mengangguk pasrah.


"Baiklah."


***


Tinggalkan komentar Vote, like dan segala hal yang dibutuhkan Author untuk berkembang.


Aku mencintaimu, Readers.