
Lucio Vargas baru kembali dari Perancis, tak sabaran ingin menjenguk Belliza, tetapi ia butuh waktu selesaikan beberapa urusan. Ia menginginkan Belliza, apalagi setelah mendengar Oskan Devano akan ceraikan Belliza. Better than expected, pucuk dicinta ulam tiba.
"Yakin ingin membuang istrimu?"
Lucio Vargas dan Oskan Devano berseberangan di ruang keluarga São Vicente.
Oskan tak menyahut. Tak ingin berbagi informasi apapun dengan Lucio, terlihat curigai Lucio Vargas.
"Bukankah tidak bijaksana ceraikan Belliza selagi dia butuh dukungan?"
Lucio Vargas hanya butuh kepastian Oskan. Mereka berebutan segala hal kecuali wanita. Itu karena selera Oskan dan dirinya berbeda. Oskan sukai wanita-wanita lebih sederhana, lebih polos dibanding dirinya yang menyukai wanita sedikit hot. Lucio Vargas benci harus akui bahwa Oskan pandai temukan wanita benar-benar luar biasa seperti Belliza. Kemudian bersyukur Oskan sangat bodoh tinggalkan Belliza.
"Kamu kedengaran tertarik pada urusan pernikahanku?" sergah Oskan tidak senang.
Lucio Vargas menggaruk ujung bibirnya.
"Kita satu keluarga meskipun kita sering bentrok. Lagipula, Belliza mungkin akan terpukul saat ia bangun dan tahu dia diceraikan selagi koma."
"Aku tak bisa bersama Belliza."
"Mengapa?!" Menyipit. "Nyonya Devano bilang, Belliza sangat mencintaimu. Apakah tak ada tanda-tanda Belliza akan bangun?" tanya Lucio Vargas ingin tahu tinggi.
Oskan tak menyahut sekali ini, tak mau berbagi apapun dengannya. Lucio Vargas menatap Oskan, lengkungkan senyuman terlangka.
"Jangan urungkan niatmu, Oskan. Aku mendukungmu. Ini pertama kali, aku di belakangmu."
Lucio Vargas tidak ingin Oskan tahu, ia inginkan Belliza. Jika, Oskan tahu, pria itu mungkin akan berubah pikiran. Jadi, selama dua tahun, Oskan tak pernah tahu bahwa Belliza bersamanya di malam sebelum wanita itu koma. Bahwa dirinya mendekap Belliza sepanjang malam dan antarkan Belliza ke rumah sakit esok paginya.
Lucio Vargas berharap Oskan terus saja mabuk cinta pada Helena Alvaro agar Lucio bisa bersama Belliza. Berdebar-debar. Belliza mengirim pesan menunggunya. Belliza bahkan tak beritahu suaminya bahwa ia telah bangun dari koma.
Cheryl berlari-lari kecil pada mereka.
"Daddy, aku punya kupu-kupu. Cekomaria menangkapnya untukku."
Cheryl begitu riang, naik ke pangkuan Oskan. Dan sepupunya berubah jadi pria paling lemah lembut yang pernah dilihat Lucio Vargas. Seandainya Oskan juga mencintai Belliza maka Lucio Vargas yakin ia akan cemburui nasib sepupunya itu.
"Rainbow butterfly?"
"Yeah, Daddy. Ini pasti jelmaan Mommy."
Cheryl menoleh pada Lucio Vargas. Mata indah kehijauan milik Belliza, Lucio Vargas pegangi jantung. Tubuh tak tutupi reaksi jatuh hati pada Cheryl, dan jatuh cinta pada wanita yang dipanggil Cheryl, "Mommy".
"Akkhh, aku bisa melihat seseorang sangat cantik dengan mata kehijauan itu. Tolong aku, Nona. Jantungku sekarat pada gadis kecil ini."
Cheryl tersenyum di atas rupa imut nan menggemaskan. Wajah Belliza. "Terima kasih Uncle Cio."
"Jadi, apa kamu yakin itu jelmaan Mommy?" tanya Lucio Vargas amati ekspresi datar Oskan Devano.
"Yes, Daddy bilang Mommy akan pergi ke surga. Benarkah itu?"
"Daddy-mu bukan Tuhan, hanya seorang pria na'if." Lucio Vargas bangkit berdiri. "Berikan aku satu ciuman lalu pergilah dan lepaskan kupu-kupunya, Sayang."
Cheryl turun dari pangkuan Oskan berlari pada Lucio Vargas, berikan pelukan kecil, tetapi Lucio tak biarkan gadis kecil pergi begitu saja. Menatap Cheryl dan memeluk erat.
"Semoga kamu cepat bersama Mommy, gadis pintar." Abaikan serangan wajah Oskan, Lucio Vargas menimang Cheryl. "Jika Mommy kembali, mari kita berkeliling Lisabon bersama Nicolleta dan Cekomaria."
"Menyenangkan. Apa Uncle Cio yakin Mommy kembali?"
"Uhum, katupkan dua tanganmu dan berdoa. Tuhan biasanya tidak tega pada anak baik."
Cheryl tinggalkan kecupan lalu kembali bermain.
"Jangan berikan harapan palsu pada Puteriku!"
"Lalu, aku harus bilang 'your Mom absolutely die?', Daddy akan cari pengganti Mommy, dan buat Cheryl bersedih sepanjang musim?"
Oskan tampak gusar karena ia benar. Menepuk bahu Oskan.
"Bergabunglah malam ini, teman-teman kita berkumpul di klub," undang Lucio Vargas pada Oskan. "Kamu perlu bersenang-senang."
"Lihat saja nanti!"
"Atau kamu lebih suka pesta gila-gilaan dengan teman-teman dari dunia gelapmu?" singgung Lucio Vargas pelan hingga Oskan menegang, terpancing emosi.
"Apa maksudmu?"
"Keistimewaan-mu akan tamat sepupu, saat Kakek tahu kamu terlibat dengan organisasi hitam. Istrimu menangkan hati keluargamu, tetapi kamu akan ceraikan dia. Jangan lakukan hal-hal konyol. Menyeret São Vicente juga Devano ke dalam kehidupan tak bermoral akan berakibat buruk."
"Trims, untuk pencerahannya." Oskan ikutan berdiri. "Aku harus pergi."
Lucio Vargas tahu, Helena, kekasih Oskan Devano sedang berada di rumah sakit dari Dean. Oskan pasti sengaja dekati Helena Alvaro agar bisa pegangi leher salah satu orang terdekat Axel Anthony, tetapi ia salah perkiraan. Oskan hanya terlalu bodoh untuk kaitkan diri.
Dean berikan banyak laporan, termasuk Oskan Devano pincang karena ditembak oleh kakak laki-laki Helena Alvaro. Oskan juga berencana terlibat mafia dan diburu Axel Anthony dari Anthony's Steel.
Sebuah pesan gambar dari Dean hampir rontokan jantung Lucio Vargas. Belliza duduk di depan bartender sedang minum segelas susu.
Bukankah Belliza mengirim pesan menunggunya datang? In the hospital, bukan di club.
"Dean, bawa Belliza ke lantai atas." Sedikit gemetaran ketika mengetik pesan.
"Beliau menolak dan akan pergi dalam 30 menit karena sibuk."
"Aku akan kesana sekarang!"
"Ya, Tuan. Nyonya Dakota dan teman-teman Anda lainnya juga nantikan kedatangan Anda."
***
Bellova ikuti Dean, manager klub menuju lantai lebih privasi, menolak halus untuk pergi ke ruangan pribadi Lucio Vargas.
Lewati lorong klub berdinding kaca, pantulkan tubuh ketika ia melangkah. Tempat ini sangat classy ditambah kemewahan dari pijaran lampu LED membentuk siluet di kaca. Sungguh menawan. Masuk lift dalam klub berbentuk kubus tersebut, tempat ini juga canggih.
Sampai di lantai teratas.
Jika lantai dasar dipenuhi lighting screen di seluruh dinding bewarna gradasi biru kehijauan, lantai atas begitu kalem dan tenang. Di lantai dasar,bar dan DJ booth terletak di kepala ruangan dan sisa ruangan adalah area dance sangat luas, maka lantai ini ..., Bar dan DJ Booth terletak di tengah ruang beratap dan ada area sendiri lagi di sana, sepertinya VIP zona. Sofa lebih privacy tampak di sana. Namun, kosong.
"Anda bisa menunggu Tuan Vargas di ruangan pribadi Beliau?"
"Terima kasih, bolehkah aku tunggu di sini saja?"
"Baiklah, Nyonya."
Getaran dari lantai dasar sungguhan hilang begitu ia berada di lantai teratas di mana setengah ruangan beratap dan setengah lagi outdoor, sajikan pemandangan indah sungai Tagus di malam hari. Dari atas sini, Vasco Da Gama terlihat menakjubkan dengan lampu-lampu indahnya. Berdiri di pojok karena terhipnotis. Di sisi lain, tak jauh darinya beberapa orang berkumpul di sebuah meja besar.
Lagu Easy on Me, Adele song yang di-remake oleh seorang penyanyi wanita bersuara lebih lembut, tetapi beat lagu lebih cepat dan musik remix meskipun kurangi dampak kesedihan dalam lagu, tetapi saja deep inside Bellova bergejolak.
Bellova hanya serahkan dirinya, tenggelam dalam suasana indah Tagus. Sedikit berbalik ketika nama seseorang dipanggil.
Viviane?!
Oh yang benar saja, di tempat seluas ini, Viviane bukan cuma seorang saja. Namun, Bellova menengok sedikit, temukan Viviane Raquel menggandeng Raymundo Alvaro, datangi lingkaran yang bangkunya mulai terisi.
Bellova tanpa sadar melekat di pembatas klub. Tatapan Raymundo Alvaro sedingin es di kutub, lekat padanya. Hanya hujaman sesuatu yang sangat sulit di mengerti. Pria itu ladeni Viviane tapi terus awasi dirinya, persis kekasih overprotektif posesif.
Apa salahnya? Mengapa Raymundo Alvaro terus menyiksanya?
Ataukah?
Apakah ini kebetulan? Mengapa mereka jadi sering bertemu? Abaikan denting kesedihan yang segera menyergap. Bellova tak akan sanggup lupakan wajah galak Raymundo Alvaro. Pria itu tak bisa melihat lukanya. Menyedihkan.
Bellova palingkan wajah, kembali pada sungai Tagus, lebih dalam dan suram. Ia bekerja keras menarik keterlibatan hati pada Raymundo Alvaro, tak berhasil baik. Tak bisa diungkapkan lewat kata, hingga ia kehilangan jati diri.
Suasana seketika sedikit riuh,tepuk tangan juga sapaan mengalir di udara.
"Lucio Vargas, apakah kamu bawa seseorang dari Bordeaux? Kamu terlalu lama single," sapa seseorang, Bellova mencari tahu saat nama Lucio Vargas disebut. Amati seksama pria yang dipanggil Lucio Vargas.
Dua kata, sangat tampan.
"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Wellcome home, Man. Kamu pasti gagal move on dari Dakota James."
"Oh ayolah, teman-teman, jika kalian terus mengaitkan Lucio denganku, suamiku tak akan ijinkan aku bermain kesini lagi," protes seorang wanita paling cantik di lingkaran. Bellova yakin si wanita bernama Dakota James.
Raymundo Alvaro tak lagi perhatikan dirinya, cepat larut bersama salah seorang pria dari grup itu dan berkenalan dengan Lucio Vargas. Mereka basa-basi, tidak, Raymundo Alvaro hanya buka mulut untuk ya dan tidak. Sangat kaku, tetapi bagi Bellova pria itu sangat menarik bahkan dibanding Lucio Vargas.
Oh ..., Bellova, cukup sudah!
"Nikmati waktu kalian, aku perlu temui seseorang." Lucio Vargas pamitan. "Aku akan segera kembali."
"Seseorang?" tanya yang lain.
Kini pandangan mereka tertuju pada Bellova, karena anak mata Lucio Vargas mencari-cari. Ketika temukan dirinya, Lucio Vargas tak berkedip, menatap terpana. Bellova menunggu, hirup udara banyak-banyak. Ia gelisahkan sesuatu yang tidak tampak nyata tetapi sangat berbahaya.
Senyuman Lucio Vargas berisi kerinduan, sukacita, cinta dan haru. Mirip seorang pria yang mencintai seorang wanita. Apa yang terjadi? Mengapa Belliza terlibat dengan Lucio Vargas? Belliza sama sekali tak bercerita soal Lucio Vargas.
Beberapa orang kenali Bellova sebagai Belliza. Terdengar desas-desus pelan. Lucio datangi dirinya dengan cepat. Tangan pria itu terulur, seakan hendak memeriksa.
"Hai ..., Sayang. Apa kabarmu?"
Suara berat, Bellova amati senyuman lembut dan hangat ditujukan padanya. Ketika sudut-sudut bibir Lucio melengkung, sesuatu terasa familiar, ingatkan Bellova pada seseorang. Oskan Devano.
Oskan?
Ya, Oskan. Mata Oskan abu-abu, tidak biru macam Lucio, tetapi senyuman mereka sangat mirip. Alasan Bellova pernah sangat sukai keramahan Oskan.
"Apa kabarmu?" tanya Lucio penuh perhatian sekali lagi. "Apa tak masalah kamu pergi dari rumah sakit dan datang kemari? Aku akan menjemputmu, apakah kakimu baik-baik saja?"
Pria itu bertekuk lutut dan singkirkan mantel hendak menyentuh kakinya. Bellova mundur dua langkah, jauhkan dirinya. Lucio berdiri.
Mata biru bersinar gemerlap di bawah lampu-lampu, jernih seperti samudera Atlantik. "Kamu kurusan? Aku pikir kerjamu hanya makan dan tidur, harusnya pipimu sedikit bengkak. Aku bawa parfum dan lipstik yang kamu minta."
Bellova mengernyih, hendak buka mulut tetapi Lucio Vargas tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Pria ini juga tak bisa bedakan dirinya dan Belliza. Satu-satunya orang asing yang bisa bedakan Bellova dan Belliza hanya Raymundo Alvaro.
Belum tentu juga, Raymundo belum bertemu Belliza. Kakaknya bisa semirip dirinya tanpa usaha berarti.
"Aku rindukanmu. Aku hampir gila memikirkanmu. Tak percaya kamu sungguhan kirimkan pesan menungguku. Kamu tahu, aku mengendap-endap jadi petugas rumah sakit agar bisa bicara denganmu ditiap akhir pekan." Lucio Vargas membelai rambutnya pelan.
Suara Lucio Vargas pernah Bellova kenali waktu di dalam lift saat menolong Ibunya yang hampir jatuh karena sedih. Lucio bermasker waktu itu dan Bellova sendiri memakai masker juga kaca mata.
"Mengapa tak tunggu di ruangan dalam? Aku menggantung kemeja dan jas yang kamu kotori malam itu di sana."
"Apa hubunganmu dengan Belliza, Tuan Vargas?" tanya Bellova merasa perlu tahu jawaban sekarang dan perlu luruskan beberapa hal.
"Em?!" Memeluk Bellova makin kuat bahkan terlalu kuat hingga Bellova sesak napas.
Lepaskan pelukan, amati Bellova.
"Aku menyukaimu, Belliza. Kita bersama satu malam, saat kamu datang kemari dan mabuk. Malam sebelum kamu koma."
"Apa yang terjadi pada Belliza?"
"Kamu kecewa pada Oskan karena berselingkuh. Kamu mengumpat padaku sepanjang malam. Kamu lupa? Mari kita ke dalam. Aku tak makan seharian setelah antarkanmu ke rumah sakit karena takut sesuatu terjadi padamu sementara aku makan." Menjelaskan dengan sabar, seolah-olah Bellova adalah Belliza yang hilang ingatan.
"Aku Bellova, Tuan Vargas. Belliza kakakku. Kita pernah bertemu di lift ketika Anda kunjungi kakakku."
Lucio Vargas menatap Bellova tanpa berkedip. Menyipit.
"Maaf buatmu bingung. Aku Bellova."
Lucio Vargas menarik Bellova ke dalam pelukan sekali lagi. Seakan tak percaya dirinya bukan Belliza.
"Aku datang ingin konfirmasi banyak hal, Tuan Vargas. Tolong lepaskan aku."
"Dengar Belliza, jangan lakukan ini padaku! Mari perbaiki banyak hal."
"Tuan Vargas, aku Bellova."
Viviane datang mendekat.
"Teman-teman menunggumu, Lucio," kata Viviane menatap Bellova tajam. "Hai ..., Bellova. Aku tak menyangka kamu juga ada di sini?"
"Ya, aku sedikit ada urusan." Lepaskan diri dari pelukan Lucio.
"Hampir saja aku berpikir, kamu menguntit calon suamiku."
Bellova menarik napas panjang. Berpaling dari Viviane, kesal tetapi tak berdaya. Mengangkat wajah kembali menatap Viviane muak.
"Nona, Anda seakan tidak percaya diri pada pernikahanmu sendiri. Please, jangan ganggu aku!"
"Ya, aku sedikit kacau karena sebuah foto yang dikirimkan padaku." Viviane berdecak.
"Apa maksudmu?" tanya Bellova pelan.
"Jadi, apakah kamu akan datang ke pernikahanku dengan Lucio Vargas, Bellova?" Viviane abaikan penasaran Bellova.
Lucio Vargas mungkin baru percaya bahwa dirinya bukan Belliza.
"Viviane, tolong kembalilah ke tempatmu! Bellova adalah tamuku."
"Ya, tetapi semua orang menunggumu."
"Mulai saja tanpa aku, nanti aku bergabung," sahut Lucio Vargas pada Viviane, tersenyum kecil agak mengusir. "Bellova, mari ke dalam."
***
Keluar dari kamar mandi, pandangan terbentur pada ranjang, di mana ia dan Bellova pernah tidur bersama sebelum pergi camping. Mengeram.
Bellova dan Deenar jatuh cinta padanya. Apa yang mereka lihat darinya? Pantulan wajah di cermin hanyalah seorang pria dengan banyak bekas luka di wajah, keras dan kaku.
Kembali pulang ke rumah menjemput Viviane. Calon istrinya kerumitan lain hidupnya. Mereka pergi ke Luxury Klub.
"Kamu punya Tuan Vargas dan pria itu masih single. Mengapa tak menikahinya saja?"
Viviane merengus. "Lucio Vargas tak suka pernikahan dan kami tidak begitu dekat."
"Lalu?"
"Teman-temanku adalah teman-temannya, jadi dia temanku juga."
Viviane memoles gincu, lebih-lebihkan dan mencap-mencap bibir atas bawah. Wanita itu terus berdandan. Gunakan sesuatu yang pekat pada mata hingga terlihat lebih tajam.
"Ceritakan tentang dirimu, Tuan!" pinta Viviane sambil semprotkan pewangi.
"Apa yang perlu kamu tahu?"
"Hal-hal dasar, keluargamu dan lain sebagainya. Aku butuh jawaban saat teman-temanku bertanya tentangmu."
"Aku yakin kamu punya banyak bahan untuk membungkam mulut mereka."
"Tolong bekerja sama-lah denganku Tuan!"
Raymundo tak menyahut.
Saat mereka sampai di klub, tempat itu telah berhenti menerima pengunjung. Namun, Viviane adalah salah satu orang terdekat Lucio Vargas. Menurut Viviane meskipun Viviane mengaku baru bergabung dalam lingkaran pertemanan Lucio Vargas.
Mereka sampai di klub, masuk ke dalam. Dari pintu masuk, Raymundo Alvaro tak salah kenali siluet wanita yang berjalan didampingi seorang pria.
Untuk apa wanita itu ada di sini? Bertemu Lucio Vargas?
Viviane pegangi lengannya dan mereka pergi ke ruang atas diantar salah satu staf klub.
"Sepertinya semua orang telah menunggu di atas. Dan aku melihat Nona Bellova. Apakah ia juga akan bergabung di lingkaran ini?"
Raymundo tak menyahut. Masuk ke lift, pergi ke lantai paling atas. Di sana teman-teman Viviane telah berkumpul di sebuah meja besar dan panjang. Minuman dibawa dan makanan juga.
"Viviane?!"
Seruan riang gembira berlimpah semangat. Ada pelukan, ciuman juga basa-basi para wanita.
"Ini calon suamiku," kata Viviane riang. "Tuan Raymundo Alvaro."
"Hai Tuan, senang bertemu Anda. Aku Gladys Fabian."
"Hai," balas Raymundo berjabat tangan. Matanya bertemu mata Bellova. Tak lagi fokus pada teman-teman Viviane.
Raymundo tak berhenti awasi Bellova Driely di sudut, berdiri menghadap ke danau Tagus dan seorang pria sepertinya manager klub dari cara berpakaian berdiri di sisinya. Pria itu kemudian pergi.
Tak berapa lama berselang, Lucio Vargas datang. Berdiri di puncak tangga terima sambutan riuh teman-temannya. Bersalaman dan bertukar kabar. Mereka berkenalan. Basa-basi sebentar, sejak kedatangannya, Lucio Vargas lebih tertarik pada Bellova ketimbang hal lain, dari cara pria itu lebih fokus pada Bellova yang seakan menunggunya dengan sabar.
Raymundo longgarkan dasi. Sangat gerah. Mata Lucio Vargas bisa lelehkan wanita dan Bellova-nya yang ceroboh mungkin akan jatuh hati pada Lucio Vargas.
Biarkan saja!
Tidak bisa.
Mengapa tidak bisa, Raymundo Alvaro? Kamu tak bisa terus menahan Bellova untuk ketidak-pastian.
Baiklah, biarkan saja Bellova bersama pria lain.
Lalu, mengapa saat Lucio Vargas sangat perhatian pada Bellova dan memeluk Bellova, Raymundo segera terbakar. Jika, Freddy Mark, salah satu teman Viviane tak mengajak ia bicara, Raymundo tak yakin pada tindakan selanjutnya.
"Jangan coba-coba cari masalah dengan Lucio Vargas."
Satu pesan masuk dari Black Mask. Temannya tahu ia mengunjungi Luxury Klub.
"Aku hanya mengunyah gurita," balas Raymundo alihkan tatapan dari Bellova pada makanan di hadapannya. Ia merasa panas dan bergetar ketika Lucio Vargas terus saja mendekap Bellova.
"Anda alergi gurita, Tuan."
Black Mask mengirim pesan peringatan. Abaikan.
Bellova sangat cepat jatuh cinta ya? Dia memang ceroboh.
Tidak. Bellova jatuh di tangan yang tepat kali ini. Lucio Vargas ..., sangat tampan bahkan pesona pria itu menggemparkan. Viviane berdandan hebat, Raymundo yakin karena Lucio Vargas. Lepas dari itu, Lucio Vargas terlalu bermartabat untuk berperilaku bejat.
Biarkan saja Bellova! Namun, Raymundo Alvaro mulai kehilangan damai ketika Bellova dibawa pergi.
"Bukankah wanita barusan Belliza Driely?" tanya salah seorang pria. "Bukankah Belliza telah menikahi sepupu Lucio?"
"Bukan, yang itu Bellova, adik Belliza," sahut Viviane minum sedikit soda.
"Benarkah? Wah, luar biasa, sangat mirip Belliza."
"Apakah mereka kembar?" tanya yang lain.
"Identik," balas Vivian melirik pada Raymundo.
"Apakah Bellova masih single? Lucio sepertinya jatuh cinta pada saudara kembar iparnya? Kurasa Oskan dan Lucio Vargas akan miliki bayi-bayi kembar, bukankah sangat lucu?"
Salah seorang di antara mereka membuat lelucon. Suasana jadi ramai.
"Asal tak tinggal satu rumah, atau Lucio Vargas akan kebingungan mana istrinya dan mana kakak iparnya? Mereka sangat mirip."
Terkekeh. "Beruntung sekali Oskan dan Lucio, jika benar begitu."
"Aku pergi sebentar," pamit Raymundo.
"Kemana?" tanya Viviane menyipit curiga.
"Aku butuh toilet."
Viviane tersenyum kecut, "Jangan buat keonaran di tempat ini!"
"Lipstikmu berantakan," balas Raymundo tajam.
Pergi dari sana ke lift. Raymundo turun ke lantai satu. Pria yang bersama Bellova, terlihat hendak Naiki tangga bawa beberapa barang.
"Tuan Alvaro? Apakah Anda akan pulang?"
"Tidak, aku mencari Lucio Vargas."
Dalam satu gerakan cepat, Dean Thomas telah jadi sanderanya.
***
"Terima kasih karena telah sangat perhatian pada Belliza, tetapi aku perlu kembalikan uang Anda yang digunakan untuk membayar dokter spesialis saraf. Aku tak tahu berapa jumlah pastinya, tapi aku tak ingin berutang," ujar Bellova berikan kartu dan secarik kertas berisi pin pada Lucio.
"Bellova ..., jangan salah paham. Aku ingin Belliza kembali karena ingin bersamanya."
"Belliza mencintai Oskan dan Cheryl."
"Oskan akan ceraikan Belliza."
"Apa?! I ... tu tidak mungkin." Bellova menggeleng keras. "Oskan tak akan lakukan itu. Mereka memang tidak baik-baik saja tetapi Oskan tak akan ceraikan Belliza."
"Bellova, Oskan adalah kakakku dan kami bersama tadi. Oskan akan ceraikan Belliza."
Bellova bangkit berdiri, apakah Belliza tahu? Ia harus temui Belliza. Semoga Belliza tak tahu apapun.
"Belliza mungkin tahu," kata Lucio Vargas seakan bisa menebak pikirannya. Bellova bak tersambar sesuatu, pegangi dada segera kesakitan. Ia merasa sangat tertekan dan pilu.
"Oskan menangkan hak asuh Cheryl."
"Apa yang Anda katakan? Oskan tak mungkin sekejam ini? Cheryl butuh Belliza. Di mana Cheryl?"
"Kondisi koma Belliza buat pengadilan berpihak pada Oskan."
"Tidak, kakakku telah bangun. Aku akan bawa kakakku. Tidak, aku akan gantikan Belliza bila perlu. Aku bisa merawat Puteriku!" jerit Bellova tanpa sadar, sangat terpukul. Ia bahkan mulai menangis putus asa. Bernapas tersengal-sengal. Bagaimana bisa Oskan lakukan ini pada Belliza? "Di mana Oskan? Bantu aku bertemu Oskan."
Bellova datangi Lucio Vargas, pegangi kedua sisi blazer Lucio Vargas.
"Bagaimana Puteriku? Apakah Cheryl di kediaman Anda? Tolong, bawa aku bertemu Oskan dan Cheryl. Aku butuh bicara pada Oskan."
"Tenanglah!"
Lucio Vargas menarik Bellova dan memeluknya.
"Belliza dan aku bersalah karena bohongi Oskan. Kami tak bermaksud begitu. Belliza hanya terlalu mabuk dan tak sadar ciptakan Cheryl bersama Oskan. Tapi bukankah Oskan sudah sangat menyiksa kakakku?"
Bellova meraung emosional. Pintu terbuka.
"Dean Thomas?" Lucio Vargas baru saja akan menghardik oleh ketidak-sopanan Dean Thomas. Namun, Lucio Vargas berubah tegang. Moncong pistol di kepala Dean. Raymundo Alvaro di sisi pria itu.
"Menjauh dari Bellova, Tuan Vargas!" anggukkan kepala beri perintah.
"Tuan Alvaro, Anda melanggar aturan dengan bawa-bawa senjata ke tempatku!"
"Aku ..., pria tanpa aturan. Tolong singkirkan tanganmu darinya!" Sisi rahang Raymundo siratkan tidak suka lalu berganti jadi amarah.
Bellova lepaskan diri dari dekapan Lucio, pegangi kepala, tiba-tiba sangat sakit. Mengusap air mata dan mengambil tasnya. Melangkah sempoyongan.
"Aku harus pergi," kata Bellova.
"Pergilah lewat ruang tidurku." Lucio Vargas mengangguk.
Bellova baru saja akan menuju tangga ketika pistol meletus dan sesuatu pecah di sisi tangga. Hentikan langkah.
"Ya Tuhan!"
Bellova menjerit, lemparkan tas frustasi dan berlari pada Raymundo.
"Apa maumu, Brengsek?"
Bellova pegangi jaket Raymundo Alvaro dan berseru marah.
"Apa maumu dariku? Beritahu aku! Aku sangat lelah dan muak dengan situasi ini. Kamu datang sesuka hatimu dan pergi semaumu. Aku berdiri seperti orang bodoh dan biarkanmu seenaknya padaku."
Raymundo Alvaro tak menyahut, pupil mata mengecil juga rahang berderak.
"Sudah cukup! Berhenti menyiksaku! Tembak saja aku dan akhiri ini!"
Bellova meraih senjata Raymundo Alvaro. Ujung pelatuk di kening Bellova, dan wanita yang putus asa meremas benda itu kuat.
"Tarik pelatukmu dan akhiri ini! Aku benci karena tak tahu cara selamatkan diriku darimu. Kamu ..., kikuk, penuh emosi jahat, punya gangguan amarah, obsesif impulsif dan aku benci karena cinta bertepuk sebelah tangan. Aku akan melangkah dan lihat jalan yang bagus untukku, bisakah berhenti posesif padaku seakan-akan, aku kekasihmu?" Mata Bellova menyala-nyala. Nada Bellova meninggi dan air mata turun cepat.
"Hei hei ..., lepaskan benda menakutkan itu!" Lucio Vargas mendekat perlahan. Singkirkan tangan Bellova. "Berikan padaku, Tuan Alvaro!"
Mengambil benda hitam itu dari tangan Raymundo Alvaro.
"Bellova ...."
"Apakah kamu rasakan isi hatiku dan sedikit bersimpati?"
"Baiklah, mari kita bicara!" Raymundo Alvaro berkata pelan, ulurkan tangan hendak menyentuh wajah Bellova.
"There's nothing left to say! just ..., good bye."
Bellova berbalik hendak pergi, tetapi Raymundo merengkuh lengan Bellova dan hentakan Bellova padanya.
"Pinjamkan kami kamar mandi," ujar Raymundo menatap Bellova tajam.
"Aku tak sukai ini, Tuan! Sungguh! Menjauh saja dariku!"
"Di mana kamar mandi?" tanya Raymundo lagi abaikan Bellova.
"Di atas!" sahut Lucio Vargas berikan senjata pada Dean Thomas. "Jangan kasar padanya, Tuan! Tidakkah Anda lihat Bellova sangat bersedih?"
Abaikan Lucio Vargas, Raymundo Alvaro menyeret Bellova, lewati tangga. Lucio Vargas awasi dari bawah.
Jadi, baik Belliza juga Bellova terjebak dalam cinta runyam?
Berdiri di pintu kamar mandi, Raymundo mengusap air mata Bellova sedang Bellova menghindar, berusaha menepis. Pria pemaksa ini, Raymundo Alvaro. Tak suka Bellova abaikan dirinya. Menuntut Bellova tengadah padanya, tempelkan kening mereka. Singkirkan air mata juga helaian rambut dari kening Bellova.
"Apa maumu?" tanya Bellova pasrah.
Raymundo keluarkan testpack dari saku jaket, meraih tangan Bellova dan menaruh benda itu di atas telapak tangan. Katupkan kembali.
"Masuklah ke dalam dan beritahu aku hasilnya!"
***
Wait me up!
Wajib tinggalkan komentar. Mengapa? Karena pertanda Anda mencintai My Hottest Man.