
Ponsel berdering, Raymundo Alvaro sungguhan abaikan panggilan demi panggilan. Hanya bersandar di sofa dan pejamkan mata. Dibalik kulit wajah, rahang terus-terusan berderak. Cincin pernikahan lingkari jari, satu tangan kosong sibuk bermain-main dengan cincin pernikahan.
Pria sulit untuk di mengerti. Lipat tangan di dekat jendela, Deenar prihatin pada pria yang ia cintai tapi kini menikahi wanita lain itu. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan karena Raymundo terlihat berbeda dari biasanya. Entah apa yang bergejolak di dalam diri si pria? Apa keinginan pria itu?
"Ponselmu berdering sejak tadi, Romeo!" tegur Deenar tak ingin mendekat karena ketika ia coba menyentuh, pria itu menolak keras.
"Angkat! Katakan aku sedang tidur."
Deenar menggeleng. "Bukan istrimu!"
"Biarkan saja kalau begitu."
"Mungkin panggilan mendesak sebab jika tidak untuk apa lakukan panggilan berulang kali?"
Abaikan pria patah hati yang bermuram durja, Deenar meraih ponsel, sentuh layar untuk jawab panggilan.
"Halo, Tuan Alvaro...."
"Tuan Alvaro sedang tidur! Ini temannya ..., Deenar."
"Bisakah aku bicara pada Tuan Alvaro. Aku Noel, pengawas gerbang di mansion Anthony."
"Katakan saja, ada apa?" Deenar aktifkan pengeras suara.
"Ini tentang Nyonya Bellova."
"Apa yang terjadi pada Nyonya?"
Raymundo Alvaro bergeming. Pria itu tampak tak terpengaruh. Namun, Deenar yakin telinga si pria sedang siaga sempurna.
"Tolong kabari pada Tuan Alvaro bahwa Nyonya Bellova naik taxi 5 menit yang lalu."
"Tuan Alvaro mendengarkanmu, Noel," balas Deenar. "Apakah kamu tahu kemana Nyonya pergi?"
"Tidak. Beliau terburu-buru ingin pergi ke suatu tempat."
Raymundo bangkit dan merebut ponsel dari Deenar. "Noel?!"
"Ya Tuan."
"Mengapa tak suruh Lucas Rion ikuti kemana Nyonya pergi? Apa saja kerjamu?"
"Maafkan aku Tuan. Aku sendiri yang bertugas. Rion ..., diare sejak siang tadi. Aku kirimkan plat taxi pada Anda karena Nyonya Bellova naik taxi yang salah."
"Apa maksudmu?"
"Taxi yang Nyonya Bellova pesan datang setelahnya. Sopir taxi berusaha hubungi Nyonya tapi ponsel tak diangkat."
"Kirimkan nomer taxi padaku! Aku akan periksa."
Panggilan berakhir.
"Twin B mungkin pergi ke studio," ujar Deenar. "Aku bekerja 24 jam agar bisa melupakanmu. Istri yang kecewa bisa lebih ekstrim dari itu."
Raymundo meraih jaket dan bergerak keluar.
"Aku ikut."
"Tidak perlu, tinggal saja di sini!"
"Oh tidak! Ini semua salahmu, Romeo. Anda sangat kekanak-kanakan," keluh Deenar bergerak mengekor Raymundo Alvaro. Naik ke mobil. Mereka pergi ke studio.
Ruang kerja di lantai dua menyala.
"Aku rasa dia datang untuk kerjakan sesuatu!"
Raymundo turun abaikan Deenar, datangi pintu studio sambil menelpon BM.
"Ada apa?" sahut BM malas-malasan menjawab panggilan.
"Caritahu di mana Juliet!"
"Bukankah aku sudah dipecat?" tanya BM kalem dari sebelah.
"Kamu kembali bekerja sekarang!"
"Maafkan aku, tetapi aku telah temukan bos baru. Silahkan cari pengganti. Aku tak keberatan."
"Aku sedang marah."
"Ya ya ya di mengerti, menjeritlah pada dunia! Tumpahkan sesuka hati. Aku tak harus menampung aspirasi Anda, Tuan."
"Aku tidak bercanda."
"Dengar, Tuan Raymundo Alvaro yang terhormat. Aku harus bekerja. Seorang bandar narkoba lakukan pertemuan tertutup dengan pemilik yayasan ternama di sebuah hotel. Bisakah kamu tangani sendiri kehilangan istrimu?"
"Kehilangan istri?" tanya Raymundo tajam. "Aku tidak bilang Bellova hilang."
"Perintah Anda jelas menyuruhku caritahu di mana Juliet, bukankah ada indikasi Juliet kabur darimu?"
"Raphael Rui Bourne?!" Raymundo mengunyah rahang, sebutkan nama panjang BM pertanda jika BM masih main-main, pria itu akan datang dan menanduk salah satu mainan berharga dalam sarang BM.
"Baiklah, baiklah!" BM mengalah.
"Satu menit."
"Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan padanya hingga Juliet lari darimu di tengah malam begini?"
"Cari saja kemana dia pergi!"
"Bukankah Anda perlu menekan tombol di kepala ranjang, pergi ke ruang bawah tanah dan berikan Juliet bisikan penuh gelora?"
"Apakah kamu kehilangan kemampuan untuk katupkan mulutmu?" hardik Raymundo terhasut emosi.
"Ya Tuhan, berhenti marah-marah! Mengapa buat wanita kesal di hari pernikahanmu? Cukup buruk adik iparnya meninggal dan Juliet tak dapatkan pernikahan idaman. Ditambah suami teraneh di dunia. Bagaimana bisa tak tahu istrimu pergi? Itulah mengapa suami harus memeluk istrinya di malam pertama pernikahan bukannya melanglang buana ke tempat lain."
"Berhenti mengoceh dan cari saja istriku!"
BM jauhkan ponsel, meyakinkan saat tangannya menari di atas keyboard laptop, bunyi ketikan sampai di kuping Raymundo.
"Manis sekali saat kamu katakan 'istriku'. Malang sekali wanita yang jadi istrimu." Hening. "Kamu hanya mengganggu jadwal kerjaku saja. Ingatlah bahwa kamu bukan satu-satunya pastisipan!"
"Apakah kamu temukan sesuatu?" balas Raymundo dingin.
"Sabar sebentar, aku bukan robot canggih. Juliet mungkin sedang hirup udara segar. Aku mengunduh gambar dari ruang tidurmu, memotongnya di menit-menit Juliet ada di kamar." BM bicara kuatir. "Apa yang terjadi? Ponselnya masih di ruang tidur, di atas ranjang."
Raymundo mematung di depan studio, kembali ke mobil, mengambil kunci yang ia lupakan tadinya.
"Juliet sepertinya sedang sakit. Wanita yang malang. Harusnya nikahi aku, Juliet. Hidupmu pasti bahagia."
Sementara BM terus membual, Raymundo masuk ke studio, langsung ke ruang kerja mengendap-endap. Pintu didorong pelan. Ruangan itu terang benderang, ada kertas gambar, pensil dan bahan di atas meja. Ada banyak model kemeja putih, tetapi tak ada siapapun. Raymundo masuk ke dalam.
"Kena kau brengsek!" Ada pistol mengarah langsung di sisi kepalanya. Lucio Vargas dibalik pintu dan Belliza ketakutan dalam pelukan pria itu.
"Di mana Bellova?" tanya Raymundo tak bicara basa-basi.
"Di mana Bellova?" Belliza ajukan pertanyaan balik, agak panik. "Di mana adikku? Apa yang terjadi?" Belliza memeluk lengan Lucio erat, lemas di seluruh tubuhnya. "Oh ini buruk Lucio, adikku tidak baik-baik saja. Aku merasakannya! Lucio, cari adikku!"
Belliza nyaris menjerit.
"Belliza, tenanglah!"
"Tidak, berhenti menyuruh aku tenang! Aku tak bisa rasakan Bellova. Sesuatu terjadi pada adikku!"
Belliza menatap Raymundo murka dari balik lengan Lucio.
"Apa yang kamu lakukan padanya? Aku benarkan, Lucio, pria ini tidak beres!"
"Akh, terbuat dari apa kamu Raymundo Alvaro?" Lucio Vargas berdecak sambil memeluk Belliza. "Bellova bersamamu dan tidak pernah kemari."
"Aku akan mencarinya!"
"Dengar aku Raymundo Alvaro. Apa untungnya bagimu menyiksa Bellova? Apa kamu pikir, kamu akan temukan wanita yang bisa mencintaimu dan menerima kekuranganmu seperti yang Bellova lakukan?" Lucio Vargas bicara kasar pada Raymundo Alvaro. "Lihatlah dirimu, kau sungguh menyedihkan! Kamu telah temukan Bellova dan malah sia-siakan dia."
"Aku pergi!"
"Lucio, please. Aku perlu mencari adikku."
"Tidak. Aku harus tahu keadaan Bellova. Sungguh menyebalkan karena seseorang menikahi adikku tanpa sedikit rasa empati, sama sekali tak bertanggung jawab. Dan aku mendorong adikku karena yakini cintanya pada pria ini. Lihatlah pria ini! Tak ada apapun padanya selain orang jahat." Menangis terisak-isak. Belliza cemaskan Bellova.
"Belliza ..., semuanya akan baik-baik saja!"
"Helena meninggal, aku bisa lihat masalahmu. Kamu sangat sayangi adikmu dan berpikir bahwa kematian Helena karena keterlibatan aku juga adikku. Lalu, apa sekarang? Apakah kamu ingin Bellova menderita?"
"Belliza ...."
"Tujuanmu nikahi Belliza untuk menyiksanya?" serang Belliza coba menahan murka. "Aku akan jujur padamu, Tuan. Akulah yang bersama Helena malam itu. Kamu bisa menghukum aku."
"Belliza ...." Lucio Vargas kehabisan cara.
"Aku sangat menderita karena Oskan menikahiku untuk menyiksa Bellova. Dan kemudian bersama Helena agar aku terluka. Kami tak pernah benci pada Helena. Kamu bisa lukai aku sekarang. Aku tak peduli hanya temukan adikku!" Nada kian meninggi.
"Belliza ...." Lucio Vargas pegangi Belliza karena kemarahan Belliza sebabkan wanita itu lemas dan terjatuh dalam pelukan Lucio. "Kendalikan dirimu!"
Lucio Vargas menoleh pada Raymundo Alvaro.
"Temukan Bellova. Kita selesaikan masalah. Kami tak akan lari."
Tak ada tampang sering menggoda, Lucio Vargas menatap tajam dan berusaha tak timbulkan konflik demi kondisi Belliza.
Menggendong Belliza, Lucio Vargas tinggalkan Raymundo pergi ke lantai atas. Sedangkan Raymundo Alvaro keluar dari studio. Melangkah panjang menuju mobil.
"Plat yang digunakan sopir taxi untuk menjemput Juliet adalah plat palsu. Ini maslaah serius karena Juliet diculik seseorang!" sambut Deenar setelah pintu mobil ditutup keras.
"Aku akan kembali rumah dan mencari tahu dari sana. Turunlah dan naik taxi kembali ke tempatmu!"
"Baiklah!" sahut Deenar tak ada yang bisa ia lakukan lebih banyak.
Raymundo kemudian larikan mobil kembali pulang ke kediaman Anthony. Siapa brengsek sialan yang berani menculik istrinya. Ia masuk ke dalam rumah langsung ke ruang tidur, meraih ponsel Bellova. Screen ponsel adalah kalender bulan Februari ada tanda love di tanggal hari ini.
Raymundo membuka ponsel, memeriksa galeri.
Pertengahan Januari ada video Bellova, memutar file. Wanita itu nyalakan kamera lalu duduk di ujung ranjang. Habis mandi sepertinya dari rambut basah dan wajah bersih. Raymundo terpana di tengah ruangan.
"Hai ..., aku tak suka katakan ini. Aku pikir aku menyukai Anda, Tuan. Ini sangat sulit bagiku karena harus jujur padamu tentang perasaanku. Aku berharap aku punya keberanian untuk kirimkan video ini padamu. Sejak kembali dari Zaragoza, aku temukan bahwa aku hanya ingin melihat Anda."
Video lain.
"Aku senang mendengar suaramu dan berharap Anda bertanya kabarku bukan hanya membahas Miradoura. Sungguh konyol karena aku jatuh cinta padamu dan masih menantikan balasan."
Video lain. Sepertinya di sekolah. Loading, diputar. Acara pentas amal. Beberapa guru bermain musik.
"Ibu guru Bellova, apakah Anda tahu bahwa, guru magang kita, Samuel Diego menyukai Anda?" Suara seseorang di antara musik dan nyanyian.
"Semua murid menyukaiku."
"Tetapi, Sam Diego sungguh-sungguh ingin nyatakan cinta pada Anda."
"Apakah aku akan baik-baik saja dengan pria yang lebih muda 5 tahun dariku?"
"Sam sangat cute dan manis."
Raymundo menekan tombol keluar. Untuk apa merekam video yang tidak penting?
Deleting.
Raymundo memeriksa panggilan. Tak ada yang mencurigakan. Panggilan paling atas pastilah supir taxi. Keluar ke ruang kerja, nyalakan laptop dan mulai memeriksa kamera pengawas. Menelpon BM. Panggilan di alihkan.
Mengirim pesan. "Apakah kamu temukan sesuatu?"
Tak ada balasan.
***
Bellova begitu mengantuk ketika tubuhnya di dudukkan di atas kursi roda. Didorong ke sebuah ruangan. Ia menandai suara di sekitarnya, kesibukan bandara.
"Selamat malam, Tuan! Semoga perjalanan Anda berdua menyenangkan." Seseorang menegur.
"Terima kasih."
Suara sopir taxi. Bellova tak punya kekuatan untuk bangun dan bergerak tetapi sadar penuh pada apa yang sedang terjadi. Bahwa ia telah diculik si sopir taxi dan kini ia akan dibawa ke sebuah tempat. Kemana? Apakah suaminya tahu? Apakah pria itu mencarinya? Apakah pria itu mungkin memikirkannya? Walaupun hubungan mereka ada dalam situasi rumit, Bellova tak ingin tinggalkan Raymundo Alvaro. Suaminya butuh diselamatkan dari diri pria itu sendiri.
Bellova merindukannya.
"Juliet, maafkan aku harus gunakan cara ini. Tidurlah sementara waktu. Kita akan sampai di Keflavik dalam 4 jam 50 menit."
Keflavik? Islandia? Ia sungguhan akan dibawa bermil-mil jauh dari Raymundo Alvaro. Bellova ingin meronta, tetapi semakin ia berusaha, ia semakin mati rasa.
Help me! Mengapa tak ada seorangpun sadari betapa ia dalam bahaya?
Bellova disuntik lagi, jatuh bangun dalam kantuk lalu tertidur.
Entah berapa lama agak buram ia menangkap beberapa kejadian samar-samar seperti naik bus lalu deru berasal dari baling-baling helikopter. Jelas mereka ada di sebuah tempat di Islandia saat ini.
"Seandainya kamu tak tertidur, kamu bisa melihat tempat tujuan kita. Sangat indah."
Sopir taxi bisa sehebat ini? Bukankah sangat jelas bahwa pria ini bukan si sopir taxi biasa?
Bellova dipeluk erat. Masih mengantuk, lagi-lagi tidur.
Burung-burung pantai bangunkan Bellova. Masih lumayan pening, mata menyapu loteng di atasnya. Sangat asing. Bangun. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa dirinya secara detil. Temukan bahwa ia masih memakai pakaian yang sama dari semalam. Bahwa ia tak menerima pelecehan atau kekerasan.
Turun dari ranjang, mata berbenturan pada jaket hitam Raymundo Alvaro, tergantung di sisi salah satu dinding.
Bellova tertatih-tatih pergi ke sana. Ada aroma suaminya dan memeluk benda itu erat-erat. Mendekat ke jendela. Kesadarannya pulih dengan cepat. Ia berada di sebuah rumah.
Bukan rumah biasa.
Bellova berlari ke sisi lain dan temukan bahwa rumah ini adalah satu-satunya hunian di pulau kecil ini. Para Puffin berjemur di di rerumputan hijau. Bellova lekas keluar dari kamar. Ruang yang lebih besar adalah ruang santai, ruang makan dan dapur yang menyatu. Di atas tungku sesuatu meletup di dalam panci. Aromanya buat ia kelaparan.
Seorang pria berdiri di sana di dapur memakai celemek. Saat berbalik, Bellova lebih jelas melihat, muda dan berambut cepak, tawarkan senyuman paling tulus yang pernah dilihat Bellova selain keluarganya.
"Aku buatkan Anda makanan. Romeo sering buatkan Queena makanan lezat tanpa sepengetahuan Queena. Dia sangat manis saat mencintai kekasih Tuan Axel Anthony."
"Kamu pasti orang terdekat suamiku."
"Ya, aku mata-kaki-tangan dan tempat sampah bagi Romeo."
"Perumpamaan yang bagus. Aku tak suka ide ini, menculikku dan pisahkan kami. Aku bisa hadapi suamiku apapun masalah kami."
"Wanita yang luar biasa. Sayangnya, denganmu Romeo butuh sedikit pengungkit. Jika tidak, ia terlena pada keimanan bahwa Anda berada dalam genggamannya dan tak bisa kemana-mana tanpa seijinnya. Aku baru saja beri Romeo pelajaran."
"Apa yang kamu harapkan bisa ia lakukan?" Bellova mengurut keningnya.
"Apakah Anda masih pening, Juliet? Aku buatkan makanan. Ayo sarapan, aku akan segera pergi dari sini. Tetapi, kita akan terus berkomunikasi. Aku akan tunjukan caranya."
"Bawa aku kembali. Aku harus bersama suamiku."
"Tidak, jika dia mencintai Anda maka Romeo akan mencari dan menemukanmu."
"Ia pasti akan menemukanku."
"Anugerah bagi seorang manusia adalah punya sahabat yang bisa diandalkan sekaligus kelalaian karena mereka berbagi terlalu banyak rahasia. Mudah bagiku untuk menutup semua informasi baginya. Tapi, Romeo akan kemari seperti tebakanmu."
"Dia tahu tempat ini?"
"Ya. Tetapi kamu perlu tahu Juliet. Hanya ada dua cara datang kemari, lewati udara dengan helikopter atau memanjat tebing pulau. Tetapi, tempat ini milik pemerintah. Romeo tak akan bisa datang lewat udara sekalipun ia punya banyak uang."
"Lalu, mengapa kamu bisa?"
"Anggap saja, ini keistimewaanku."
***
Wait me up!
Do you like this Chapter?
Beritahu aku di kolom komentar? Apa yang akan terjadi nanti?
Beritahu aku di kolom komentar.