My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 54. Twins Intrick


Bellova dalam genggaman Raymundo Alvaro empat hari kemudian kunjungi Helena di ruang perawatan. Raymundo berencana membeli sebuah hunian tua di dekat perkebunan zaitun. Mereka akan pindah alamat setelah pernikahan berlangsung karena kembali ke Santa Cruz adalah hal tersulit mengingat kondisi Helena.


Beatrix Alvaro setia di sisi Helena seperti biasa dan Oskan Devano yang tampak tak tidur berhari-hari menemani kekasihnya.


"Istirahatlah, Oskan. Aku akan di sini." Beatrix Alvaro bicara lembut pada Oskan bertepatan dengan kedatangan Raymundo dan Bellova. Oskan Devano lemparkan seringai kecil pada mereka. Baru saja hendak menyapa.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Raymundo pelan hampiri ranjang. Permenungan panjang dimulai dan sisi gelap sekilas terlihat dari raut datar itu.


Sedangkan Bellova tak berkata-kata. Raymundo menariknya secara posesif. Tak sukai sorot mata Oskan pada Bellova.


"Apa aku boleh bernapas? Mantan pacarku di sini dan kekasihnya yang bertanduk sepuluh melarangku ambil udara yang sama dengannya. Aku harus tertib kecuali jika ingin keningku sobek."


Raymundo menengok pada Oskan, menyipit oleh lontaran kata-kata bernada sumbang Oskan, temukan satu kesamaan. Oskan dan Lucio Vargas mirip, suka memancing orang lain untuk kesal.


"Keluarlah Oskan! Aku juga curiga pada udara yang kamu buang dari paru-parumu. Kemungkinan bisa racuni Bellova!" balas Raymundo.


Bellova hembuskan napas kuat. Apakah Raymundo Alvaro sungguhan cemburui semua pria? Dan mereka bertengkar di depan orang sedang sakit.


"Aku akan bicara pada dokter dan bawa Helena ke rumah kami. Di sana tenang dan banyak kenangan, Helena akan segera baikan," kata Oskan menatap Raymundo tak ingin terusir dari ruangan.


"Tidak, Helena akan tinggal di rumahku bersama Ibuku karena aku tak yakin pada sikapmu." Raymundo menentang gagasan Oskan hingga Oskan mengerang jengkel.


"Aku akan rawat Helena di rumah kami dan biarkan aku mengurusnya. Bukankah aku tak boleh pergi satu langkah saja dari Helena?"


Keduanya saling bertatapan. Oskan Devano yang gigih versus Raymundo Alvaro penuh curiga pada niat Oskan. Beatrix Alvaro tampak sepakati keputusan Oskan Devano. Secara psikologis Helena ingin bersama pria yang dicintainya.


"Ray, biarkan Oskan bersama Helena."


"Tidak! Oskan harus ceraikan Belliza dan baru bisa bawa pergi adikku. Di mana Anda melihat seorang pria menikah tinggal bersama seorang wanita lain dan tak dihina, Nyonya Beatrix?"


Teguran keras Raymundo buat Beatrix Alvaro mudah menyerah.


Oskan mendes***.


"Baiklah. Semuanya sedang diurus."


Oskan mengalah dan harus paham bahwa Raymundo Alvaro adalah pria pemaksa. Setelah menuntut tak boleh tinggalkan Helena, kini melarang Oskan bawa Helena pulang ke rumah mereka oleh alasan perceraian belum kelar. Oskan hanya harus setuju pada gagasan Raymundo Alvaro atau konfrontasi akan terus berlangsung.


"Kami ingin bicara denganmu, Ibu," pinta Raymundo pendek.


Beatrix tinggalkan Helena bersama Oskan ikuti Raymundo Alvaro yang menggenggam tangan Bellova untuk ikut dengannya.


"Kami akan menikah," kata Raymundo tanpa basa-basi ketika mereka sampai di luar.


"Menikah?"


"Ya, besok pagi."


"Besok pagi?"


"Ya."


Beatrix Alvaro menatap Bellova sedang yang ditatap terusan menghela napas panjang. Kesulitan bernapas. Well, di sini akhirnya mereka akan jadi mertua dan ibu mertua. Apakah mereka bisa akur? Helena dan Oskan kemudian dirinya dan Raymundo Alvaro? Bellova yakin ketika sarapan bersama, salah seorang dari mereka mesti tersedak roti.


"Apa yang ingin kamu dengar dariku?" Beatrix bertanya lirih. "Tak ada yang bisa menentang keinginanmu, bukan?"


"Meski ibu menentang, aku tetap akan nikahi Bellova. Jika ibu marah padanya karena kondisi Helena, kita bisa mundur ke titik di mana Helena memulai segala hal dan Ibuku jadi bagian paling penting yang sembunyikan rahasia dariku."


"Helena sangat keras kepala, aku tak bisa menentang orang yang sedang jatuh cinta."


"Ya, tentu saja. Meskipun cinta gilanya itu bahayakan dirinya sendiri dan mungkin juga jadikan kakak laki-lakinya sebagai target."


"Nak, bisakah kita lupakan semua ini?"


"Baiklah."


"Dan, bisakah juga lupakan masa lalu burukmu tentangku?" tanya Beatrix mengangkat tangan menyentuh wajah Raymundo.


Tak ada upaya menghindar tapi terlihat tak sukai sentuhan itu.


"Begitukah?"


"Aku sungguh menyesalinya, Nak. Maafkan aku."


"Baiklah. Jika Ibu ingin lupakan aku tak keberatan."


"Terima kasih. Helena sedang sakit dan aku tak tahu bagaimana nasib Puteriku."


Raymundo buang muka, sorot mata tak bisa dituangkan dalam kata dengar keinginan Beatrix.


"Apakah kamu perlu rayakan pernikahanmu sekarang sedang adikmu sekarat?"


Ketika kembali pada Beatrix, wajah Raymundo mendung kelabu.


"Tak ada perayaan meriah pernikahan! Kami hanya akan menikah."


"Baiklah. Apakah kamu keberatan jika Ibu tak hadir?"


"Ibu tak perlu datang. Helena lebih butuhkan Ibu."


"Maafkan aku karena tak bisa menyaksikan kebahagiaanmu."


"Aku maklumi. Lepas dari Ibu harus temani adikku, please tak perlu pura-pura bahagia untuk pernikahanku."


"Nak ...."


"Apa yang bisa kuharapkan darimu, Ibu?"


"Puteraku ...."


"Usiaku 14 tahun, Ibuku menendangku keluar dari rumah di malam Natal tanpa selimut. Banyak umpatan juga kata-kata sadis. Aku mengetuk dari jendela saat Anda bagikan makanan lezat pada kedua adikku. Ibuku menutup tirai. Aku kehujanan di jalan lalu tidur di kapal barang, lapar, dingin dan marah. Aku tahu pria pecundang itu menyakitimu, tetapi aku bukan pelampiasan amarahmu. Hanya tak mengerti mengapa Anda menyerangku setiap hari seakan aku kutukan. Jika aku ingin, aku akan minta dilahirkan dari rahim Gracia Anthony. Aku kasar, brutal, pemarah seperti orang-orang rendahan tapi tubuhku sangat sensitif seperti kalangan atas. Aku tak bisa lupakan masa lalu karena ibu tinggalkan jejak itu dalam ingatanku. Ibuku bahkan tak mencari kabar tentangku. Sampai hari ini, aku tak tahu mengapa aku kembali padamu?"


Bellova bergidik ngeri dengar penuturan Raymundo Alvaro, pada mata penuh emosi meledak-ledak dari jiwa lara pria itu.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" Beatrix Alvaro mulai terisak-isak oleh kehidupan buruk dan peringai jahat di masa lalu.


"Ya, aku telah maafkanmu, Ibu, tetapi tak ada yang bisa kulakukan dengan trauma batin di masa remaja. Berkati saja pernikahanku meskipun Anda tak sukai calon pengantin wanitaku. Setidaknya, Anda bisa sedikit menutup lukaku. Aldinho akan kemari dan temani aku."


Beatrix Alvaro berurai air mata.


Bellova paham kini darimana asal muasal ekspresi datar dan tak berperasaan Raymundo Alvaro.


"Aku akan temui dokter."


Raymundo Alvaro lepaskan tangan Bellova, menjauh dari jangkauan Beatrix Alvaro dan berbalik pergi sisakan Bellova amati Beatrix Alvaro yang tak berhenti ikuti langkah puteranya penuh sesal tanpa ucapan.


"Dia menyimpan banyak kepedihan di hatinya. Itulah yang buatnya keras seperti batu karang," keluh Beatrix Alvaro tersendat-sendat.


Bellova hanya hembuskan napas berat dan kuat. Sodorkan tisu. Tentu saja, Raymundo Alvaro dewasa lebih cepat dan bertarung dengan hidup tanpa panutan. Bellova rasakan kesedihan. Bayangkan di usia muda, Raymundo muda pergi dari rumah taklukan ibu kota.


"Ayahnya berbeda dengan kedua adiknya." Beatrix tiba-tiba bicara lagi. Bellova menoleh pada Beatrix Alvaro, mengerut sempurna.


"Apakah ... apakah Raymundo tahu?"


"Tidak," geleng Beatrix.


"Bagaimana bisa Anda setega itu?"


"Aku tak beritahu padanya."


"Oh, Anda sangat menyedihkan."


"Ini rumit. Aku telah hamil satu bulan. Karena malu, orang tuaku kemudian nikahkan aku dengan seorang pria. Bertahun-tahun kemudian, suamiku tahu bahwa anak pertamanya bukan darah dagingnya. Ayah Aldinho dan Helena tinggalkan aku karena merasa dikhianati dan ditipu. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Raymundo bukan puteranya. Pria itu pergi setelah tak kenal lelah menghinaku."


"Lalu, apakah Raymundo tahu siapa Ayahnya?"


"Tidak. Kamu tahu rahasia kini selain orang tuaku. Bahkan Aldinho dan Helena tak pernah tahu. Ayah Raymundo juga tidak. Jika aku beritahu, Ayahnya mungkin akan datang mengambil Raymundo dariku karena pria itu punya kekuatan dan kekuasaan untuk itu. Hal yang ku-sesali sebab aku sendiri tak bisa merawat puteraku dengan baik."


"Anda sangat kejam, Nyonya," ujar Bellova tajam. "Mengapa beritahu aku?" tanya Bellova.


"Aku berharap Anda bisa buat Puteraku bahagia, Nona Damier setelah kepedihan yang kuciptakan untuknya. Aku turut menyesal akan kehilangan bayimu. Jika aku tahu lebih awal, aku tak akan biarkanmu pergi ke penjara."


"Lupakan saja!" balas Bellova cepat. "Putera Anda bahagia karena bisa mengikatku dalam pernikahan. Jangan terlalu bersedih untuk Helena, Nyonya Beatrix. Raymundo Alvaro akan bersenang-senang, terlebih karena berhasil jadikan aku istrinya dan sering kali menyiksaku."


"Raymundo tak mungkin menyiksamu. Aku melihat bagaimana ia marah padaku ketika aku laporkanmu ke penjara, Nona Damier."


"Anda tak mencintainya?" tanya Beatrix Alvaro lagi, was-was bersedih untuk kemalangan yang menimpa puteranya.


"Tak ada cinta, tak ada pernikahan. Aku mencintai semua sikap buruknya. Namun, aku tak tahu apakah aku na'if karena hanya andalkan cinta saja."


Raymundo Alvaro kembali setelah lama berkonsultasi dengan dokter. Mata hanya tertuju pada Bellova ketika ia berjalan.


"Kami harus pergi!" pamit Raymundo.


"Semoga selalu bahagia, Nak."


Tak ada sahutan. Meraih tangan Bellova dan pergi. Pergi ke parkiran, masuk ke mobil.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bellova. Tangan terulur membungkus tangan Raymundo di atas tuas. Raymundo amati tangan halus Bellova. Tangannya berbalik menggenggam tangan Bellova.


"Ya. Kemana aku mengantarmu, Bellova?"


"Belliza menungguku di Sarah Beauty Palace."


"Baiklah. Apakah aku perlu menunggumu?" tanya Raymundo. Itu yang dilakukan Lucio Vargas, tinggalkan kerjaan dan antarkan Belliza kemanapun wanita itu pergi. Meskipun geli, Raymundo Alvaro berpikir tak ada salahnya ikuti jejak Lucio Vargas. Bukan menguntit seperti yang sering ia lakukan bersama BM.


"Oh tidak perlu. Kamu mungkin akan bosan dengan dunia para wanita."


"Apakah Lucio di dalam?"


"Tidak. Lucio bersama Cheryl."


"Baiklah. Aku akan menunggumu di klub."


Raymundo Alvaro menarik Bellova padanya dan mencium kening Bellova hingga Bellova terkaget-kaget.


"Ada yang salah?" tanya Raymundo kebingungan melihat ekspresi Bellova.


"Oh tidak. Aku menyukainya." Bellova merona merah. Menyentuh bibir Raymundo. Seperti air sungai mengalir pasti menuju lautan luas, mereka berciuman.


***


Menjelang malam, Lucio Vargas meneguk minuman, berusaha mengajak Raymundo Alvaro berbincang. Mereka ada di perayaan wedding shower di lantai paling atas klub yang diprivasi menunggu kedatangan Bellova dan Belliza.


"Bagaimana Helena?"


"Entahlah, kondisinya masih sama."


Raymundo Alvaro tak percaya ia bicara ramah tamah dan sopan santun pada Lucio Vargas setelah perselisihan empat hari lalu.


Teman-teman Raymundo Alvaro bergabung. Axel Anthony dan Pequeena juga Enrique Diomanta dan sang istri, Irishak Bella yang begitu anggun tanpa riasan berlebihan.


Orang tua Belliza dan Nenek mereka terlebih dahulu menempati rumah khusus tamu di kediaman Anthony. Meskipun Bellova keberatan tetapi Gracia Anthony adalah senior dari para pria pemaksa. Lakukan yang terbaik bagi keluarga sederhana yang terlalu malu repotkan orang lain.


Gracia Anthony lebih sibuk dari siapapun di kediaman Anthony hingga Queena terpaksa memakai ear phone seharian karena Ibu mertua terus menjerit pada para asisten selama beberapa hari untuk persiapan pernikahan.


Kini Queena dan Irishak sesekali menatap lift masuk setelah terpaku lama nikmati keindahan sungai Tagus dari pinggiran Luxury Klub. Pada keindahan Vasco da Gama juga jembatan 25 de Abril yang tak pernah berhenti sibuk.


Bellinda Damier ikutan hadir, satu meja bersama Kayla dan Charlize karena mereka seumuran dan membahas acara pernikahan besok di Mansion Anthony. Pernikahan berlangsung di sana atas permintaan Gracia Anthony.


Aldinho Alvaro bergabung bersama Axel Anthony dan Enrique Diomanta. Ada Dona Maris dan Stefano, asisten Oskan Devano.


Semua orang penasaran pada Belliza karena akan melihat wanita itu pertama kali. Rasa penasaran seberapa miripkah kembaran itu, kemudian terjawab.


Dean Thomas sangat sopan memandu Bellova dan Belliza pergi ke lantai atas. Lucio Vargas melongo di sisi Raymundo Alvaro seperti pria mabuk dan melihat dua bayangan saat pintu lift terbuka; kedua kakak beradik melangkah keluar dari lift. Tersenyum cerah pada semua orang.


"Oh My God!"


"Kamu memang pembual, Luc," ujar Raymundo datar mengandung ejekan saat ekspresi bingung Lucio Vargas tertangkap ekor matanya.


"Tidak. Aku tahu mana kekasihku," bantah Lucio Vargas tak seyakin ucapannya. Lucio lantas kerjab-kerjabkan mata. Perhatikan minuman yang ia minum. Hanya anggur pisang.


"Kamu bisa bedakan Belliza dan Bellova? Apakah sekarang bisa?"


Dua orang wanita di depan sana sama persis. Riasan mata bold, bibir sensual terang dan terlalu nyata seakan dipoles untuk menantang mereka. Make up keduanya sengaja dibuat membingungkan semua orang. Salah seorang memakai gaun merah dan satu lagi peach. Di tangan wanita bergaun merah ada setangkai mawar peach senada warna gaun wanita satunya. Rambut ikal cokelat terang mereka menghilang. Hanya ada dua kembar dengan rambut hitam panjang dan riasan mata yang bisa membuat kedua pria di depan mereka menggila.


Lucio Vargas susah payah menelan liur. Sedang Raymundo Alvaro memaksa otaknya bekerja keras.


"Belliza mungkin bergaun merah. Dia lebih berani."


Raymundo berdecak, Lucio Vargas gunakan kata mungkin. Si kembar saling menatap sebelum bergerak ke arah mereka. Yang hadir segera berdiri dan bertepuk tangan.


"Apa yang mereka lakukan?" tanya Raymundo tidak senang. Mengapa bawa-bawa kuntum mawar? "Bellova tak akan bawa mawar. Bisa jadi yang pegang mawar Belliza."


Raymundo dengan cepat pecahkan teka-teki.


"Belliza memakai gaun merah dan memegang mawar peach? Bukankah kontradiksi?"


"Dengar, Bellova tak akan bersentuhan dengan mawar karena serbuk mawar akan menyakitiku."


Terdengar masuk akal, Lucio Vargas menoleh pada pria datar di sebelahnya.


"Raymundo Alvaro, aku melihatmu lekas melayang-layang seakan kamu balon berisi udara penuh oleh teorimu."


"Diamlah. Ini konspirasi," keluh Raymundo Alvaro. "Mereka penuh trik."


"Kamu tak sepintar kelihatan. Ray, itu cuma mawar latex, tak akan buatmu sampai menggigil," kata Lucio Vargas terkekeh geli melihat ketakutan di wajah Raymundo. Lalu tertawakan dirinya sendiri karena tak ingin kedapatan bingung oleh undangan mereka.


Jadi, yang pegang bunga bisa jadi Bellova. Wanita dengan dress merah menaruh mawar di vas terdekat.


"Bukankah kamu bersama Belliza selama dua tahun? Kamu pasti kenali Belliza dengan baik."


"Aku belum seintim hubunganmu bersama Bellova dan sampai punya bayi," elak Lucio Vargas lagi.


Raymundo mengeram, mulai merasa kebodoh-bodohan. Tersindir Lucio.


"Kami belum pernah tidur bersama. Kami tak ingin punya bayi sebelum menikah. Atau setidaknya sampai Cheryl cukup besar dan puas menerima banyak kasih sayang dari Belliza." Bersungguh-sungguh.


"Mulia sekali."


"Aku akan kenali mereka dari cincin yang mereka pakai." Lucio Vargas sumringah.


Raymundo segera sinis.


"Mereka tak pakai cincin."


"Okay, sebaiknya kita berhenti minum." Lucio Vargas takut ia mengulang kesalahan Oskan, mendorong gelas minuman jauh-jauh.


"Dengar Lucio Vargas! Jangan sentuh mereka untuk sementara waktu!" Raymundo menyipit. Pasti ada alasan dua wanita itu berdandan menggoda dan saling mengutip. Wajah mereka sedikit berbeda dari biasanya terlihat karena riasan tetapi malah seakan hasil kloning.


"Ini masalah," keluh Queena tak percaya ia tak bisa bedakan mana Bellova.


"Masalah untuk Romeo," tambah Axel Anthony tersenyum kecil.


"Dan Tuan Vargas," sambung Enrique Diomanta.


Sedangkan dua pria berdiri tegak saat Bellova dan Belliza semakin dekat. Keduanya berbagi segelas frustasi.


"Kamu tahu ..., Belliza akan menatapku hangat dan dalam."


"Lucio Vargas, kamu mabuk?" Raymundo Alvaro sarkas miringkan lehernya. "Mereka berdua sedang memandang penuh cinta padamu dan juga padaku."


"Mari kita tanya Bellinda."


Kedua pria segera berbalik pada Puteri bungsu Damier, meminta bantuan. Namun, Bellinda mengangkat kedua bahunya.


"Tak ada bantuan!"


"Seseorang tolong panggil Cheryl!" erang Lucio Vargas putus asa.



***


Berusaha selesaikan Novel ini karena tanggal 25 Maret, aku dalam perjalanan bisnis sangat penting dan tak bisa ditunda. Harus bekerja selama seminggu penuh sampai tanggal 3 April.


Menurut readers, bagaimana caranya kedua pria ini bedakan Bellova dan Belliza? Beritahu aku di kolom komentar. Pernikahan mereka di Chapter berikutnya.