
Di sebuah pusat perbelanjaan, Mira yang telah sampai di antar oleh sebuah taksi online, kini tengah berjalan menuju ke butik yang menjual barang-barang dengan merk terkenal yang ada sana.
Dia tengah memakai sebuah setelan rok hitam sepaha, di padu dengan inner abu-abu terang, dan di tutup dengan sebuah cardigan hitam berlengan panjang, yang membuat Mira tampak begitu cantik dan segar.
Rambutnya ia kuncir kuda dengan poni yang dibuat menyamping. Dia pun memakai tambahan aksesoris sepasang anting mutiara dengan tangkai yang panjang, serta sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ia masuk dan langsung di sambut oleh seorang pramuniaga.
"Silakan, Kak," sapa pramuniaga itu.
Mira tak menyahut sama sekali, dan langsung berjalan begitu saja ke arah deretan baju-baju yang terpajang di display.
"Idih … sombong amat!" gerutu Si pramuniaga yang dilalui begitu saja oleh Mira.
Ia memilih beberapa gaun cantik, dan membuat praminuaga itu kesulitan ketika harus membawa semua baju-baju pilihannya.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar pas, dan mencobanya satu persatu. Mira melihat pantulannya di cermin, dan mengagumi dirinya sendiri yang memang body goal.
"Wah, Mir. Kamu memang luar biasa. Baju apapun tampak cantik jika bersentuhan dengan kulit mu," gumam Mira yang berdecak kagum melihat pantulan dirinya sendiri.
"Cih … narsis. Sombong lagi," batin si pramuniaga.
Selesai mencoba semua baju pilihannya, Mira pun keluar dan duduk di sofa.
"Bungkus semuanya," serunya sambil menyerahkan kartu ATM yang mendadak jadi kartu ajaib, karena telah mendapat suntikan dana dari Lingga.
Mira duduk sambil melipat sebelah kakinya dan menumpukannya di atas kaki satunya lagi.
"Baik. Silakan tunggu sebentar," sahut pramuniaga itu.
Mira duduk sambil membaca-baca majala fashion yang ada di atas meja. Ia melihat sebuah pakaian rancangan desighner dunia. Pakaian tersebut berbahan brokat seluruhnya, dan membuatnya terlihat transparan hingga memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya.
Wanita itu tersenyum mengangkat sebelah sudut bibirnya. Sebuah ide nakal tiba-tiba saja muncul di pikirannya. Ia pun lalu menggulirkan layar ponselnya, dan terlihat serius memperhatikan benda tersebut.
Sesekali senyumnya mengembang sambil terkadang mengulum bibir dan menahan tawanya.
Dia tanpak mengirimkan sesuatu kepada seseorang, dan seketika dia tertawa cekikikan seorang diri.
Saat itu lah, pramuniaga yang tadi, datang dan membawakan kartu dan struk belanjanya. Disusul kemudian dua orang pramuniaga lainnya yang membawa belanjaan Mira.
"Silakan, Kak." Pramuniaga itu menyerahkan struk dan kartu ATM kepada Mira.
"Oke, thanks," seru Mira sambil berdiri.
Wanita itu mengambil tas belajaannya dan melangkah pergi begitu saja dari sana.
"OKB kali ya? Songong amat deh," gerutu pramuniaga itu.
"Hus! Udah deh, nggak usah bicara yang nggak-nggak. Yang penting dia ada uang banyak dan beli baju kita," tegur teman seprofesinya.
Setelah pergi dari butik, Mira kemudian berjalan menuju ke lobi dan hendak menuju ke salon langganannya milik Sist Mona.
Saat ia menunggu lift, tiba-tiba saja ada sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Mira meletakkan barang belanjaannya dan mengambil ponsel yang ada di dalam tas.
Mira seketika tertawa kala melihat isi pesan tersebut.
"Dasar maniak … hahahah …," Mira tertawa lalu sambil membalas pesan tersebut.
Setelah itu, ia memasukkan kembali ponsel ke tas, dan mengambil belanjaannya, lalu kemudian masuk ke dalam lift.
Sesampainya di lantai dasar, Mira berjalan hendak memanggil taksi yang terparkir berjejer di depan mall itu.
Ketika dia tengah berjalan, tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang, dan membuat semua tas belanjaannya jatuh ke lantai.
.
.
.
.
nyai, seneng amat belanjanya. inget othor dong😁
Mira : senenglah. kemarin dapet sultan, ini dpet sultan lagi.
makanya, elu baek2 ama othor, nyai.
Mira : iya, kan makanya aku juga beliin nih, tapi nyicil paper bagnya dulu yah🤣🤣🤣🤣🤣
garing banget sumpah, dah ah abaikan😅😅😅
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁