
[Ri, aku mau minta bantuan sama kamu. Tolong siapkan lamaran yang romantis di tempat yang mendukung. Aku akan melamarnya malam ini juga,] pesan dari Lingga untuk sang adik.
Cheria memberitahukan hal tersebut kepada ibunya, yang masih berada di salah satu hotel bintang lima di ibu kota.
“Sepertinya, Kakakmu itu sudah dapat jawaban dari keraguannya. Apa kita perlu meminta Papi mu kemari, Ri?” Tanya Aletta kepada putrinya.
“Menurut ku perlu, Mi. Ini kan lamaran. Akan lebih baik kalau Papi juga ada di sini, untuk menyaksikan anak laki-lakinya melamar seorang wanita,” Sahut Cheria.
“Kalau begitu, tunda acaranya jadi besok malam saja. Papimu sedang di Maldive dan dia sedang ada pertemuan penting malam ini. Bilang pada kakakmu untuk menundanya sehari lagi,” seru Aletta.
Putrinya pun mengangguk dan segera memberikan pesan balasan kepada kakak laki-lakinya, yang kini tengah berada di dalam pesawat pribadinya.
[Kak, kata Mami lebih baik kita ikutkan Papi di acara ini, biar resmi. Tapi, Kakak harus bersabar sehari lagi, karena Papi masih di maldive,] pesan Cheria.
Tak berselang lama, sebuah pesan balasan datang.
[Baiklah. Kau atur saja. Aku akan ke suatu tempat untuk mempersiapkan sesuatu,] Lingga.
[Apa Mira sudah tau? Atau ini kejutan?] tanya Cheria.
[Ini kejutan. Jangan sampai siapapun tau akan hal ini. Mengerti?] seru Lingga.
[Oke!] sahut Cheria.
...💋💋💋💋💋...
Lepas siang hari di apartemen Lingga, saat itu Mira memilih untuk mengalihkan pikirannya dari Lingga, dengan menyibukkan diri membereskan seisi apartemen mewah tersebut.
Meskipun Lingga sudah meminta seseorang untuk membersihkan tempat itu setiap hari, akan tetapi Mira merasa jika masih banyak debu yang bertebarang di mana-mana.
Tania masih terlihat tertidur, namun matanya tiba-tiba mengerjap dan akhirnya terbuka, meski kantuk masih melandanya.
Tidurnya terusik oleh bunyi bising dari mesin vacum cleaner yang sedang digunakan oleh Mira, untuk membersihkan karpet di lantai.
“Berisik banget sih, Mok. Lu lagi jadi babu apa tukang sih?” tanya Tania sekenanya.
Seketika, sebuah pukulan dari gagang alat sedot debu itu, mendarat di kepala si ladies tersebut.
“Sekate-kate lu, Puk. Awas, minggirin kaki lu! Mau gue sedot juga, hah?” seru Mira kesal, dengan perkataan temannya yang selalu ceplas ceplos itu.
“Ya habisnya, elu gangguin orang tidur aja. Ngantuk tau,” gerutu Tania.
“Yaelah ni anak. Bangun aja sekalian. Lu udah tidur dari pagi. Ini udah jam berapa coba lu lihat. Hampir jam tiga ini. Mending lu bangun, terus mandi deh biar seger terus melek dah tuh mata. Sonoh!” seru Mira.
Wanita itu nampak menendang-nendang kaki Tania, hingga membuat ladies itu terpaksa bangun dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Pinjemin gue handuk, Mok,” pekik Tania yang sudah masuk ke dalam kamar mandi di samping dapur.
“Ya ampun nih anak. Gue udah ngerasa jadi babu beneran,” gerutu Mira.
Dia pun pergi ke atas dan mengambil sebuah handuk bersih yang ada di dalam lemari, lalu kemudian menyerahkannya kepada Tania, yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
Mira kembali menyelesaikan pekerjaan rumahnya, hingga akhirnya semua benar-benar sudah bersih.
Setengah jam berselang, Tania sudah selesai membersihkan dirinya dan kembali duduk di atas sofa yang sangat nyaman itu.
“Mok, beli makan dong. Laper nih gue,” seru Tania.
“Tinggal pesen aja sih. COD aja, biar nanti gue yang bayarin,” sahut Mira.
Dia nampak sedang membereskan alat-alat kebersihan yang baru saja dipakainya, untuk membereskan seisi apartemen.
Tania mengambil ponsel yang sedari tadi tersimpan di dalam tas, namun rupanya benda itu kehabisan daya, sehingga tak bisa digunakan sama sekali.
“HP gue mati, Mok. Pinjem punya lu dong,” ucap Tania.
“Pake aja. Di situ juga ada langganan dimsum gue. Enak lho. Kalo lu mau, pesen aja lewat aplikasi chat,” seru Mira.
Tania pun tak sungkan-sungkan untuk memesan makanan apa saja yang dia mau. Mulai dari makanan berat hingga makanan ringan. Meski tubuhnya terbilang bagus, namun Tania tergolong wanita yang tidak terlalu pilih-pilih makanan, dan makan sebanyak apa yang dia mau.
“Gue udah pesen pizza, makaroni pedas, ayam goreng, sama salad buah. Tambah dimsum juga boleh ya?” Tanya Tania.
“Boleh aja, asal lu habisin semua. Pesenin gue sekalian bihun goreng seafood dong di situ,” seru Mira.
“Oke,” sahut Tania.
“Sip. Gue tinggal mandi dulu ya,” seru Mira.
Ladies itu pun kemudian segera membuka aplikasi pesan chat yang dimaksud Mira. Dia mencari-cari nomor yang dimaksud oleh rekannya tadi.
Setelah ketemu, Tania pun memesan beberapa makanan yang dia mau dan juga pesanan Mira.
“Ah, selesai. Tinggal nunggu dateng aja deh,” gumamnya.
Saat dia hendak menutup aplikasi chat tersebut, sebuah nomor asing mencuri perhatiannya. Dia pun penasaran, Kira-kira nomor siapa itu.
Dia pun menekan pesan tersebut. Baru satu pesan yang dia baca, tawa yang tadi menghiasi bibir seksinya, hilang seketika.
Matanya terus bergerak-gerak seiring dengan ibu jarinya yang menggulirkan layar ke atas dan bawah, untuk membaca pesan tersebut secara lengkap dari awal.
“Gawat. Kenapa dia mau lakuin itu sih? Ada apa sebenarnya sama mereka?” gumam Tania.
...💋💋💋💋💋...
Keesokan harinya, Lingga yang sudah sampai di tanah air semenjak dini hari, kini tengah beristirahat di hotel tempat sang ibu menginap.
Dia sengaja melakukan hal itu, demi melancarkan aksi kejutannya untuk melamar pujaan hatinya, serta meminta maaf karena telah sempat tak percaya padanya.
Nampak Cheria dan juga Aletta, sedang sibuk melobi sana sini untuk menyiapkan acara lamaran yang akan dilakukan oleh putra mereka, kepada wanita pujaan hatinya itu.
Mereka telah memesan sebuah restoran rooftop yang ada di hotel tersebut, dan meminta pengelolanya untuk menghias sedemikian rupa resto tersebut agar terlihat indah.
Sebuah helikopter pribadi pun sudah disiapkan untuk sentuhan akhir yang indah, di mana hujan kelopak mawar akan ditaburkan dari udara, saat Mira menyatakan bersedia untuk menerima lamaran Lingga.
“Mi, bagaimana kalau konsepnya seperti ini? Bagus nggak?” tanya Cheria.
Aletta melirik sekilas ke arah putrinya.
“Ribet, Ri. Merekanya bisa nggak bikin seperti itu mendadak seperti ini?” ujar Aletta.
“Ya coba aja ditanyain. Siapa tau bisa, Mi,” seru Cheria.
“Ya udah kita coba,” sahut Aletta.
Keseruan dan kehebohan terjadi di kamar hotel itu. Mereka tak tau jika sesuatu yang serius akan terjadi.
Waktu terus bergulir hingga siang hari. Lingga terbangun karena ibunya berkata untuk segera membawa Mira ke salon.
“Cepat bangun. Calon istrimu itu kan juga harus bersiap-siap. Apa perlu aku yang aku ajak dia ke salon, hah?” seru Aletta.
Lingga masih sangat lelah, namun keinginannya untuk kesuksesan acara ini, membuatnya mau tak mau bangun meski dengan mata yang begitu berat dan mengantuk.
“Suruh Nick untuk mengantar mu. Jangan bawa mobil sendiri,” seru Aletta.
“Baik, Bu,” sahut Lingga.
Dia pun kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan juga agar menghilangkan rasa kantuknya.
Setelah selesai berganti pakaian, dia pun kemudian berjalan untuk menemui ibu dan juga adiknya.
“Apa Ayah sudah tiba?” tanya Lingga.
“Sudah dari pagi. Dia sedang istirahat,” sahut Aletta.
Saat itu, Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar hotel tersebut.
“Itu pasti Nick. Ibu sudah menyuruhnya kemari sebelum membangunkanmu tadi,” ucap Aletta.
Lingga pun bergegas menuju pintu sambil pamit kepada ibu dan adiknya.
“Kalau gitu, aku langsung pergi aja ya, Bu,” ucap Lingga.
“Hati-hati, Ar. Bawa menantu Ibu itu ke mari ya,”seru Aletta.
Lingga hanya melambaikan tangannya dan berjalan keluar menghampiri sang asisten.
Dia dan Nicholas pun segera menuju ke apartemennya untuk menjemput si ratu esnya, dan membawanya ke salon dan butik yang sudah disiapkan oleh Aletta dan juga Cheria.
Sekitar pukul tiga siang, Lingga sampai di apartemennya, dan segera menuju ke unit miliknya.
Niat hati ingin memberikan kejutan kepada Mira, namun, wanita itu justru menghilang.
Mira tak ada di apartemennya. Semua ruangan kosong, bahkan barang-barangnya pun tak ada di sana.
Lingga terlihat panik. Dia teringat kejadian terakhir kali, saat wanita itu diculik dan hampir kehilangan nyawanya.
“Cepat cari dia, dan juga cari Tania. Cari tahu, apa yang terjadi,” seru Lingga.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊