Mirage

Mirage
Kenangan


Mari dan Mira adalah orang yang sama. Kehidupan masa lalunya sangatlah berat. Ia hanya tinggal dengan sang Ibu, meski pun dia memiliki anggota keluarga lain, yaitu kakak laki-laki dan juga Ayah.


Namun, kedua orang itu bak benalu di hidup Mari dan ibunya dulu.


Hubungan Mari dan sang kakak tiri tidak lah baik. Kakaknya itu kerap kali selalu merampas uang hasil mencuci ibu Mari.


"Nah, dapet kan. Ini buat gue!" ucapnya sembari menghitung lembar demi lembar upah keringat ibu tirinya.


Mari pun bangkit berdiri. Dia mencoba meraih uang yang tengah dipegang oleh kakaknya. Namun, pemuda itu menaikkan kedua tangannya agar tak terjangkau oleh sang adik.


"Kembaliin, Kak!" pekik mari kecil sambil terus mendorong-dorong tubuh kakaknya, dan meraih-raih ke atas.


"Minggir!" Sang kakak mendorong kerasa tubuh kecil adiknya itu hingga ia terjungkal kebelakang, dengan lutut dan siku yang terluka.


Namun, Mari tak urung untuk terus merebut kembali hasil keringat sang ibu. Ia sangat tau apa yang akan terjadi jika uang itu sampai lenyap. Dia dan ibunya akan kembali tak mendapat makan malam, karena tak ada uang untuk membeli beras dan lauk sekedarnya.


Bahkan, tak jarang ia hanya mendapat lauk sejumput garam, sekedar untuk memberi rasa pada nasi yang hambar.


Para tetangga tak ada yang mau berbelas kasihan kepada keluarga mereka. Semua orang menghindari Mari dan juga ibunya, karena gosip yang telah terlanjur beredar mengenai masa lalu sang ibu, yang entah siapa yang telah menyebarkannya dan sejak kapan.


Semua mata seolah memandang keluarganya dengan tatapan jijik.


Mari kecil kembali menghadang jalan kakaknya, yang semakin jauh berjalan meninggalkannnya.


"Kembaliin uang Ibu, Kak!" pekik Mari yang lagi-lagi berusaha meraih uang, yang masih sibuk dihitung lembar demi lembarnya oleh sang kakak tiri.


"Berisik!" Mari dihempaskan begitu saja, hingga ia pun limbung dan terjatung dengan pergelangan kaki yang sempat tertekuk.


Mari hendak bangkit, namun ia merasa nyeri di bagian pergelangan kakinya. Sepertinya dia terkilir. Mari ingin mengejar kakaknya, namun rasa sakit itu membuatnya tak bisa berlari mengejar sang kakak yang semakin jauh meninggalkannya, hingga menghilang di persimpangan jalan.


Gadis kecil itu pun lalu tertduduk lemas, melihat uangnya telah hilang bersama kepergian sang kakak tiri.


"Ibu," gumamnya lirih.


Tanpa sadar, air matanya luruh. Namun, Mari kecil segara menyekanya, dan kembali berdiri.


Dengan langkah tertatih menahan sakit, ia kembali ketempat semula, di mana barang bawaannya masih tergeletak di sana.


Ia pun dengan langkah gontai membawa bungkusan besar itu menuju rumah, di mana sang ibu telah menunggunya pulang, dan berharap membawa uang upah dari hasil keringatnya.


Saat sudah berada di ambang pintu, kakinya seakan terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam, hingga sang ibu menyadari kepulangannya, dan segera menghampiri anak perempuannya itu.


"Mari, kamu sudah pulang? Kenapa nggak masuk?" tanya sang ibu.


Mari hanya tertunduk diam. Dia tak berani melihat wajah sang ibu yang pasti akan kecewa padanya.


"Mari, kamu kenapa?" tanya sang ibu dengan suara yang lembut.


Wanita itu meraup kedua pipi anak gadisnya, dan menengadahkan wajah Mari, hingga kedua mata bening itu pun menatap sang ibu dengan berkaca-kaca.


Sang ibu pun mengernyitkan kedua alisnya, melihat ekspresi Mari yang sangat berbeda dari ketika dia pergi tadi.


"Ada apa, Sayang?" tanya sang ibu lagi dengan suara yang begitu lembut.


"Kak Erik …,"


"Kak Erik ambil uang kita tadi." tangis Mari pecah.


Ia menghambur memeluk sang ibu, yang juga dibuat lemas oleh penuturan sang putri.


"Ya tuhan, Erik. Kamu benar-benar keterlaluan," gumamnya dalam hati, sambil mengelus-elus puncak rambut anak gadisnya.


"Sudah … sudah … nggak papa kok. Kita bisa cari lagi besok kan," ucap sang ibu mencoba menenangkan.


"Tapi malam ini kita makan apa, Bu?" tanya Mari yang masih menangis di dalam dekapan sang ibu.


"Kita makan mi saja ya. Kebetulan masih ada sisa satu bungkus," ujar sang ibu.


Mari pun menghentikan tangisnya. Ketakuatannya bukanlah mendapat amukan dari sang ibu, yang ia takutkan adalah ia dan ibunya akan kelaparan.


Keesokan harinya, seperti hari-hari sebelumnya, Mari kecil berangkat sekolah pagi-pagi sebelum teman sebayanya mulai berdatangan.


Dia tak ingin bertemu dengan mereka, karena hanya akan menjadi bahan bulian serta sasaran caci maki saja.


Tak jarang, ia di lempari dengan batu kerikil, dengan serbuan kata-kata ejekan yang mereka ucapkan.


Mari tak pernah menangis sedikit pun. sesungguhnya, ia bahkan tak peduli jika harus selalu mendapatkan hal semacam itu.


Namun, ia tak ingin membuat ibunya khawatir karena dirinya pulang dengan tubuh yang penuh dengan luka lebab, bahkan sampai ada yang bersarah.


Pernah suatu ketika, Mari pulang dengan baju penuh lumpur dan kotoran, akibat dilempari oleh anak-anak lain.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya sang ibu penuh emosi.


"Di … Dika, Bu!" Mari kecil ketakutan menlihat ibunya marah, walaupun dia tak sedang memarahi Mari.


Saat itu lah sang ibu mengamuk, dengan mendatangi anak tetangga yang telah melakukan hal itu padanya.


Bukannya meminta maaf, Ibu Mari justru mendapat cacian dan hinaan. Bahkan, tetangga yang lain tak ada yang bersedia membantu, malah justru semakin memojokkan sang ibu, seolah dia adalah wanita paling kotor yang menjadi aib di tempat itu.


Sejak menyaksikan kejadian itulah, Mari kecil berusaha keras agar tidak sampai terlibat lagi dengan anak-anak lain.


Entah sudah berapa lama, predikat anak pelacur melekat pada dirinya. Dan karena hal itu, Mari kecil menjadi terkucil, bahkan tak jarang ia dijadikan sasaran perundungan teman-teman sebayanya.


Satu-satunya cara agar ia terhindar dari perundungan adalah, dengan berangkat paling awal, dan pulang paling awal juga, atau pulang telat dengan memutar jalan, agar tidak sampai bertemu dengan mereka.


Mari termasuk anak yang kuat. Ia sangat jarang menangis, bahkan mungkin tidak pernah. Kecuali ketika ada hal yang menyangkut ibunya, barulah Mari akan menangis. Jika tidak, sekali pun ia terluka parah, wajahnya akan tetap terlihat datar dan dingin.


.


.


.


.


Bab ini sampai beberapa bab kedepan adalah flash back dari kehidupan Mira di masa lalu ketika masih menjadi Mari ya. Jadi jangan bingung guys✌😁


Like dan komennya ditunggu