Mirage

Mirage
Berita baik?


Beberapa waktu yang lalu, Dokter tiba di ruang UGD dan segera memeriksa kondisi Mira.


"Apa keluhannya?" tanya Dokter kepada para perawat yang lebih dulu di sana.


"Dari tadi, pasien memegangi perutnya, Dok." Salah satu perawat menjawab pertanyaan dokter itu.


"Sudah dapat riwayat medisnya?" tanya Dokter itu lagi.


"Seingat saya, ini korban percobaan perkosaan tempo hari, Dok. Dan kebetulan, pria di luar juga adalah orang yang sama yang membawanya kemari saat itu," tutur perawat lainnya yang rupanya ingat dengan Mira dan Lingga.


Dokter itu nampak berpikir sejenak, lalu kemudian, dia segera memerintahkan perawat untuk menyiapkan alat USG.


"Cepat persiapkan pemeriksaan USG. Dia hamil. Kemungkinan ada masalah dengan kandungannya," ungkap dokter itu.


Perawat pun segera menyiapkan peralatan USG dan memberikan alat sensornya kepada dokter. Sedangkan perawat yang lain, membuka dress bagian bawah Mira dan menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu menuangkan gel bening ke atas perut Mira.


"Tahan sebentar ya, Bu. Dokter akan memeriksa kondisi kandungan Ibu," ucap perawat itu kepada Mira yang masih meringis kesakitan.


Dokter pun mulai memeriksa kandungan Mira dengan alat sensor yang ia pegang, setelah sebelumnya dia menghela nafas panjang saat menyadari kondisi Mira yang tak memakai pakaian dalam.


"Ehm … masih bagus. Mungki Anda terlalu kelelahan sehingga menimbulkan reaksi ini … Sus, tolong berikan Ibu ini obat penguat kandungan di dalam cairan infusnya," ucap Dokter itu kepada Mira dan memberikan perintah kepada salah satu perawat.


Setelah diberikan obat itu, Mira berangsur-angsur membaik. Nyeri di perutnya pun berangsur menghilang.


"Apa sudah mendingan, Bu?" tanya Dokter itu kepada Mira.


"Ehm … sudah lumayan, Dok. Terimakasih," sahut Mira.


"Apa tadi Anda melakukannya bersama suami Anda dengan keras?" tanya Dokter itu kepada Mira.


Wanita itu nampak mengangkat kedua alisnya, lalu kemudian mengerutkan keduanya karena tak paham dengan maksud dokter itu.


"Maksud saya, apa tadi Anda melakukan hubungan suami istri dengan pasangan Anda dengan begitu keras, hingga Anda kesakitan seperti ini?" ulang dokter itu lebih jelas lagi.


Mira membulatkan matanya, dan wajah si ratu es merona seketika karena merasa malu.


Kedua perawat yang berada di dalam ruanga itu pun hanya tersenyum menahan tawa mereka.


"Ma … maaf, Dok." Mira tersenyum kikuk dengan jawaban singkat itu.


"Anda tidak perlu minta maaf. Harusnya suami Anda yang bisa menjaga batasannya. Dasar laki-laki di mana-mana sama saja," gerutu sang dokter.


"Ehm … tapi, Dok. Dia nggak salah, kok. Yang minta saya," ungkap Mira dengan gamblangnya.


Kini, gantian sang dokter yang dibuat terperangah dengan perkataan Mira.


"Ehem … terlepas dari siapa yang meminta, harusnya kan dia bisa main halus. Untuk sekarang ini, Anda beristirahat saja dulu di rumah sakit sampai kondisi Anda membaik," pesan dokrer tersebut.


"Baik, Dok." sahut Mira.


Dokter hanya mengangguk.


"Sus, tolong pantau terus. Kalau kondisinya sudah stabil, baru pindahkan pasien ke ruang rawat inap ya," seru sang dokter kepada kedua perawat tadi.


"Baik, Dokter Stella," sahut mereka bersamaan.


Dokter bernama Stella itu pun kemudian keluar, dan menghampiri Lingga yang masih menunggu di luar. Bisa dilihat jika wajahnya begitu mengkhawatirkan wanita di dalam sana.


Nampak Lingga juga berjalan ke arah dokter Stella, dan begitu ingin mengetahui bagaimana kondisi Mira saat ini.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Lingga cemas.


"Anda sebagai seorang suami kenapa sangat ceroboh seperti ini? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan keduanya?" cerocos dokter wanita dengan rambut sebahu itu kepada Lingga.


Lingga pun hanya mampu mengerutkan kedua alisnya dan mencoba memahami perkataan sang dokter.


"Maksud dokter?" tanya Lingga bingung.


Lingga pun menurut dan mengikuti ke mana sang dokter pergi.


Kini, mereka telah sampai di sebuah ruangan bertuliskan nama sang dokter lengkap dengan bidang keahliannya.


"Obgyn?" gumam Lingga saat membaca papan nama di depan pintu.


"Silakan duduk, Tuan." Sang dokter yang melihat Lingga masih berdiri saja di ambang pintu pun, mempersilakannya duduk, sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


Lingga pun menoleh dan berjalan masuk. Dia kemudian duduk di hadapan sang dokter.


"Begini, Tuan. Kalau tidak salah ingat, pasien adalah korban percobaan perkosaan beberapa waktu yang lalu bukan? Anda sendriri yang membawanya kemari saat itu," ucap Dokter Stella.


"Iya, Dok. Benar. Memangnya kenapa ya?" sahut Lingga bingung.


"Lalu, Anda pasti sudah membaca laporan hasil visumnya kan? Atau mungkin, istri Anda sudah memberitahukannya sendiri kepada Anda," ucap Dokter Stela kembali, yang membuat Lingga semakin dibuat pusing dengan pertanyaannya yang terkesan berputar-putar.


"Bisa dipersingkat, Dok? Maaf, tapi saya tidak tau maksud perkataan dokter yang berputar-putar ini," ujar Lingga sedikit kesal.


"Hah … Apa Anda tidak tau kalau istri Anda sedang hamil?" ungkap Dokter Stella.


"Ya?" sahut Lingga yang terkejut bukan main saat mendengar penuturan sang dokter barusan.


"Terlepas dari siapa yang meminta, harusnya Anda bisa bermain lembut. Kalau Anda bermain kasar, akibatnya akan seperti tadi. Apa Anda paham?" imbuh Dokter Stella.


"Tu … tunggu, Dok. Tadi, dokter bilang … wa … wanita itu … hamil?" tanya Lingga yang seolah tak percaya dengan fakta baru yang ia ketahui.


"Apa Anda tidak membaca laporan hasil visum kemarin?" tanya balik Dokter Stella.


Lingga menggegelang pelan, dengan kedua mata yang membulat dan mulut yang terbuka lebar.


Sekilas, dia teringat akan perkataan Mira yang terdengar aneh, saat mereka berada di taman kecil, yang terletak di lantai VIP.



Iya, benar. Saat itu, dia selalu menyinggung soal hasil visumnya. Apa jangan-jangan dia juga sudah tau akan hal ini? batin Lingga.


"Saya sudah memberinya obat penguat kandungan. Kedepannya, mau siapun yang meminta, tolong tahan dulu selama dua bulan ini, atau paling tidak, sampai pasien sudah memasuki trimester ke dua dan kuat untuk melakukan hubungan suami istri lagi," pesan sang dokter.


"Ba … baik, Dok." Lingga menyahut meski pikirannya masih mengulang kejadian malam itu.


Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mir? Apa kamu se-nggak percaya itu sama aku? batin Lingga.


.


.


.


.


Jangan tanya othor ya bang😆othor nggak ikutan nyai


Lingga : ah … kalian jahat ma aku🤧kenapa aku nggak di kasih tau sih😭


Mira : gue kan apa kata othor, bang😏


Isshhh … nyai, nggak prend ah


Mira : bomat 🤣🤣🤣🤣


Jahat🤧🤧🤧🤧🤧


Dah ah, garing 😅 abaikan aja🤭


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁