
Malam hari, tepatnya pukul tujuh malam, Mira tengah bersiap untuk pergi ke paradise fall. Dia sangat rindu dengan suasan tempat yang telah menjadi rumah sekaligus keluarganya selama kurun waktu empat tahun ini.
ia tampak mengenakan dress terusan hitam dengan panjang di atas lutut dengan taburan manik-manik, dan tali bahu tipis, dipadu dengan blezer hitam tanpa kancing dan juga sebuah tas tangan dengan warna senada.
Tak lupa sepatu boot pendek yang menunjang penampilannya nanti malam. Rambut hitamnya ia biarkan tergerai lurus, dan sebuah kalung dengan liontin berbentuk lingkaran yang semakin menambah cantik dirinya.
Make up bold andalannya selalu menghiasi wajah cantik itu, yang selalu memesona siapa saja yang melihatnya.
"Perfect!" ucapnya yang mengagumi penmapilannya kala itu.
Sebuah pesan masuk, dan Mira pun segera membukanya. Rupanya, taksi online yang ia pesan sebelumnya telah sampai di depan lobi.
Ia pun mengirimkan pesan kepada Lingga dan mengabarkan jika dia baru akan pergi ke tempat Mom Winda.
Setelah itu, si ratu es pun mengenakan blezernya tanpa memasukkan ke dua lengannya ke dalam, dan hanya menyapirkannya di pundak saja.
Ia pun kemudian berjalan menuju lift, dan turun ke lantai bawah menuju lobi apartemen.
Sesampainya di sana, ia melihat dua buah mobil telah terparikir di depan. Tampak seorang pertugas parkir gedung apartemen itu keluar dari salah satu mobil tersebut, dan berjalan melewati Mira.
Mira pun lalu mengirim pesan kepada supir taksi pesanannya.
Namun, baru saja ia selesai menekan tombol kirim, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya, dan menepuk pundak Mira dari belakang.
Mira seketika menoleh dan melihat orang itu.
"Hai, Nona Mira. Masih ingat aku?" tanya orang itu.
Mira mengerutkan alisnya dan mencoba mengingat-ingat siapa yang sedang berada di depannya.
"Ehm …," gumam Mira yang terus mencoba mengingatnya.
"Kemarin saat di mall," ucap orang itu lagi memberi petunjuk.
"Oh … Tuan Steve?" tebak Mira seolah tengah menjawab pertanyaan sebuah quis.
"Ah … kau masih ingat rupanya. Mau ke mana malam-malam begini?" tanya Steve yang melihat penampilan Mira yang begitu menawan dan seksi.
"Hanya ingin mencari hiburan saja. Anda sendiri, sedang apa di sini?" tanya Mira kepada Steve.
"Oh … kebetulan aku ada teman di sini, dan kami baru saja membicarakan bisnis kecil-kecilan. Ehm … bagaimana kalau aku antarkan kau saja. Kebetulan, aku juga sedang penat," ucap Steve mencoba membujuk Mira.
"Ehm … maaf, tapi aku sudah memesan taksi tadi," ucap Mira menolak dengan halus.
"Maaf, apa Anda yang memesan taksi saya, Nona?" tanya seseorang yang adalah sang supir taksi.
"Atas nama Mira?" tanya Steve mendahului Mira.
"Iya," sahut si supir taksi itu.
Steve mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu, dan menyerahkannya kepada supir taksi tersebut.
"Ambillah. Nona Mira tidak jadi naik taksi Bapak. Ini sebagai ganti rugi telah menunggunya," ucap Steve.
"Terimakasih, Tuan," sahut si supir taksi.
Supir itu pun kemudian pergi meninggalkan Mira dan Steve yang masih berdiri di depan lobi.
Mira menoleh dan menghadap ke arah Steve, sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dengan kepala yang sedikit miring.
"Baiklah … Anda sudah berhasil mengusir taksi online ku. Jadi, mana mobilmu, Tuan?" tanya Mira sambil tersenyum dengan kedua alis yang terangkat ke atas..
Steve melangkah maju dan meraih gagang pintu mobil yang terparkir tepat di depan mereka.
"Silakan, Nona," ucapnya mempersilakan Mira masuk.
Sekilas, Mira mengulas sebuah senyum dan berjalan menuju mobil Steve.
"Terimakasih," ucapnya yang kemudian masuk ke dalam.
Pria itu nampak berlari kecil menuju kursi kemudi setelah sebelumnya menutup pintu dari sisi Mira.
Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota menuju paradise fall.
Sementara dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikan kepergian mereka, dan segera mengambil ponselnya.
...💋💋💋💋💋...
Di kantor, Lingga yang masih menyelesaikan urusannya dengan setumpuk berkas-berkas laporan, tiba-tiba mendapat telpeon masuk dari seseorang.
Tanpa melihat si penelepon, ia pun mengangkat panggilan itu.
"Halo, Tuan," sahut orang di seberang.
"Ya, Nick. Ada apa?" tanya Lingga.
"Maaf, Tuan. Nona Mira sudah pergi dengan seseorang ketika saya baru keluar dari toilet tadi. Sepertinya mereka sangat akrab," ucap Nicholas.
"Apa? Laki-laki apa perempuan?" tanya Lingga tak sabaran.
"Ehm … sepertinya laki-laki, Tuan." Nicholas.
"Kemana mereka sekarang?" tanya Lingga yang seolah hilang ingatan.
"Bukannya Anda bilang kalau Nona Mira akan ke paradise fall?" ucap Nicholas mengingatkan.
"Apa kau tak mengikuti mereka?" tanya Lingga kesal.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengikuti mereka. Anda tidak memerintahkan hal itu," sahut Nicholas tanpa merasa bersalah.
"Hah … Nick... Kenapa kamu nggak ikutin mereka? Lagian juga pake ke kamar mandi segala sih! Ah … sudahlah. Kau cepat ke kantor lagi, urus semua ini sebagai hukumanmu. Cepat!" perintah Lingga.
Nicholas hanya bisa pasrah. Tuannya itu jika sudah kesal, tak ada waktu baginya untuk istirahat. Lingga selalu menghukumnya dengan kerja lembur jika sedang kesal dengan sang asisten.
"Baik, Tuan," ucap Nicholas lemas.
💋💋💋💋💋
Ditempat lain, tepatnya di dalam mobil Steve.
Mira dan Steve mencoba berbicara dan mengakrabkan diri.
"Ehm … Kaun camtik sekali malam ini, Nona," ucap Steve di sela waktu mengemudinya.
"Tidak. Ini biasa saja. Anda terlalu memujiku, Tuan," sahuy Mira yang menatap sekilas pria disampingnya.
"Aku masih penasaran, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana, yah?" tutur Steve sambil mengetuk-ngetukkan telunjukknya di setang bundar.
"Bukankah kemarin saat di mall," ucap Mira mencoba menjawab.
Namun, Steve menggeleng.
"Tidak. Bukan kemarin, tapi sebelum itu," ujarnya.
Mira pun mengangkat sebelah alisnya.
"Ehm … apa sebelumnya Anda pergi ke paradise fall?" tanya Mira mencoba menerka.
"Paradise fall? Apa itu?" tanya Steve sambil menoleh sekilas ke arah Mira dan kembali fokus ke depan.
"Ehm … itu nama sebuah klub malam yang terkenal di kota ini, dan kita sedang menuju ke sana," jawab Mira.
"Ehm … yah, sekitar dua minggu lalu, saat aku baru beberapa hari di negara ini, aku diajak temanku untuk have fun di suatu tempat hiburan malam. Tapi aku tak tau nama tempat itu," papar Steve.
"Oh …," gumam Mira menanggapi penuturan pria di sebelahnya.
Mungkin emang dia pernah ngeliat gue di sana. Yah, di mana lagi pria bisa lihat gue kalau bukan di sana. Mungkinkah dia salah satu pria yang pernah tidur sama gue? batin Mira menerka-nerka.
"Ehm .. oh, iya. Ngomong-ngomong, panggil aku Steve saja," ucap Steve.
"Yah, baiklah, Steve. Panggil aku Mira," sahut Mira dengan seulas senyum di bibirnya yang merona.
"Oke. Deal yah. Jangan panggil aku Tuan lagi," seru Steve.
Mira hanya mengedikkan bahunya, menanggapi seruan pria itu.
.
.
.
.
Bang Lingga, ati2 ada saingan kece🤭🤭🤭
Lingga : Thor, pernah dilempar golok nggak?
Sebelum elu lempar, tuh golok gue pake buat motong teripang darat elu dah bang🤣🤣🤣🤣
Dah ah, abaikan candaan garingnya😅
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁