
Seorang pelayan mengantarkan makanan ke kamar hotel yang ditempati oleh Lingga dan juga Mari, beserta dengan sebuah paper bag yang sebelumnya sudah dititipkan oleh Nick, untuk diantarkan ke kamar itu.
"Terimakasih," ucap Lingga kepada pegawai hotel, dan mendorong troli makanan ke dalam setelah memberi orang itu uang tips.
Mira melihat dari ambang pintu ruang tidur.
"Kemarilah!" panggil Lingga tanpa menoleh ke arah Mira berdiri.
Mira pun menurut. Malam ini, si wanita dingin yang tak mau diatur itu mendadak begitu patuh pada setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Lingga.
Mungkin dia masih terkejut, dengan model hukuman yang diberikan oleh tamu istimewanya itu.
"Wah … banyak sekali makannya," gumam Mira saat melihat banyaknya makanan yang terhidang di atas troli.
Lingga duduk di sofa yang berada di depan TV, dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
"Duduk sini!" perintahnya.
"Baik, Tuan!" sahut Mira malas.
"Pilihlah mana yang kamu suka!" ucap Lingga kepada Mira, sambil menyesap red wine yang ia pesan.
"Saya mau yang seperti anda, Tuan." Mira menunjuk ke arah gelas Lingga.
"Makanlah sesuatu dulu. Kamu dari sore belum makan apapun bukan," seru Lingga yang akhirnya menoleh ke arah Mira.
Mira mendengus kesal, sambil mengedikkan bahunya. Ia pun memilih makanan yang bisa dijadikan teman minum red wine, yang sangat ia inginkan itu.
"Bisa tolong ambilkan saya steak itu, Tuan?" tunjuk Mira ke arah seporsi daging sapi panggang, dengan kentang tumbuk dan asparagus, serta disiram saur jamur.
Lingga pun mengambilkannya. Pria itu otomatis menuangkan minuman yang pas dengan makanan, yang telah dipilih oleh Mira, yaitu red wine.
"Terimaksih, Tuan." ucap Mira
Mira pun mulai menikmati makan malamnya yang sempat tertunda, akibat ulahnya yang keras kepala tadi.
Sementara Mira makan, Lingga bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, dengan membawa paper bag yang tadi dititipkan kepada perugas room service.
Mira hanya meliriknya sekilas, dan tak bertanya sama sekali tentang apa yang pria itu akan lakukan.
Mira sangat antusias dengan makanan dan minuman yang tengah ia nikmati itu.
Lingga keluar dari kamar mandi, ketika Mira baru setengah menghabiskan makannya. Wanita itu tengah menyesap anggur merah yang sangat ia sukai, ketika Lingga berjalan ke arahnya.
Mira melirik sekilas ke arah Lingga yang kini telah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Sebuah kaus oblong putih, dengan celana bahan coklat selutut.
Rambutnya yang masih setengah basah, ia sisir kesamping, membuatnya tampak fresh dan,
"Tampan," gumam Mira lirih.
Lingga berjalan ke arahnya, dan duduk di sofa kosong yang ada di samping wanita itu.
Dia mengambil seporsi menu kentang panggang dengan isian jamur, serta saus krim yang lumer di dalamnya.
Ia meletakkannya di samping piring makanan Mira yang masih sisa setengah.
...(kekecilan ye gambarnya😅)...
Lingga mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dan menjilati sisa krim yang menempel di sendoknya.
Mira terus saja memperhatikan gerakan demi gerakan Lingga, sambil memegangi gelas wine-nya.
"Tatapanmu bisa melubangi wajahku, Nona." Lingga tiba-tiba menoleh, dan sontak membuat Mira salah tingkah.
Wanita itu pun lalu memalingkan wajahnya, sambil pura-pura minum red wine miliknya.
"Ah … saya hanya ingin tau saja bagaimana rasa kentang itu. Karena tadinya saya mau memilih itu, tapi saya lebih tertarik dengan daging panggang ini," sahut Mira yang lalu kembali memotong steak dan melahapnya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mira tersedak karena perkataan Lingga barusan.
Mira segera meraih wine-nya dan meneguknya hingga tandak sekali teguk, untuk mengurangi rasa terkejutnya. Namun, efek dari tersedaknya masih menyisakan rasa panas, ditambah alkohol dari wine yang masuk ke dalam kerongkongannya.
"Sial! Bagaimana dia bisa dengar ucapan gue sih? Perasan tadi gue bicara pelan banget deh," rutuk Mira dalam hati.
Lingga menyodorkan segelas air putih ke arah Mira.
"Minumlah pelan-pelan saat tersedak. Tidak baik terlalu banyak alko*hol juga," ucap Lingga.
Mira pun meraih gelas dari Lingga dan meneguknya perlahan.
"Ah … terimakasih airnya …," ucap Mira tertahan.
"Arya … panggil aku Arya," potong Lingga yang membuat Mira diam membisu.
Wanita yang selalu melawan dan menjawab setiap omongan Lingga, kini terdiam. Lingkar matanya tiba-tiba memerah dan mulai berkaca-kaca.
Lingga yang melihat hal itu pun, sontak mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Mira. Ia mengusap kulit halus wanita itu dengan lembut.
Mira memejamkan matanya, untuk menahan lelehan yang seperti akan segera turun. Ia menghela nafas panjang untuk mengurai kemelut di dadanya, namun terasa begitu berat.
Wanita dingin itu tak ingin lagi mengingat semua yang telah ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya, hanya karena seseorang dari masa lalunya kini telah datang dan berusaha dekat lagi dengan dirinya.
"Apa aku sangat menyakitimu di masa lalu, Mari?" tanya Lingga yang membuat Mira semakin mencoba menahan sekuat hati, perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Dengan kasar, Mira menepis tangan Lingga yang tengah berada di wajahnya. Ia membuka matanya, yang kini telah kembali seperti semula, dingin dan tajam.
"Maaf, Tuan Lingga yang terhormat. Jangan pernah Anda mencoba untuk dekat dengan saya. Kita hanyalah partner kerja. Hubungan kita tidak lebih dari sekedar pelanggan dan pemberi jasa. Jadi, bersikaplah profesiaonal, karena sayapun akan seperti itu," ucap Mira yang kemudian berdiri.
Wanita itu berjalan menuju tempat tidur, dan mengambil tasnya yang berada di atas ranjang.
Mira lalu berjalan kembali ke arah pintu depan, namun segera dicegah oleh Lingga yang dengan cepat menarik lengannya hingga Mira terhuyung dan bertabrakan dengan pria itu.
"Kamu mau kemana, Mari?" tanya Lingga yang telah mencengkeram kedua lengan Mira.
"Mira! Namaku Mira, Tuan Lingga yang terhormat!" ucap Mira dengan lantangnya di depan wajah pria itu.
Lingga terkesiap dengan sikap Mira yang begitu keras terhadapnya.
"Oke! Oke, Nona Mira. Kau tidak bisa kemana-mana sekarang. Ingat, kamu sudah menandatangi surat kontrak, dan biaya pembatalannya sangat besar," ucap Lingga.
"Satu miliyar? Baiklah. Akan saya bawakan uang sebnyak itu kehadapan Anda. Jadi sekarang, lepaskan tangan saya!" bentak Mira sambil menghempaskan tangan Lingga yang mencengkeram lengannya.
Lingga pun akhirnya melepaskan Mira, dan membiarkan wanita dingin itu pergi dari kamar hotel yang telah ia pesan.
Dia sangat ingin menahan Mira, dan membantingnya kembali ke atas ranjang, dan mengungkung wanita itu dibawahnya agar tak bisa lari kemana-mana. Namun, ia tak ingin Mira semakin terluka, dan menganggapnya sama seperti pria-pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya saja.
Lingga pun mengusap kasar wajahnya, dan menjambak rambut belakangnya.
"Aaarrghhhh! Aaaarrrghhhh!" teriak Lingga yang merasa frustasi di dilam ruangan president suit itu sendirian.
"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Mari. Tidak akan pernah!" ucapnya.
.
.
.
.
Klo ditinggal pas lagi sayang2nya, trus tiba2 nongol minga balikan, auto diterima apa ditimpuk ye🤔 pasti di timpuk lah, be*go banget kan kalo langsung luluh🤭jadi, perjuangan mu masih panjang kisanak😅
yang dukung lingga alias arya balikan lagi ma mira siapa nih???? apa mau mira ketemu ma yang lain aja nih?🤭
yuk like dan komen dibawah jangan lupa😊
oh iya, kemarin yg dapet give away atas nama akun yuun shunny bisa tolong hubungi othor? soalnya nomor yg kemrin nggak valid🙏yg dua udah meluncur, tinggal kak Yuun aja nih, ditunggu ya kak😊