Mirage

Mirage
Riri kecil


Suatu hari,


Ketika Mari kecil kembali hendak mengantarkan cucian bersih kepada si pemiliknya, seperti biasa ia berjalan melewati jalan setapak yang langsung terhubung dengan komplek perumahan elit itu.


Di tengah jalan, tepatnya di dekat kebun bambu milik seorang tuan tanah, Mari kecil melihat seorang gadis kecil seumurannya tengah duduk berjongkok sambil memeluk kedua lututnya.


Wajahnya tersembunyi di antara lutut dan dadanya, namun bisa terlihat jelas bahwa dia sedang menangis.


Tubuhnya berguncang, dan terdengar isakan kecil dari tubuh gadis itu.


Sekilas, Mari bisa melihat jika dia bukan berasal dari kampungnya. Pakaiannya terlihat bagus dan bersih. Sangat berbeda dengan anak-anak lain di kampungnya yang selalu memakain pakaian yang terlihat kumal dan lusuh.


Kulitnya pun putih, tidak seperti dirinya yang dekil, bagai manequin yang dilapisi debu.


Mari kecil mendekatinya, lalu kemudian ia berjongkok di hadapannya. Barang bawaannya ia letakkan di sampingnya.


"Hei!" Mari mengguncang tubuh gadis itu.


Sang gadis kecil pun mengangkat wajahnya. Air mata jelas terlihat memenuhi pipi tembemnya.


"Hiks! Hiks!" suara sesenggukannya menandakan jika ia telah lama menangis seorang diri di tempat itu.


"Kamu ngapain di sini? Kamu bukan dari sini kan?" tanya Mari kecil kepada anak itu.


"Hiks! Hiks! Aku tersesat! Hiks! Hiks!" jawab gadis kecil itu sambil terisak.


Mari lalu mengulurkan tangannya dan mengusap-usap lembut puncak kepala gadis kecil itu.


"Rumah kamu di mana?" tanya Mari kecil kepadanya.


Si gadis kecil menggeleng pelan. Ia pun bingung di mana rumahnya, karena dia baru beberapa hari yang lalu pindah ke wilayah itu.


"Tadi kamu jalan dari mana? Kenapa bisa sampai sini?" tanya Mari kecil lagi.


"Aku lupa. Hiks! Tadi, aku cuma lagi ngejar anak kucing, Hiks! Terus tiba-tiba anak kucingnya ilang nggak tau kemana, Hiks … Hiks … Hiks." Gadis kecil itu kembali menangis.


Mari kecil menepuk-nepuk pundak anak itu, mencoba menenangkannya.


"Kamu tadi dari sana, apa dari sana?" tanya Mari kecil sambil menunjuk ke dua arah yang berlawanan.


Gadis kecil itu menghentikan tangisnya, dan mulai berpikir sejenak. Ia melihat ke kanan dan kirinya, mencoba mengingat-ingat dari mana ia datang.


"Kayanya dari sana," ucapnya sambil menunjuk ke sebuah arah, namun masih merasa ragu.


"Kamu yakin dari sana?" tanya Mari kecil.


Gadis itu mencoba memastikan ucapannya.


"Ehm …," Dia mengangguk sambil menatap Mari dengan tatapan tegas.


Mari kecil bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya ke arah si gadis kecil.


Gadis itu mendongak.


"Ayo, aku akan antar kamu pulang."


Gadis kecil itu seketika tersenyum lebar, dan segera meraih uluran tangan Mari kecil.


"Kamu tau rumahku?" tanya gadis kecil itu.


"Nanti kita akan cari sama-sama. Tapi, aku harus mengantarkan ini dulu ke suatu tempat," jawab Mari sambil menunjukkan kantung berisikan cuican bersih di tangannya.


"Ehm …," gadis kecil itu pun mengangguk dan berjalan riang mengikuti Mari kecil, sambil mengayun-ayunkan genggaman tangannya.


"Aku Mari. Siapa namamu?" tanya Mari kecil sambil memperkenalkan dirinya.


"Namaku Cheria, panggil aja Riri." Gadis itu menjawab sambil tersenyum ke arah Mari kecil.


Untuk pertama kalinya, Mari kecil tersenyum riang sambil bergandengan tangan dengan anak seusianya.


Setibanya di tempat tujuan, Mari kecil seperti biasa mengetuk pintu samping rumah langganan cucian ibunya.


Setelah selesai mengantarkannya, Mari pun pergi dengan kembali membawa setumpuk cucian kotor yang akan ia serahkan kepada sang ibu di rumah.


Ia terlebih dulu pulang membawa serta gadis kecil tadi dan mengantarkan baju-baju kotor itu. Namun, saat pulang ia tak mendapati ibunya di rumah.


"Mungkin sedang ke warung," pikir Mari.


Ia pun lalu meletakkan bawaannya di dalam, dan ia kembali pergi.


"Apa tadi rumahmu?" tanya Riri kecil.


Mari hanya mengangguk tanpa berucap.


Riri kecil menoleh ke belekang, sambil terus memperhatikan rumah yang tadi ia singgahi sebentar. Lalu kemudian menoleh dan menatap wajah Mari dengan tatapan yang sulit diartikan.


Keduanya memperhatikan satu persatu bagian depan dari setiap rumah yang mereka lewati.


"Apa kamu ingat bagaimana rumahmu?" tanya Mari kecil saat mereka telah berjalan cukup jauh, namun Riri kecil tak juga menemukan rumahnya.


"Aku cuma ingat, di depannya ada ayunan dan sebuah kolam ikan." Gadis itu kembali melihat kanan dan kirinya.


"Ayunan dan kolam ikan? Berarti kita harus mengintip ke dalam gerbang dong," gumam Mari.


"Maaf yah, Mari. Kamu jadi susah gara-gara aku," ucap Riri kecil tertunduk.


"Nggak papa. Aku cuma mikirin orang tua kamu, yang pasti sedang khawatir karena anaknya tiba-tiba hilang," sahut Mari.


Riri kecil mendongak dan menatap mata gadis di depannya.


"Jadi, kamu nolongin aku karena mikirin orang tuaku? Bukan karena kamu kasihan sama aku?" tanya Riri kecil.


"Memangnya kamu mau di kasihani?" tanya Mari tegas dengan wajah datarnya.


Riri kecil diam. Dia tak mengerti maksud Mari.


Mari menghela nafas kasar. Ia tak mau menjelaskan apapun kepada gadis kecil, yang sudah pasti tak akan mengerti apa yang dia ucapakan.


"Ayo kita jalan lagi?" ajak mari sambil kembali menggandengan tangan Riri.


Lama mereka berjalan, hingga mereka tiba di jalan yang berada paling ujung, yang hanya berisikan sebuah rumah besar, tepat berada di dalam pekarangannya.


Tembok pagarnya dipenuhi sulur tumbuhan yang merambat dan menjulang tinggi hingga tak nampak apapun dari luar. Gerbangnya pun begitu besar dan megah, yang terbuat dari perbaduan besi dan lemoengan kayu.


"Tinggal ini rumah yang tersisa. Kamu yakin nggak kelewatan tadi?" tanya Mari memastikan.


Riri hanya menggeleng pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Mau coba lihat yang terakhir?" tanya Mari.


Riri menapat jalanan sepi di depannya, lalu kemudian menatap Mari dan mengangguk.


"Ayo!"


Mereka berdua pun kembali berjalan dan semakin mendekat ke depan gerbang rumah besar itu.


Saat tiba di depan gerbang, Mari mengintip ke dalam dari celah pagar depan.


"Ada ayunan," gumamnya.


"Hei, siapa di situ!" teriak seorang sekuriti yang tengah berjaga di posnya.


Ia berteriak ke arah Mari karena melihat seorang anak kecil sedang mengintip dari luar pagar.


Mari sontak mundur, dan berbalik hendak lari. Namun, ia segera tersadar jika ia sedang membantu Riri untuk menemukan rumahnya.


Akhirnya, Mari kecil pun kembali berbalik dan berusaha berani menghadapi sekuriti yang tadi meneriakinya.


"Kami mau cari alamat, Pak!" Mari berteriak kepada sekuriti yang masih berdiri di dalam pagar sambil berkacak pinggang menghadapi kedua gadis kecil itu.


"Di sini cuma ada satu rumah! Cari di tempat lain aja." Sekuriti itu mengusir Mari kecil.


"Tapi kami cari rumah yang ada ayunannya. Di dalem ada ayunan kan, Pak!" seru Mari tak gentar.


"Di dalem ada ayunan?" bisik Riri yang sedari tadi bersembunyi di belakang badan Mari.


Mari kecil hanya mengangguk tanpa menoleh ke belakang.


"Riri!"


Tiba-tiba dari arah belakang, terdengar sebuah suara memanggil gadis kecil yang tengah bersembunyi di balik punggung Mari.


Seketika, kedua gadis kecil itu pun menoleh.


"Kak Arya!" gumam Riri


.


.


.


.


Masih flash back yah😊


yuk di like dan komen di bawah✌