Mirage

Mirage
Akulah yang menolongmu


Pagi hari, Lingga dan Mira terlihat masih nyaman berada di atas kasur, meski kedunya telah sama-sama terjaga dari tidurnya sejak pagi buta.


Mereka saling bercanda ria dan bertukar cerita tentang hal-hal lucu yang pernah mereka alami.


"Jadi, kamu pernah di paksa kencan buta sama Mami, Kak? Wah, pasti Mami udah bingung banget anak cowonya nggak nikah-nikah," ucap Mira.


"Ya kan aku lagi nungguin kamu," ucap Lingga sambil menyolek ujung hidung Mira.


"Ih … gombal banget. Emang Kakak ada nyari aku gitu?" tanya Mira yang masih betah berlama-lama memandangi muka bantal Lingga.


Meski terlihat acak-acakan, namun entah kenapa menurut Mira, ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.


"Aku nyari kamu kok. Lima tahun lalu," ucap Lingga.


Mira mengernyitkan kedua alisnya, kemudian mengangkat sebelahnya.


"Lima tahun yang lalu?" tanya Mira sembari mengingat-ingat masa itu.


"Aku masih sekolah dong," lanjutnya.


"Ya, kalau yang aku lihat pas waktu itu emang kamu masih pake seragam putih abu-abu sih," ungkap Lingga.


"Masa sih, Kak? kalau Kakak lihat aku, kenapa nggak nemuin aku? Kenapa nggak nyapa aku? kenapa nggak …," cerocos Mira.


Lingga langsung menempalkan jari telunjuknya di bibir wanita yang terus mengoceh itu, dan membuatnya diam seketika.


"Tanyanya satu-satu, Sayang. Kalo nyerocos gitu, gimana mau jawabnya?" seru Lingga sambil mencubit hidung mancung Mira.


"Oke! Kenapa kamu nggak nemuin aku, Kak?" tanya Mira menyelidik, sambil memicingkan matanya.


"Aku nemuin kamu kok. Cuma, waktu itu kamu lagi nggak sadar. Lagi dalam pengaruh obat," tutur Lingga.


"Maksud Kakak?" tanya Mira yang semakin penasaran dan memajukan wajahnya.


Lingga seketika mengubah posisinya yang sedari tadi miring ke kanan berhadapan dengan Mira, kini terlentang dan menatap langit-langit kamarnya.


"Hah … kamu pernah bilang kan, kalau pernah dijual dua kali dulu, sampai akhirnya kamu jadi kaya sekarang ini?" tanya Lingga yang kembali menoleh ke samping, ke arah Mira berada.


Mira hanya mengangguk cepat sambil menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, dan terus menatap ke arah Lingga.


Lingga kembali melihat ke langit-langit dan menyimpan sebelah tangannya di bawah kepala sebagai bantal.


"Ehm … mungkin karena yang pertama aku berhasil lolos?" jawab Mira dengan sebuah kemungkinan.


"Kenapa kau bisa lolos?" tanya Lingga yang kembali menoleh ke arah Mira yang terus menatap ke arahnya.


"Ada seseorang yang menolongku, Kak," tutur Mira sambil mengingat-ingat.


"Apa kau ingat orang itu?" tanya Lingga sambil menoleh menghadap ke arah Mira.


Mira mengernyitkan kedua alisnya, dan tiba-tiba memukul dada Lingga agal keras.


"Kenapa malah Kakak terus yang nanya masalahku? Kenapa nggak jawab pertanyaan ku sih?" gerutu Mira yang merasa dikerjai oleh Lingga.


"Mir, kamu nggak inget siapa yang udah nolong kamu?" tanya Lingga denga tatapan yang lurus ke manik hitam Mira.


"Ehm …," Mira mencoba mengingat, namun sayang tak ada bayangan sama sekali.


Akhirnya, wanita itu pun menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Lingga barusan.


"Waktu itu … aku. Akulah yang udah nolong kamu," tutur Lingga.


Mata Mira sontak membola kala mendengar oengakuan dari pria yang tengah berbaring di sampingnya. Dia pun seketika terbangun dan duduk di samping pria itu.


"Kakak becanda kan? Nggak mungkin Kakak kan?" tanya Mira yang seolah tak yakin dengan perkataan Lingga ,yang bisa saja hanya sebuah candaan.


Namun, Lingga ikut bangun dan duduk bersandar di head board. Tatapannya lurus ke arah depan, seolah ia tengah memutar ulang memori di masa lalunya


"Jadi, saat itu …,"


.


.


.


.


Nah lho ... eksekusi pertama gagal ternyata pemirsah😎pantas saja kan si nyai masih ting2 pas di pra wanin ama Thomas🤔


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁