
Sore hari, Mira yang sedari tadi siang berada di kedai, kini tengah menunggu kedatangan Lingga yang akan menjemputnya.
"Apa dia sudah jalan ke sini, Mir?" tanya suami Mia.
"Sudah, Kakak ipar. Dia tadi sempat mengirimkan pesan chat padaku," jawab Mira yang masih betah menemani Joy bermain.
"Tapi dia beneran nyusul kamu ke sini kan, Mir? Jangan sampai kamu pulang sendirian lho," tutur Mia yang sedari tadi berada di balik meja kasir.
Sore itu, pengunjung kedai lumayan banyak, sehingga pasangan itu pun tak sempat menemani putrinya bermain. Jadi lah Mira yang seharian menemani anak kecil itu bermain di sudut kedai, yang memang disiapkan sebagai tempat bermain untuk Joy.
"Tante, kata mama, aku bakal punya keponakan yang lucu yah?" tanya Joy dengan polosnya.
"Ehm … Mama Joy bilang kapan?" tanya Mira sambil melirik ke arah Mia. Sedangkan yang dilirik, hanya mengedikkan bahu saja sambil tersenyum.
"Tadi, waktu Joy minta gendong sama Tante. Tapi nggak dibolehin sama Mama. Terus Mama bilang kalau Tante mau kasih Joy keponakan yang lucu. Jadi Joy nggak boleh rewel. Gitu, Tante," tutur Joy.
Mira pun tersenyum, dan mengusap puncak rambut gadis kecil itu.
Tak berselang lama, seorang pria yang mengenakan kaus abu-abu polos berlengan pendek, dengan celana jeans biru, masuk ke kedai tersebut.
"Selamat datang!" Mia dan yang lainnya pun menyambut layaknya pelanggan yang lain.
Namun,
"Kakak?" panggil Mira saat menyadari siapa yang datang itu.
Wanita itu kemudian berdiri dan menghampiri pria tersebut, dan memeluknya.
"Lama yah?" tanya pria itu yang tak lain adalah Lingga.
"Ehm … nggak kok." Mira begitu tersihir dengan aroma tubuh prianya itu, dan seolah tak mau jauh-jauh jika sudah berada di dalam dekapan Lingga.
"Oh iya … sini aku kenalin, Kak." Mira menarik lengan Lingga dan berjalan menghampiri pasangan pemilik kedai itu.
"Ini Kak Mia, ini suaminya, dan ini si cantik Joy … dan ini Kak Arya," sebut Mira satu persatu saling memperkenal orang yang ada di sana.
"Hai, senang bertemu denganmu," sapa Lingga kepada mereka semua.
"Jadi, ini pria yang sudah membuatmu jadi penurut, Mir?" sindir Mia.
"Apaan sih, Kak!" gerut Mira yang mendapat sindiran dari seniornya.
Mereka pun kembali berbincang. Lingga duduk bersama suami Mia, dan juga Joy yang masih asik dengan krayon dan buku gambarnya, sedangkan Mira dan Mia berada di dapur tengah membuat minuman untuk kedua pria istemewa mereka masing-masing.
Malam mulai menjelang, dan Mira juga Lingga pun pamit undur diri.
"Kapan-kapan main ke sini lagi yah," seru Mia.
"Oke, Kak. Joy, tante pulang dulu yah," pamit Mira kepada si kecil Joy.
"Oke, Tante. Nanti ke sininya, ajakin ponakan lucu Joy juga yah," ucap Joy dengan polosnya.
Mira dan Lingga pun bertukar pandangan, dan mereka tersenyum kaku di depan pasangan pemilik kedai.
"Ehm … Joy, keponakan lucunya masih lama boleh mainnya. Joy tungguin aja yah," ucap Mira kepada gadis kecil itu.
"Joy, Oom dan tante pulang dulu yah," seru Lingga sambil melambaikan tangannya ke arah Joy.
"Oke, Oom. Hati-hati ya," sahut Joy.
Mia yang sedari tersenyum melihat interaksi antara anaknya dan juga pasangan calon orang tua itu, kini tiba-tiba menghilang. Dia memicingkan matanya, dan menatap tajam ke arah seberang jalan.
Nampak seorang pria asing tengah memandangi kedainya. Pria yang sama dengan yang tadi siang mengintai tempatnya dari dekat.
Siapa dia? batin Mia.
Saat Mira dan Lingga hendak masuk ke mobil, Mia tiba-tiba memanggil juniornya dan menggandengnya, lalu mengajaknya berbalik membelakangi jalan.
"Kita foto selfy dulu yuk. Buat koleksi di papan buletin," ucap Mia.
"Ih … kirain ada apa," gumam Mira.
Mereka berdua pun berswafoto dengan latar bagian atas mobil Lingga, karena Mia dengan sengaja ingin mengambil gambar sosok si pengintai itu.
"Sayang, kenapa nggak pake latar kedai kita aja?" tanya suami Mia.
"Nggak papa. Lain kali kalo Mira ke sini lagi kita ambil banyak foto yah," ucap Mia.
Mira dan Lingga pun beranjak dari kedai Mia.
Sementara itu, Mia tak langsung masuk ke kedai. Dia terus memperhatikan sosok misterius itu.
Kenapa dia terus mengikuti ke mana arah Mira pergi? Apa jangan, sasarannya adalah Mira? batin Mia yang seketika membuat bulu kuduknya berdiri.
Dia pun segera masuk ke dalam kedai dan bergabung bersama dengan suami dan anaknya.
...💋💋💋💋💋...
Di sebuah gang sempit, yang berada di antara gedung perkantoran yang ada di pusat ibu kota, tampak seorang pria yang memakain jaket hoodie hitam, tengah dipegangi oleh dua orang bertubuh besar, dan seorang lagi berdiri di hadapannya.
"Heh, Robert! Lu nggak usah pake cara kek gini. Gue juga udah tau tugas gue," keluh pria berhoodie itu kepada Robert, pelayan setia Soraya.
"Aku hanya menjalankan perintah dari Nyonya Soraya, karena beliau sudah terlalu lama menunggu kabar darimu," sahut Robert.
"Cih … tidak sabaran sekali wanita itu. Lepasin gue, dan bawa gue ke tempat majikan lu," seru pria berhoodie yang tak lain adalah Erik, kakak tiri Mira.
Robert pun memerintahkan kedua anak buahnya untuk menyeret Erik dan memasukkannya ke dalam mobil yang sengaja terparkir tepat di depan mulut gang.
Mereka pun melaju pergi ke tempat di mana Soraya berada, yaitu mansion Thomas.
Sesampainya di sana, Erik kembali dibawa oleh kedua orang yang berjalan di belakang Robert, menuju ke ruangan yang menjadi tempat pertemuan antara Erik dan juga Soraya sebelumnya.
"Tunggu di sini," perintah Robert kepada kedua anak buahnya.
Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu, dan menunggu sahutan dari dalam.
"Siapa?" tanya sebuah suara yang tak lain adalah milik Soraya.
"Ini saya Robert, Nyonya," sahut Robert.
"Ada apa?" tanya Soraya lagi.
"Saya membawa Erik kemari," tutur Robert
"Bawa dia masuk!" perintah Soraya.
Robert pun membawa pria itu masuk dengan tetap dikawal oleh kedua anak buahnya.
"Cih … katanya mau lepasin gue. Tapi kalian masih nyeret gue kek gini," keluh Erik saat memasuki ruang kerja itu.
Nampak Siraya tengah berdiri di ambang jendela, sembari memegangi gelas wiskey di tangannya.
"Informasi apa yang kau bawa?" tanya Soraya.
"Bisa tolong kau suruh mereka melepaskanku dulu?" pinta Erik.
Soraya pun memberi isyarat mata kepada Robert untuk melepaskan mantan narapidana itu. Erik pun seketika dilepaskan.
"Ah … sakit sekali lengan ku. Ini harusnya ada uang ganti ruginya kan," gerutu Erik yang mencari kesempatan untuk meraup keuntungan dari janda kaya itu.
"Cepat katakan saja apa informasinya. Kau bukan yang berkuasa di sini. Jadi, jangan coba-coba untuk memerintahkanku," hardik Soraya.
"Baiklah. Adik kecil ku itu sekarang sedang hamil muda, dan pria yang tinggal dengannya adalah ayah dari anak yang dikandungnya," ucap Erik.
"Hamil muda? Hem … menarik. Sepertinya aku punya ide brilian. Hahahahaha …," ucap Soraya dengan tawanya yang terdengar begitu mengerikan.
.
.
.
.
Wait! Tawa mengerikan itu yang kek gimana yak?😅
Manis tetep, tapi masalah utama masih ada, jangan lupakan Soraya guys, di sini dia kunci utama kelangsungan novel ni🤭
next up, besok lagi ya😁
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁