
Keesokan paginya, Lingga bangun lebih dulu dari Mira. Ia hampir terlonjak kaget, kala menyadari bahwa dirinya tidur sambil memeluk Mira dari belekang.
Wanita itu tidur begitu nyenyak, hingga ia tak melayangkan protes saat Lingga mendekati Mira saat tidur.
"Selamat pagi ratu esku," ucap Lingga sambil mengusap lembut surai coklat terang Mira, dan mengecup puncak kepalanya dari belakang.
Merasa terusik, Mira pun menggeliat dan berbalik mengahadap ke arah Lingga.
Pria itu membelalak sambil menahan nafas. Ia takut jika wanita dingin itu bangun, dan mengamuk kembali akibat ulahnya yang tidur sambil memeluknya.
"Huft!" Lingga bernafas lega saat melihat mata Mira masih terpejam.
Lingga terpesona melihat wajah tidur Mira, yang terlihat begitu tenang dan damai. Sangat berbeda ketika dirinya tengah terjaga, dan berubah seketika menjadi ratu es yang begitu dingin dan angkuh.
"Saat kau tidur, aku seperti kembali ke masa itu. Masa di mana kau menjadi seorang gadis manis yang lembut, Mari." Lingga terus saja mengamati setiap lekuk di wajah Mira.
Bulu mata lentiknya, hidung mancungnya, kulit pipinya yang begitu mulus, serta bibirnya yang walau pias tanpa lipstik, namun masih terlihat seksi.
"****!" Lingga tiba-tiba mengumpat, saat teripang daratnya tiba-tiba bangun saat ia tengah mengagumi kecantikan wajah Mira.
Pria itu buru-buru beringsut menjauh dari wanita itu, dan bangun dari tempat tidur. Ia membetulkan selimut Mira yang sebelumnya sempat turun, hingga memperlihatkan paha atasnya.
Dengan hati-hati dan setengah memalingkan wajahnya, Lingga mencoba untuk tidak melihat bagian intim Mira yang hampir terlihat, karena wanita itu tidur hanya mengenakan kemeja Lingga, tanpa apapun lagi di dalamnya.
"Hah … aku bisa kena serangan jantung kalau setiap pagi seperti ini," bisiknya sambil mengelus dadanya.
Lingga kemudian berjalan menuju ke dalam kamar mandi, dengan tubuh yang masih telan*jang bulat. Sekitar tiga puluh menit, dia telah selesai membersihkan diri, dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang terlilit dari pinggang hingga betisnya.
"Ratu es ku berubah jadi putri tidur rupanya," gumamnya saat melihat Mira masih saja tidur pulas.
Setelah itu, Ia keluat kamar dan membereskan sisa-sisa pertempuran mereka semalam, dan memasukkan pakaian-pakaian mereka berdua ke dalam keranjang cuci.
Tak lupa, Lingga mengambil key card dari dompet Mira, dan pergi ke apartemen wanita itu. Ia langsung masuk ke dalam kamar Mira, dan mengambil pakaian ganti untuk wanita yang masih tertidur itu.
Lingga sengaja memilih pakaian yang sedikit tertutup, agar Mira tidak mengumbar tubuh moleknya kepada setiap orang.
Saat telah selesai mengambil pakaian, ia ke luar dari walk in closet. Saat tengah berada di kamar Mira, pandanganya tertuju pada sebuah sketsa sebuah gubug singgah, di mana ada banyak bunga di sekitarnya, serta dua orang anak yang tengah duduk di dalam gubug itu.
Ia berjalan mendekat, dan mengulurkan tangannya untuk menjangkau sketsa yang tergantung pada sebuah figura, yang berada tepat di depan tempat tidur wanita es itu.
Tanpa sadar, lelehan bening menetes dari sudut matanya.
"Aku sangat merindukan mu, Mari. Sungguh," ucap Lingga.
Sketsa itu adalah kenang-kenangan dari masa lalu, saat Mari dan Arya tengah menggambar bersama di taman bunga rumah besar milik keluarga arya.
.
.
.
.
jangan lupa like dan komen di bawah ya😊