
Aletta mengurai pelukannya, dan meraih kedua pundak si ratu es. Dia mengamati Mira dari atas hingga bawah dengan tatapan sendu.
“Terimakasih, karena kamu sudah bertahan hidup dan tumbuh dengan baik,” ucap Aletta.
Mira menatap lekat kedua mata coklat terang wanita paruh baya itu dengan berkaca-kaca.
“Mi,”panggil Mira.
“Iya, Nak. Ini Mami mu,” sahut Aletta.
Dia kembali memeluk Mira dengan begitu hangat. Si ratu es, tak mampu lagi menyembunyikan rasa kesepian di dalam hatinya. Dia seketika itu meleleh karena kehangatan dari sosok seorang ibu. Air matanya luruh dan isak tangis tak bisa ia tahan.
Perasaan hangat dari sebuah keluarga yang ia rindukan selama bertahun-tahun ini. Perasaan disayangi yang telah hilang semenjak sang ibu meninggalkan dirinya, dalam kehidupan yang begitu berat.
Hari-hari pahit yang harus dia lalui sendirian, tanpa adanya seseorang yang bisa dijadikan sandaran, kini berkelebat dengan jelas di ingatannya, hingga membuat dadanya penuh sesak dan terasa ingin meledak.
Semua tertegun melihat si ratu es terisak begitu memilukan. Mira membuat semua orang ikut merasakan bagaimana lelah dan pahitnya hidup yang sudah ia jalani selama ini.
Bahkan, seorang manusia kayu seperti Nicholas pun, sampai menitikkan air mata, dan itu tak luput dari perhatian Tania.
Ladies itu mengulurkan sebuah tisu ke arah pria di sampingnya, namun segera ditepis oleh Nicholas.
“Cih! Gengsian,” sindir Tania.
Dia pun kembali pun memperhatikan temannya, yang masih menangis di dalam pelukan calon ibu mertuanya.
Cukup lama Mira menangis menumpahkan semua beban di hatinya, yang selama ini dia pendam seorang diri. Aletta terus mencoba menenagkannya dengan menepuk-nepuk punggung wanita itu.
Mereka masih tetap berpelukan meskipun posisinya kini sudah tak lagi berdiri, melainkan duduk di salah satu kursi tunggu bandara.
Banyak orang berlalu lalang melihat keharuan yang terjadi di sana, namun semuanya tampak acuh, karena mereka tahu jika bandara adalah tempat perpisahan, jadi wajar jika ada drama di tempat itu.
Lingga, Aletta dan semuanya, tak ada yang peduli dengan pandangan para penumpang lain yang lewat di depan mereka. Fokus mereka hanya satu, yaitu Mira.
“Jadi, kemana kamu berencana pergi, Mari?” tanya Aletta.
Mira masih mengusap wajahnya yang dipenuhin oleh lelehan dari mata dan juga hidungnya dengan tisu, yang sudah banyak dihabiskannya.
“Aku juga tak tahu negara apa itu. Yang jelas, aku hanya mau pergi dari sini,” ucap Mira.
“Apa karena anak nakal itu sudah menyakitimu?” tanya Aletta sambil menunjuk Lingga dengan dagunya.
“Bu... Bukan begitu, Mi,” jawab Mira cepat.
Aletta kembali memperhatikan Mira, hingga membuat si ratu es itu gugup.
“Lalu?” tanya Aletta kemudian.
“Ehm ... Memang ada kaitannya sama Kak Arya sih Mi. Tapi...,” jawab Mira terputus.
Dia tak enak hati mengatakan alasan utamanya pergi.
“Sebaiknya, kita bicarakan ini secara tertutup. Di sini tempat umum, dan sangat tidak etis membicarakan masalah keluarga di tempat seperti ini bukan,” sela Tuan Wijaya dengan suara khasnya yang terdengat begitu berat dan berkarisma.
“Kamu benar, Honey. Baiklah, bagaimana kalau kita kembali ke hotel, dan kita bicarakan semuanya di sana. Bagaimana?” saran Aletta.
“Itu lebih baik,” sahut Tuan Wijaya.
“Aku setuju,” timpal Lingga.
Aletta memapah Mira dan membawanya menuju ke mobil yang dibawa kemari olehnya, suaminya, dan putrinya.
“Nick, antar wanita ini pulang. Setelah itu, kamu datang ke hotel tempat ibu ku menginap,” seru Lingga kepada sang asisten sebelum pergi dari tempat tersebut.
“Baik, Tuan,” sahut Nicholas.
Dia pun membawa Tania ke mobilnya dan mengantarnya pulang.
...💋💋💋💋💋...
“Kenapa kamu harus menginap di hotel, Aletta? Bukankah rumah lama kita juga masih ada. Benarkan, Ar?” tanya Tuan Wijaya.
“Ah sudah lah, lupakan alasanku tinggal di sini. Yang jelas, alasan ku membawanya ke sini karena biar sekalian. Kan kita sudah menyiapkan sesuatu di atap,” ujar Aletta.
“Bu!” sela Lingga yang tak ingin jika ibunya merusak kejutannya untuk Mira.
“Baiklah-baiklah,” sahut Aletta.
Dia kemudian menoleh ke arah Mira yang masih sesenggukan, dengan pandangannya yang terus menunduk.
“Nah, Mari. Sekarang, coba katakan alasanmu kenapa memilih pergi dari negera ini?” tanya Aletta.
“Bu ...,” sela Lingga.
Namun, Aletta segera memberikan tanda agar putranya diam. Lingga melihat ke arah ayahnya berada, dan Tuan Wijaya hanya memberikan isyarat kepada putranya melalui mata untuk menuruti ibunya.
Akhirnya, Lingga yang sedari tadi berdiri, kini duduk di seberang Mira.
“Aku... Aku takut Kak Arya mengalami kesulitan karena aku,” ucap Mira.
Aletta mengerutkan keningnya, “Kesulitan? Memangnya dia ada kesulitan apa?” Tanya Aletta.
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian di lorong rumah sakit waktu itu. Aku sadar, kalau aku ini tidak layak untuk Kak Arya, jadi...,” ungkap Mira.
“Jadi, kamu kira kalau kita nggak setuju kamu sama anak nakal ini?” sela Aletta.
Mira hanya bisa mengangguk canggung.
“Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mir?” tanya Lingga.
“Aku nggak sanggup untuk terus mendengar janjimu, Kak. Aku akan semakin berharap lagi dan lagi,” jawab Mira.
“Ya, setidaknya kita bisa bicarakan ini kan, Mir. Tidak langsung buat keputusan untuk pergi begini,” sanggah Lingga.
“Aku hanya ingin membantumu mengambil keputusan, Kak. Aku yakin kamu bingung memilih antar aku atau keluargamu. Iya kan?” seru Mira.
Kedua orang itu terus berdebat dengan nada yang semakin meninggi. Ketiga orang yang juga ada di sana, hanya bisa melihat pertengkaran antar kekasih itu dengan tatapan datar.
“Kamu itu selalu seenaknya yah. Kamu nggak mikirin perasaan aku sama sekali,” ucap Lingga.
“Kamu yang nggak mikirin perasaan aku. Kamu sendiri pergi berhari-hari nggak ada kabar. Bilang lembur di kantor, nyatanya ke Paris. Kamu nggak tau gimana perasaanku digituin?” sahut Mira tak kalah keras.
“Apa mau ribut terus seperti ini?” sela Aletta.
Keduanya pun diam. Mereka saling membuang pandangan dengan hati yang masih bergemuruh.
“Mari, sebelumnya Mami minta maaf. Jika pada awalnya, Mami sudah membuatmu sedih. Mami tidak mengenali kamu, dan anak nakal ini, selalu saja membuat ulah dengan para wanita asing di luaran sana,” tutur Aletta.
Mira melirik sekilas ke arah Lingga. Sedangkan pria itu justru mengusap keningnya karena sepak terjangnya selama ini harus terbongkar di depan wanitanya.
Sedangkan Cheria, dia hanya menahan tawanya karena melihat sikap sang kakak yang mendadak jadi salah tingkah.
"Kami sangat kesal dengan ulahnya yang selalu saja gonta ganti pasangan. Banyak gosip miring eredar diluaran tentang kebiasaannya itu. hal tersebut lah yang membuat Mami mengira kalau kamu adalah salah satu wanita satu malamnya. Kalau saja Mami tau itu kamu, Mami tak akn pernah berbicara seperti itu, Mari," ucap Aletta.
Mira masih saja diam. Dia tak tau apa yang akan selanjutnya dikatakan oleh Aletta kepadanya. Wanita dengan hati penuh luka itu, tak bisa begitu saja merasa lega, meskipun sikap Aletta begitu baik padanya.
.
.
.
.
Mohon dukungannya😊🙏