Mirage

Mirage
Pulang


Keesokan pagi,


Mira yang semalam menginap di tempat Lingga, kini terbangun karena terusik oleh sinar mentari yang masuk melewati celah-celah tirai yang menutupi pintu kaca, yang menghubungkan antara kamar dengan balkon.


Setelah berhasil membuka matanya, Mira lalu bangun dan duduk bersandar di head board. Ia mengusap wajahnya, naik menujun ke kepalanya dan berakhir di tengkuk.


"Ah … kenapa pusingnya masih terasa?" keluhnya ketika masih merasakan pusing, walaupun tidak separah sebelumnya.


Ia menegakkan kepalanya dan menyandarkannya di headboard. Pandangannya lurus menangkap sosok pria yang semalaman terus menjaganya, kini tertidur di atas sofa sembari meringkuk.


"Wah … player seperi dia bisa-bisanya menahan diri melihat mangsa empuk seperti ini, yang bahkan berontak saja tidak bisa. Luar biasa," ucapnya lirih, antara mengagumi dengan menyindir.


Ia menoleh ke samping kanannya, di mana minuman semalam masih tersisa setengah. Mira meraihnya dan meneguk habis air di dalamnya.


"Ah … masih haus. Sebaiknya aku ambil sendiri saja. Tidak tega juga kalau harus membangunkannya," gumamnya.


Mira kemudian menyibakkan selimut, yang semalaman menutupi tubuhnya, ke samping dan mencoba menjejakkan kedua kakinya ke lantai.


Dia pun lalu mulai melangkah ke luar, dan hendak turun ke bawah menuju dapur. Namun, baru beberapa langkah saja, tiba-tiba dia kembali merasa pusing dan limbung seketika.


Ia hampir terjatuh, jika saja Lingga tidak cepat menangkap tubuhnya.


"Tuan, bukannya Anda sedang tidur tadi?" tanya Mira yang terkejut dengan keberadaan pria itu, yang tiba-tiba saja menangkapnya dari belakang.


Lingga langsung mengangkat tubuh Mira, dan membawanya kembali ke ranjang. Ia mendudukkannya dengan bersandar di headboard.


"Aku memang tidur. Tapi seseorang terus saja membicarakan ku, sehingga aku jadi terganggu," keluh Lingga dengan wajah datarnya.


Mira mengernyitkan kedua alisnya.


"Hah … apa iya suara ku yang sangat lirih itu bisa didengarnya. Ah … paling dia cuma pura-pura tidur tadi," batin Mira.


"Mau apa kau tadi? Apa mau kabur, hah?" tanya Lingga.


"Kabur? Memangnya kenapa juga saya harus kabur? Kek maling aja! Saya hanya haus, dan ingin mengambil air minum, Tuan," gerutu Mira.


"Tunggulah. Duduk diam di sini saja," perintah Lingga.


Pria itu kemudian bangkit dan berjalan ke luar. Tak berselang lama, ia kembali dengan membawa segelas air putih hangat untuk Mira.


"Minumlah!" Lingga menyodorkan gelas itu ke hadapan Mira, yang lalu diraih oleh wanita iu.


"Terimakasih, Tuan." Mira meneguk pelan-pelan air itu hingga tandas.


"Aku akan membuatkanmu sarapan. Ada yang ingin kau makan?" tanya Lingga.


"Tidak, Tuan. Saya bisa pesan sendiri lewat layanan pesan antar. Tolong antarkan saja saya pulang ke sebelah," ucap Mira.


"Jangan sok kuat. Berjalan saja masih sempoyongan," sindir Lingga dengan datarnya.


"Lalu, sampai kapan saya haru terus sembunyi di rumah orang asing? Seperti simpanan saja," keluh Mira.


"Wah … Anda mulai kurang ajar lagi, Tuan. Atau mungkin, Anda memang punya niat tidak baik dan memanfaatkan kondisi saya yang lemah seperti ini yah?" terka Mira sinis.


"Kalau aku memang berniat jahat padamu, kenapa juga aku harus susah-susah tidur di sofa, dan bukan mene*lan*jangi mu dan memer*ko*samu semalam, hah?" sahut Lingga tak kalah sinis.


"Oh … jadi rupanya memang ada niatan seperti itu. Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas, sebaiknya saya memang harus segera pulang," ucap Mira sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.


Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak kembali limbung.


"Lihat, saya sudah tidak apa-apa. Jadi, sekarang saya pamit. Terimakasih atas semuanya dan permisi," Mira pun lalu berjalan perlahan, sambil menahan rasa pusingnya yang cukup merepotkan.


Ia tak mau kembali jatuh dan membuat Lingga semakin memintanya untuk tinggal.


Sementara Mira berjalan keluar, Lingga hanya menatapnya dalam diam, tanpa berniat menyusulnya.


Saat Mira berhasil mencapai pintu, ia pun berjalan ke luar, dan melihat wanita itu yang terus berjalan menuju pintu depan, dari lantai atas.


Mira kini telah keluar, dan Lingga bersandar di dinding yang berada di samping pintu kamarnya, sembari memasukkan tangan ke dalam kantong celana.


"Dasar keras kepala! Kenapa kau jadi semenyebalkan ini sih?" keluh Lingga.


Pria itu pun lalu kembali masuk ke dalam kamar, dan bersiap berangkat ke kantor, untuk menyelesaikan permasalahan yang sempat tertunda, akibat kejadian tak terduga yang menimpa Mira kemarin.


💋💋💋💋💋


Dua hari berlalu sejak hari itu, dan kini tiba lah saat di mana Mira akan bertemu dengan tamu VVIP-nya nanti malam.


Sejak kejadian pembiusan itu, Mira dan Lingga tak lagi saling bertemu, meskipun mereka tinggal bersebelahan.


Bahkan, ketika Mira hendak mengembalikan pakaian Lingga yang tertinggal di tempatnya, dia hanya menaruhnya di depan pintu apartemen pria itu.


Mira tak terlalu memikirkannya, meski sikapnya tak menunjukkan demikian.


Setiap kali dia keluar dan hendak masuk ke dalam apartemennya, ia berhenti sejenak dan memandang ke arah pintu yang berada tepat di sampingnya.


Namun, Mira menepis kuat-kuat perasaan sepinya, kala pria itu tak lagi mengganggunya.


"Syukurlah kalau dia tidak usil lagi. Hidupku bisa kembali tenang," ucapnya pada diri sendiri.


.


.


.


.


Ini hari terakhir ya guys😊 ku kasih doble up deh biar kalian seneng😁 tapi siangan yah✌


jangan lupa like dan komen yang bener ye say😘